
"Yaelah lebay Lo, gak inget umur. Belum berjuang udah patah aja semangat Lo. Baru di gituin sama gue, apa lagi sama ayah Hendra." Jawab Lukman, meledek Tyo.
Bram dan Gilang hanya menggelengkan kepalanya nya saja melihat Lukman dan Tyo berdebat
Sedangkan di dalam tiga orang wanita sedang berghibah ria di dalam kamarnya Hilda. Sedangkan Jessy dan Abi mereka tertidur karena mungkin lelah karena bermain seharian.
"Kalian tau gak sih, gue tadi pas jalan sama keponakan gue. Gue liat mantan gue jalan sama cewek lain, gila gak sih tuh. Gue aja masih jomblo dia udah gaet cewek lain aja. Nyebelin banget rasa nya". Kata Hida merasa kesal.
"Alah cowok gitu di pikirin, depak aja Hilda jauh jauh dari elo. Cari yang lain, ngapain cowok yang gak setia di tangisin."
"Betul banget Hilda, kamu harus move on dari Andreas. Kamu tuh cantik, pintar lagi. Kamu masih bisa mendapatkan cowok 10x lipat lebih baik dari dia."
" Iya sih tapi di mana nyari nya.?"
" Di pasar banyak tuh Hil." Jawab Reni asal jeplak.
"Itu mah tukang dagang sama sayuran Reni. Nyebelin banget sih Lo kalau kasih solusinya.?" Kata Hilda dengan cemberut.
Reni dan Gita tertawa namun tak kencang karena baby Gandi sedang tertidur di kasur Hilda.
"Git Lo belain gue ke, ini malah ketawa bantuin Reni.? Gue kan adik ipar lo sekarang, ya Lo bantuin gue .!"
Gita hanya terkekeh melihat Hilda yang ngambek. Memang begitulah Hilda yang Gita kenal, galak tapi sedikit manja. Apalagi sekarang Gita itu sudah menjadi kakak iparnya, ya hanya Gita tempat berbagi cerita. Rasa bencinya Hilda kepada Gita hilang, karena Gita tidak pernah membalas dengan benci nya ke Hilda.
"Memang kamu mau cari yang seperti apa.?"
"Dewasa, seperti mas Gilang. Bisa mengayomi, sabar dan yang penting dia itu baik, lucu gak pemarah apa lagi sampai kasar." Kata Hilda sambil matanya ke arah atas membayangkan.
"Idih banyak bener itu syaratnya Bu, udah kaya orang mau belanja bulanan aja.?" Celetuk Hilda
"Biarin wee..."
"Yasudah sabar aja, doakan semoga kamu dapat pengganti baru. Kalau bisa mah jangan pacaran lama Hilda, kalau udah saling kenal ya minta di halalkan aja. Dari pada kamu ngejaga jodoh orang lain".
"Pengen nya begitu Git, dari pada di sindir sama ayah terus. Kata ayah selalu bilang, pacaran terus kapan di halalin nya". Reni dan Gita lagi lagi tertawa mendengarnya.
Tiga Minggu kemudian, kondisi Gita semakin membaik. Kini Gita sudah bisa berjalan dan kembali normal. Gita pun kini juga sudah kembali ke rumah mereka, sudah tidak tinggal di rumah pak Hendra.
Kini Gita sedang ngajak bermain Gandi. Abi sudah ke sekolah, sedangkan Jessy sudah di antar sekolah oleh mba Santi.
Ya semenjak ada Gandi, Gita tidak boleh terlalu cape oleh Gilang. Jadi setiap harinya yang menemani Jessy ke sekolah mba Santi, Mba Santi sendiri adalah keponakan ibu Ida, yang usianya masih 20 tahun. Mba Santi keponakan satu satunya Bu Ida, dan kedua orang tuanya sudah tiada. Keluarga Santi yang di miliki Hanya Bu Ida, Santi juga menganggap Bu Ida sebagai ibunya.
Tentunya Gilang dan Gita menyuruh Santi bukan sembarang ajak kerja. Di lihat Santi itu mempunyai pribadi yang baik, dan sopan. Mangkanya Gilang dan Gita mau menerima Santi untuk menemani Jessy.
" Sayang, tadi Hilda nelpon mas. Dia bilang katanya dia mau nginep di sini, soalnya ayah dan bunda sedang Pergi dengan om Ridwan dan mamah Henny. Jadi dia kesepian kata nya , boleh kan kalau Hilda nginep.?"
__ADS_1
"Boleh dong mas, masa gak boleh. Adik kamu adik aku juga, lagian dengan adanya Hilda aku ada teman untuk ngobrol mas".
"Ngobrol apa ghibah". Gilang meledek.
"Hihihi... Ngobrol mas, masa ghibah. Paling di selipin dikit ghibah nya." Gita terkekeh, Gilang hanya menggelengkan kepalanya." Kalau tanteh dan om ikut Bunda, berarti Reni dan mas Lukman berdua doang di rumah.?"
"Lukman ikut Reni ke rumah orang tua nya dong sayang."
" Iya ya, hehehehe.... Kan Reni sudah gak boleh sendirian, harus ada yang mengawasi nya".
"Itu kamu tau sayang". Gilang mengacak-acak rambut Gita, sedang kan Gita hanya tersenyum.
Siang hari begitu terik, matahari sudah sampai keatas kepala. Seorang gadis yang sedang merasa kesal, karena menunggu taksi tak kunjung lewat.
"Ya ampun, mana sih ini taksi gak ada yang lewat apa ya.? Rasanya ubun ubun gue ingin meletak rasanya, huuufh....." Sambil mengibas ngibas kan tangan ke bagian lehernya.
"Pengorbanan banget ya ingin kerumah kak Gilang, ya ampun. Mau minta jemput juga percuma hape ga berguna, niat banget ya mati di saat saat gue sangat butuh elu.?" Sambil memandang handphone nya dengan sangat kesal.
Lalu handphone itu di simpan kembali ke dalam tas nya. Di saat itu juga gadis itu melihat seorang wanita paruh baya di dekatnya ingin menyebrang jalan. Dengan jalan sudah sempoyongan di saat jalan sedang ramai.
Wanita paruh baya itu memegangi kepalanya dengan memejamkan matanya.
' Ya ampun itu ibu Kenapa ya, seperti nya sakit. Mana keluarga nya sih". Gadis itu berkata seorang diri.
Di saat itu juga ibu itu Ingin tertabrak mobil, untung saja wanita itu menarik tangan ibu yang hampir tertabrak.
Mereka sama-sama terjatuh, tangan wanita yang menolong ibu itu terbentur tertoar. Dan kaki nya pun tergores jalan aspal, Sedangkan ibu itu selamat tanpa terluka.
"Aduh ". Sambil meringis kesakitan, dan mengusap kaki nya." Ibu tidak kenapa-kenapa, ada yang luka gak Bu.?" Gadis itu masih menghawatirkan ibu yang diri nya selamatkan.
Ibu dan gadis itu bangun dari duduknya , dan pindah ke bangku yang tersedia di sebuah halte.
"Trimakasih sudah menyelamatkan ibu ya.?" Sambil memegangi kepalanya.
"Sama sama Bu, memang ibu Kenapa.?" Gadis itu mengambil minuman dari dalam tas. Lalu di berikan kepada ibu di hadapannya itu." Minum dulu Bu, ini air nya masih baru ko. Belum saya minum".
"Trimakasih nak". Lalu ibu itu mengambil botol minum dari tangan gadis itu, lalu di minum nya." Sekali lagi terimakasih ya nak." Gadis itu tersenyum." Nama ibu, ibu indah, Siapa nama kamu nak.?"
" Saya Hilda Bu, maaf kalau boleh saya tau ibu kenapa tadi memegangi kepalanya, apa Ibu sakit ya.?"
Dan ternyata gadis itu Hilda, yang telah menolong ibu itu.
"Iya kepala ibu tiba tiba sakit nak, ibu lupa membawa obat sakit kepala.?"
"Ya sudah saya antar kalau begitu, kita tunggu taksi lewat. Kita kerumah sakit, takut sakit ibu bertambah sakit.?"
__ADS_1
"Iya nak, trimakasih bantuan nya." Hilda pun mengangguk kan kepalanya.
Dan tidak lama Hilda melihat taksi lewat, Hilda pun memberhentikan taksi nya. Hilda dan ibu indah pun kini sudah masuk dan duduk di dalam taksi nya.
"Nak, kita ke kelinik tempat anak ibu ya nak. Sekalian kamu obati luka di kaki dan tangan kamu, sama anak ibu sebelum infeksi lukanya."
"Ow anak ibu dokter juga. Tidak usah Bu trimakasih, nanti saya obati di rumah kakak saya saja. Biar saya antar ibu ke tempat anak ibu ya".
"Iya nak Hilda, anak ibu dokter di sana juga.. Kamu mau kan ikut ibu ketempat anak ibu, sekalian di obati lukanya. Jujur ibu berhutang Budi sama kamu nak, karena kami sudah menyelamatkan ibu nak.?" Ibu itu menunjukkan Wajak kecewanya, membuat Hilda merasa tak enak hati.
"Ya sudah aku mau Bu, trimakasih ya Bu."
"Ibu yang harus nya berterima kasih sama kamu nak. Kalau tidak ada kamu, mungkin ibu sudah tertabrak mobil tadi". Sambil menyentuh tangan Hilda.
"Sama sama Bu". Hilda membalas sentuhan tangan ibu itu sambil tersenyum.
Tidak sampai tiga puluh menit, kini taksi sudah sampai di depan klinik tersebut.
"Ini Bu tempat nya.?"
" Iya nak, yuk masuk.!" Hilda pun mengikuti ibu indah masuk ke dalam klinik tersebut.
Saat Bu indah masuk ke dalam kelinik tersebut ada beberapa perawat yang lewat mengangguk kan kepalanya. Tanda memberikan hormat, Hilda hanya bisa melihat nya saja.
Saat Bu indah sampai di depan sebuah pintu ruangan, tepat saat itu ada seorang yang membuka pintu.
Dokter Pria itu terkejut karena yang berada di hadapannya itu wanita yang iya sangat kenal, Yaitu Mamahnya.
"Mamah, mamah di sini.?" Pria itu mencium tangan ibu nya.
"Iya nak, mamah baru datang kesini. Kepala mamah pusing tadi, hampir tertabrak mobil. Karena tak kuat sama pusingnya ini. Untung saja mamah di tolongin oleh seseorang, kalau tidak mamah mungkin tidak akan sampai sini nak."
"Mamah jangan bilang seperti itu. Yasudah yuk masuk, mamah kesini dengan siapa.?"
" Dengan orang yang menolong mamah nak. Yuk ikut mamah, kaki anak itu terluka nak."
"Ya Ampun, yasudah yuk". Lalu mamah indah dengan anaknya menghampiri Hilda yang sedang duduk.
Hilda yang sedang duduk dengan wajah menunduk karena memegangi kakinya yang sakit.
"Nak". Panggil ibu indah, membuat Hilda mendongakkan kepalanya.
Hilda terkejut karena sepertinya dirinya mengenal dokter itu. Dan dokter pria itupun juga sangat terkejut karena dirinya juga mengenal dengan gadis tersebut. Jadi mereka sama sama saling mengenal.
Bersambung.
__ADS_1