Cinta Anggita

Cinta Anggita
Kabar gembira


__ADS_3

"Mendingan mas,tidak seperti tadi. Memang seperti ini ya mas, lagi mamahnya Jessy hamilin Jessy..?" Gilang pun mengangguk.


Gilang melihat wajah istrinya sudah memerah akibat rasa mual yang Gita rasakan. Gilang jadi merasa tak tega dengan kondisi istrinya.


Gilang memijat kepala Gita, yang masih terasa sakit.


"Apa kemarin kamu seperti ini.?"


"Iya mas, aku seperti ini. Baru kemarin aja sih aku mual. Sebelumnya hanya kepala aku saja yang terasa berat. Dan rasa mual saja, aku kira efek lambung aku bermasalah. Tapi pas tiga hari lalu aku lihat kalender , tanggalan aku datang bulan sudah telat dua Minggu mas. Terus pas kemarin aku beli rujak, pas jalan sama Jessy dan Reni. Aku lihat toko obat, sekalian aku beli testpack. Pulang dari rumah bunda aku cek mas penasaran, sengaja aku beli banyak. Eeh hasil positif, niatnya mau kasih kejutan untuk kamu tapi........" Gita tidak melanjutkan pembicaraan nya,, Wajahnya pun kembali murung.


"Aku minta maaf, terus aku harus bagaimana buat menebus rasa bersalah aku sama kamu.?"


Lalu Gita merubah posisinya menjadi tiduran dengan kepalanya berada di pangkuan suaminya.


" Kamu tidak perlu menebusnya mas, Cukup jadi suami yang baik dan perhatian, dan jangan mudah percaya sama ucapan orang luar. Mas, aku menikah dengan kamu tulus. Apalagi menjadi Mamah untuk Jessy, apa lagi kamu kenal aku seperti apa. Aku sayang sama kalian semua semata-mata karena Allah."


"Masya Allah beruntung nya aku mempunyai istri sebaik kamu. Maaf ya". Gilang pun mencium kening Gita, lalu mendekapnya..


Ya Allah beruntung nya aku mempunya istri yang mempunyai hati baik seperti Gita. Maafkan hamba ya Allah kemarin sudah membentak dan memarahinya, bahkan dalam keadaan istri hamba sedang mengandung.." berkata dalam batinnya.


Sampai dua hari kemudian kabar gembira Gita sedang mengandung kini tersebar di keluarga wijaya. Beserta kedua orangtuanya Gita, mereka semuanya sangat bahagia mendengar kabar bahagia itu.


Terutama Jessy sangat antusias sekali mendengar Mamahnya sedang mengandung.


Kini semua keluarga sedang berkumpul di rumah Gita, bukan hanya keluarga Wijaya kedua orang tuanya Gita pun turut hadir.


Gilang sengaja baru memberikan kabar bahagia itu ke semuanya. Karena kemarin kemarin keadaan masih belum baik.


"Alhamdulillah akhirnya bunda akan menjadi Oma lagi.? Terutama Bu Siti nih pasti senang dong akan menjadi calon nenek baru.?" Kata Bu Yuni yang duduk bersebelahan dengan Bu Siti, ibunya Gita.


"Iya saya dan ayahnya Gita sangat bahagia,pas mendengar putri kami sedang mengandung. Iya kan yah.?" Tanya ke pak Jaka.


"Wah iya, ayah sangat senang loh pak bu. Pas mendengar anak saya sedang hamil. Di jaga Loh Git kandungan kamu, jaga kesehatan ya nak.?"

__ADS_1


"Iya yah..." Jawab Gita.


"Jessy juga senang ternyata Jessy akan mempunyai adik. Adel kamu sehat sehat ya di perut mamah, ka Jessy tungguin kamu. Nanti kita main bersama sama ". Kata Jessy yang mendekati Gita, dan berbicara di depan perut Gita.


Semua yang melihatnya pun terkekeh, melihat tingkah lucu Jessy.


"Lang jaga istri kamu, jangan buat Gita sedih. Biasanya ibu mengandung suka sedih, dan jangan sekali-kali kamu bentak istri kamu. Kalau kamu gak apa-apa ingin kena semprot dari istri kamu, dan juga dari kami."


Ukhuk ..ukhuk...uhuk... Tepat saat Gilang sedang minum, pak Hendra bicara seperti itu. Sampai Gilang terbatuk-batuk.


"Lang kamu kenapa.?" Tanya pak Jaka.


" Tidak apa-apa yah, aku ganti baju dulu ya. Baju ku kena kopi, lengket, permisi semuanya."


Lukman pun yang tau peristiwa itu hanya tersenyum, sedangkan Reni melihat suaminya senyum senyum sendiri, Langsung mencubit perut suaminya.


"Aduh.. Sakit kamu apa apaan si cubit cubit segala.?" Bisik Lukman, agar semua nya tidak mendengar.


"Sejak kapan kamu jadi orang gila mas, ketawa ketawa sendiri..?" Tanya Reni dengan santai sambil terkekeh.


"Adududuhh.... Kamu suka banget nyubit si Yank." Sedangkan Reni hanya cekikikan melihat suaminya yang kesal.


Sedangkan seluruh orang tua yang memperhatikan Reni dan Lukman hanya tersenyum dan menggelengkan kepalanya mereka.


Sedangkan di dalam kamar, Gita mengambil baju untuk suaminya. Sedangkan Gilang menunggu duduk di sofa.


"Mas ini baju kamu di ganti dulu ya, nanti kamu masuk angin kalau ga segera di ganti." Kata Gita sambil meletakkan baju di atas tempat tidur untuk suaminya.


Gilang memperhatikan Gita yang kini ada di hadapannya.


"Kenapa mas.?


Gilang pun menggelengkan kepalanya.

__ADS_1


" Pertanyaan ayah ku pas banget ya Git, seolah-olah dia tau kalau aku bikin kamu sedih Git.?" lalu Gilang membuka kacing kancing kemejanya.


Gita yang melihat tubuh suaminya yang kekar, terlihat otot-otot nya yang menonjol. Gita pun dengan tersenyum langsung memeluk tubuh suaminya. Lalu menghirup aroma wangi tubuh suaminya itu. Entahlah Gita sangat menyukai aroma tubuh suaminya.


Gilang sampai terkekeh melihat tingkah laku Gita akhir akhir ini, suka sekali menempel ke dirinya.


"Git, kalau seperti ini bagaimana aku bisa memakai bajunya. Dan kalau seperti ini terus urusannya bisa lama Git, kita berara di dalam kamar." Namun Gita bukan nya menggeser malah semakin erat memeluk tubuh suaminya..


"Iihh... Sebentar saja mas. Memang tidak boleh apa, aku peluk suamiku sendiri.?" Rengek Gita, Gilang semakin terkekeh.


"Bukan nya gak boleh, tapi diluar sedang rame sayang. Kalau kamu begini terus, aku kepancing kan urusannya pasti bisa lama Git". Gita pun segera melepaskan pelukannya dari tubuh suaminya, dengan wajah Yang cemberut.


"Ya sudah kalau gak boleh. Nyebelin banget kamu mas.?" Gita pun segera meninggalkan suaminya.


"Hei ko marah sih, sayang. Git, Gita...." Teriak Gilang yang melihat Gita sudah keluar.


Gilang pun menggelengkan kepalanya, sambil memasang kan kancing kemejanya.


Bumil... Bumil.... Sebentar sebentar ngambek. Entar manja lagi, entar ngambek lagi. Tapi aku suka manjanya Gita itu, bikin gemes. Hanya waktunya saja kurang tepat.


Gilang pun langsung menyusul istrinya dan keluarganya ke ruang keluarga. Kini Gita duduk di samping kedua orang tuanya. Saat suaminya memberikan senyuman ke arah nya, Gita malah membalas dengan mata melotot, lalu melengos ke arah lain. Membuat Gilang tersenyum kecut, dan itu di perhatikan oleh Lukman.


Rupanya Lukman sejak dari tadi memperhatikan Gita dan kakak sepupunya itu. Reni yang memperhatikan suaminya memperhatikan Gita terus menerus,dengan tersenyum. Reni memberikan cubitan di pinggang Lukman.


" Terus aja mas, perhatiin tuh kakak ipar kamu. Sepertinya kamu ingin mata kamu aku congkel ya, biar ga memperhatikan maslah orang." Bisik Reni di telinga Lukman.


Membuat Lukman tersadar bahwa sejak dari tadi istri memperhatikan dirinya, seperti seorang peneliti saja..


"Heheheh.... Sayang kamu jangan cemburu dong.?"


"Bukan cemburu tapi jengah ko punya suami kelakuan ngikutin aku banget". Jawab Reni membuat Lukman terkekeh.


Dan itu membuat perhatian orang di ruangannya itu.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2