
Jlebb... Jantung Gita seakan berhenti seketika, Gita merasa sesak di dadanya. Gita bukan anak kecil, atau orang bodoh yang tidak mengetahui jika ada cincin melingkar di jari manis kanan.
Andi memesan makanan dan minuman untuk Gita dan dirinya. Dan Andi menangkap wajah Gita yang berubah ekspresi, dari tersenyum menjadi merah padam. Seperti orang yang menahan marahnya.
Cincin di jari manis sebelah kanan, nggak mungkin, nggak mungkin Andi nggak ada kabar karena....... Aaaahhh,,, jangan terjadi ya tuhan, apa yang selama ini aku takutkan." Gita berkecamuk dalam batinnya.
"Sayang kamu kenapa Hem...." Andi menyentuh tangan Gita, namun Gita menolak untuk di sentuh." Kenapa si Git, kamu sakit, ada yang sedang kamu rasakan Git".
"Aku yang kenapa, harus nya pertanyaan itu buat kamu Ndi.?" Andi tak menjawab dengan pertanyaan Gita." Sejak kapan kamu memakai cincin Ndi.?"
Andi membuang nafasnya dengan kasar. Haaaah...." Aku akan jelaskan sama kamu Git, tapi aku minta kamu yang tenang ya". Dan Gita pun mengangguk.
"Sebenarnya aku waktu ngabarin kamu, kalau aku lagi pergi keluar kota sama bos aku. Aku mengalami kecelakaan Git,aku menabrak sebuah mobil dan......
Flashback on
Waktu Andi menemani atasannya untuk bertemu kolega di luar kota. Saat selesai menemani, dan di arah balik Andi mengalami kecelakaan. Andi menabrak sebuah mobil,yang di mana ada satu orang pria paruh baya yang mengendarai mobil itu. Akibat kecelakaan itu Andi pun tak sadarkan diri. Sampai tiga hari Andi pun baru tersadar. Dan Andi pun terkejut karena di sana ada kedua orangtuanya namun yang Andi lebih bingung ada seorang gadis yang menunjukkan wajah sedihnya menatap ke arah andi
Di saat tubuh Andi mulai pulih, dan bisa duduk kembali, kedua orang tua Andi pun menceritakan kejadian yang Andi alami kalau dirinya mengalami insiden kecelakaan. Andi pun menanyakan keadaan si korban kepada keluarga nya.
Keluarga pun menceritakan kondisi pasien si korban keadaan nya sangat memburuk. Andi begitu Merasa bersalah, dan Andi pun meminta ingin bertemu kepada korban yang sudah dirinya tabrak.
Kini Andi sudah berada di dalam kamar korban yang sudah Andi tabrak. Di sana hanya ada seorang gadis yang duduk di samping pasien yang sedang tertidur.
Andi yang duduk di kursi roda,yang di bantu dorong oleh orang tua nya. Gadis itu menatap dengan wajah datarnya, namun juga air matanya yang sudah basah di pipinya.
Di sana juga ada dokter yang sedang visit kondisi pasien, ada seorang perawat yang sedang mencatat.
__ADS_1
"Dok, bagaimana keadaannya sekarang.?" Ayahnya Andi pun bertanya
"Keadaan pasien sangat buruk pak, dan pasien juga mempunyai riwayat penyakit jantung. Jadi akibat benturan yang sangat hebat ini, membuat pak Zul ini koma. Kami hanya bisa berdoa dan berusaha semoga Allah memberikan mukjizat untuk kesembuhan pak Zul.."
Sedangkan seorang gadis yang duduk di samping pasien pun hanya bisa menangis sambil menggenggam tangan ayahnya yang sedang koma.
Andi pun merasa semakin bersalah atas kecelakaan itu,ketidak hati hatian nya membuat nyawa orang menjadi koma seperti ini.
Dan tiba tiba tangan pak Zul bergerak, dan mata pun terbuka dengan pelan pelan. Dan terdengar juga nafas yang memburu, yang membuat gadis itu semakin menangis histeris.
"Ayah,ayah Kenapa yah bangun. Dokter tolong ayah saya Kenapa.?"
Dokter pun kembali memeriksa kondisi pak Zul, cek detak jantung. Lalu dokter itu menggelengkan kepalanya,dengan wajah sedih .
"Dok apa yang terjadi sama bapak ini.?" Ayah Andi pun menunjukkan wajah tegang.
"Kondisinya semakin memburuk, kita hanya bisa berdoa untuknya saja."
Andi pun mendekati pak Zul, Andi menggenggam tangan pak Zul." Pak Zul, maaf kan saya. Karena saya, kondisi bapak jadi seperti ini,saya mohon pak Zul bertahan. Agar saya bisa bertanggung jawab atas kesalahan saya pak.?"
Dengan nafas yang berat,pak Zul mengucapkan kata-kata." Tidak apa-apa nak, ini sudah takdir bapak. Jika kamu ingin bertanggung jawab,saya punya permintaan terakhir untuk kamu dan anak saya..?" Dengan nafas berat ,serta peluh yang membanjiri tubuh pak Zul. Membuat kondisi detak jantung nya semakin melemah.
"Putri saya hanya hidup sebatang kara di sini, ibunya sudah tidak ada,mungkin sa...ya Ju ga akan pergi meninggalkan anak saya."Andi masih mendengar kan kata kata dari pak Zul."Saya ingin melihat anak saya menikah, mungkin saya tidak bisa melihatnya nanti. Apa kamu bisa bertanggung jawab, dengan menikahi anak saya,haaaaaa....." Pak Zul menarik nafasnya yang semakin Berat.
Deg,,, bagaikan tersayat yang Andi rasakan saat mendengar permintaan terakhir dari seorang ayah, yang menjadi korban kecelakaan karena ulahnya.
Andi melihat ke arah orang tua nya,dengan mata yang sudah memerah. Andi tak tau harus bagaimana, yang Andi tau dia harus bertanggung jawab. Tapi tidak dengan menikahi wanita lain,selain Gita.
__ADS_1
"Yah, ayah jangan bicara seperti itu, ayah akan tetap sama Ica. Walaupun ayah pergi, ayah akan selalu ada di hati Ica, aku akan jaga diri aku sebisa mungkin, ayah jangan khawatir." Dengan senyum yang di paksakan.
"Nak, ayah sudah tidak bisa menjaga kamu lagi. Ayah hanya ingin kamu ada yang menjaga, melindungi dan menyayangi kamu saja. Ayah mohon nak, ikuti permintaan ayah ini, untuk yang terakhir kalinya." Suara pak Zul semakin hampir tak terdengar. Yang ada hanya Isak tangis dari putri nya.
Andi memperhatikan pak Zul dan juga anak nya yang bernama Ica itu.
Dalam kondisi yang rumit, dan mendesak. Akhirnya Andi pun mengambil keputusan, dan semoga ini keputusan yang terbaik untuk semuanya.
Andi pun mengambil nafasnya dalam-dalam lalu membuangnya.
" bismillahirrahmanirrahim, baik pak saya akan tanggung jawab. Dan akan mengikuti permintaan pak Zul untuk menikahi anak bapak."
Dan ucapan Andi membuat Ica, anak gadis pak Zul menoleh ke arah Andi.
Sedangkan Andi hanya menunduk yang pasrah akan Jawaban nya. Andi merasa dia harus bertanggung jawab akan kecelakaan yang telah terjadi. Bukankah seorang laki laki itu yang di pegang ucapannya.
Andi sadar karena janji dan ucapannya akan ada hati yang sakit, dan terluka.
"Mas apa ucapan kamu yakin, aku tidak mau nantinya bisa kamu akan menyesal apa yang telah kamu lakukan ini."
"Aku yakin, aku harus tanggung jawab atas kesalahan aku ini."
Pak Zul pun tersenyum lemah ke arah Andi, " trimakasih hah... Nak Andi. Saya senang mendengarnya, saya akan pergi dengan tenang setelah ini. Apa bisa di mulai sekarang nak, Dok tolong bantu menjadi saksi di sini." Dokter pun mengangguk dan Nafasnya nya pun mulai melemah, dan semakin terasa berat tarikan nafasnya. Seluruh orang yang berada di ruangan pun jadi saksi pernikahan itu. Dengan di rekam oleh seorang perawat untuk dokumentasi,agar mempunyai bukti kalau Andi dan Ica sudah menikah.
Kedua orangtuanya Andi pun pasrah dengan keadaan seperti itu. Ada perasaan sedih,dan ada perasaan bangga. Karena sebagai anak laki-laki, Andi dapat bertanggung jawab akan ucapannya dan dia lakukan.
Andi pun kini sudah mengucapkan ikrar janji, di hadapan pak Zul yang terbaring lemah. Dan para saksi, yang di saksikan kedua orangtuanya Andi , dokter,dan perawat di rumah sakit itu. Kini Andi sudah SAH dan berstatus suami.
__ADS_1
Setelah Andi mengucapkan ijab Qobul, pak Jaka pun menghembuskan nafas terakhirnya. Dan setelah itu pak Zul pergi untuk selamanya, dan Ica sebagai anak menangis histeris akan ke Matian ayah nya.
Flashback of.