Cinta Anggita

Cinta Anggita
Memecat Citra


__ADS_3

"Iya sayang, aku minta maaf, aku salah". Ucap Gilang, dan Gita mengangguk kan kepalanya. Lalu Gilang mengecup kening Gita.


Dan akhirnya mereka pun berbaikan. Memang disini Gilang lah yang terlalu posesif ke Gita. Mungkin karena Gilang yang benar-benar sudah jatuh cinta sama Gita, membuat Gilang sedikit bucin ke Gita.


Setelah mereka sudah baikan, mereka pun berjalan jalan dan masuk ke dalam taman kota. Mereka berdua berjalan-jalan, melihat pohon pohon dan bunga bunga. Cocok untuk Gita dan Gilang yang tiap hari hanya kerja dan kerja yang mereka lakukan. Gita dan Gilang berjalan menyusuri aliran sungai, yang arusnya cukup deras. Dan mereka pun duduk di sebuah kursi yang tersedia di taman .


Gilang dan Gita duduk membelakangi sungai, dan menghadap pepohonan.


Gilang menatap wajah Gita yang masih terlihat mata sembabnya.


"Mas, apa mas beneran suka sama Gita. Maksudnya apa mas yakin akan perasaan mas Gilang ke aku.?"


"Maksud kamu apa Git, kenapa kamu bertanya seperti itu. Apa kamu ragu sama aku Git.? " Ada perasaan was-was yang kini Gilang rasakan.


Gita menggelengkan kepalanya." Bukan , maksud aku, kenapa mas Gilang bisa punya rasa sama aku. Yang hanya karyawan mas, tak cantik seperti gadis umumnya. Bahkan tubuh ku yang gemuk, sering banget aku dengar aku di bilang seperti gajah.?" Wajah Gita terlihat murung.. Karena saat tubuhnya gemuk dia sering di bully oleh orang.


" Git, kenapa kamu dengarkan omongan orang yang tidak berfaedah si. Aku tidak pernah memandang seseorang dari fisik. Git untuk apa punya wajah cantik, body bagus, tapi kalau dia tidak memiliki hati yang baik ya percuma Git." Gilang mengangkat dagu Gita dan menatap wajah Gita." Git, jadi diri kamu apa adanya itu lebih baik. Jangan dengarkan omongan orang yang gak penting. Kamu itu pintar, baik, dan cantik untuk apa kamu masalahkan. Aku dan Jessy saja tidak masalah ko, lagian kamu itu sudah tidak terlalu gemuk ko, tidak seperti dulu. Mungkin efek karena kamu sakit cukup lama bahkan sampai di rawat. Hingga membuatku panik dan sedikit khawatir". Di akhir kalimat nya Gilang mengecilkan suara dan menoleh kearah.


Gita tersenyum melihat Gilang bertingkah seperti itu." Jadi mas Gilang khawatir saat itu sama aku, dan saat itu juga mas sudah suka sama Gita.?" Gilang berusaha menahan senyum nya. Gilang mengangguk kan kepalanya.


"Kenapa, kamu gak percaya.?" Ekspresi Gilang di buat garang ,namun masih terlihat sedikit senyum di sudut bibirnya.


Membuat Gita terkekeh melihat Gilang yang seperti itu.


Dan Gilang pun juga bertanya kenapa bisa bertengkar dengan Citra. Dan Gita pun menceritakan tentang kejadian tadi,apa yang di katakan Citra. Sampai Gita menampar Citra, dan Gilang yang mendengar nya sedikit rasa geram Dangan Citra, karena sudah berani menghina seperti itu. Dan Gilang pun juga bertanya tentang masalah Gita dengan Mutia, sampai Mutia di mutasi di tempat lain.


" Boleh aku tanya lagi ke kamu.?"


"Tanya apa.?"


" Mantan kamu yang namanya Riko itu, kakaknya Reni bukan, yang waktu itu jenguk kamu di rumah sakit.?" Gita pun Mengangguk dengan pertanyaan Gilang.


" Berarti benar tembakkan aku saat itu, kalau dia pasti mantan kamu".

__ADS_1


" Memangnya kenapa mas.?"


"Gak kenapa kenapa, cuma tanya aja.? Ow iya Git kerumah bunda yuk, bunda masak tadi ngirim pesan ke aku ajak kamu sekalian." Gita pun mengangguk, lalu Gilang menggenggam tangan Gita, Meninggalkan taman itu.


"Apa seperti ini sikap asli mas Gilang. Dan seposesif, sekaligus secemburu itu juga mas Gilang ke mamahnya Jessy, saat dulu, Dingin di luar hangat di dalam. Garang dan dingin seperti beruang kutub, tapi kalau sudah dekat dia begitu hangat dan lembut". Ucap Gita dalam hati.


Kini mobil mereka pun sudah berada di depan rumah pak Hendra. Gita dan Gilang pun kini sudah keluar dari dalam mobik, dan kini Gita sudah masuk ke kediaman rumah pak Hendra.


"Assalamualaikum.."


"Waalaikumsallam..."


Pak Hendra dan Bu Yuni pun sudah menunggu kedatangan Gita, Gita pun mencium tangan pak Hendra dan Bu Yuni.


"Akhirnya kamu datang juga sayang, bunda dari tadi nungguin kamu tau". Ucap Bu Yuni yang merasa bahagia dengan kedatangan Gita.


"Jessy kemana Bun.?" Belum selesai Gita bicara sudah terdengar suara Jessy.


"Ka Gita". Dengan berlari Jessy menghampiri Gita, Gita pun berlutut dan Jessy pun memeluk Gita.


Gilang dan kedua orangtuanya tersenyum melihat Jessy begitu dekat dengan Gita.


"Yasudah kita makan duku yuk, Jessy lapar kan." Jessy pun mengangguk dan akhirnya mereka pun makan siang bersama.


Dengan Jessy tidak mau jauh dari Gita, selalu duduk dekat dengan Gita.


****


Keesokan harinya Gita sudah mulai bekerja kembali. Seperti biasa Gita memulai aktifitas nya , mencetak coklat..


Namun pada siang hari, sehabis makan siang, Lukman datang ke ruang packaging. Dan memanggil Citra untuk keruangan Gilang, dan Citra pun mengikuti Lukman di belakang.


Gita sebenarnya agak sedikit penasaran, dengan Citra yang di suruh keruangan Gilang. Namun Gilang berpesan agar Gita tidak boleh ikutan dalam citra di panggil ke ruangannya. Dan Gita pun akhirnya melanjutkan tugasnya untuk membuat coklatnya.

__ADS_1


Setelah selesai membuat coklat, Gita kebelakang untuk mengambil coklat nya kembali. Dan Gita pun membuat coklat dengan bentuk lainnya,tiba tiba Gita ingin ke toilet karena ingin buang air kecil.


Saat Gita selesai dari toilet Gita berpapasan dengan Citra, Citra menatap Gita dengan tatapan tak suka.


"Git, puas Lo apa yang udah Lo lakuin ke gue. Senang kan Lo, kalau gue di pecat. Puas Lo, dasar manfaatin pak Gilang hanya untuk ingin depak gue, dasar cewek licik". Citra pergi meninggalkan Gita, lalu mengambil tas di lokernya.


" Apa maksudnya, gue gak tau kalau elo di pecat gue bener bener ga tau. Dan gue juga gak pernah nyuruh buat Lo di pecat."


"Alah munafik". Kata Citra yang langsung pergi meninggalkan Gita, tanpa pamitan dengan yang lainnya.


Gita pun sebenarnya memang tidak tau kalau sampe segitu nya, bahkan sampai di pecat segala. Gita melihat kelantai atas, melihat Lukman baru keluar dari ruangan Gilang.


Gita pun langsung keruangan kerjanya Gilang.Tok tok tok... Gita membuka pintu dan terlihat Gilang yang sedang tersenyum ke arah Gita.


"Kenapa Git.?" Tanya Gilang dengan tersenyum. Dan Gita tidak membalas senyuman nya itu.


"Maaf pak, saya hanya ingin tanya. Memang Citra benar di pecat oleh bapak.?" Gilang terkejut karena Gita bicara dengan nada formal.


"Git, kamu bicara apa sayang. Kenapa kamu bicara seperti itu.?" Gilang mendekat kearah Gita.


"Saya hanya tanya kenapa bapak memecat Citra. Ini kan masalah saya bapak tidak perlu pakai pecat dia segala. Maaf saya bicara seperti ini karena ini di tempat kerja". Gilang mencoba menyentuh Gita, namun Gita menolak untuk di sentuh tangannya.


" Git saya melakukan itu karena kamu itu calon istri saya. Dia menghina kamu, sama saja menghina saya. Gita orang seperti itu dia akan terus mencari masalah sama kamu." Gilang menjelaskan agar Gita mengerti.


" Sama aja itu membenarkan saya hanya memanfaatkan pak Gilang". Gita menundukkan wajahnya.


" Gita, kamu gak seperti itu". Saat Gilang ingin menyentuh tangan Gita, Gita menghindar.


" Maaf kalau begitu saya kembali bekerja, permisi..." Gita pun berjalan meninggalkan Gilang sendirian di ruangannya.


Gilang pun jadi bingung dengan sikap Gita yang terlalu baik dengan orang. Jadi selalu di sakiti sama orang.


Sudah lama Gilang tau, kalau Citra dan Mutia itu kerja hanya selalu membuat masalah. Namun Gilang selalu mengurung kan niat nya untuk memecat Citra, namun saat mendengar kemarin Gilang tidak bisa tinggal diam. Gilang pun akhirnya mengambil keputusan untuk memecat Citra.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2