Cinta Anggita

Cinta Anggita
Saling bercerita


__ADS_3

Gilang hanya mengambil nasi setengah saja. Yang setengah nya pun di pisahkan oleh Gilang. Lalu Gilang mengambil lauk nya ternyata Gita memasak capcay,dan telor balado. Gilang mencicipi capcay nya, setelah Gilang mencicipi, Gilang nampak tersenyum dan manggut-manggut." Enak". Gilang pun memakan makanan yang di masak Gilang dengan lahap." Pantas saja Jessy bilang masakan Gita enak ternya memang benar benar enak masakan nya ". Ucap Gilang dalam hati.


Saat Gilang makan, Gita pun keluar dari dalam toilet. Gita duduk di kursi di samping Jessy. Dan melihat mata Jessy terbuka dan tersenyum ke arah Gita." Hai cantik, sudah bangun Bobonya." Kata Gita dengan tersenyum.


"Sudah ka, KA Gita Jessy haus". Gita pun segera mengambil minuman untuk Jessy dan memberikan nya kepada Jessy." Ka Jessy lapar, Jessy ingin makan, tapi bukan makan nasi atau bubur..


"Terus kamu mau makan apa sayang. Aaah iya Ka Gita punya pudding, kamu mau tidak. Pudding nya rasa tiramisu loh. Jessy suka kan tapi ini ka Gita beli. Bukan buat sendiri. Jessy mau tidak sayang?" Jessy pun mengangguk dengan sangat senang. Gita pun mengambil puding dari kantong plastik. Gita mengeluarkan sebuah pudding tiramisu.


Gita menyuapi Jessy pudding yang Gita bawa," bagaimana enak tidak pudding nya?"


"Enak ka, ka Gita kalau Jessy sudah sehat, KA Gita mau tidak buatin aku cake tiramisu. KA Gita kan sudah janji iya kan?" Tanya Jessy yang menagih janjinya kepada Gita.


Gilang memperhatikan Gita beserta menunggu jawaban dari Gita takut takut Jessy berharap sama Gita.


Tangan Gita berada di dagu, dan wajah Gita nampak berpikir dan membuat wajah Jessy penuh harap. Sebenarnya Gita melihat ekspresi Jessy yang sedang menunggu jawaban darinya.

__ADS_1


Bagaimana ya bisa atau tidak ya heeemmm..." Gita tersenyum meledek.


" Bisa dong ka Gita yayaya... Kata Jessy dengan senyum manisnya.


"Jessy harus janji sama ka Gita, kalau Jessy harus cepat sehat ya. Nggak boleh sakit lagi, kasian papahnya tuh, khawatir sekali sama Jessy pas tau Jessy sakit. Jessy sayang kan sama papah." Jessy pun mengangguk." Nah kalau Jessy sayang sama papah Jessy harus sehat ya. Jessy harus bilang apa sama papah, biar papahnya Jessy tidak sedih lagi. Jessy kan anak pinter. Nanti kakak janji nanti kita bikin kue. Kalau Jessy sudah sehat Bagaimana kamu setuju tidak?"


Gilang yang baru selesai makan dan habis dari dalam toilet pun duduk di sofa, sambil mendengarkan Gita bicara dengan Jessy. Hanya bisa menahan senyum di hadapan Jessy.


Gilang melihat Jessy mengangguk kan kepalanya, dengan ekspresi sedih, Gilang pun melihatnya Merasa tak tega. Gilang menghampiri Jessy dan berdiri di samping Jessy. Gita yang berada di depan anak dan ayah, hanya bisa tersenyum melihat Jessy yang menggandeng tangan sang papahnya.


"Kenapa sayang ko wajahnya sedih, kenapa heem... " Gilang duduk di kursi dan memandang wajah sang anak yang terlihat matanya sudah mengembun. Gilang menghapus air mata sang anak dengan lembut.


"Tidak Sayang, Jessy tidak salah. Jessy tidak usah takut, papah tidak akan menikah dengan Tante Bella. Kalau Jessy tak memberi izin, papah akan tetap menjadi papahnya Jessy. Karena hanya Jessy yang papah punya saat ini, dan Oma Opa di rumah. Dan walaupun papah menikah sekali pun, itu dengan pilihan anak papah ini. Dan papah akan tetap menjadi papahnya Jessy, dan papah akan menikah dengan seorang gadis yang bisa menerima Jessy juga. Papah janji sama jessy, Jessy percayakan sama ucapan papah".Gilang berucap kepada Jessy dan sambil menghapus air mata Jessy. Dan juga Gilang memberi pengertian kepada sang anak, agar tidak merasa bersalah akan kejadian kemarin. Dan memang benar Gilang berjanji kepada dirinya dirinya menikah dengan gadis pilihan Jessy, dan yang pasti sayang juga dengan Jessy.


Gita yang melihat drama antara anak dan ayah itu membuat gita sedikit terharu. Gita pun mundur beberapa langkah agar menjauh dari Jessy dan bosnya. Namun saat baru melangkah, Gilang memanggil Gita." Git, tunggu.

__ADS_1


Gita pun menoleh" iya pak ada apa?"


Gilang pun berbicara kepada Jessy, Jessy hanya tersenyum dan mengangguk.


Lalu Gilang berjalan menghampiri Gita. " Saya ingin bicara sama kamu di luar Sebentar." Gita pun mengangguk. Lalu Gilang pun berjalan keluar meninggalkan Jessy yang sedang beristirahat .


Gita pun mengikuti Gilang di belakangnya. Dan mereka duduk di kursi yang berada di luar ruangan Jessy.


Gita nampak bingung," sebenarnya pak Gilang mau ngomong apaan si? Gue jadi takut apa gue salah ngomong ya tadi. Aduh gimana kalau menurut nya gue tadi salah ngomong".


Gilang jadi bingung harus mulai dari mana. Akhirnya Gilang menarik nafasnya dan lalu membuangnya.


" Git, sebelumnya saya mengucapkan maaf sama kamu, sepertinya saya merepotkan kamu. Dan saya berterima kasi karena kamu sudah mau datang untuk permintaan Jessy. Saya tidak tau harus berkata apa sama kamu, hanya kamu yang Jessy sebut namanya. Dan maafkan Jessy ya yang sudah minta macam macam permintaan sama kamu. Saya benar-benar merasa tidak enak sama kamu Git. Saya takut kamu berfikir yang tidak tidak, tentang permintaan anak saya".


"Ya ampun pak saya tidak pernah berfikir macam macam pak. Selama saya masih bisa membantu seseorang, saya akan bantu sebisa dan semampu saya. Justru saya takut kalau bapak yang berfikir macam macam dengan saya. Jujur saya ikhlas pak, apalagi hanya permintaan Jessy yang minta di buatkan kue dan menemani Jessy di rumah sakit. Tetapi saya juga minta maaf pak kalau kerjaan di pabrik saya tinggal".

__ADS_1


Gilang tersenyum mendengar kan jawaban dari Gita. "Kamu tau Gita, Jessy itu sulit Git buat dekat dengan seseorang,apa lagi setiap teman wanita yang saya kenal kan ke dia. Sulit untuk Jessy terima itu. Dan bahkan dengan Tante nya sendiri pun dia cuek Git. Dia nggak pernah minta sesuatu dengan adik saya. Mangkanya saya bingung kenapa Jessy bisa dekat dengan kamu, padahal kalian bertemu belum lama. Dan benar kata Jessy kamu itu orang baik, mangkanya Jessy bisa dekat dengan kamu. Perasaan anak kecil itu lebih tajam dengan sikap orang tulus tidak nya. Trimakasih ya sudah mau direpotkan oleh permintaan Jessy. Dan satu lagi Git, saya tidak pernah berfikir macam macam tentang kamu. Maaf saya jadi curhat sama kamu." Gilang menggaruk kepalanya yang tak gatal.


" Tidak apa-apa pak, sesuatu yang di pendam juga harus bisa kita keluar kan pak. Jangan di simpan aja pak, bakalan sesak pak. Pak Gilang tidak perlu memuji saya seperti itu pak. Saya hanya takut lupa diri, hehehe.... Dan saya juga bukan orang sebaik itu pak." Gita tiba tiba jadi merasa melow." Saya melihat Jessy saya teringat adik saya pak. Waktu saya masih sekolah di bangku SMP, Dulu saya punya adik perempuan, Usianya enam tahun. Nama nya Jenita kami suka memanggilnya Jenni. Adik saya suka sekali sama makanan atau minuman yang berbau coklat dan selalu menyukai kue buatan saya. Dia gadis yang lucu imut dan pintar, dia pinter dalam bicara. Cerewet sekali kalau sudah bertanya." Ada senyum dan kerinduan di wajah Gita.


__ADS_2