
"Mah, udah kasian itu mas nya di tarik pipinya oleh mamah." Kata sang suami, lalu istrinya pun melepaskan tangannya dari wajah Gilang.
Dengan wajah bahagia, wanita itu meminta maaf." Maaf ya mas, maaf banget. Dan terima kasih sekali lagi, makasih ya mba, mas.?"
"Iya iya, sama sama". Jawab Gilang dengan meringis, sambil mengusap usap pipinya.
Sehabis beli nasi uduk mereka pun langsung kembali ke rumah mereka.
Sambil berjalan masuk rumah.
Gita memperhatikan wajah suaminya, yang sedang mengusap pipinya.
"Git kamu tega ngeliat suami kamu pipinya di tarik tarik seperti tadi sama wanita lain.?"
"Ya ampun mas, itu kan bawaan bayi mas. Kalau posisi nya di aku gimana coba.?"
"Gak boleh, aku rela Git kamu tarik pipi aku sampe merah. Tapi jangan pipi pria lain Git, aku gak rela. Anak ku itu harus mirip sama aku, bukan sama orang yang di pegang pipinya sama kamu nanti."
"Iih mas bucin". Ledek Gita ke suami nya
"Biarin bucin, sama istri sendiri, bukan sama istri orang. Lagian istri ku cantik dan istimewa wajarlah aku bucin sama kamu." Goda Gilang, membuat Gita tersipu malu." Yasudah di makan nasi uduk nya..
Masalah Gita hamil, Gilang masih sabar meladeni keinginan Gita. Tidak dengan Lukman walaupun menuruti apa yang di pinta Reni, pasti ngeledek atau bikin kesel istrinya dulu.
Lukman di buat pusing sama Reni. karena habis minta jagung bakar, baru 3 gigitan. Reni pun udahan, sudah tidak mau lagi. Alhasil jagung bakar nya di bawa pulang, setelah itu ada lagi keinginannya.
"Mas aku ingin itu.?" Sambil menunjuk ke penjual martabak.
"Kamu ingin martabak Ren.?" Reni mengangguk." Tadi jagung bakar kamu gak habisin.?"
Mamah Henny duduk dibelakang hanya mendengarkan Lukman dan Reni.
"Terus gak boleh mas memangnya.?" Wajah Reni menunjukkan ekspresi sedih.
"Bukannya gak boleh Reni, tapi pasti kamu gak habiskan lagi. Mubazir Reni tau ga, tau kamu sedang hamil dan ingin makan ini itu, tapi di ingat ingat Reni.?" Nada bicara Lukman sedikit kesal, membuat Reni menoleh ke arah lain.
__ADS_1
"Lukman, jangan begitu belikan saja. Namanya orang hamil, kan beda-beda keinginannya."
"Dah lewat mah, lagian tadi macet. Mau berenti sembarangan mau di gedor sama pengendara lain.?" Kata Lukman dengan ketus. Lukman terus fokus mengendarai mobil nya, karena sedikit lagi sampai rumah.
Kini mobil yang Lukman kendarai sudah sampai di depan rumah mereka. Reni pun langsung keluar dari dalam mobil, dan masuk ke rumah.
Lukman dan mamah Henny hanya bisa melihat Reni yang berjalan dengan cepat masuk ke dalam kerumah.
"Lukman, perasaan wanita hamil lebih sensitif. Kamu bicara seperti tadi pasti membuat Reni kecewa. Mamah yang mendengarnya kesal apa lagi Reni. Wanita hamil ingin di ngertiin, seberapa perhatian kamu sama anak yang di kandungan istri kamu." Lukman diam mendengarkan Mamahnya bicara.
" Man.. Papah kamu, tidak pernah mengeluh atau protes. Setiap apa yang mamah ingin kan, saat mamah mengandung kamu dulu. Dengan sabar dan segala perhatian dari papah kamu, mamah dapat kan. Papah kamu sangat bahagia, setiap apa yang mamah inginkan, selalu papah kamu turutin. Saat mamah mengandung kamu, sikap mamah lebih lebih dari istri kamu manjanya. Mamah khawatir istri kamu kesal, dan akan stiap apa yang dia inginkan tidak bilang sama kamu. Dia akan beli sendiri Man keluar, apa yang dia ingin kan. Kamu tau sendiri istri kamu kan mandiri sekali Man, ingat itu".
Lukman lupa, istrinya itu bukan gadis manja. Yang apa apa harus dengan pasangan nya, Lukman jadi merasa khawatir dengan Reni.
"Mah Lukman masuk dulu ya." Lukman pun berlari masuk ke dalam rumahnya menyusul istrinya.
Benar saja Reni sedang membuka laci, dan mencari kunci motornya.
Lukman langsung memeluk istrinya dari belakang.
"Sayang maafkan aku ya. Aku sudah membuat kamu kesal, aku minta maaf."
"Lepasin mas, aku ga bisa nafas."
Lukman pun melepaskan pelukannya dari tubuh Reni. Lukman membalikkan badan istri nya untuk menghadap ke arahnya.
Terlihat mata Reni yang merah.
" Aku minta maaf ya, bukan maksud aku kesal sama kamu. Hanya saja aku ..."
"Aku tau kamu cape kan, lain kali aku akan beli sendiri mas, tanpa melibatkan kamu yang harus butuh istirahat kan.?"
"Gak... Bukan seperti itu, aku mohon kamu jangan marah Ren. Aku ingin kamu libatkan, apa yang kamu inginkan untuk anak kita. Aku mohon maafkan aku Reni." Lukman memeluk Reni dan mencium keningnya." Sekarang kamu ingin apa Hem... Maaf bukan nya aku gak mau nurutin kamu, tadi macet sayang. Kamu bilang nya tadi dadakan. Aku gak bisa Berenti atau belok mobil gitu aja. Aku minta maaf ya.?" Reni pun mengangguk, lali kemudian Lukman pun menurut apa yang Reni inginkan.
Membelikan martabak keju, dengan jus mangga. Setelah Lukman berhasil membelikan semua pesanan Reni, Lukman pun segera masuk kerumahnya. Dan Lukman melihat istrinya yang sedang menonton TV dengan di temani Mamahnya. Reni sedang tertawa sambil memakan jagung bakar yang tadi di beli, dan tersisa sedikit dan hampir habis.
__ADS_1
Lukman tersenyum melihat Reni sudah kembali tertawa.
"Wah habis nih jagung bakar nya.? Aku gak di sisain, punya aku pun juga di habiskan..?" Goda Lukman dengan membelai rambut istrinya, lalu duduk di samping Reni.
"Iya mas, sekalian nonton tv sama mamah. Eeh ga terasa udah habis. Mas mana jus mangga nya aku haus nih.?"
Lukman pun memberikan jus nya ke istrinya. Lalu langsung diminum jus nya.
"Nonton film apa sih, seru Banget.?" Sambil membuka bungkusan martabak nya di depan Reni.
"Film Jackie Chan mas. Lihat dah keren ya dia terjun dari gedung tinggi, seperti itu. Aku ngefans banget sama dia. Walaupun sudah berumur tapi tetap macho dan keren masih ganteng lagi. Dia syuting begitu benar benar keren, tanpa alat bantuan sama sekali. Sering banget dia mengalami cidera akibat syutingnya. Memang keren beliau itu." Kata Reni dengan mata berbinar melihat adegan Jackie Chan tersebut.
Lukman dan mamah Henny hanya tersenyum mendengar Reni bercerita. Dengan pandangan ke tv, dan mulutnya yang mengunyah martabak manis.
' Sebahagia ini kah melihat istri tersenyum. Apalagi keinginan nya saat meminta sesuatu di masa masa ngidamnya. Dan di makan dengan lahap seperti itu dengan bibir tersenyum penuh kebahagiaan. Maafkan mas ya sayang, yang tidak faham sama perasaan kamu.'
*****
Hari hari terus berjalan, tak terasa puasa sudah berjalan 20 hari. Karena selama bulan puasa Gilang dan Lukman ikut lembur untuk mempersiapkan pengiriman. Karena H-2 pabrik pun akan libur sampai lebaran seminggu, barulah normal kembali.
"Man ini buat pengiriman untuk besok. Dan ini untuk pengiriman ke daerah P lusa kan. Jadi siapkan semuanya, semoga semuanya selesai dah. Di usahakan di hari bukber nanti, kita sudah finish ya."
"Iya mas, untuk. Pengiriman hari ini tinggal 1 boks. Dan untuk lusa, dari team sudah siap untuk lembur."
" Bagus Man, memang tiap bulan puasa seperti ini ya.?"
"Iya mas, mangkanya bulan puasa mamah sering di rumah ayah kan untuk buka puasa. Karena aku jarang buka di rumah." Cerita Lukman .
Saat Gilang dan Lukman saling berdiskusi untuk pengiriman. Terdengar suara orang-orang yang membuat dua Pria itu tersenyum.
"Assalamualaikum, Pria pria tampan". Kata Reni dan Gita.
"Papah.. " Suara panggilan Jessy.
"Hai... Kalian datang, ko ga bilang .?" Gilang dan Lukman tersenyum menyambut kedatangan dua ibu hami dan dua anak kecil.
__ADS_1
"Iya tadi para Oma dan opa bilang, mereka ingin bukber sama teman teman mereka. Dan Hilda dia pun sama, ya tinggal kami aja, jadi cuss kesini. Minta anterin kang Ujang". Kata Gita menjelaskan.
Lukman dan Gilang mengangguk, memang sudah pesan Gilang. Kalau jenuh di rumah main ke pabrik aja. Agar Gilang dan Lukman semangat karena ada mereka. Karena memang itu kenyataan, rasa lelah Gilang hilang saat melihat senyum dari anak anak dan istrinya. Begitupun juga Lukman akan semangat kalau melihat Reni menemaninya.