Cinta Anggita

Cinta Anggita
Cerita om Ridwan


__ADS_3

Akhirnya Lukman menengahi dua pria tersebut, walaupun terucap kata maaf. Tapi pandangan Gilang masih belum bersahabat dengan Andi yang kini berada di hadapannya itu.


" Sudah sudah, ya. Sekarang kita ini bersaudara, kita harus menjaga hati orang tua kita semuanya. Oke Kaka dan adik.?" Kata Lukman yang merangkul pundak ke dua sepupu nya itu.


"Saya paham Lukman tanpa kamu beritahu sekali pun. Memangnya saya anak kecil, kamu beritahu seperti itu. Lebih baik kita masuk." Lukman dan Andi pun masuk ke dalam.


Begitu pun juga Gita Reni dan ica. Mereka pun menyusul para suami mereka untuk berkumpul dengan para orang tua.


Kini semuanya duduk di sofa, om Ridwan menceritakan tentang bertemunya kembali dengan putri sudah sekian lama ia tidak bertemu.


Flashback on


Waktu acara pernikahan nya Reni dan Lukman. Ridwan yang kebetulan lagi di liar, selesai menghisap rokok. Tiba-tiba Ridwan menabrak seorang gadis, dan gadis itu terjatuh. Ridwan pun melihat gadis yang terjatuh itu dan menolongnya. Gadis yang menggunakan hijab, dengan menggunakan gamis brokat hitam. Ridwan menolong nya, dan juga sudah ada yang menolong nya seorang laki-laki yang bersama dengan gadis itu.


Gadis yang berpegangan tangan dengan pasangannya itu, membuat Ridwan kembali mengingat putri nya.


"Maaf ya nak, saya tidak melihat kamu tadi. Saya harus buru buru masuk kedalam.''


"Tidak apa-apa pak." Lalu Ridwan pun tersenyum." Kalau begitu saya permisi ya pak." Ridwan pun mengangguk.


Saat Ridwan berjalan, Ridwan seperti menginjak sesuatu. Ridwan pun berjongkok, dan melihat sesuatu barang yang dia injak.


Ridwan pun membelalakkan matanya, melihat barang itu, sebuah gelang emas.


Ridwan pun melihat kearah belakang,dan melihat gadis itu yang belum terlalu jauh.


Ridwan pun mengejar gadis itu.


"Dek tunggu." Teriak Ridwan, dan gadis itu pun berhenti dan menoleh kebelakang.


"Ia pak ada apa ya.?"


"Maaf saya hanya ingin bertanya, apa gelang ini milik kamu nak.? Soalnya tadi gelang ini terjatuh, saya tidak sengaja menginjak nya." Sambil memberi tahu gelang itu.

__ADS_1


Gadis itu melihat di pergelangan tangannya, memang tidak ada gelang miliknya." Astaghfirullah... Ya ampun pak, iya ini gelang milik saya. Trimakasih ya pak, terima kasih banget pak."


"Jadi benar itu gelang milik kamu nak.?" Gadis itu mengangguk." Siapa yang memberikan gelang itu nak.?" Ridwan memberikan pertanyaan itu kembali. Membuat gadis itu dan pasangannya saling melihat.


"Ini pemberian almarhum ibu saya pak, ada apa ya pak. Kenapa bapak bertanya seperti itu.?"


" Ibu mu sudah meninggal."Maaf nak, kalau saya lancang. Kalau boleh tau, siapa nama ibu kamu nak.?"


"Ibu saya bernama Hesti, ayah saya bernama pak Zulfikar. Apa bapak mengenal beliau.?" Tanya gadis itu dengan ekspresi bingungnya.


Ridwan tersenyum, dengan wajah yang teramat merindukan seseorang. Namun juga Ridwan merasakan sedih karena mantan istrinya sudah tiada, bahkan laki laki yang merebut Hesti pun juga sudah tiada. Ada perasaan sedih berarti saat itu anaknya merasakan kesepian. Dengan mata yang sudah mengembun Ridwan pun mendekat kearah gadis itu. Namun gadis itu malah mundur, karena merasa sedikit takut.


" Maaf nak, apa nama kamu Khairunisa.?" Persis pada nama yang terukir di belakang pada gelang itu..?" Gadis itu pun mengangguk, dan Ridwan pun terus mengucapkan hamdalah.


"Sebenarnya bapak ini siapa, kenapa bapak menanyakan semua tentang istri saya.? Kenapa bapak bisa tau, nama istri saya Khairunisa. Siapa bapak sebenarnya.?" Tanya pria yang mengaku suaminya itu.


Ridwan tersenyum." Siapa nama kamu nak.?"


"Nama saya Andi.? Sebenarnya bapak ini siapa, kenapa bapak mengenal nama panjang istri saya.?"


"Baik, mari kita bicarakan. Dan kebetulan di depan sana ada sebuah cafe, kita bicara di sana saja pak. Apa bapak mau.?" Tanya Andi yang masih menggenggam tangan Ica istrinya.


Dan Ridwan pun mengangguk kan kepalanya, setuju dengan permintaan Andi tersebut. Dan kini mereka bertiga berjalan menuju cafe tersebut.


Dan kini mereka sudah duduk di salah satu meja, di paling ujung di sudut ruangan. Agar merek bisa leluasa untuk bercerita. Dengan di atas meja mereka,tersedia 3 gelas minuman, dan makanan.


Ehem... Ridwan pun berdehem,untuk membuatnya rileks." Pasti kalian bertanya-tanya kan, kenapa saya mengenal nama Hesti ibu kamu." Ica mengangguk kan kepalanya." Mungkin kamu juga akan terkejut kalau saya ceritakan tentang ibu kamu itu siapa.?"


"Maksud bapak, maaf apa bapak bisa langsung bercerita. Jangan membuat saya bertanya-tanya tentang bapak .?" Ridwan hanya tersenyum mendengar ucapan Ica.


"Apa kamu pernah tinggal di Bandung nak.? " Ica mengangguk kan kepalanya.


"Apa gelang itu ibumu yang memberikannya langsung.?"

__ADS_1


"Iya ibu ku yang memberikannya langsung, setahun sebelum ibu ku pergi untuk selamanya.? Sebenarnya bapak ini siapa, kenapa mengenal ibu dan ayah saya.?"


"Nak, setahu saya ada cincin dan kalung dengan tanda nama yang sama,di belakang cincin dan Kalung itu.? Boleh saya lihat nak.?" Dengan sekuat tenaga Ridwan menahan sesak nya.


"Apa maksud bapak, jangan macam-macam pak. Siapa bapak sebenarnya.?"


"Saya tidak macam-macam nak, bahkan saya bisa membeli lebih dari apa yang istri kamu punya. Saya hanya ingin melihat nama di balik cincin dan kalung itu saja.?" Ica pun mengangguk kan kepalanya. Di lepaskan kalung itu dari balik hijab nya, lalu di letakan di atas meja.


Ridwan melihat cincin dan kalung yang di satukan. Dengan tangan gemetar, Ridwan melihat dua benda tersebut. Lalu di cari nama di balik cincin dan kalung. Alangkah terkejutnya dan sangat bahagianya bahwa nama itu benar ada pada cincin dan kalung itu.


Ridwan pun tak sanggup menahan air matanya,dan rasa sesak nya. Air mata pun mengalir sempurna di wajah pria yang sudah berumur itu. Kalung dan cincin itu di cium nya, sambil Ridwan menangis sesenggukan.


Ica dan Andi pun merasa heran melihat pak Ridwan yang menangis di hadapannya itu. Dan entah Kenapa Ica turut sedih, dan menghampiri pria tua di hadapan nya itu.


"Bapak kenapa.? Kenapa bapak menangis melihat Kaling dan cincin milik saya. Siapa bapak sebenarnya, saya mohon jelaskan ke saya pak.?"


"Saya menangis karena merasa bahagia. Bertahun tahun saya mencarinya,dan kini ia ada di hadapan saya. Sudah besar dan sudah menikah." Sambil membelai kepala Ica, dan menangis.


"Bertahun tahun bapak mencari saya, siapa bapak sebenarnya.?"


"Kamu Anisa Putri semata wayang saya. Saya ayah kamu nak, bukan pria itu. Zul itu bukan ayah kamu, dia yang sudah mengambil kalian dari saya." Mendengar itu Ica pun tersungkur jatuh lemas di lantai. Sambil menutup mulutnya dengan tangan nya sendiri, dan merasa tak percaya dengan apa yang bapak yang dihadapannya ini ucapkan.


"Apa maksud bapak, kalau ayah saya mengambil ku dan ibu dari bapak. Ayah saya orang baik, jadi jangan menilai ayah saya seperti itu.?" Hiks hiks hiks.... Ica menangis di pelukan Andi.


"Ya harusnya saya berterima kasih dengan Zul,yang sudah menjaga dan merawat putri saya. Agar tidak salah paham, saya akan ceritakan semuanya kepada kamu nak." Ridwan pun membantu Ica untuk berdiri dan duduk di kursi.


Dan Ridwan pun menceritakan semuanya ke Ica, tanpa ada yang di tutupi. Dan Andi pun mendengar nya juga sangat terkejut. Ica pun menangis, setiap yang Ridwan ceritakan. Begitupun juga Ridwan,semua ia ceritakan agar putri nya percaya. Dan Ridwan pun agar dapat mendekap erat putri nya yang sudah lama ia cari.


Setiap air mata Ridwan yang mengalir di Matanya. Semuanya itu perasaan rindu seorang ayah kepada anaknya, yang sudah lama ia cari. Sampai cerita itu selesai, Ica pun berlutut di hadapan Ridwan. Sambil mencium tangan pria yang ternyata ayah kandungnya sendiri.


"Jadi ayah Zul itu bukan ayah kandung ku. Dan kamulah ayah kandung ku sebenarnya, dan hiks.. aku tidak se sebatang kara lagi , aku masih mempunyai ayah." Ridwan mengangguk, dan sambil menghapus air mata putrinya.


Ridwan tidak bisa menahan rindu kepada putrinya itu, Ridwan pun mendekap tubuh putri nya yang sudah lama ia cari.

__ADS_1


Andi pun yang melihat nya juga merasa terharu. Seorang ayah mencari putri nya sendiri. Karena perselingkuhan yang menyebabkan perpisahan, membuat ayah dan putri nya terpisah bertahun tahun lamanya. Andi bersyukur, pak Zul walaupun bukan ayah kandungnya. Bisa menjaga dan melindungi Ica, sampai ajalnya menjemput. Walaupun itu kesalahan Andi, tapi Andi bertanggung jawab untuk melindungi Ica. Walaupun pernah di acuhkan, tapi rasa sayang itu sudah hadir untuk istrinya itu.


Flashback of


__ADS_2