
" Kenapa pulang kerja muka langsung ditekuk gitu, bikinin ayah kopi gidah sana". Pak Jaka meminta bikinin kopi. Gita pun mengangguk, lalu masuk kedalam rumahnya untuk membuat kopi .
Setelah kopinya sudah jadi, Gita pun keluar membawa kopinya. Namun saat pak Jaka menyeruput kopi yang Gita buat langsung di sembur oleh ayahnya.
" Cuuuh.... Kopi apaan si ini Git yang kamu buat untuk ayah. Niat kaga si buatin kopi buat ayah nya". Kata pak Jaka dengan sangat marah. Dan Gita sangat kaget saat ayahnya membentak dirinya.
"Ma..Maaf ya yah,tapi itu takaran kopi yang biasa Gita buat untuk ayah". Jawab Gita dengan terbata bata, serta mata yang mengembun.
"Tapi ini pait Git, kan tadi ayah bilang Jangan pait, agak manis. Mangkanya kalo orang tua ngomong di dengerin neng, jangan masuk kuping kanan keluar kuping kiri". Kata pak Jaka yang memarahi Gita, padahal memang pak Jaka tidak bilang pesan kopi yang manis.
Sebenarnya pak Jaka juga tidak tega memarahi anak semata wayangnya di marahi seperti itu.
"Ya sudah yah, sini Gita buatin lagi kopinya. Kalau ayah ingin kopi yang manis". Kata Gita dengan wajah sedihnya, dan mata yang sudah mengembun.
"Tidak usah, sana kamu masuk aja ke kamar". Kata pak Jaka sambil makan singkong rebus. Gita pun mengangguk, lalu Gita berjalan masuk ke kamarnya dengan perasaan sedih, serta mata mengembun.
Saat Gita masuk ke kamar sang ibu melihat wajah sedih Gita. Bu Siti pun menghampiri pak Jaka yang sedang makan singkong rebus, serta meminum kopi buatan Gita tadi.
Bu Siti pun menggelengkan kepalanya, lalu duduk di bangku dekat pak Jaka, yaitu suaminya.." Yah ko tega banget marahin Gita sampai segitunya, ibu tidak tega yah. Udah di omelin, terus kopinya di minum pula, memang bisa atuh ketelan tuh kopinya.?"
__ADS_1
Pak Jaka menyeruput kopi buatan Gita,sruuuppp.....Aaaah.." Bu memang kamu pikir ayah marahin Gita tega, sama Bu, ayah juga tidak tega marahin Gita. Justru Kalau ayah tidak minum kopi ini,pasti Gita tambah sedih Bu. Lagian untuk hari ini, kapan lagi ayah ngerjain anak kita yang boto itu.. Ayah janji setelah ini, apa yang Gita ingin kan bapak ikuti Bu. Ayah akan minta maaf sama Gita akan ayah peluk Gita." Kata pak Jaka yang berkata dengan sungguh sungguh.
Dan sang istri pun menundukkan wajahnya, lalu jari pak Jaka mengangkat dagu Bu Siti." Ayah minta maaf ya, anak ibu ayah marahin, ayah janji tidak akan ulangi lagi". Kata pak Jaka dengan senyum, dan mengedipkan matanya. Menggoda Bu Siti, sang istri pun tersenyum dan tersipu malu.
Ya begitulah sepasang suami isteri yang tak lagi muda itu, hanya dengan seperti itu yang dapat di lakukan pak Jaka. Ya walaupun mereka tidak lagi muda, tetapi pak Jaka masih memperlakukan Bu Siti dengan romantis. Kalau kata pak Jaka mah, wajah boleh gahar, tapi sama anak istri harus lembut. Karena bagi pak Jaka anak istrinya itu istimewa.
Sedangkan di dalam kamarnya Gita merasa sedih, karena sang ayah membentak dirinya. Karena memang pak Jaka kalau bicara memang galak ,tapi kalau sama Gita dan ibunya, nada bicara pak Jaka akan berubah drastis menjadi lembut.
Waktu sudah malam,dan menunjukkan pukul sepuluh malam. Gita yang sudah merasakan mengantuk,lalu tiba tiba sang ayah memanggil dirinya. Gita pun menghampiri sang ayah." Iya yah ada apa?". Jawab Gita dengan wajah masih menunduk." Ayah lapar tolong belikan ketoprak nya bang daus, yang di pengkolan Sono. Inget ya Git, ketoprak nya yang pedes ya, buat ayah. Terserah ibu dan kamu mau beli apa, yang penting ayah ketoprak yang pedes di tempatnya bang Daus". Kata pak Jaka yang memberikan selembar uang berwarna biru
Gita mengangguk kan kepalanya, lalu Gita mengambil kunci motornya. Lalu Gita pun berjalan keluar, menuju teras rumah di mana motor nya terparkir.
Motor Gita berhenti di depan gerobak bertulisan KETOPRAK woy. Mesin motornya di matikan dan berjalan menuju gerobaknya." Bang Daus ketoprak dua ya, yang sedang satu, yang pedes satu buat ayah?" Kata Gita yang memesan ketoprak nya.
"Siap neng, di tunggu dulu aja bang Daus buatin Toprak nya". Kata tukang ketoprak yang bernama bang daus. Gita pun segera duduk di bangku yang sudah di sediakan.
Bang Daus pun meletakkan dua piring di depan. Dengan meletakkan cabai rawit merah sepuluh di piring yang satu, dan lima buah cabai rawit di piring yang satunya lagi. Bawang putih,dan garam sedikit. Lalu di uleg bumbunya, stelah halus di campurkan bumbu kacang nya. Stelah bumbu sudah jadi, bang daus meletakkan tahu yang sudah si goreng terlebih dahulu. Lalu di potong-potong, setelah itu di letakan ketupat, bihun, tauge kecap, serta irisan timun,dan bawang goreng nya. Untuk menambahi cita rasa ketopraknya, stelah itu di bungkus dengan rapih. Gita melihat bang daus mengikat bungkusan ketopraknya dengan karet ada yang satu, dan ada yang dua karet. Tak lupa juga memasukkan kerupuk terpisah di pelastik lain.
Lalu bang daus memberikan ketoprak nya ke Gita." Neng Gita, ini yang pedes karet nya dua ya, yang sedeng mah satu karet, takut ketuker nanti".
__ADS_1
Gita tersenyum." Ahh iya bang, jadi berapa bang ini ketopraknya?" Gita mengeluarkan duit dari dalam kantong celananya.
"Jadi dua puluh enam ribu neng". Kata bang Daus, Gita memberikan uang tiga puluh ribu. Bang Daus membuka laci duitnya, pas ingin memberikan kembaliannya Gita sudah di atas motornya. " Neng Gita ini kembaliannya".
"Udah bang Daus biarin aja, Gita pamit ya , Assalamualaikum".kata Gita dengan tersenyum, Gita pun menjalankan motor nya.
"Waalaikumsallam, ya ampun dia mah gitu banget, setiap ada kembalian ora mau di ambil,main ngacir aja. Dasar bocah bocah Alhamdulillah ya Allah ". Kata Daus menggelengkan kepalanya, lalu meletakkan duitnya kembali ke dalam laci.
Setelah ketoprak pesanan ayah nya sudah di beli,, Gita mencari yang jualan jus. Gita berhenti di tempat yang jual jus buah, Gita pun memesan jus nya." Bang jus mangga nya dua, sama jambu nya deh satu ya.". Abang yang jual jus pun mengangguk.
Ya Gita suka membeli tiga jus, kadang ayahnya suka iseng tengah malam. Jadi Gita suka menyimpan jus nya di dalam lemari es. Dan yang dua lagi buat Gita dan ibu nya.
Saat Gita sedang menunggu jus nya, Gita seperti melihat Reni. Gita pun menghampiri Reni yang sedang membeli martabak." Woy... Beli apaan loe.?" Kata Gita yang menepuk pundaknya Reni.
Reni pun terkaget," rese loe gue kira siapa? Ngapain loe keluar,tumben banget beli apaan?" Tanya Reni balik.
" Nih beli ketoprak buat ayah, sama jus. Lo beli martabak buat siapa lumayan banyak gitu ada temu ya? " Gita clingak celingukan." Elo sendirian Reni, beli martabak nya?"
"Iya gue di suruh babeh gue beli martabak sampe tiga, kata nya mau ada tamu entar. Lo nyari siapa clingak clingukan Kaya gitu. Gue sendirian Anggita binti Jaka, loe pikir gue sama siapa?" Jawab Reni, dan Gita hanya cengengesan mendengar jawaban Gita.
__ADS_1
Bersambung....