
Tiga puluh menit perjalanan dari rumah menuju rumah sakit, kini mereka pun sampai di rumah sakit T.
Gita pun kini sudah berada di dalam ruangan IGD bersama dengan dokter dan perawat. Lukman Reni dan kedua orang tua Gita menunggu di luar ruangan tersebut. Untuk mengetahui keadaan Gita.
Kini semua sedang menunggu kabar dari dokter di dalam yang sedang memeriksa kondisi Gita.
Ceklak... Pintu kamar terbuka dan terlihat dokter wanita keluar dari kamar Gita.
"Dok bagaimana keadaan anak saya.?" Pak Jaka segera menghampiri dokter tersebut.
"Anak bapak memang harus di rawat. Dan kandungan anak bapak, tadi juga terdapat flek. Tapi itu aman, tapi tetap kami akan mengontrol nya. Dan anak bapak juga tidak boleh terlalu stress karena itu akan berdampak buruk untuk kandungan nya pak. Di sarankan anak bapak harus bed rest, agar kami bisa melihat perkembangan kehamilan pasien."
"Berapa lama dok adik saya di rawat inap.?"
"Kami belum bisa sampai kapan, kalau keadaan pasien membaik. Pasien juga boleh pulang. Maaf Di mana suami pasien.?"
"Itu dia dok, dia seperti itu. Karena mendapatkan kabar suaminya terkena musibah. Dan adik saya langsung tak sadarkan diri, cukup lama. Kami khawatir takut kenapa kenapa sama dia dan kandungan nya." Cerita Lukman dan di angguki oleh semuanya.
"Saya turut prihatin, semoga keadaan nya membaik. Kalau begitu saya permisi masih ada pasien lainnya". Pamit dokter dan di angguki oleh semuanya.
Semuanya pun menunggu Gita di ruang tunggu.
***
Keesokan hari, saat siang hari pak Hendra dan istrinya sedang menemani cucunya yang sedang menangis menyebutkan nama papahnya. Mereka berusaha untuk menenangkan Cucunya, dan mengkhawatirkan keadaan Gita dan janinnya. Dan apalagi dengan anaknya yang belum tau bagaimana keadaannya sekarang. Benar benar membuat pak Hendra dan Bu Yuni jadi serba salah.
Saat siang hari ada suara seseorang mengucapkan salam.
"Assalamualaikum."
"Waalaikumsallam..."
Pak Hendra dan Bu Yuni melihat siapa yang mengucapkan salam nya.
Alangkah terkejutnya yang mengucapkan salam itu adalah putra nya dan seorang anak kecil laki laki.
Bu Yuni pun langsung lari menghampiri putra nya itu, lalu memeluk anaknya yang membuatnya khawatir. Dengan menangis Bu Yuni memeluk dan mencium pipi anaknya yang di kabarkan kritis.
Begitupun pak Hendra yang memeluk putranya. "Alhamdulillah putra ku selamat." Gilang merasa heran dengan kedua orang tuanya.
__ADS_1
Dan dari dalam datang mamah Henny Bu Ida, Jessy dan Hilda. Serta dibelakang Bu Ida ada pak Rohmat melihat majikan nya datang.
"Papah..." Teriak Jessy dan lari ke pelukan papahnya. Sambil menangis sesenggukan." Pah jangan tinggalkan Jessy pah, hanya papah yang Jessy punya."
"Hai cantik memang papah kemana, papah ada sayang.?" Lalu Gilang melihat semua orang mengusap mata mereka masing-masing." Ada apa sebenarnya ini .?"
Lalu mamah Henny dan Hilda menghampiri Gilang." Nak, kamu pulang dengan selamat, walaupun ada luka di wajah kamu. Tapi kami senang kamu selamat.?"
"Iya ka, kakak aku selamat. Aku juga gak ingin kehilangan kakak ku ini.?" Kata Hilda lalu memeluk tubuh kakaknya.
"Ada apa sebenarnya ini Bun, lalu di mana Gita.? " Lalu Gilang bertanya pada putrinya." Sayang di mana mamah kamu Hem...?"
" Lang duduk dulu ajak anak itu kesini. Kalian habis berjalan jauh.?" Bujuk sang ayah. Lalu Gilang pun duduk mengikuti apa yang ayahnya suruh.
Bu Ida pun datang dengan membawakan dua minuman untuk majikan dan anak kecil yang ikut dengannya
Pak Hendra memperhatikan penampilan anak kecil di samping Gilang itu. Dengan penampilan yang sangat lusuh dan memprihatinkan. Anak itu hanya diam menunduk tanpa menyentuh minuman yang ada di hadapannya itu.
"Ali ayo di minum". Bocah itu pun mengangguk kan kepalanya.
"Dia siapa Lang.? Tanya pak Hendra dengan rasa penasarannya.
"Memang dia menolong kamu dari apa Lang.?"
Gilang pun menceritakan kronologi nya.
Flashback on
Gilang tersesat mencari jalan alternatif lain. Jalanan yang belum ia lewati perkampungan yang sepi. Akibat Cuaca buru dan angin kencang, hampir kebanyakan jalan macet. Dan Gilang terpaksa harus mencari jalan alternatif lain. Namun karena hari makin gelap dan dan waktu makin malam. Di jalan Gilang mendapat sekelompok begal d tempat itu, yang menghadang jalannya Gilang. Kelompok begal mengetuk kaca Gilang dan berteriak untuk di bukakan pintu mobilnya.
"Keluar Lo, cepat". Teriak salah seorang kelompok begal.
Dan Gilang pun terpaksa harus keluar untuk berhadapan dengan kelompok begal itu.
"Sini kunci mobil, dan barang barang berharga loh". Tangannya Sambil menadah kearah Gilang dengan senyum menyeringai.
Gilang tidak Takut akan bentakan dari kelompok begal tersebut.
"Kalau saya tidak mau kasih barang saya ke kalian, memang nya kalian mau apa.?"
__ADS_1
"Nantangin kaya nya nih orang bos." Kata seorang pria di samping Gilang, dan Bicara dengan teman nya.
" Kalau elo gak mau kasih barang barang Lo, nyawa Lo yang akan gue ambil. " Mengancam Gilang, namun Gilang tak takut dengan ancamannya.
Gilang hanya tersenyum mendengarnya.
"Kalian tuhan, ingin ambil nyawa saya." Ledek Gilang dengan senyum menyeringai dan tatapan membunuh.
"Banyak bac*t lo...." Teriak ketua begal itu.
Lalu ketua dari geng begal itu maju.
Gilang di berikan sebuah baku hantam, namun Gilang bisa menghindar Haaap... Lalu orang itu di bogem bagian wajah dan orang itu tersungkur ke tanah. Lalu dua orang itu mencoba mengeroyok Gilang, dengan tiga kawan satu. Namun dengan siap gilang memasang kuda-kuda, dengan gerakan Gilang yang cepat,dan dengan tendangan Gilang, tiga orang itu K.O dan terjatuh.
Lalu satu orang maju dengan membawa pedang panjang,dengan wajahnya penuh dengan luka jahitan. Dan tersenyum menyeringai menunjuk kan wajah menantang ke arah Gilang.
'Bismillah saya gak boleh kalah, ingat ada keluarga yang menunggu saya di rumah.' Kata Gilang dalam hatinya.
" Mamp*s.... Lo di tangan gue.." Lalu orang itu mengarah kan pedang nya ke arah Gilang, Gilang berusaha menghindar. Namun semakin Gilang menghindari, orang itu membabi-buta mengarahkan pedang nya ke arah Gilang seperti kesetanan dan berhasil mengenai pipi Gilang.
" Mamp*s Lo so jagoan, elo lebih milih mati. Dari pada serahin harta Lo, sekarang mamp*s Lo di tangan gue.Ciaaaaat....." pedang itu di angkat tinggi tinggi. Lalu Gilang sontak kaget, lalu menahannya dengan telapak tangan nya.
Tangan Gilang menahan pedang itu yang akan mengarah tepat di kepala Gilang. Tangan Gilang sudah mengalir darah segar, Pria itu tersenyum menyeringai ke arah Gilang.
'ya Allah aku berserah kepada mu lindungi hamba, banyak keluarga yang menanti hamba di rumah.'
"Allahuakbar...." Lalu Gilang menendang orang itu tepat di bagian bawah perutnya. Hinga orang itu terjatuh dan tersungkur.
Lalu dari arah belakang Gilang, ada yang membawa sebuah balok panjang. Lalu orang itu mengarah kan balok itu tepat di belakang Gilang.
Buuugh... Tepat di punggung Gilang seorang begal memukul Gilang. Mata Gilang terbuka lebar, nafasnya terasa sesak, Gilang membalikkan badannya dan melihat orang yang memukul nya.
Orang itu tertawa terbahak-bahak karena berhasil memukul mangsanya. Dengan mengepalkan tangannya,Gilang pun menghajar orang itu sampai babak belur. Dan orang itu terkapar tak sadarkan diri.
"Sini kalian maju, apa mau nasib kalian mau seperti cecunguk ini". Sambil menginjak temannya yang sudah tak berdaya.
Wajah Gilang sudah penuh darah, serta tatapannya yang membunuh. Dengan tangan terkepal, tubuh Gilang pun masih tegap. Membuat sekelompok begal itu saling menatap temannya, dengan ekspresi heran.
" Ayo maju, kenapa kalian takut. Ayo pengecut, model keroyokan kaya kalian mau jadi jagoan." Gilang menunjukkan senyum menyeringai dan tatapan membunuh. Satu persatu di lirik oleh Gilang.
__ADS_1
Saat orang itu melangkah maju, untuk menghajar Gilang. Tiba tiba Ada bunyi sirine mobil polisi, lalu kelompok begal itu lari kocar-kacir meninggalkan Gilang.