
Sedangkan Fitri hanya tertawa, melihat
Gita yang salah tingkah dan malu malu.
Fitri tidak tersinggung dengan ucapan Gita seperti itu, karena dia tau Gita hanya malu di ledekin seperti itu. Mangkanya Gita pura pura kesal agar bisa menghindar darinya.
Setelah masuk kamar Gita melihat anak dan suaminya sedang tertidur sangat pulas. Gita tersenyum melihat mereka yang nyaman tidur di kamarnya, yang kasurnya masih di letakan di lantai.
Lalu mata Gilang pun terbuka, dan terbangun dari tidurnya.
" Ko sudah bangun mas.?"
"Iya Git, sudah mau magrib kan. Tadi aku menemani Jessy bercerita eeh malah tertidur." Gilang merubah posisinya duduk." Gita besok kita pulang ya, adik ku dia akan datang. Mungkin sore dia akan sampai Git, tak apa apa kan kita pulang. Nanti kalau mau main kesini lagi aku antar."
"Gak apa apa dong mas, adik kamu adik ku juga. Ya sudah besok kita pulang ya, hari ini bisa datang jenguk ayah dan ibu saja aku sudah Bahagia .
"Trimakasih Git". Ucap Gilang dengan tersenyum, Gita pun membalas senyuman suaminya.
Lalu Jessy pun ikut terbangun, dan tersenyum melihat ada dua orang yang dia sayangi." Ya Allah terima kasih, sudah mengabulkan doa ku. Akhirnya aku punya keluarga yang lengkap, aku mempunyai mamah yang baik,dan sayang sama aku".
Ucap Jessy dalam hati yang menatap kedua orang tuanya yang lengkap saat ini.
" Halo gadis kecil, sudah bangun tidur nya. Bangun yuk sudah mau magrib, kita shalat berjamaah." Kata Gita dengan membelai kepala Jessy, Jessy pun tersenyum dan bangun dari duduknya.
" Git, aku ke musholah ya sama ayah kamu." Gita pun mengangguk, Gilang pun keluar dari kamar Gita.
Terdengar lah suara Adzan magrib.
" Lang kamu mau shalat di mushollah, atau dirumah.?" Tanya ayah mertua yang sedang memakai baju Koko dan kopiah.
" Shalat di mushollah saja yah". Pak Jaka pun mengangguk. Lalu Gilang keluar membuka pintu mobilnya, mengambil baju Koko, dan kopiah di dalam dasboard mobilnya. Lalu meletakan kunci mobil di atas mejanya.
Pak Jak tersenyum melihat menantu nya yang mengambil baju Koko dari dalam mobilnya." Kamu memang bawa baju Koko Lang di mobil kamu.?"
Gilang pun mengangguk." Iya yah, kadang kan baju saya juga kotor. Mangkanya saya suka bawa baju salin di mobil."
__ADS_1
Pak Jaka pun mengangguk, lalu mereka pun berjalan menuju mushollah. Dan baru Samapi halaman, Dimas suami Fitri juga menyusul mereka berdua untuk shalat di mushollah.
Sedangkan para wanita Bu Siti Gita dan Jessy mereka pun shalat di rumah bersama sama.
Setelah shalat magrib selesai, Gita membantu ibunya memasak untuk makan malam.
Sedangkan Jessy ia sedang asyik bermain bermain bersama Chika, di temani oleh Fitri.
Sampai adzan isya pun, masakan mereka di tinggal sebentar, untuk melakukan shalat isya. Setelah selesai shalat, mereka pun melanjutkan masak nya. Sampai para pria pun datang pulang shalat dari mushollah. Dan mencium mereka pun mencium aroma masakan.
" Wangi banget masak apa kalian berdua.?" Tanya pak Jaka, membuat Bu Siti dan Gita tersenyum.
" Ini yah, Gita memasak capcay dan ayam teriyaki. Kata nya Gita itu makanan kesukaan cucu kita". Ucap Bu Siti, membuat Jessy tersenyum , Gilang pun ikut tersenyum.
"Ow jadi cucu kakek suka masakan itu, pintar di kamu.". Kata pak Jaka yang mencubit pipi Jessy, hingga Jessy terkekeh.
" Ow iya Fitri, kalian makan bareng aja di sini. Ibu masak banyak, ajak Dimas makan di sini.." Ajak Bu Siti, dan di angguki oleh Fitri.
Setelah masakannya matang, mereka pun makan bersama. Pak Jaka dan Gilang memasang tikar di lantai, lalu semua lauk di letakan di atas tikar. Semua duduk dengan beralaskan tikar, sambil menikmati makanannya.
Kini pak Jaka mempunyai keluarga besar, ini lah yang diinginkan beliau mempunyai keluarga yang lengkap, dan rukun. Begitu pun juga Gilang menikmati kesederhanaan dari keluarga pak Jaka, makan dengan duduk beralaskan tikar. Berkumpul bersama, rasa hangat yang Gilang dapat kan dari keluarga istrinya.
Setelah mereka makan malam bersama. Pak Jaka dan Bu Siti menepati janjinya, untuk mengajak Jessy ke tempat komedi putar. Di mana tempat komedi putar itu di sebuah pasar malam, letak nya tak jauh hanya 6 menit berjalan kaki dari rumah Gita.
Gilang, Gita ,Fitri, Dimas dan anaknya, Mereka ikut ke pasar malam dengan Jessy dan kakek neneknya. Berjalan kaki melewati perkampungan penduduk, banyak penduduk yang bertegur sapa dengan pak Jaka,dan Bu Siti.
"Wah pak Jaka mau ke mana pak, rombongan begini.?" Seseorang menyapa pak Jaka.
"Ow iya nih rombongan, ngajak main cucu." Jawab pak Jaka yang bergandengan tangan dengan Jessy di tengah Bu siti dan pak Jaka.
"Aaaah iya ya pak, enak sekarang punya cucu Gak kesepian lagi".
"Yuk pak saya pamit duluan."
"Iya mari mari pak Jaka". Pak Jaka, bu Siti bergandengan tangan menuntun Jessy yang di tengah tengah mereka.
__ADS_1
Sedangkan Gilang dan Gita menyusul di belakangnya di susul dengan Fitri Chika dan Dimas.
Setelah sampai di kerumunan di tempat yang mereka tuju. Jessy begitu senang melihat banyak Komidi putar .
" Kek itu ko suaranya seperti motor balap.?"
" Itu namanya Tong Stand." Jessy mau lihat itu naik ke atas.?" Ajak pak Jaka , dan Jessy menggelengkan kepalanya.
" Tidak mau kek, itu aku takut kek". Mendengar itu pak Jaka dan Bu Siti pun Terkekeh.
Jessy meminta naik kuda kudaan, dan pesawat pesawat an. Dan terakhir Jessy mengajak menaiki kincir angin. Dan semuanya pun ikut naik, Jessy duduk bersama pak Jaka dan Bu Siti, Fitri Chika dan Dimas, sedangkan Gita dan suaminya.
Sebenarnya Gita menolak untuk naik kincir, namun suaminya memaksa. Sepanjang kincir itu berputar Gita hanya menutup matanya,serta membaca ayat kursi. Gilang yang melihat sikap lucu istrinya hanya terkekeh.
" Gita sayang, kita naik kincir angin loh. Bukan Uji nyali, atau melihat hantu. Sampai baca ayat kursi segala si kamu tuh". Kata Gilang dengan tersenyum.
" Aku takut mas, ini tinggi loh, lihat ke bawah serem banget. Di ajak sama Reni aku gak pernah mau, eeh kamu malah ngajak aku naik ini". Kata Gita dengan cemberut, dan mata terpejam.
Gilang yang melihat terkekeh.
" Sayang buka mata kamu, lihat aku sini coba". Gita membuka mata sebelah kiri nya,untuk melihat suaminya." Masa sebelah doang buka mata nya, Ayo dong lihat aku sini." Akhirnya Gita menuruti dengan menatap Gilang dengan kedua matanya, Gilang pun tersenyum.
" Kamu lihat aku jangan lihat ke bawah, dan coba lihat ke arah sana nanti, pas kincir angin nya di atas."Gita pun mengangguk.
Dan saat kincir angin yang Gita duduki sudah berada di paling atas, tiba tiba mesin disel nya mati. Gita pun teriak dan terdengar suara Jessy pun juga teriak, namun Jessy masih terdengar tawa karena pak Jaka bisa menghibur nya. Tidak dengan Gita yang masih terlihat panik.
"Mas begini nih aku ga suka naik ini.? Suka mati sendiri,kamu pakai maksa buat naik ini" kata Gita dengan ngambeknya.
"Jangan panik Git, nanti akan nyala lagi ko. Sekarang coba deh kamu lihat ke arah sana". Gita pun mengikuti arahan suaminya, Gita berusaha tidak panik.
Dan Gita mengikuti arah tangan suaminya. Terdapat senyuman pada bibir Gita, Gita melihat terang cahaya lampu di jalan, dan cahaya lampu yang lalu lalang menerangi jalan.
" Iiiihh bagus mas, ternyata di lihat dari atas sini lampu lampu jalan terlihat cantik ya." Kata Gita dengan melihat Gilang dan Gilang mengangguk.
Lalu mesin kincir angin pun berputar kembali." Tuh kan nyala lagi, gak takut kan sama ketinggian.?"
__ADS_1
" Sedikit". Jawab singkat Gita, membuat Gilang tersenyum.
bersambung..