Cinta Anggita

Cinta Anggita
Merasakan ngidam


__ADS_3

Dulu nya kong Rojak yang melatih silat beksi, namun karena faktor usia. Jadi di teruskan oleh keturunan nya termasuk babeh Romi,dan Riko pun juga turut membantu melatih. Termasuk ayah Jaka yang ikut dalam kelompok membantu melatih silat beksi..


Saat Reni dan Gita menikah pun , rombongan palang pintu, Semuanya itu pun juga anak didik kan dari babeh Romi dan babeh Jaka.


Dan kini mereka semuanya pun berkumpul, dan berbaur dengan saudara saudara Reni.


Sebenarnya Lukman merasa kepalanya terasa berdenyut, selama di rumah Reni Lukman jadi sedikit diam.


Reni yang melihat perubahan pada suaminya langsung bertanya.


"Mas, kamu kenapa.?"


"Gak kenapa-napa sayang, gak usah khawatir. Hanya saja kepala mas sedikit pusing, dan terasa berdenyut". Sambil memijat kening dan di tengah-tengah alisnya.


"Yakin kamu gak kenapa-kenapa mas. Tadi kamu gak kenapa-kenapa mas, kenapa di sini kamu langsung pusing.?"


"Bukan begitu sayang, sebenarnya kepala ku pusing dari semalam. Dan tadi mendingan pas aku makan makanan di rumah orang tua Gita. Tapi kenapa ini pusing lagi ya, mas ingin makan yang seger gitu loh sayang."


Mamah Henny melihat wajah anaknya sedikit berbeda. Merasa khawatir dengan anaknya itu, mamah Henny pun menghampiri Lukman.


"Lukman kamu kenapa.? Lukman kenapa si Ren.?"


"Gak tau mah, katanya kepalanya pusing. Tadi mas Lukman bilang".


"Kamu sakit sayang.?" Mamah Henny memegang kening Lukman, memang sedikit hangat. " Badan kamu hangat, kamu sakit Man.?"


"Pusing aja mah".


Reni pun segera mengambil air hangat, dan segera di berikan ke suami nya.


Tiba tiba ada orang yang berlebaran kerumah Reni, dan bersalaman ke arah Lukman.


"Minal Aidin walfa idzin". Kata orang itu setelah melewati Lukman dan jalan ke tempat lain.


Setelah orang itu menjauh, Lukman berjalan cepat ke belakang pohonan.


Mmmmph ...Hoek... Hoek... Hoekk...." Ya Allah tuh orang pake minyak wangi apa ya, bau nya nusuk banget.?" Lukman ngedumel seorang diri.


Reni dan mamah Henny menghampiri Lukman. Sambil memijat tengkuk lehernya Lukman. Sedangkan Reni memberikan minuman ke suaminya.


"Mas Kamu kenapa, aku jadi khawatir sama kamu loh.?" Reni sedikit khawatir dengan wajah pucat suaminya.


"Aku gak kenapa-kenapa sayang, kepalaku hanya pusing. Itu tadi ada orang pakai minyak wangi, wanginya bikin perut aku terasa di kocok." Kata Lukman masih terlihat lemas, sambil memegang pohon mangga.


"Wanginya enak ko. Itukan Abangnya Leha mas, saudara aku. Kadang kalau di rumahnya aku suka cobain semua minyak wanginya. Aku suka minyak wangi cowok mas."


"Iih minyak wangi begitu suka, ada ada aja kamu Reni".


" Udah... Udah kalian itu ada aja yang di rubutin. Duduk lagi yuuk gak enak sama yang lain" . Ajak mamah Henny, Lukman pun mengangguk.


Saat Lukman mendongak ke atas, banyak buah mangga di atas pohon. Wajah Lukman berubah menjadi ceria.


"Sayang ini pohon mangga ini punya siapa.? Buah nya banyak banget di atas.?"


"Punya engkong aku, kenapa mas mau.?"Lukman pun langsung mengangguk-anggukkan kepalanya..


"Boleh sayang, eeh tapi boleh di petik gak.? Kalau boleh aku petik nih, sepertinya seger". Kata Lukman yang sudah tergiur dengan buah mangga di pohon.

__ADS_1


"Ya boleh dong sayang. Sama orang lain minta aja di kasih, apa lagi sama kamu. Yang menantu dari cucu kesayangan nya". Kata Reni dengan bangga."Yasudah aku bantuin petikan buah mangga nya ya mas.?"


Seketika mamah Henny dan Lukman berteriak." Jangan.."


"Kenapa memangnya, aku biasa panjat pohon ini. Kalau ada yang minta mangga.?"


" Jangan ya sayang, aduh mamah takut kamu kenapa kenapa sayang.?"


"Kamu apa apaan si Ren. Inget kamu lagi hamil, kalau terjadi sesuatu sama kamu dan anak kita bagaimana.?" Omel Lukman, membuat Reni menundukkan kepalanya.


Riko pun menghampiri Lukman.


" Mas Lukman ko di sini, dek kamu kenapa.?"


"Bukan aku tapi mas Lukman tuh, dia ingin mangga. Tapi..."


"Tapi adik kamu ingin naik panjat nih pohon mau petik mangga nya." Celetuk Lukman dengan kesal


"Astaghfirullah dek dek. Kamu sadar gak kamu lagi hamil. Kalau kamu kenapa kenapa atau bayi kamu itu kenapa-kenapa bagaimana.? Nauzubillah dek amit amit kamu.?" Omel Riko ke adiknya.


"Kalau ayah dan ibu tau,abis kamu kena ceramah semalaman full."


"Iya iya maafin Reni". Menunjukkan wajah bersalah.


"Yasudah biar Kaka bantuin suami kamu.


Bang beneran mau mangga.?" Lukman pun mengangguk." Saya bantuin ya, pake gala di sono". Kata Riko sambil menunjuk ke arah kebon dekat kandang ayam.


" Gak usah Rik, biar saya panjat aja nih pohon. Saya ingin petik sendiri, biar puas." Riko pun mengangguk.


Dan akhirnya Lukman pun menggulung celana nya sampai selutut. Lalu Lukman pun memanjat pohon mangga tersebut. Mamah Henny sebenarnya sedikit khawatir,apa lagi Lukman tadi sempat mual dan pusing.


"Selow mah, anak mamah bisa ko". Dengan berusaha memegang batang pohon nya, Lukman pun berhasil naik. Dan mendapatkan buah mangga nya.


" Dapat mah." Mamah Henny pun tersenyum melihat Lukman, yang menunjukkan mangga yang ada di tangan nya.


Gilang yang melihat Reni dan mamah Henny berdiri di bawah pohon lantas mendekat. Ternyata Gilang melihat Lukman sudah di atas pohon. Gilang pun langsung menghampiri Reni, dan mamah Henny dengan Lukman yang sudah di atas pohon.


"Man kamu ngapain naik ke atas pohon.?"


"Lagi nyuci baju mas." Jawab Lukman asal." Udah tau naik pohon pake nanya segala".


Gilang pun merasa geram dengan Jawaban Lukman. Gilang melihat Lukman naik keatas pohon dan memetik buah mangga nya. Gilang pun juga tertarik ingin panjat pohon nya.


Gilang lantas menggulung celana nya sampai selutut. Gita yang melihat suaminya sudah menggulung celananya pun bertanya.


" Kamu mau ngapain mas, gulung celana segala.?"


"Mau ikut naik panjat pohon, mau petik mangga".


"Tapi kan ada mas Lukman mas, kenapa kamu ikut segala.?"


"Saya ingin aja Git, sepertinya enak kalau makan mangga dari pohonnya langsung." Tanpa banyak bicara, Gilang pun ikut naik.


Pak Hendra, bunda Yuni yang sedang mengobrol dengan para besan nya. Melihat para menantu dan adiknya sedang berada di dekat pohon nampak penasaran.


Mereka pun akhirnya menghampiri menantu nya.

__ADS_1


"Kalian ngapain di sini .?"


"Itu mas." Mamah Henny menunjuk ke arah atas, dan para orang tua pun mendengak kan kepalanya mereka keatas. Di sana sudah ada Lukman dan Gilang sedang memanjat pohon mangga.


Dengan Riko yang berada di bawah mengambilkan mangga yang di lemparkan dari atas.


"Kalian ngapain di sana, turun malu maluin aja si kalian.?" Omel pak Hendra.


Sedangkan pak Romi dan pak Jaka hanya terkekeh melihat menantu nya sedang naik pohon.


Reni dan mamah Henny menceritakan tentang Lukman yang muntah muntah seperti orang ngidam. Serta Gilang yang ikutan naik pohon.


Setelah mangga nya cukup banyak bagi mereka. Gilang dan Lukman pun turun dengan wajah bahagia.


Lukman terkekeh di pelototi mamah dan istrinya. Begitupun juga Gilang melihat orang tuanya menggelengkan kepalanya, serta istrinya yang cemberut. Menanggapi nya hanya dengan tersenyum.


"Yah maaf ya, mangga nya Lukman petik. Habis kayak nya liat mangga, dilihat nya seger aja gitu. Apalagi metik dari pohon nya langsung, sampai ngiler rasanya." Celetuk Lukman ke mertuanya.


"Iya pak saya mohon maaf, tapi semuanya ini akan saya bayar ko. Saya ingin sekali makan mangga ini di rumah nanti". Gilang membantu Lukman bicara.


"Tidak apa-apa nak, memang mangga segini banyak nya mau di apakan.?"


"Ingin di rujak, sepertinya segar." Ucap Gilang.


"Mas kamu kan gak suka rujak. Kemarin saat aku minta bantuin makan rujak aja kamu gak mau.?" Celetuk Gita.


Pak Jaka dan pak Romi malah tertawa mendengar Gita bicara.


"Kalian cinta berat ya sama istri kalian. Sampai ngidam aja kalian pun merasakannya.?" Goda pak Jaka.


"Bener tuh Jak, kalau kata anak sekarang mah lagi bucin. Hehehe..." Pak Romi ikut terkekeh.


"Suami memang bisa ngidam.?" Tanya Lukman dengan polosnya.


"Bisa lah, mangkanya jangan cuma tau bikin nya aja kalian tuh. Pasca mengandung dan masa masa ngidam pun kalian juga harus tau". Celetuk bunda Yuni, membuat Lukman terkekeh. Lalu bunda Yuni melanjutkan menjelaskan kembali.


"Ngidam tidak hanya dirasakan oleh ibu hamil, suami yang istrinya sedang hamil bisa saja ikut merasakan ngidam. Bahkan tidak hanya ngidam, suami bisa saja merasakan keluhan-keluhan yang biasanya dirasakan ibu hamil. Hal itu disebut dengan sindrom couvade atau sering disebut kehamilan simpatik.


Nah.....Seorang suami yang mengalami sindrom couvade bisa mengeluhkan gejala yang bermacam-macam. Contohnya: Kadang keluhannya bisa melebihi istrinya yang sedang hamil. Mulai dari morning sickness atau mual-mual pagi hari, sakit perut dan ulu hati, perubahan nafsu makan pun sama, moodswing, sulit tidur, hingga turunnya gairah seksual."


Semuanya pun mendengar kan penjelasan tentang masa-masa hamil dan ngidam. Dan Lukman hanya berooo saja.


Tidak dengan Gilang yang menatap istrinya dalam dalam. Karena dulu mendiang istrinya hamil, Gilang tidak pernah merasakan ngidam seperti ini. Hanya dengan Gita, kadang Gilang merasakan apa yang Gita rasakan. Namun jika di depan Gita, Gilang biasa saja. Tidak separah Gita sampai lemas.


Bersambung..


Curhat dikit boleh ya...πŸ™


**Trimakasih ya sudah bertahan membaca cerita ku ini. Sebenarnya author agak galau, kurang semangat gitu buat cerita. Karena like kalian sih, tapi author tetap semangat. karena masih ada yang memberikan like untuk cerita cinta Anggita ini. Itu yang membuat ku terus semangat buat bikin cerita nya.


Setelah ku pikir pikir..!πŸ€”


Selagi masih ada yang baca cerita ku ini, aku juga akan tetap semangat buat bikin cerita nya.


Bahkan aku akan buat sampai TAMAT. Dan insya Allah gak akan aku gantung kisah mereka.


Dan untuk kalian yang sudah like, terima kasih banget lohπŸ˜‰. Tanpa like kalian aku galau banget asli.

__ADS_1


...I Love you all😘😘😘❀️**...


__ADS_2