
"Bodo aahh.... Nyebelin banget si kamu". Reni mulai ngambek.
'waduh bini gue mulai ngambek'. Batin Lukman merasakan was was kalau Reni ngambek.
"Iya iya maaf sayang. Kamu ingin apa, coba kasih tau mas.?" Lukman membujuk Reni agar tak merajuk.
"Aku ingin jagung bakar, tapi yang kombinasi rasanya mas". Kata Reni dengan bibir mengerucut.
Lukman kaget, karena dia tau kalau Reni tidak suka dengan jagung bakar.
"Loh sayang,bukan kah kamu gak suka ya sama jagung bakar. Dan lagian kaya nya susah deh kalau jagung bakar, soalnya bukan tahun baru sayang. Sosis bakar atau bakso bakar bagaimana, kamu mau gak.? Lagian bulan puasa sayang, sekali nya ada pasti jauh banget. Mau kapan makan nya, sekali nya dapat.?"
Dengan wajah menahan kesal nya, Reni pun marah." Sebenarnya yang hamil itu aku atau kamu si mas. Kalau aku mau jagung bakar ya jagung, bukan yang lain. Kalau aku mau sosis atau bakso bakar, aku bisa beli sendiri di depan . Gak mesti nungguin kamu pulang segala". Cerocos Reni.
'Eeh... Buse* dia marah, lancar bener ya kalau marah. Galak bener bini gue ckckckck.... Berabeh urusannya ini'.
"Hehehe.... Iya iya jagung bakar ya sayang. Maaf maaf... Kamu di rumah aja ya,gak usah ikut.?" Membujuk kembali.
"Ikut lah mas, nanti kalau jagungnya dingin bagaimana. Aku ingin makan jagungnya di tempat itu, bukan di rumah. Ngerti gak sih kamu mas. Kamu malu ngajak aku ya karena aku kucel". Reni merajuk kembali, dengan mata yang sudah mengembun.
'yah dia ngambek lagi.'
Merasa dirinya frustasi, Lukman pun membujuk Reni segenap jiwa raga.
Beuuhh.... Lebai kali kau Lukman, padahal ikutin aja yang author tulis. Emang enak.hihihi....
Setelah drama Reni merajuk,dan Lukman frustasi. Kini Lukman berhasil membujuk Reni agar tidak ngambek. Lukman memakai kan sweater, serta masker ke istrinya agar tidak dingin dan terkena asap dan debu. Kini mereka cus keluar kamar, untuk otw mencari jagung bakar di mana ribanya.
Saat sampai di ruang tamu, mamah Henny melihat Reni dan Lukman yang akan keluar.
"Loh loh loh... Menantu mamah mau kemana ini, dah rapi malam malam.?" Mamah Henny menghampiri Reni, dan melihat hidung Reni yang merah seperti habis menangis.
Mamah Henny melototi matanya ke arah Lukman, seakan bertanya ke Lukman.' kenapa sama istri kamu'. Lukman hanya cengengesan dan menaikkan kedua bahunya.
"Aku ingin makan jagung bakar mah, tapi makan nya di tempat yang bakar nya. Tapi mas Lukman nyuruh aku makan di rumah aja".
"Oow begitu. Seru dong makan di sana langsung, mamah boleh ikut tidak.? Mamah juga rasanya ingin makan jagung bakar, bareng sama menantu dan baby di perut kamu". Wajah Reni langsung berubah menjadi tersenyum.
"Boleh dong mah, masa gak boleh. Memang mamah mau ikut, memang mamah gak capek .?" Tanya Reni, dan mamah Henny pun menggelengkan kepalanya. Reni pun kegirangan bukan kepalang." Asyik ... Begini dong mas, istrinya hamil di ngertiin bukan di ledekin terus". Sindir Reni, Lukman hanya menggaruk kepalanya yang tak gatal.
Mamah Henny hanya tersenyum." Ya sudah mamah ambil dompet dan pakai sweater ya.? Soalnya tadi sore hujannya deras." Lukman dan Reni pun mengangguk.
Kini mereka bertiga sudah berada di dalam mobil, dan sedang menyusuri jalan yang menjual jagung bakar.
'Di mana ini yang jualan jagung bakar'.
Lukman menyusuri jalanan ibu kota, akhirnya Lukman mendapatkan penjual jagung bakar. Tepat di pinggir jalan, Lukman pun memarkirkan mobilnya di tempat yang sudah tersedia.
Dan mereka pun turun dari dalam mobil.
__ADS_1
Saat berjalan mendekat ke arah jagung yang di bakar, mata Reni pun berbinar.
Reni pun langsung memegangi tangan Lukman,saking senangnya.
"Mas itu jangung bakarnya.?"
"Iya, kamu mau pesan berapa Hem..?"
"Satu aja mas." Lalu Reni melihat kearah mertuanya." Mamah mau berapa.?"
"Satu saja sayang yang pedas manis ya".
"Aku kombinasi rasanya ya mas".
Lukman pun mengangguk kan kepalanya. Lalu Lukman memesan 3 jagung bakar.
Lain dengan Reni yang mengidam. Gita justru semenjak buka puasa hanya memakan kue lopis, dan minum teh hangat saja. Gilang membujuk istrinya untuk makan namun Gita tidak mau.
"Git di makan dong masa di liatin, kasian ibu Ida udah capek-capek masak tapi kamu nya gak makan. Ayo di makan mubazir sampai gak di makan". Kata Gilang dengan tegas.
Gita pun menyendok nasi dan dimasukkan kedalam mulutnya. Baru saja di telan perut Gita terasa di aduk aduk. Gita pun berlari ke arah kamar mandi di dekat dapur. Lalu Gita memuntahkan kan isi perut yang tadi sudah ia isi.
Hoek... Hooek... Hoooekk....puff...
Gilang menyusul Gita yang sedang muntah muntah, Gilang memijat tekuk leher nya.
Gilang semakin tak tega melihat istrinya. Gilang lalu mengambil kan segelas air hangat untuk istrinya, dan Gita pun meminum air hangat itu.
"Sekarang kamu ingin makan apa, masa iya gak mau makan.? Coba kasih tau aku, kamu ingin makan apa sayang.?" Sambil mencium kening Gita.
"Mas aku ingin makan nasi uduk."
"Nasi uduk, kamu ingin makan nasi uduk.?" Gilang mengulang pembicaraan Gita, Gita pun mengangguk.
" Yasudah kamu ingin makan nasi uduk yang di mana hemm...?"
"Di mpo Ipeh yang di pengkolan Deket Indomaret mas. Yang di ujung jalan Sono mas, kami tau kan.?" Gilang pun mengangguk." Ayo mas aku gak sabar ingin makan nasi uduk pake semur jengkol". Kata Gita yabg membayangi semur jengkol nya. Sambil menelan ludahnya.
"Semur jengkol.? Gak ada yang lain gitu, selain semur jengkol. Kan ada telor balado, ayam goreng atau yang lain. Kenapa harus semur jengkol Git.?"
"Mas kalau pake lauk yang kamu sebutkan, beli aja di warteg atau warung Padang. Aku kan ingin makan nya nasi uduk Betawi." Bibir Gita pun cemberut.
"Tapi saya tidak suka Git dengan jengkol".
"Kamu bisa beli lauk lain, aku ingin makan pakai semur jengkol titik. Kalau ga aku ngambek sama kamu. Lagian aku yang makan bukan kamu si mas.?" Mata Gita sudah mengembun.
"Iya iya, maaf. Yasudah kita beli nasi uduk pakai semur jengkol ya". Gilang pun pasrah dengan permintaan istrinya." Makan nya di rumah ya Git. Aku gak mau makan di sana, pasti rame". Gita pun mengangguk kan kepalanya.
Kini Gita sudah sampai di depan penjual nasi uduk mpo Ipeh. Benar tebakan Gilang pasti rame.
__ADS_1
'untung saja Gita gak merengek buat makan di sini, jadi aman dah.'
Saat Gilang sedang ikut mengantri karena Gita sedang memesan nasi uduk nya. Ada seorang ibu hamil sejak tadi memperhatikan Gilang saja, tentu saja Gilang sangat risih dengan di perhatikan Sampai segitu nya.
Gilang mencolek pinggang Gita, sambil berbisik." Git masih lama gak.?"
" Sebentar lagi mas kenapa sih.?"
Gilang pun pasrah menunggu Gita sedang memesan nasi uduk nya. Gita pun membayar karena nasi uduk nya sudah selesai di bungkus.
"Nih udah mas, yuk kita capcuss". Sambil merangkul lengan Gilang.
"Mbak ,mass tunggu dulu". Gita pun berhenti karena tangannya di tahan oleh seorang wanita hamil.
"Ada apa ya mba.? Maaf mbak siapa ya apa mbak kenal sama saya.?" Tanya Gita ,tapi wanita hamil itu hanya tersenyum.
"Tidak, maaf menggangu mau tanya apa Pria ini suaminya mbak.?" Menunjuk arah Gilang.
"Iya mba dia suami saya ada apa ya, apa mba kenal atau ada masalah dengan suami saya.?" Wanita itu menggelengkan kepalanya, lalu tersenyum.
Gilang hanya diam, dia hanya takut nanti istrinya salah paham. Karena Gita menunjukkan wajah tak bersahabat dengan suaminya.
Lalu tiba-tiba ada seseorang menghampiri wanita yang bersama Gita.
" Mah kamu ko di sini, aku cariin juga.?" Wanita itu hanya tersenyum. Lalu sang Suami nya menatap kearah Gilang dan Gita.
"Iya pah maaf." Lalu wanita itu menatap Gilang." Mba maaf sebelumnya, apa boleh saya memegang suaminya. Saya demen aja melihat lesung pipinya, dan hidungnya yang mancung. Saya sedang hamil mba, saya dari tadi seneng lihat lesung pipinya suami mba.?"
Gita pun terkejut, tentunya Gilang pun sama.
"Mah apa apaan sih, gak enak tau gak. Mas mba maaf ya istri saya dari tadi seperti itu, melihat kasir Indomaret aja pipi kasir nya di cubit. Istri saya sedang hamil, ada aja ngidamnya ini. Maaf ya mba mas". Kata sang suami wanita itu.
" Ayo mah kita balik". Namun wajah wanita itu nampak murung.
Sedangkan Gita sedang membujuk suaminya agar mau mengikuti permintaan ibu hamil itu. Gilang sebenarnya tidak mau, tapi karena di paksa istrinya Gilang pun terpaksa menurutinya.
"Mbak tunggu". Panggil Gita. Wanita itu pun menoleh." Mba boleh ko memegang pipi suami saya, tapi jangan lama-lama ya. Hihihi...
"Serius mba boleh, mas apa boleh saya memegang pipinya.?" Gilang pun mengangguk dan tersenyum yang di paksakan.
Lalu wanita itu pun dengan semangat mencubit pipi dan menarik hidung Gilang dengan sangat gemas.
"Iih gemesnya..."
Pipi Gilang di tarik yang kanan dan kiri, terakhir hidung Gilang di tarik tarik nya.
"Mah, udah kasian itu mas nya di tarik pipinya oleh mamah." Kata sang suami, lalu istrinya pun melepaskan tangannya dari wajah Gilang.
Dengan wajah bahagia, wanita itu meminta maaf." Maaf ya mas, maaf banget. Dan terima kasih sekali lagi, makasih ya mba, mas.?"
__ADS_1
"Iya iya, sama sama". Jawab Gilang dengan meringis, sambil mengusap usap pipinya.
bersambung....