
."Jadi ayah Zul itu bukan ayah kandung ku. Dan kamulah ayah kandung ku sebenarnya, dan hiks.. aku tidak se sebatang kara lagi , aku masih mempunyai ayah." Ridwan mengangguk, dan sambil menghapus air mata putrinya.
Ridwan tidak bisa menahan rindu kepada putrinya itu, Ridwan pun mendekap tubuh putri nya yang sudah lama ia cari.
Andi pun yang melihat nya juga merasa terharu. Seorang ayah mencari putri nya sendiri. Karena perselingkuhan yang menyebabkan perpisahan, membuat ayah dan putri nya terpisah bertahun tahun lamanya. Andi bersyukur, pak Zul walaupun bukan ayah kandungnya. Bisa menjaga dan melindungi Ica, sampai ajalnya menjemput. Walaupun itu kesalahan Andi, tapi Andi bertanggung jawab untuk melindungi Ica. Walaupun pernah di acuhkan, tapi rasa sayang itu sudah hadir untuk istrinya itu.
Flashback of
Semua mendengar cerita dari Ridwan, ada rasa terharu dan bahagia.
"Jadi semua itu karena kalian datang ke pernikahan aku dan Reni". Tanya Lukman, dan dapat anggukan dari Ica, Andi dan om Ridwan.
"Iya Lukman semuanya itu berawal dari pernikahan kamu nak". Om Ridwan mengiyakan ucapan Lukman.
"Ternyata pernikahan anakku membuat kalian di pertemukan kembali. Kami senang mendengarnya nya mas . Kami bisa bertemu dengan putri kamu kembali". Ucap mamah Henny.
"Iya Henny, mungkin kalau aku tidak di luar untuk merokok, mungkin aku tidak akan bertemu dengan anakku ini."
Setelah Ridwan menceritakan tentang bertemunya kembali dengan putri nya. Kini mereka berbincang masalah lain. Dan pak Hendra pun membuka obrolan nya.
"Ridwan, apa kamu tidak ingin membicarakan sesuatu..?"
"Membicarakan apa ya mas.?" Ridwan kurang paham maksud ucapan mas Hendra.
__ADS_1
Lain dengan mamah Henny yang terlihat gugup, mamah Henny tau arah pembicaraan kakak nya itu.
"Masalah yang sebulan yang lalu, saat di telpon.?" Ridwan nampak berpikir dan mengingat kembali
Ridwan menunjukkan wajah gugupnya, sedang kan mamah Henny nampak salah tingkah. Mereka seperti ABG saja saling gugup dan salah tingkah.
"Kamu sudah bilang kan sama adik saya. Terus nunggu apa lagi, kenal.? Kalian sudah saling kenal, mau apa lagi.?" Celetuk mah Hendra.
"I iya mas, saya sudah pernah sampai kan ke Henny sudah berapa kali. Namun tidak ada jawaban dari nya. Saya tidak mau memaksa nya."
Gilang, Gita, Reni, Hilda dan Damar. Mereka tidak tau akan niat om Hendra, namun dengan ucapannya om Hendra semua tersenyum.
Terutama Ica dan Andi mendengar seperti itu, mereka pun ikut senang.
"Henny, bukan kata kamu, kamu harus menunggu Lukman menikah. Dan persetujuan dari Lukman.?" Lalu pak Hendra melihat kearah Lukman." Lukman bagaiman kamu merestui mamah kamu menikah dengan om kamu .?" Tanya tegas pak Hendra.
"Mbak sebenarnya kami juga ikut senang, saat mendengar Mas Ridwan yang punya niat baik sama Mbak. Jadi tali persaudaraan kita itu menyatu kembali. Saya yakin Mas Herman pun juga ikut senang melihatnya dari sana, karena apa.? Karena mbak Henny sudah ada yang melindunginya sudah ada yang menjaganya." Ucap Om Doni yang di angguki oleh istrinya. Karena turut senang akan kabar dan niat baik dari kakaknya yang melamar kakak iparnya.
"Henny kalau kamu belum bisa menjawabnya sekarang, Tidak masalah. Tidak usah dipaksakan kalau kamu belum siap, Tidak apa-apa. Atau jika kamu menolaknya aku pun sudah siap Henn". Kata Ridwan yang pasrah menerima jika di tolak.
"Bagaimana Henny Apa kamu bisa menjawabnya sekarang.?" Mumpung masih di hari yang baik dan seluruh keluarga pun semua sudah berkumpul disini. Karena Ridwan sudah mempunyai niat baik, dan cukup lama juga dia menanti. Niat baik Maka harus di segera kan. Jadi bagaimana jawaban kamu Sekarang.?"
Huh..... Mamah Henny menghembus kan nafasnya agar bisa rileks untuk bicara.
__ADS_1
"Bismillahirrahmanirrahim..... Saya minta maaf sebelumnya Kalau saya sering membuat Mas Ridwan berharap terlalu banyak sama saya. Awalnya nya memang saya ingin sendiri dulu, dan saya juga takut kalau Lukman itu tidak bisa menerima orang lain untuk mengganti ayahnya. Setelah pertanyaan dari Mas Ridwan bulan lalu, memang Saya butuh waktu untuk memikirkan itu semua. Setelah saya pikir-pikir dan mendapatkan jawaban dari Lukman. Insyaallah saya mau menerima niat baik Mas Ridwan ini". Ridwan pun membelalakkan matanya,dengan jawaban yang dia dengar. Ridwan pun langsung tersenyum, dan mengusap wajahnya seraya bersyukur mengucap hamdalah.
Semuanya pun juga merasa bahagia mendengar jawaban dari mama Henny. Yang sudah menerima lamaran dari Om Ridwan. Dan tentu saja terutama Om Ridwan hatinya merasa berdebar-debar saat mendengar jawaban dari seorang wanita yang selama ini ia sukai. Ridwan tidak tahu harus berucap apa selain dia mengucapkan Alhamdulillah karena sudah diterima lamarannya ini, tentunya keponakannya sendiri pun merestui. Jika dirinya di perbolehkan menggantikan posisi ayahnya yang sudah tiada.
Gita, Reni, Gilang, Hilda, semua tersenyum karena merasa bahagia. Terutama dengan anak-anak dari mama Heni dan Om Ridwan, mereka merasakan sangat bahagia jika orang tuanya sudah mendapatkan pendamping hidupnya.
"Terima kasih Henny, kamu sudah menjawab pertanyaan saya. Dan sekaligus kamu sudah menerima saya, sekali lagi terima kasih Henny". Kata Ridwan dengan wajahnya yang memancarkan kebahagiaan.
Mamah Henny mengangguk kan kepalanya, dan tersenyum. Karena merasa malu." iya Mas sama-sama"
" Ridwan Saya senang mendengarnya memang semua harus bantuan dari saya. Tidak Herman tidak kamu, memang harus saya yang membantu kalian itu." Sindir pak Hendra, membuat semuanya tersenyum." Ya sudah kalau seperti itu kita segera kan saja niat baik kalian, jangan ditunda-tunda lagi."
"Betul banget ya, niat baik Jangan di tunda." Goda Lukman, Hingga mamah Henny pun melototi anaknya. Namanya Lukman ya dia masa bodo dengan pelototan mamah nya itu." Oh iya Ica Andi bagaimana panggilan ayah kalian itu di ganti dengan panggilan papah. Bagaimana kalian setuju tidak.?" Tanya Lukman yang menjadi kompor di rumahnya.
Sedangkan mamah Henny hanya menepuk keningnya sendiri, karena melihat tingkah anaknya itu.
" Kalau bukan di depan banyak orang, rasanya mamah lakban itu mulut kamu Lukman. Sejak kapan anak ku itu berubah menjadi tukang kompor.?" Mamah Henny merasa geram dengan anaknya.
" Boleh mas, kita ganti saja namanya jadi papah Ridwan". Timpal Andi dan di angguki oleh Ica.
"Oke deal ya kita panggil papah Ridwan." Kata Lukman dan di angguki oleh Andi dan Ica. Semuanya pun terkekeh mendengar Lukman bicara. Sedangkan mamah Henny dan Ridwan, mereka saling berpandangan dan saling melempar senyum satu sama lain.
Dan masalah pernikahan mereka berdua, nanti akan mereka tanyakan kembali.
__ADS_1
Tentunya senyuman di bibir Ridwan tak pudar, sejak terjawab nya kata kata yang dia nantikan dari mamah Henny.
Bersambung