
"Siapa yang sudah menabrak Gita, kenapa si Arya belum memberikan informasi tentang tabrak lari itu."
Tidak lama setelah itu, handphone Gilang bergetar. Ada tanda panggilan masuk di handphone nya.
" Ya hallo Ya, bagaimana penyelidikan berhasil.?"
"Ya bos berhasil, saya dapat siapa yang sudah menabrak istri bos dan juga anak bos."
"Siapa..?"
"Mobil yang menabrak istri bos itu mobil sewaan. Saat di selidiki, yang menyewa itu bernama Erick.?"
"Erick..? Siapa Erick, saya tidak mengenal yang bernama Erick..?" Gilang sudah merasa geram, Gilang pun sudah mengertakkan rahangnya.
"Erick itu suruhan seseorang, dan dia adalah kekasih dari seorang wanita yang bos kenal.?"
"Seorang wanita.? Siapa dia jangan bertele-tele, cepat katakan.?"
"Kalau saya beritahu pasti bos tak tak percaya.?"
"Sudah katakan siapa yang sudah menyuruh menabrak istri saya". Nada Gilang sudah meninggi.
Saat mendengar nama bela, mata Gilang terbelala." kamu tidak salah menuduh seseorang kan Arya.?"
"Tidak bos. Pria itu sendiri yang mengaku, kini pria itu saya amankan bos.?"
"Bagus, amankan saja terlebih dahulu. Pastikan wanita itu dalam pengawasan kalian."
"Aman bos. Satu lagi bos, sebelum nya saya juga melihat seseorang mencari tau tentang penabrak anak dan istri anda bos.? Saat saya selidiki itu anak buah dari pak Hendra".
' Jadi ayah diam diam mencari tahu tentang tabrak lari yang menimpa Gita'. Gumam Gilang dalam hati..
"Yasudah kalau begitu, trimakasih informasi nya. Kamu awasi juga wanita itu jangan sampai dia kabur. Setelah istri saya kembali ke rumah baru saya yang akan ikut turun tangan.!"
"Siap bos".
Lalu panggilan pun terputus.
Tanpa Gilang sadari sejak tadi, Gita melihat dan mendengar apa yang Gilang ucapkan.
"Mas Gilang.." panggil Gita dengan suaranya yang masih lemas.
Gilang pun menoleh, dan langsung menghampiri Gita.
"Sayang ko sudah bangun. Kenapa Hem... kamu haus.?" Tanya Gilang sambil membelai rambutnya Gita.
Gita pun mengangguk, memang sebenarnya dirinya juga haus. Gilang tersenyum lalu di ambil nya air minum, lalu Gilang membantu Gita untuk minum. Setelah Gita selesai minum Gilang pun meletakkan gelas nya kembali di atas meja.
"Mas, tadi kamu telponan dengan siapa. Dan siapa yang sedang kamu awasi.?" Gilang terkejut karena Gita mendengar apa yang dia bicarakan.
"Bukan siapa-siapa sayang, sekarang kamu istirahat ya, agar cepat pulih jangan banyak pikiran."
__ADS_1
"Kamu gak sedang lagi berbohong kan mas.?" Gilang merasa tersudut dengan ucapan istrinya.
Gilang pun langsung tersenyum, lalu membelai pipinya Gita.
"Mana bisa aku bohong sama kamu sayang. Begini ya sayang, untuk saat ini aku ingin fokus sama kesembuhan kamu dulu. Dan nanti saat kamu sudah kembali ke rumah aku janji akan aku ceritakan ke kamu. Aku tidak ingin kamu banyak pikiran sayang. Jujur aku sangat takut dengan kondisi kamu dua Minggu lalu, bahkan aku baru merasakan lega hari ini saat kamu sadar sayang. Kemarin aku merasa seperti orang linglung, aku tidak tau apa yang harus aku lakukan. Dan sekarang melihat kamu membuka mata kamu aku sungguh-sungguh sangat bahagia. Sekarang kamu mengerti kan, nanti aku jelaskan ke kamu."
"Janji mas.?"
"Janji sayang, bidadari mas." Lalu Gilang mengecup kening Gita." Trimakasih kamu sudah melahirkan bayi yang tampan, dan trimakasih kamu sudah bertahan hidup untuk ku dan keluarga kita. Aku sayang kamu, aku takut kehilanganmu Anggita."
"Aku juga sayang kamu mas." Gilang pun tersenyum, lalu Gilang mengecup bibirnya.
Cup
Gita tersenyum, walaupun dengan bibir pucat, senyum Gita membuat Gilang rindu.
"Masih Manis..."
"Gombal, aku bau juga. Pake bilang manis."
"Gak gombal aku serius, namanya cinta dan kangen. Bau atau rasa apa pun lewat sayang ". Sambil mengedipkan sebelah matanya.
Tentunya Gita tersipu malu dengan gombalan suaminya itu.
Tok tok tok.... Seorang perawat membawa nampan makanan dan minuman untuk Gita.
"Di makan ya ibu, ini obatnya. Semoga lekas sembuh."
"Makan ya, terus minum obat nya. Biar kamu cepat sehat bisa kumpul dengan anak kita di rumah." Gita pun mengangguk.
Lalu Gilang menyuapi Gita dengan nasi dan lauk yang sudah di sediakan. Gilang begitu telaten dan sabar menyuapi Gita.
Lalu Gita menahan tangan Gilang untuk berhenti menyuapi nya.
"Kenapa sayang.?"
"Sudah makan nya, aku sudah kenyang. Mulut aku juga pahit."
"Ya sudah, sekarang kamu minum obat nya ya.?" Gita pun mengangguk.
Lalu Gilang pun membantu istrinya untuk meminum obatnya
Dan di saat itu handphone Gilang berbunyi tanda panggilan masuk. Gilang pun melihat berjalan mengambil handphone nya yang sedang di cash.
"Bunda VC sayang, mungkin ingin tau kamu."
"Angkat mas". Gilang pun mengangguk.
Terlihat wajah seluruh keluarga sedang berkumpul.
"Assalamualaikum, Lang Gita benar sudah sadarkan diri.? Tadi Lukman memberi kabar itu, jadi bunda langsung telpon kamu.?"
__ADS_1
"Waalaikumsallam,, iya Bu Alhamdulillah Gita sudah sadar. Baru selesai makan dan minum obat, tuh orangnya bun". Camera nya di arah ke Gita.
Gita pun tersenyum dan melambaikan tangannya, walaupun masih dengan kondisi lemas.
"Alhamdulillah, kamu sudah bangun sayang dari tidur panjang kamu. Bunda senang lihat kamu, cepat sehat ya nak.?" Gita pun mengangguk.
"Iya Bunda, trimakasih."
Lalu bergantian ada wajah Bu Siti dan pak Jaka, ibu dan ayah nya Gita.
"Nak kamu sudah siuman sayang, ibu sama ayah senang melihat kamu senyum lagi. Cepat sehat ya nak, jangan lupa makan dan minum obat nya."
"Iya ibu, ini Gita habis minum obatnya."
"Gita cepat sehat ya nak, cepat pulang. Ayah kangen kamu nak, anak boto ayah". Gita tersenyum mendengar ayahnya selalu bisa membuat Gita tersenyum.
"Iya ayah, Gita juga kangen sama ayah."
"Sini kakek Jessy juga ingin ngomong sama Mamah". Terdengar suara Jessy meminta telpon nya." Hallo mamah, mamah sayang cepat sehat ya. Jessy kangen mamah, Jessy ingin sama mamah".
"Iya sayang mamah juga kangen Jessy, bagaimana tangan kamu sayang masih sakit.?"
"Tidak mah, sakit aku hilang saat akan tau mamah sudah sadar. Cepat pulang ya mah, Love you mah. Muuach..."
"Love you to sayang. Mamah kangen kamu". Lalu bergantian Abi yang berada di layar handphone nya. Gita hanya tersenyum melihat keributan di sana.
"Mamah, cepat sehat ya mah. Abi kangen mamah, Abi ingin mamah kumpul di sini sama kita. Mamah tidak perlu khawatir Jessy ada aku yang selalu menjaga nya ".
"Iya sayang, Abi memang pintar. Anak mamah yang dewasa dan penyayang. Mamah juga kangen sama kalian semuanya. Wah... Mamah jadi ingin cepat cepat sehat kalau seperti ini.?"
"Iya mah, kami merindukan mamah.?"
"Iya sayang mamah juga merindukan Kalian." Dengan mata Gita yang sudah mengembun.
Lalu Gilang mengambil handphone nya.
"Sayang sudah ya, mamah Gita mau istirahat dulu nanti telpon lagi."
"Iya pah, assalamualaikum..."
" Waalaikumsallam..."
Tut. Panggilan pun terputus.
Gilang mendekat kearah Gita, lalu menghapus air matanya. Lalu memeluk istrinya.
"Kenapa sayang. Ko kamu nangis.?"
"Aku sudah membuat semua khawatir sama aku mas. Aku tidak tega melihat Jessy dan Abi, apa lagi Jessy aku yakin Jessy pasti sedih melihat aku seperti ini.?"
"Uuussstt.... Sudah jangan sedih lagi. Yang terpenting sekarang mereka sudah melihat kamu tersenyum seperti ini, sudah membuat mereka bahagia. Coba kemarin, jangan kan kamu tersenyum, yang ada kamu hanya tertidur setiap kali mereka lihat. Jangan kan mereka aku pun rasanya sakit ngeliat kamu terbaring lemah dengan selang yang terpasang di tangan dan hidung kamu."
__ADS_1
Bersambung....