
Gilang mendengar kan cerita sang bunda dengan wajah yang serius." Aku bawa burung merpati putih kesini". Gilang nampak berpikir.
"Iya Lang kamu bawa burung merpati, itu artinya bagus loh Lang. Memang gadis mana yang akan kamu bawa, dan di kenalkan dengan bunda". Gilang yang sedang menyeruput kopi pun tersedak, mendengar pertanyaan Bunda nya.
"Maksud bunda apa hubungannya mimpi bunda dengan aku membawa seorang gadis, hubungan nya apa Bun?" Tanya Gilang yang masih mendengar kan cerita sang Bunda.
"Lang kata orang dulu, kalau kita bermimpi di datangi atau mendapat kan apapun seperti binatang itu katanya mendapatkan jodoh Lang. Betul kan bi Inah ?" Tanya sang bunda ke BI Inah.
Dan bi Inah mengangguk." Betul Bu, betul den. Itu dulu kata ibu saya".
"Itu mitos bi, Bun. Udahlah itu musyrik jadi nya percaya sama mimpi seperti itu. Udah ya, urusan jodoh Gilang biar Allah yang atur semuanya. Gilang percaya Allah kasih jodoh yang terbaik untuk Gilang". Jawab Gilang dengan tersenyum." Kalau begitu Gilang ke kamar dulu ya Bun,bi , semalam Gilang tidak bisa tidur". Pamit Gilang yang di angguki oleh Bunda nya.
Gilang pun berjalan meninggalkan dapur,yang dimana sang bunda dan bi Inah sedang memperhatikan dirinya menaiki anak tangga.
Huffhh...." Bi Inah Anak sekarang itu kalau kita cerita tentang mimpi, pasti Kata nya hanya bunga tidur. percaya sama mimpi, pasti jawabannya begitu, anak jaman sekarang". Kata Bu Yuni yang ngedumel tentang Gilang.
Bi Inah yang mendengar hanya tersenyum, dengan sikap majikan nya itu. Dan Bu Yuni pun melanjutkan ceritanya kembali." Saya inget waktu itu ibunya mas Hendra cerita ke saya, kata waktu itu ibu nya mas Hendra mimpi, kalau beliau bermimpi ada dua monyet mendekati beliau dan mas Hendra, tetapi yang satu lepas, dan yang satu itu berada di tengah-tengah mereka. Begitu katanya, nah kata beliau nggak lama nya mas Hendra memperkenalkan saya dengan ibunya mas Hendra. Nah kalau di pikir pikir ya, berarti di mimpinya beliau itu, si monyet itu saya ya Bi,".Bu Yuni terkekeh dengan cerita nya sendiri, bi Inah ingin tertawa tapi tak enak dengan majikannya, jadi hanya tersenyum sedikit.
" saya tidak marah di bilang seperti itu, itu kan hanya mimpi saja, kata beliau nyatanya saya yang jadi istrinya mas Hendra, ketimbang mantan pacarnya mas Hendra itu yang so cantik itu. Dan beliau pun sebagai mertua sangat baik bi, dan tak pernah menilai saya rendah, walaupun saya bukan orang terpandang atau orang kaya". Kata Bu Yuni yang merasakan kerinduannya terhadap ibu mertua. Bi Inah hanya tersenyum mendengarkan cerita dari majikan nya itu.
__ADS_1
Sedangkan Gilang yang berada di kamarnya sedang bersandar di ranjang. "Mimpi bunda aku bawa burung merpati putih, sedangkan semalam aku bermimpi Gita mengandung anakku. Astaga kenapa sama aku ini, lagian dia itu sudah mempunyai kekasih. Aaaahh.... Aku ngomong apa sih, mimpi itu cuma bunga tidur, mikirin tentang mimpi membuat kepalaku terasa berdenyut". Kata Gilang dengan memijat keningnya, Gilang pun menggelengkan kepalanya. Lalu merebahkan badan di atas kasurnya, mungkin Gilang merasa lelah Gilang pun tertidur.
Entah Kenapa Gilang merasa tubuhnya begitu lelah. Mungkin karena sering bolak-balik keluar kota untuk mengurus masalah kerja. Hingga Gilang sampai lupa mengurus dirinya untuk istirahat.
Pukul sepuluh pagi, Jessy pun ingin menemui papahnya yang sedang di kamar. Dan Sebenarnya Jessy ingin ke kamar papahnya pagi, Namun kata Oma Yuni, papahnya sedang istirahat. Jadi Jessy tidak jadi ke kamar papahnya.
Tok... Tok... Tok. Jessy mengetuk pintu. Terdengar suara jawaban dari dalam kamar. Jessy pun membuka pintu kamarnya, dan melihat papahnya yang sedang berada di depan laptop nya. Gilang pun tersenyum melihat anaknya menghampiri dirinya.
" Papah ko masih kerja aja? Kan papah di rumah. Pah besok papah tidak keluar kota lagi kan". Kata Jessy dengan bibir di majukan.
Gilang menatap wajah sang anak pun merasa tak tega. Gilang pun tersenyum dengan membelai rambut Jessy." Tidak sayang, papah tidak keluar kota ko untuk waktu dekat ini. Mungkin papah akan ke Bandung nanti akhir bulan, Memangnya kenapa si princess nya papah ini ". Sambil menoel hidung Jessy.
Gilang menatap wajah Jessy, ya Jessy menunjukkan wajah melas nya ke sang papah. Gilang pun membuang nafasnya melihat wajah anaknya,Gilang merasa tak tega. Gilang pun memberikan handphone nya ke Jessy, Jessy pun dengan semangat mengambil handphone milik papahnya.
Jessy pun membuka aplikasi berlogo telpon,dengan lingkaran berwarna hijau. Jessy pun mencari nama Gita di handphone milik papahnya. Namun sebelumnya Jessy membuka bertulisan status. Di sana terlihat nama Gita dengan setatus, gambar kue ulang tahu. Serta adanya keluarga dan teman Gita. Jessy pun dengan penasaran nya bertanya ke papahnya." Pah, KA Gita ulang tahun ya, setatus KA Gita pah.?"
Gilang yang mendengar Gita ulang tahun pun kaget " Ka Gita ulang tahun, papah tidak tau sayang. Coba papah liat sini pinjam handphone nya, semalam handphone nya papah matiin". Gilang pun mengambil handphone nya dari Jessy, dan melihat setatus Gita. Yang memajang foto kue ulang tahun, foto bersama keluarga dan teman-teman Gita." Iya sayang KA Gita ulang tahun". Gilang pun memberikan handphone nya kembali ke Jessy.
"Pah kita jalan jalan yuk, sekalian kita belikan kado untuk ka Gita. Besok aku ikut ke tempat papah ya, aku ingin kasih kado nya ke ka Gita, boleh kan pah". Kata Jessy dengan senyum manisnya. Membuat Gilang tak tega untuk menolak permintaan nya.
__ADS_1
"Iya sayang boleh ko, terus jalan jalan nya jadi tidak.?"
" Jadi dong pah, kalau begitu aku bilang oma dulu ya pah?" Kata Jessy dengan semangat.
" Ya sudah, kamu siap siap dulu ya. Papah juga ingin ganti baju dulu". Jessy pun mengangguk lalu meninggalkan kamar papahnya.
****
Kembali ke Gita
Kini Andi, Reni,Gita dan keluarganya Gita sedang berada di lestoran. Ya Andi mengajak mereka untuk makan di luar. Padahal yang ulang tahun siapa, yang traktir siapa.
"Wah kita makan di sini nak Andi?" Kata pak Jaka, ayah Gita dengan tersenyum.
"Iya yah, kita makan di tempat sebagus ini, mimpi saja ibu tidak pernah Ndi". Jawab Bu Siti yang juga ikut merasa bahagia.
Andi, Reni,tersenyum melihat pak Jaka dan Bu yang bahagia. Tapi Gita melihatnya dengan sedih, karena Gita tak pernah mengajak kedua orangtuanya makan di tempat sebagus tempat itu.
Reni tau apa yang Gita rasakan, Reni pun mengusap pundak Gita. Dan Gita pun menoleh ke arah Reni, melihat Reni tersenyum kearahnya, Gita pun membalas senyuman nya Reni.
__ADS_1
Bersambung....