
My Teacher I Love You Bagian 1
POV Indira
Namaku Indira Dwi Diandra, panggilan ku Dira, usiaku 16 tahun.Aku anak ke dua dari pasangan Benny Mahendra, dan Diana Anjani. Aku memiliki Adik bernama Adam Mahendra, kami selisih 2 tahun dengannya. Aku juga memiliki kakak yang yang super super nyebelin, kakak ku bernama Faisal Andhra Mahendra. Kakak ku berusia 27 tahun. Namun selain kakak yang nyebelin, dia itu kakak yang asyik dijadikan teman curhat. Walaupun terkadang suka nyeleneh .
Selain keluarga ku, ku perkenalkan lagi 3 teman teman ku. Mereka itu bernama Alin, Gea dan Hanna.. Kami berempat duduk di kelas 2B. Mereka itu teman yang asyik, yang selalu setia mau suka dan duka.. Contohnya setiap kali aku lupa mengerjakan tugas, dan aku pun di berikan hukuman. Mereka pun ikut setia di hukum bersamaku. Padahal mereka ber3 itu mengerjakan tugas. Coba bagaimana tidak suka duka kita selalu bersama. Cie cie...wkwkwkw....
POV Abhimanyu H Virendra.
Abhimanyu H Virendra, itulah namaku. Biasa di panggil Abhi atau Rendra. Usiaku 28 tahun. Di usiaku saat ini, orang tuaku menyuruhku untuk segera menikah. Katanya 2 tahun lagi usiaku kepala 3, sudah waktunya memikirkan berumah tangga seperti kakak ku yang lainnya.
Bagaimana mau menikah, pacar saja belum ada. Orang tuaku menyuruhku segera menikah karena sebelumnya aku mempunyai kekasih. Hubungan kami berjalan 4 tahun. Di saat aku berniat ingin menikahi nya, ternyata diam diam dia berselingkuh di belakang ku. Dan sampai sekarang, aku belum mendapatkan pengganti nya .
****
POV Author
Terdapat keluarga yang di mana memiliki 3 anak. Yaitu keluarga pak Benny Mahendra dan Bu Diana Anjani. Mereka mempunyai putra putri yang selalu ada saja kelakuan mereka saat di rumah. Entah bertengkar, bercanda, tertawa. Terkadang ada saja yang di tunjukkan yang membuat kedua orang tua terkejut, bahkan hanya bisa menggelengkan kepalanya.
Anak sulung dan bungsunya, senang sekali membuat saudara perempuan nya selalu di buat kesal. Terkadang dengan ulah mereka, membuat tekanan darah mamah Diana naik.
Contoh nya hari ini.
Matahari sudah menampakkan dirinya, jam pun sudah menunjukkan pukul 6 pagi. Dengan kesabaran ekstra mamah Diana membangun kan putri semata wayangnya untuk sekolah.
" Indira bangun dong nak, sudah jam 6 sayang. Nanti kamu terlambat loh ke sekolah..." Panggil mamah Diana.
mamah Diana pun membuka gorden kamar Indira, dan cahaya matahari pun masuk menerangi isi kamarnya ...
"Aaahh mamah Dira kan baru tidur setelah shalat subuh tadi.. Sedikit lagi ya mah aku bangun nya.."
"Ck... Tidak bisa kamu harus bangun sekarang. Nanti kamu kesiangan Dira ?" Sambil menarik selimut yang menutupi seluruh tubuhnya Indira..
Indira pun terbangun dengan bibir majunya, membuat mamah Diana pun tersenyum melihat putri nya yang terkadang datang manjanya..
"Iya iya Ini aku bangun mah. Yasudah aku mandi dulu mah.." Mamah Diana pun mengangguk kan kepalanya
kini di meja makan, sudah ada papah Mahendra, mamah Diana, Adam dan kak Faisal. Yang di mana mereka semua kini menikmati sarapan pagi bersama.
Lalu tiba tiba datanglah Indira dengan tergesa-gesa..
"Huufhh... Maaf aku telat, dan baru gabung.."
"Kebiasaan bangun tidurnya siang terus. Seharusnya kamu itu sebagai anak perempuan bantuin mamah dong. Ini baru bangun, anak perawan macam apa seperti ini." Ucap Faisal, mencoba meledek Indira..
"Tau nih kakak. Males banget si jadi anak perempuan." Timpal Adam mencoba membantu sang kakak..
"Apaan si kalian. Bisa nya keroyokan." Menatap kedua saudaranya dengan tatapan marah." Paaaahh... Liat tuh putra putra papah, semuanya nyebelin."
Papah Benny yang melihat putri kesayangannya merengek karena di ledek oleh saudara laki-laki nya hanya bisa tersenyum.
Begitu pun juga mamah Diana yang hanya menggeleng kan kepala saja melihat ketiga anaknya yang selalu berderama di pagi hari...
__ADS_1
"Sudah sudah jangan berdebat di meja makan. Sudah lanjutin makan kalian." Mama Diana menengahi ketiga anaknya..
Weee... Indira menjulurkan lidahnya, meledek kakak dan adiknya.. Sedangkan Faisal hanya tersenyum melihat Indira seperti itu...
Selesai sarapan, Indira dan Adam berangkat menggunakan motor matic. Sedangkan Faisal berangkat kerja menggunakan motor Ninja Hatori..
Hanya mamah Diana dan papah Benny, melihat ke tiga anaknya yang sudah berangkat dengan tugas tugas anaknya.
"Ada saja mah, anak anak yang di ributkan. Setiap hari ada saja peperangan di rumah ini.."
" Kamu yang kerja hanya melihat keributan pagi dan malam saja kamu sudah pusing. Coba aku pah, dari pagi sampai malam. Selalu saja melihat perdebatan mereka. sepanjang hari" Gerutu mamah Diana.
Dan itu membuat papah Benny tertawa.
"Iya ya, apalagi kamu mah. Pasti sangat pusing ya.?"
"Banget pah. Apalagi si Indira itu, hanya dia yang paling rame dari pagi sampai malam. Pagi mereka bertiga setiap sarapan selalu bertengkar. Siang dengan Adam, adiknya gitu gitu jahil juga. Dan sampai malam pun masih saja bertengkar dengan kakaknya. Ampun ampun pah aku sama putri mu."
"Hahaha.. Sabar mah, hanya itu yang bisa papah katakan. Karena jika mereka sudah memiliki keluarga nanti, kita sendiri yang akan merindukan saat-saat seperti ini. Jadi sekarang kita puas puasin melihat momen momen mereka seperti ini. Apalagi putri mu itu, kalau tidak ada dia di rumah ini, suasana akan berubah menjadi sepi. Lihat saja dari sekarang, kalau dia lagi keluar kumpul dengan teman temannya. Suasana sepi kan, si Adam pun merasa jenuh karena tidak ada teman untuk di jahili. Nah kalau si Faisal, dia kan memang suka sekali bikin kesal adiknya. Coba kalau Indira lagi nginep dirumahnya Hanna atau teman yang lainnya. Faisal juga merasa kesepian, mangkanya kalau tidak ada adiknya pasti dia keluar kumpul dengan teman temannya." Mamah Diana membenarkan apa yang di katakan suaminya..
"Iya pah, benar yang kamu katakan. Jika tidak ada Indira rumah terasa sepi. Kadang anak itu bikin gemes, kadang bikin mamah naik darah." Mama Diana pun tersenyum saat mengingat putri nya. " Loh papah tidak berangkat ke toko.?"
"Papah ke toko nya agak siangan saja mah. Yuk kita masuk.." Ajak papah Benny, dan di angguki oleh mamah Diana.
🍃
🍃
🍃
🍃
Seperti hari ini, Indira berlari dari parkiran motor sampai ruang kelas nya. Yang di mana ruang kelas Indira berada di lantai 2.
Hosshh hooosh hosshh.... Suara nafas Indira terengah-engah. Saat dilihat ruangannya belum ada guru, Indira merasa lega. Indira pun akhirnya berjalan dengan santai dan duduk di bangku milik nya..
Alin, Gea dan Hanna melihat Indira hanya tersenyum.
"Kenapa Lo.?" Tanya Gea.
"Cape banget gue, bayangin dari parkiran motor, gue lari sampe sini."
"Sebentar gue bayangin.. Emmm....." Sambil berlaga membayangkan." Gak ah gak cape, cuma bayangin doang kan. Hahahah...." Alin tertawa terbahak-bahak.
"Ck.... Gak lucu tau gak." Omel Indira.
"Cie cie ngambek aja sih, anak mamah." Goda Alin kembali.
Alhasil membuat Gea dan Hanna pun ikut tertawa, melihat Indira terlihat kesal.
"Sudah aah Lin, Dira jangan di bikin kesal mulu." Hanna mencoba menghibur Indira.
"Iya iya, sorry. Lagian pagi pagi udah kesel aja si Dir.?"
"Semua itu gara gara adik, dan kaka gue Nyebelin banget, bikin gue kesel pagi pagi."
__ADS_1
"Kenapa lagi si ka Ical, kalau gue bilang ya ka Ical itu gak nyebelin deh. Tapi gemessssin tau gak si." Timpal Hanna dengan wajah yang di buat buat..
Indira melihat ekspresi wajah Hanna, Indira pun memutar kedua bola matanya karena jengah..
Sedangkan Alin dan Gea tertawa melihat tingkah Hanna. Yang nampak lebay ketika mendengar nama Faisal, yang biasa di panggil Ical itu. Saat sedang tertawa, tiba tiba datang seorang guru matematika. Guru laki laki yang di nilai guru killer itu, memperlihatkan wajah garang nya ..
"Selamat pagi anak anak." Sapa guru itu.
"Pagi pak." Jawab serentak seluruh murid.
"Baik, sekarang kita mulai saja ya. Kita lanjutkan pelajaran yang kemarin itu. Sekalian kumpul kan tugas yang kemarin saya berikan."
Para murid pun mengeluarkan buku dari dalam tasnya. Lalu mengumpulkan tuga nya di atas meja. Indira masih mencari cari bukunya, namun raut wajah Indira seketika berubah menjadi tegang.
"Aduh gawat ini. Kenapa bisa gak kebawa sih..." Geram Indira.
Membuat teman-teman nya mendengar nya, lalu menoleh kearah Indira.
" Dira ada apa.?" Bisik Gea yang duduk di bangku sebelah nya..
"Buku tugas gue gak kebawa. Mam*us dah nih gue. Alamat di hukum lagi sama pak Dedy.
"Tapi Lo kerjain kan tuh tugas.?" Tanya Gea.
"Udah gue kerjain, bareng Hanna. Ya kalau begini mau gimana lagi, terima nasib aja guys."
Pak Dedy pun mendengar percakapan 4 muridnya itu.
"Jika tidak ada yang membawa tugas saya silahkan keluar, dan meninggalkan pelajaran saya. "Indira pun berdiri." Indira kamu kenapa.?"
"Buku tugas saya tertinggal di rumah pak."
Pak Dedy menatap Indira dengan tatapan tajam.
"Silahkan tinggalkan pelajaran saya, sampai jam selesai. Dan kamu saya hukum lari mengelilingi lapangan sebanyak 10 kali. Silahkan kamu keluar dari ruangan ini."
Tanpa banyak bicara, Indira pun berjalan keluar kelas. setelah sampai lapangan, Indira pun berlari seperti apa yang di katakan pak Dedy.
Saat berlari 1 putaran. Terdengar suara berteriak memanggil nama Indira.
"Dira..." Saat Indira menoleh ternyata suara 3 temannya. Indira pun berhenti berlari, dengan nafasnya yang tersengal sengal karena rasa lelahnya.
"Kalian ngapain di sini. Bukannya kalian mengerjakan tugas pak Dedy.?"
"Kita ikut kamu dong. Masa kamu di hukum, kita asik asik kan duduk di kelas. Biar kita sama merasa kan Dir.." Kata Alin merangkul pundak Indira..
"Yupz betul, tidak mungkin kita diam diam di kelas. Sedangkan kamu sendiri panas panasan di lapangan.." Timpal Gea, dan di angguki oleh Hanna.
Indira pun tersenyum, merasa terharu dengan teman temannya. Yang rela ikutan di hukum demi temannya.
"Ya ampun kalian Sweet banget si sama gue."
"Udah jangan lebay deh Dir. Jangan sampai Niat baik gue, gue tarik lagi nih. Karena ngeliat lo terlalu lebay."
Prrriiit.... Terdengar suara Priwitan yang di tiup dari pak Dedy. Sebagai bentuk peringatan..
__ADS_1
" Sudah sudah kita lari yuk. Liat tuh guru killer udah ngawasin kita dari sana." Kata Gea memperingati teman teman nya.
Dan akhirnya ke empat anak murid perempuan yang saling bersahabat, berlari memutar lapangan di sekolah. Mereka menjadi pusat perhatian seluruh murid yang melihatnya...