Cinta Anggita

Cinta Anggita
Gita dirawat


__ADS_3

Lalu Bu Siti dan Fitri pun mengangkat tangan Gita, lalu di letakkan di pundak dan berusaha mengangkat tubuh Gita agar berdiri. Bu Siti pun dengan air mata yang bercucuran pun menyentuh pinggang Gita.


Lalu tiba-tiba terdengar suara orang mengucapkan salam, ternya pak Jaka yang pulang dari mushollah. Pak Jaka terkejut karena istrinya dan keponakan nya memapah tubuh Gita yang memejamkan matanya.


" Astaghfirullah, Bu Gita Kenapa". Pak Jaka pun berlari menghampiri Gita." Sini biar ayah yang bantuin, ibu lepasin tangan ibu." Bu Siti pun melepaskan tangannya, lalu bergantian pak Jaka yang membantu Fitri memapah tubuh Gita yang tubuh nya gemuk.


Bu Siti mengikuti di belakangnya, lalu Gita di bawa ke dalam kamarnya, lalu di rebahkan tubuh Gita di kasurnya.


Pak Jaka dan Fitri pun begitu lelah memapah tubuh Gita yang lumayan Berat. Tubuh Gita yang cukup berisi membuat pak Jaka dan Fitri butuh sedikit tenaga untuk membawa Gita kedalam kamarnya.


Gita di rebahkan di atas kasur, lalu di selimuti tubuh Gita. Fitri dan pak Jaka melihat Gita merasa tak tega, sedangkan Bu Siti menangis di samping Gita dengan mengusap rambut Gita. Sambil di berikan minyak kayu putih,agar Gita bisa merespon dan tersadar namun nyatanya Gita tidak sadar juga.


"Bu kita bawa Gita kerumah sakit aja ".


"Iya pak, cuma dari tadi Gita nggak mau."


"Keras kepala banget si tuh anak, kalau begini kan jadi dia yang kasian Bu."


Tidak lama terdengar suara orang mengetuk pintu dan mengucapkan salam." Assalamualaikum..." Tok.... Tok...Tok..


Pak Jaka pun keluar untuk melihat siapa yang datang." Loh nak Gilang, mencari Gita ya nak, tapi Gita nya tidak bisa masuk kerja nak. Orang nya lagi sakit.". Gilang pun menggelengkan kepalanya dan tersenyum.


"Ow justru itu saya kesini,saya tau Gita sedang sakit. Mungkin tadi Gita tidak sengaja menekan nomor telepon saya. Dan terdengar suara Gita dan suara ibu berteriak, mangkanya saya langsung kesini. Mungkin ada yang bisa saya bantu pak?".


" Ow begitu, ayo mari masuk dulu". Gilang pun mengikuti pak Jaka, dan masuk kedalam rumah nya.


Gilang melihat Gita yang di atas kasur dengan di temani ibunya di sampingnya,dan ada seorang gadis mungkin bagi Gilang itu saudara nya Gita.


"Nak Gilang". Bu Siti pun terkejut kalau yang datang adalah bosnya Gita.

__ADS_1


"Iya Bu," Gilang pun mengangguk kan kepalanya." Maaf Bu saya datang kesini karena mungkin Gita tadi menekan nomor saya, dan pas saya angkat saya mendengar suara ibu berteriak. Mangkanya saya langsung kesini untuk memastikan keadaan di sini". Gilang menjelaskan ke semuanya.


"Trimakasih nak sudah mau kesini, dan maaf jadi merepotkan kamu nak Gilang. Tadi ibu hanya terkejut Gita memanggil ibu dan minum nya di atas mejanya tumpah karena kesenggol. Karena dia ingin ke kamar mandi, dan pas keluar kamar mandi dia malah pingsan."


"Tidak apa-apa Bu, yasudah kita kerumah sakit sekarang. Ayo saya antar kerumah sakit, dari pada sepeti ini ibu sama bapak pasti khawatir". Pak Jaka pun mengangguk." Ayo pak mari saya bantu memapah Gita sampai ke mobil."


Dan akhirnya pak Jaka dan Gilang pun memapah Gita sampai ke mobil, dengan Bu Siti yang menemani Gita di kursi belakang. Pak Jaka di kursi depan bersama Gilang yang menyetir mobilnya. Sedangkan Fitri menutup pintu rumah Gita." Ya Allah tuh cowok keren banget si, denger suara Gita dan ibu teriak aja langsung kesini. Semoga Gita tidak kenapa kenapa". Fitri pun langsung pulang menemani Chika yang lagi tidur takut terbangun.


Kini mobil yang Gilang kendarai sudah sampai di rumah sakit, Prima Hu*ada . Gita masih belum sadarkan diri. Dan Gita pun di larikan ke IGD, Gilang dan orang tua nya Gita pun menunggu di luar. Karena Gita sedang di periksa oleh dokter di dalam ruangan. Pak Jaka dak bu Siti pun terlihat begitu khawatir dengan keadaan Gita.


Dokter wanita yang memeriksa Gita pun akhirnya keluar setelah memeriksa Gita.


"Dok bagaimana keadaan Gita anak saya.?" Tanya pak Jaka yang terlihat panik.


Dengan tersenyum dokter itu pun memberi tahu keadaan Gita.


"Anak saya sakit apa dok, sampai harus di rawat.?" Bu Siti yang sudah mulai sedih mendengar keadaan Gita yang harus di rawat. Pak Jaka Pun hany bisa menenangkan istrinya.


"Dok, bagaimana keadaannya Gita di dalam. Sebenarnya dia sakit apa, Sampai harus di rawat.?" Tanya Gilang yang tak tega melihat kedua orangtuanya Gita yang panik.


"Anak bapak sakit Demam tifoid atau yang lebih sering dikenal tipes.


Dan tekanan darah anak bapak juga sangat rendah, selain itu anak bapak juga punya masalah sama lambungnya. Jadi anak bapak juga harus di infus, agar tidak kondisi tidak lemah..


Mangkanya saya menyarankan anak bapak harus di rawat di sini Agar kami bisa control. Karena memang kondisi mba Gita ini sangat lemah bapak ibu, kami khawatir kalau sampai anak bapak tidak di rawat nanti kondisi pasien bisa memburuk".


Bu Siti pun hanya bisa menangis mendengar kondisi Gita sangat lemah.


"Apa ada yang ingin di tanyakan lagi, kalau tidak ada, saya permisi.

__ADS_1


"Tidak ada dok,dan trimakasih Dokter". Dokter itu pun mengangguk dan tersenyum. Lalu pergi meninggalkan pak Jaka dan Bu Siti.


Gilang melihat pak Jaka yang terlihat tegar, tapi dari sorotan mata nya pak Jaka juga sedih. Tapi pak Jaka harus kuat agar istrinya tidak tambah sedih.


Gilang pun akhirnya menghampiri pak Jaka, " bapak,ibu, lebih baik Gita di rawat. Benar kata dokter, kalau sampai Gita tidak dirawat di sini. Kondisi Gita akan memburuk. Bapak ibu tidak perlu memikirkan biaya rumah sakit ini, insyaallah saya akan bantu untuk biaya Gita pak."


Bu Siti dan pak Jaka pun langsung menoleh ke arah Gilang." Nak Gilang,tidak perlu biar kami yang ngurus perawatan Gita anak kami. Bukan maksud menolak tapi kami takut merepotkan nak Gilang".


"Tidak pak, saya merasa tidak direpotkan. Bagaimana pun Gita sudah pernah menolong Jessy anak saya, kalau boleh biar saya saja yang mengurus biaya Gita pak. Maaf bapak dan ibu jangan tersinggung, saya tidak ada maksud apa-apa".


"Trimakasih nak Gilang, sekali lagi terimakasih". Pak Gilang menyentuh tangan Gilang, Gilang pun tersenyum ke arah pak Gilang.


Lalu pak Jaka dan Bu Siti pun masuk keruangan Gita yang di mana Gita di rawat. Gita tersenyum ke arah kedua orangtuanya, pak Jaka dan Bu Siti pun menghampiri Gita lalu mencium kening sang anak.


Sedangkan Gilang sedang mengurus pendaftaran dan mengurus administrasi untuk Gita. Setelah selesai mengurus pendaftaran Gilang pun pergi ke luar untuk membeli minuman dan makanan untuk kedua orang tua Gita.


Gita pun kini sedang di pasangkan selang infus nya. Namun Gita memeluk ibunya dengan erat, saat jarum infusan yang akan di pasang ke pergelangan tangan Gita. Ya Gita memang takut akan suntikan, hanya ibunya yang bisa menenangkan Gita saat di suntik.


Saat Gita di pasangkan jarum infus, Gilang pun masuk ke ruangan Gita. Dan Gilang bisa melihat kalau Gita ketakutan saat jarum infus tertusuk di pergelangan tangannya.....


bersambung.....


**Hai hai hai.. Trimakasih sudah membaca cerita ku sampai sini, aku senang masih ada yang mau membaca.


Mungkin cerita ku ini kurang greget buat kalian. Tapi pasti nanti aku akan buat alur cerita nya biar semakin greget. Dimana Gita akan kehilangan cinta di saat dia sudah membuka hatinya. Bagaimana kisah selanjutnya, yuk jangan lupa untuk tinggal kan jejak kalian .


...jangan lupakan like, dan komentar nya, yang positif ya. Agar author bisa semangat untuk membuat ceritanya biar makin greget. ...


...Terima kasih🙏🙏😄😄**...

__ADS_1


__ADS_2