
"Memang nya Jessy ingin main kemana si sayang Hem..." Gita sambil membelai rambut Jessy, semua itu tak lepas dari pandangan Gilang.
" Begitu dekatnya Jessy dengan Gita, aku harus apa,apa yang harus aku lakukan ya Robb. Ku pasrahkan semuanya kepadamu, jika memang gadis di depan mataku ini jodoh ku dekatkan ia kepada kami. Jika bukan maka ikhlas kan hati Jessy untuk menerimanya."Hati Gilang yang selalu berkecamuk, saat melihat Jessy begitu dekat dengan Gita. Apalagi mimpinya yang membuatnya semakin gelisah. Huffh.... Gilang hanya bisa membuang nafasnya saja .
Sore hari, sudah jam empat lewat Gita sudah rapih dengan mengganti seragamnya dengan baju yang ia gunakan pagi. Dan Gita juga sudah bilang ke Reni kalau dirinya tidak bisa pulang bareng bersama Reni. Karena Jessy mengajak Gita keluar bersama, dan Reni juga ingin keluar bareng bersama Lukman.
Jessy dan Gilang pun keluar dari ruangan dan menghampiri Gita." Ka Gita sudah siap ya, waah ka Gita cantik banget dan itu tas yang aku kado in ka Gita. Suka tidak ka sama tasnya?"
"Suka sayang ka Gita sangat suka tas nya lucu, kaya kamu. ". Gita menoel hidung Jessy.
"Hihihi,,, aku juga punya Ka, kita samaan tasnya."
"Ow ya... Nanti kita pakai sama sama ya sayang".
Begitulah ke akraban Jessy dan Gita, dan Gilang hanya diam menatap ke akraban Jessy dan Gita. Apalagi Gilang sejak tadi memperhatikan Gita yang menggunakan menggunakan bawahan dan atasan wana hitam, serta blazer warna Salem, dan tas warna yang sama. Dan rambut yang di gerai dengan di beri jepitan kecil, untuk mempermanis penampilan nya.
Bagi Gilang itu perfact untuk penampilan Gita, terkesan dewasa dan sedikit manis. Dan Gilang tersenyum melihat Gita yang kini sedang berjalan bersama Jessy di depannya.
Jessy dan Gita masuk ke dalam mobil, begitupun juga Gilang yang duduk di depan untuk mengemudi mobil nya. Gilang melihat Gita yang duduk di belakang bersama Jessy, Gilang pun merasa geram Gilang merasa seperti supir dengan dua gadis duduk di belakang.
"Git".
Gita yang sedang tertawa mendengar Jessy cerita pun menoleh ke arah yang memanggil namanya." Iya pak".
"Pindah di depan sini".
"Kenapa pak, saya sama Jessy saja pak".
"Kami fikir anak saya akan hilang jika duduk sendirian di belakang, cepat pindah kamu kira saya ini supir kamu hah...." Gilang menunjukkan wajah garangnya.
Gita merasa takut dengan tatapan Gilang yang menakutkan. Gita hanya menyengir." Hehehe....Iii iya pak saya pindah pak di depan." Akhirnya Gita pun pindah ke kursi depan di samping Gilang." Maaf pak jangan marah". Gita memanyunkan bibirnya.
Jessy pun tertawa melihat Gita yang seperti itu," Pah jangan galak galak dong pah. Nanti wajah tampan papah hilang mau memangnya.?"
"Iya pak memangnya bapak mau?"
__ADS_1
"Berarti kamu mengiyakan kalau saya ini tampan Git". Kata Gilang yang melirik kearah Gita. Dengan menahan bibirnya yang sudah berkedut ingin tersenyum.
Gita yang baru tersadar dengan apa yang dia ucapkan."Ya iyalah bapak tampan,bapak kan cowok. Memang bapak mau di bilang cantik, gak mau kan". Gita mengeles dengan ucapannya.
"Terserah kamu aja Git," Gilang pun tersenyum dan menggeleng kan kepalanya.
Lalu Jessy yang di belakang cekikikan melihat dua orang dewasa sedang berdebat.
Mobil pun terus melaju dengan tujuan yang Jessy inginkan.
Kini mobil pun masuk ke kawasan mall yang berada di daerah Jakarta barat.
Setelah memasuk mall, Jessy menggandeng tangan Gita dan papahnya. Seakan akan Jessy mempunyai orang tua yang lengkap.
Jessy begitu bahagia, berjalan bersama Gita dan papahnya. "Pah aku ingin main ICE skating deh, KA Gita sama papah ikut yuk."pinta Jessy.
Gilang pun mengangguk, tapi tidak dengan Gita dia terkejut, membelalakkan matanya." Aaa pa Jessy, Ice skating. Ka Gita tidak bisa kamu saja ya, hehehehe". Dengan tawa yang di paksa.
"Tidak apa-apa KA Gita, aku juga awalnya tidak bisa, papah yang ajarin aku. Yuk KA.." Jessy menarik tangan Gita.
Dengan meringis dan berusaha menolak dengan baik baik ke Jessy. " sayang ka Gita jujur nggak bisa main itu, kakak takut jatuh sayang. Apalagi kalau jatuh Ka Gita malu sayang".
Jessy pun menunjukkan wajah sedih dan kecewanya," padahal aku ingin kesini ingin main sama ka Gita sama papah. Sekian lama papah tinggal aku kerja terus. Dan aku juga cuma bisa ajak KA Gita saja buat main sama aku, tapi KA Gita tidak mau, ya sudah tidak apa-apa". Jessy pun langsung berjalan meninggalkan Gita. Menuju tempat permainan yang dia inginkan itu.
Gilang merasa tak tega dengan Jessy.
" Git saya mohon kamu mau ya, nanti saya ajarin kamu. Dan tidak semua yang main di situ bisa semuanya, ada yang baru belajar Git, Jessy dari kemarin ingin main sama kamu ".
Gita pun nampak berpikir" tapi pak Gilang ajarin saya ya di sana janji ya pak".
Gilang pun mengangguk." Iya saya janji, tapi ada syaratnya. Saya tidak mau kamu panggil pak, atau bapak lagi, karena saya bukan bapak kamu. Dan lagian ini itu di luar tempat kerja Git, bagaimana kamu setuju tidak". Ucap Gilang, dan Gita pun mengangguk.
Gilang pun tersenyum dengan jawaban Gita, lalu Gilang dan Gita menyusul Jessy.
"Sayang , tunggu sebentar". Panggil Gilang.
__ADS_1
Jessy pun berhenti." Iya pah?"
"Ko ka Gita nya di tinggal. Ka Gita ingin ikut main sama Jessy katanya".
Gita pun mengangguk,dan wajah Jessy pun sumringah mendengar jika Gita ingin ikut main ice skating bersamanya.
"Serius ka, mau ikut main sama Jessy." Lagi lagi Jessy bertanya untuk memastikan Gita.
"Iya Kaka mau, tapi ajarin Ka Gita ya. Kak Gita tidak bisa soalnya, takut jatuh sayang". Sambil membelai rambut Jessy.
"Tenang ka, kakak nggak akan jatuh soalnya ada papah yang jagain nanti agar kakak tidak jatuh." Ucap Jessy dengan tersenyum.
Gita pun melihat ke arah Gilang yang di mana dia juga tersenyum ke arah nya. Membuat Gita lagi lagi salah tingkah, dan jantung Gita pun berdegup cepat.
"Ya sudah yuk papah ka Gita kita masuk." Gilang pun mengangguk, lalu Gilang membeli tiket masuknya . Gita dan Jessy menunggu Gilang yang membeli tiket masuk.
Kini mereka pun sudah berada di dalam ruangan yang dingin, dan semua juga sudah menggunakan perlengkapan untuk bermain ice skating.
Gita sudah berpegangan di besi pembatas. Gita nampak ragu untuk ikut bermain ice skating bersama Jessy.
Jessy yang melihat Gita nampak ragu, hanya tersenyum ke arah Gita." Ka Gita ayo kita main, tuh liat mereka semua asik kan main nya".
Gita hanya tersenyum , lalu sebuah tangan berada di hadapan Gita." Ayo sini saya ajarin kamu". Sebuah senyuman yang tulus di berikan untuk Gita.
"Tapi pak, sa saya tidak bisa pak".
"Justru kamu tidak bisa, mangkanya kamu saya ajarkan. Yuk.." Tangan Gilang masih belum turun di depan Gita.
Gita pun akhirnya memegang tangan bos nya, saat Gita melepaskan tangan satunya, Gita hampir terjatuh namun di tahan oleh Gilang. Ya Gilang menahan pinggang Gita, dan tangan Gita yang satu menggenggam tangan Gilang, dan yang satunya menyentuh pundak Gilang.
bersambung....
...**Hai..hai...hai kakak kakak yang baik hati, mohon untuk tinggalkan like dan komentar nya yang positif nya ya. Agar aku semakin semangat untuk membuat cerita nya. like kalian itu ibarat vitamin untu ku, dan itu sangat berharga banget buat aku.. Trimakasih.......
...Ow iya jaga kesehatan ya buat kalian ya. Di musim yang ga tentu inti sebentar panas, sebentar hujan. membuat daya tahan tubuh lemah, dan kalian harus hati-hati dan jaga kesehatan....
__ADS_1
...karena author nya sendiri juga buat ceritanya lagi kurang sehat juga,di tambah keluarga juga sama. Maka buat kalian, apa lagi buat kalian yang sering beraktivitas di luar jaga kesehatan kalian. Trimakasih semua🙏🙏🙏**...