
"Iya pak insya Allah saya akan main kerumah bapak ibu. Kita buat kue sama sama ya Jessy. Iya kan pak Gilang ,pak Gilang juga ikutan." Gilang nampak kaget saat namanya di sebut oleh Gita.
"Aaah apa Git, ko saya di bawa bawa.?" Tanya Gilang yang tak mengerti.
"Iya nanti kamu bantu Jessy dan Gita untuk membuatkan cake tiramisu di rumah papah."
"Ow.. Oke siapa takut ". Ucap Gilang. Membuat Gita tak percaya kalau bos nya akan bersikap tengil seperti itu.
Gita pun pergi meminta izin untuk ke musholah, karena tak mungkin dirinya shalat diruang Jessy karena ada keluarga nya. Gita pun keluar dari ruangan itu dan berjalan menuju arah musholah.
Sedangkan di dalam ruangan Jessy. Jessy yang lagi istirahat habis minum obat.
Pak Hendra yang sedang duduk di sofa bersama Gilang bertanya." Lang bagaimana kondisi pabrik coklatnya.?"
" Selama ini baik si yah. Ada apa ya?
"Tidak apa apa. Ayah hanya bertanya saja.
"Ow... Iya, yah, Bun. Hari Senin aku seperti nya harus ke Bandung, aku ada pertemuan dengan beberapa klienku. Dan aku juga harus, mengontrol usaha oleh oleh ku yang di Bandung yah. Kemungkinan aku juga menginap di sana.
"Berapa lama Lang . Kamu tau kan ayah dan bunda harus ke Surabaya. Kerumah pakde Danang putri nya akan menikah hari Minggu. Bagaimana sama Jessy, tadinya bunda ingin mengajak Jessy ke Surabaya. Tapi kan putri kamu sakit,tidak mungkin bunda ajak. Kamu ajak aja Lang Jessy sama kamu, bagaimana Lang kamu mau kan ngajak Jessy.
"Iya yah tidak mungkin Jessy di ajak bunda lusa. Kalau di tinggal di titip sama mamah Lukman kasian, kalau di ajak dia tidak ada temannya Bun, aku harus ajak siapa. Lukman, tidak mungkin dia harus ke pabrik, dan dia juga harus bolak balik control usahanya dia sendiri". Gilang nampak bingung.
Sedangkan sang bunda dan sang suami saling berpandangan, dan saling tersenyum penuh maksud. " Gilang bagaimana kamu ajak aja Gita, untuk menemani Jessy untuk ikut kamu dan Jessy. Anggap saja kamu berterima kasih kepada Gita karena dia sudah bela belain kerumah sakit untuk Jessy. Dan sekalian kamu ajak Jessy liburan". Usul pak Hendra ,dan sang Bunda hanya mengangguk tanda setuju.
"Apa Gita mau, aku nggak enak yah". Gita yang masih berfikir ragu ragu.
"Ya di tanya dong Lang, bagaimana sih kamu Lang." Kata sang bunda yang gemas akan jawaban Gilang..
__ADS_1
Baru Gilang ingin melanjutkan bicaranya, terdengar suara ketukan pintu. Dan pintu terbuka, ternyata yang datang dokter untuk visite Jessy. Dokter memeriksa keadaan Jessy dan dilihat perkembangan kesehatan nya.
Gilang yang menghampiri Jessy pun bertanya ke dokter." Bagaimana dok, kondisi anak saya, sudah membaik kan?"
" Kondisi anak bapak sudah lebih baik, dari kondisi yang semalam hari ini kondisi anak bapak bagus. Kita lihat lagi nanti, kalau memang memungkinkan anak bapak benar benar sudah sehat. Anak bapak boleh pulang hari ini. Atau besok pagi pak." Dokter laki laki menjelaskan dengan tenang.
" Kalau pulangnya hari ini saja bisa dok, anak saya minta pulang terus biar di rawat di rumah saja. Kalau memang kondisi anak saya sudah tidak seperti semalam. Saya minta anak saya di rawat di rumah saja dok".
" Baik kalau memang dari pihak keluarga mau nya seperti itu. Bisa ko anak bapak di rawat di rumah, dan pulang hari ini. Silahkan bapak bisa mengurus surat surat untuk kepulangan putri bapak."
" Baik dok trimakasih nanti saya urus untuk kepulangan anak saya, trimakasih sekali lagi dok". Ucap Gilang yang bersalaman dengan sang dokter. Nampak wajah bahagia di wajah pak Hendra dan sang istri.
" Baik kalau begitu, saya permisi bapak,dan ibu sekalian". Dan dokter pun pergi meninggalkan ruangan Jessy.
Tidak lama dokter keluar, Gilang pun keluar untuk mengurus kepulangan Jessy. Dan saat berjalan Gilang melihat Gita." Git, ikut saya sebentar yuk".
"Ikut saya, kalau saya nyuruh kamu ikut ya ikut, saya tidak mau ada penolakan". Gilang pun langsung jalan begitu saja.
"Idih kumat lagi tuh orang. Bos error''." Gita pun akhirnya mengikuti Gilang di belakangnya, Dengan wajah cemberut..
Gilang berjalan keluar pintu rumah sakit, Gita bingung kenapa bos nya ngajak keluar. Gilang menoleh kebelakang, Gita sedang jalan dengan cepat mengikuti dirinya. Gilang tersenyum melihat Gita" Lama banget si kamu Git jalan nya?"
"Idih bapak enak aja nyalain saya, bapak aja yang jalan nya kecepatan. Kaya orang mau ngambil gajih".
" Memang kamu kalau mau ngambil gajih jalan nya cepet ya Git.?" Ledek Gilang,membuat mata Gita mendelik ke arah bosnya ." Kenapa mata kamu mendelik ke saya seperti itu?"
Gita pun langsung mengalihkan pandangannya ke arah lain. Gilang melihat Gita seperti itu, menahan tawanya agar tidak tertawa.
"Sebenarnya bapak ini mau kemana si pak? Bapak cuma mau meledek saya doang, kalau gitu saya balik ya pak, mau ngambil dompet. Saya mau beli sesuatu dompet saya tertinggal di dalam." Gita hendak berbalik badan, Gilang menarik tangan Gita.
__ADS_1
"Ikut saya ayo". Gita terkejut karena bos nya menggandeng tangan Gita,dan menarik tangannya.
Gilang terus menggandeng tangan Gita, menyebrangi jalanan yang ramai. Sampai sudah menyebrang pun tangan Gita masih belum di lepas.
Akhirnya Gita pun memanggil bosnya itu." Pak Gilang stop".
Gilang pun berhenti, dan menoleh kearah Gita ." Ada apa Git?" Gita mengarahkan matanya ke tangan mereka. Dan Gilang terkejut saat tangannya menggenggam tangan Gita dengan sangat kencang.
"Astaga, maaf Git. Habis nya tadi kamu jalan lama, dan mau menyebrang jalan juga kan lagi padat banget jadi sekalian saja kamu aku tarik tangan kamu. Maaf ya Git". Gilang sengaja berbicara seperti itu agar dirinya tak malu karena sudah menggandeng tangan Gita.
Gilang jalan di depan Gita dengan bibir yang terus tersenyum. Sambil tangan mengusap ujung hidung nya, yang tak gatal. Memang begitulah Gilang kalau grogi atau malu dia akan mengusap ujung hidung nya.
Gilang pun mengajak Gita ke sebuah rumah makan, yang berada tak jauh dari rumah sakit. Gilang mencari tempat duduk untuk dirinya dan Gita. Yang tidak terlalu banyak orang.
"Saya tau kamu lapar Git mangkanya saya ajak kamu kesini, bunda saya si bawa makan. Cuma pasti kamu malu dan tak enak hati kan untuk makanannya. Kebetulan saya juga mulai lapar.Kamu mau pesan apa Git?"
"Terserah pak Gilang aja mau pesan apa".
"Nasi goreng seafood kamu suka nggak Git. Kaya nya di sini banyak yang pesan itu deh dari tadi."
"Terserah pak Gilang aja, saya ikut aja.
Gilang pun berdecak mendengar Jawaban Gita yang hanya jawab terserah." Minum nya kamu mau apa Git, kamu jawab terserah lagi saya getok kamu pake buku menu makanan loh Git.
" Idih galak bener si pak bos. Saya mah terserah, saya di beliin kan sama pak Gilang, kalau saya pesan yang macam-macam namanya saya ngelunjak pak.
Gilang mendengar kata kata Gita rasanya ingin tertawa. Tapi Gilang hanya menggeleng kan kepalanya dan terkekeh.
Lalu Gilang memesankan dua makanan dan minuman untuk dirinya dan Gita. Lalu duduk kembali ke meja tempat mereka berdua..
__ADS_1