
"Alhamdulillah tidak pak, karena aku bisa menahan nya sedikit, walaupun masih merasa kan sedikit. Tapi Kalau tadi aku hanya merasakan sesak aja pak, yang saya harus keluar kan agar tidak merasa sesak pak". Ucap Gita yang sedikit lebih tenang, namun Gilang masih dapat melihat wajah ketakutan Gita.
"Kalau kamu sudah lebih baik, saya akan antar kamu pulang Git". Tanya Gilang, dan di angguki oleh Gita.
Lalu Gilang menyalakan mesin mobilnya kembali, lalu Gilang mengendarai dan melaju kendaraan,dan mengantarkan Gita pulang.
Gilang Sedikit lega karena Gita sudah lebih baik. Di dalam pikiran Gilang, gadis seceria Anggita pernah mengalami trauma masa kecil, dan bully di sekolah nya. Gilang y akhirnya fokus dengan kendaraan nya sesekali melihat Gita yang sedang melihat jalan dari kaca mobil.
Lalu tiba tiba Gilang bertanya ke Gita yang sedang asik melihat pemandangan jalan dari kaca mobil." Git, kamu berteman dengan Reni dari kecil ya?.
Gita pun menoleh ke arah bos nya yang sedang menyetir," Tidak pak, aku berteman dengan Reni, sejak kita SMA. Tapi Reni selalu peduli dengan ku, dia juga yang ngajarin ku untuk belajar jadi lebih kuat, dan juga tenang. Jangan lemah, benar yang dikatakan Reni, sedikit sedikit aku bisa menghilangkan rasa sedih ku. Dan aku juga tidak membuat keluarga ku sedih terus menerus". Cerita Gita dan juga menampakkan senyum nya. Dan Gilang pun melihat Gita yang tersenyum dia pun juga ikut tersenyum.
"Memang Git, obat yang ampuh untuk menghilangkan nya, adalah perhatian dan kasih sayang dari orang di sekitar. Dan kita juga harus tenang dalam segala hal masalah". Jawab Gilang," eeh... Git, tapi tadi kamu keren loh ngelawan tuh Bella dan temannya, sampai terjatuh segala." Gilang memuji Gita dan Gita pun tersenyum mendengar bos nya memuji dirinya.
"Hehehe... Hanya kebetulan saja pak". Jawab Gita dengan bercanda.
Gilang memang seperti itu. Dia mempunyai berwajah dingin. Namun di balik wajah nya yang dingin, Gilang juga sosok yang hangat dengan keluarga nya. Ya hanya orang yang benar-benar dekat dengan Gilang yang mengetahui sifat dan sikap nya Gilang. Termasuk Lukman,dan kini Gita pun baru mengetahui sikap bosnya yang mempunyai sisi hangat. Tapi itu hanya berani Gita puji hanya dalam hati.
Ya selama dalam perjalanan mereka pun saling mengobrol. Gilang melihat kalau sudah Gita pun cukup tenang.
Ya memang sakit yang Gita rasakan membuatnya dirinya bahaya. Gita masih bisa menenangkan dirinya sendiri, seperti yang pernah dokter jelaskan hanya menenangkan pikiran yang harus Gita lakukan, dan support dari orang terdekat.
__ADS_1
Di skip ..
Kini mobil yang Gilang kendarai sudah sampai di rumah Gita. Dan kebetulan keluarga Gita sedang di depan rumah sedang duduk di teras rumah.
Dan keluarga Gita pun melihat mobil berhenti di halaman rumah, dan yang keluar dari dalam mobil Gita, dan seorang laki-laki yang menurut orang tua Gita, mereka kenal. Dan orang tua Gita pun baru mengingat kalau itu adalah ayah Jessy yang tak lain bos anaknya.
Lalu Gita dan Gilang pun menghampiri pak Jaka dan Bu Siti.
"Assalamualaikum ". Gita dan gilang mengucapkan salam.
"Waalaikumsallam". Jawab salam kedua orangtuanya Gita.Gita mencium tangan kedua orangtuanya, sedangkan Gilang. Bersalaman dengan kedua orang tuanya Gita.
"Duduk pak Gilang". Gita mempersilahkan bos nya duduk. Gilang pun duduk.
"Iya pak mau minum apa, kopi atau teh. Sekalian pak Gilang mencicipi makanan yang ibunya Gita buat". Pak Jaka pun juga menawarkan Gilang minum.
Terdengar Gilang membuang nafas, dan tersenyum Gilang bicara." BaPak, ibu jangan terlalu formal dengan saya. Saya lebih muda dari ibu dan bapak, panggil saja dengan nama saja. Kan saya lebih muda dari kalian, masa saya di panggil bapak sama kalian. Seolah-olah saya susah tua dari bapak ibu." Jawab Gilang dengan sopan disertai tersenyum..
"Ya sudah kami panggil kamu dengan panggilan nak Gilang ya?" Jawab pak Gilang, dan Gilang pun mengangguk dan tersenyum.
"Itu lebih baik pak, kalau di luar seperti ini, kalau ada yang panggil saya bapak,saya rasanya risih." Kata Gilang disertai senyum yang ramah.
__ADS_1
" Kalau begitu, nak Gilang mau minum apa, biar ibu buatkan?"Bu Siti menawarkan Gilang minum.
"Apa saja Bu". Jawab Gilang, sebenarnya Gilang ingin menolak di buatkan minuman. Namu karena Gilang takut membuat keluarga nya Gita tersinggung akhirnya Gilang mengiyakan untuk di buatkan minum dan berbincang sejenak dengan keluarga Gita.
"Pak Gilang mau kopi, nanti biar aku buatkan?" Tanya Gita.
"Boleh Git, tadi kan nggak jadi di minum kopinya." Kaya Gilang dengan tersenyum Dan Gita pun membalas senyuman nya, lalu pergi meninggalkan untuk membuatkan kopinya.
Sedangkan Gilang di luar di temani oleh keluarga Gita. Ya menurut Gilang keluarga Gita itu baik dan ramah. Dan Gilang pun juga dengan ramah dan sopan berbicara dengan kedua orang tuanya Gita.
"Bapak, ibu, sebenarnya saya merasa tidak enak hati mengantarkan Gita sampai larut malam seperti ini. Karena permintaan anak saya Jessy yang selalu memanggil nama Gita. Sebenarnya saya juga merasa tidak enak dengan Gita, karena sudah merepotkan dia." Ucap Gilang yang merasa tak enak hati dengan kedua orangtuanya Gita.
Kedua orangtuanya Gita pun tersenyum mendengar ucapan Gilang." Tidak apa-apa nak, namanya permintaan orang sakit, apa lagi Jessy yang kenal dengan Gita. Walaupun Jessy meminta kami datang, insya Allah pasti kami datang. Gita pun pasti merasa tak keberatan kan dengan permintaan Jessy, kami kenal Gita seperti apa. Apalagi sama anak kecil, Gita itu tidak tegaan. Lagian nak Gilang sudah mengantarkan Gita sampai rumah dengan selamat. Itu sudah membuat kamu merasa tenang, jadi nak Gilang tidak perlu merasa tidak enak seperti itu kepada kami". Kata pak Jaka yang sambil menyeruput kopinya, yang terlihat masih mengepul uap nya.
Gilang yang mendengar pak Jaka bicara seperti itu, Gilang jadi merasa lega." Syukur kalau seperti itu, saya merasa tak enak hati. Mengantarkan Gita sampai jam segini.". Kata Gilang yang melihat jam yang berada di tangan nya.
Lalu Gita pun datang dengan membawakan secangkir kopi milik Gilang, yang tak lain bos nya. Gita meletakan kopi di atas meja di depan Gilang.
" Terimakasih Git, jadi merepotkan." kata Gilang yang memberikan senyuman kepada gita.Dan itu membuat dada Gita merasa berdetak cepat.
" Sama sama pak," Gita pun langsung menundukkan wajahnya untuk mengalihkan pandangannya, Gita pun duduk di samping ibunya.
__ADS_1
Lalu Gilang memegang handphone nya lalu mengirim pesan kepada bunda nya untuk menanyakan keadaan Jessy. Lalu handphone Gilang pun bergetar tanda pesan masuk, Gilang pun membacanya. Setelah pesan nya di baca Gilang pun nampak tenang, dan meletakkan handphone nya kembali di atas meja.