
"Apa.... Buat sendiri.?" Tanya Gilang kembali, dan di angguki kepalanya oleh Gita serta senyuman nya.
"Tapii...." Belum selesai Gilang bicara, Gita sudah menyelak pembicaraan suaminya.
"Tapi apa ..? Kamu gak mau buatin untuk aku dan anak kamu ini.? Yasudah gak apa-apa, aku saja yang buat sendiri.?" Jawab Gita dengan ketus.
Gita pun turun ingin turun dari tempat tidurnya, namun di tahan oleh Gilang.
" Ada apa mas.?"
"Kamu mau kemana, Hem....?"
"Aku mau ke dapur".
"Gak mau beli aja Git.?"
" Aku gak mau beli, aku lagi pengen yang bikin sendiri." Gita pun langsung berjalan membuka pintu kamar nya.
Gilang pun membuang nafasnya, lalu berjalan menyusul istrinya. Saat Gita ingin menuruni anak tangga nya, Gilang menahan tangan istrinya.
"Baik aku buatin martabaknya, tapi kamu ajarin ya. Aku takut salah, nanti kamu gak mau memakan nya lagi. Jujur ku gak bisa buat itu, kalau mau ya beli".
"Iya aku ajarin, tapi kamu ikhlas gak bikinin nya.? Aku ga mau kalau terpaksa".
"Ya Allah, ikhlas dong. Masa bilang gitu si, aku cuma gak bisa bukan gak mau. Nanti kamu liatin ya". Pinta Gilang dan di angguki oleh Gita.
Kini mereka sudah di dapur, Gilang sudah menyiapkan bahan-bahan yang di ucapkan istrinya. Ada terigu, telor, susu bubuk, keju, pengembang kue, mentega, dan bahan lain lainnya.
Pertama Gilang memecahkan telur, gula, dan bahan bahan lainnya secara berurutan. Semua itu di awasi oleh istrinya, ada yang salah Gita pun protes.
Setelah bahan semua sudah di campurkan Gilang pun masih mengaduk nya, sampai benar benar mengembang.
" Git, ini adonan nya sudah seperti ini, apa sudah bisa di buat.?" Gita pun melihat adonan yang suaminya buat, hasilnya nampak sempurna.
" Sudah mas, ya sudah di cetak. Letakkan teflon nya mas, nunggu panas dulu baru di tuang adonannya. Kalau gak panas panas, kamu marah marahin aja teflon nya biar panas." Kata Gita dengan terkekeh.
"Bukan teflon nya Gita yang panas, tapi aku ini kepanasan." Gilang meletakan teflon di atas kompor. Lalu karena merasa panas, Gilang membuka kancing baju bagian atasnya.
Gita pun memperhatikan suaminya dengan senyum senyum manis ke arah suaminya.
Bu Ida yang sedang tertidur mendengar suara berisik di dapur, Bu Ida pun bangun. Lalu melihat kondisi dapur, ternyata dua majikan nya yang sedang di dapur.
"Loh mba Gita, dan mas Gilang di dapur malam malam gini. Sedang buat apa, biar ibu buatkan.?"
" Maaf ibu jadi terganggu ya tidurnya. Ini Gita minta buatkan martabak manis, saya suruh beli dia maunya bikin sendiri." Adu Gilang ke Bu Ida. Seperti anak mengadu ke Mamahnya..
__ADS_1
Sambil menuangkan adonan ke dalam teflon, sampai berbentuk lingkaran teflon nya.
Bu Ida tersenyum." Tidak Apa apa , tidak merasa terganggu. Memang seperti itu mas Gilang, kalau ibu hamil ada aja keinginannya. Kadang hanya minta saja, giliran sudah ada, ya paling makan nya sedikit. Sisanya tidak mau di makan lagi".
Gilang mendengar nya langsung melihat ke arah istrinya yang sedang tersenyum melihat dirinya..
"Git, kalau sudah jadi kamu makan ya.? Di habiskan loh, Jangan sampai enggak.?"
Gita pun mengangguk.
" Tentang saja aku habiskan semuanya mas, kalau enak. Hihihi...." Jawab Gita dengan Terkekeh. Gilang dan Bu Ida hanya tersenyum dan menggelengkan kepalanya saja..
"Bu kalau ibu ingin istirahat gak apa-apa ko. Kasian ibu tidur terganggu karena saya dan Gita. Kalau urusan dapur nanti saya beresin lagi, kalau adonannya masih ada nanti pagi pagi bikin aja lagi martabak nya."
Bu Ida pun mengangguk.
"Yasudah kalau begitu saya istirahat ya mas Gilang, mba Gita. Saya permisi, selamat malam".
"Malam juga Bu Ida". Lalu Bu Ida pun kembali ke kamarnya.
Kini martabaknya di dalam teflon sudah bersarang. Terlihat bentuk martabaknya banyak buih buih yang mengembang sempurna. Setelah di lihat nya sudah cukup matang, Gilang mengangkat martabak nya. Agak kesusahan saat Gilang mengangkat martabak nya, lalu di bantu caranya sama Bu Ida.
Setelah di pindahkan di tempat, Gilang menambahkan mentega serta parutan keju. Gilang memarut keju nya sampai melimpah, karena pesanan istrinya. Lalu di tambahkan susu kental manis di atas kejunya. Lalu oleh Gilang di potong bagian tengahnya, dan di tumpuk menjadi satu. Lalu di potong potong menjadi bagian kecil, agar mudah di makan.
"Silahkan tuan putri di makan martabak nya ya." Kata Gilang dan Gita pun bertepuk tangan.
" Sini mas, waaaah.... Seperti nya sangat lezat mas.?" Gilang hanya tersenyum melihat Gita seperti itu.
Gita mengambil martabak nya, lalu di masukan ke dalam mulutnya.
Haaap.... Suapan pertama Gita membuka matanya lebar-lebar, Gilang sudah merasa khawatir. Takut buatan nya tidak enak di makan. Lalu Gita memberikan dua jempolnya ke arah Gilang .
"Enak mas, wah.... Mantuulll ini namanya mas". Ucap Gita membuat Gilang terkekeh melihat tingkah nya. Yang bicara dengan mode mulut penuh, oleh martabak.
Gilang terkekeh melihat istrinya, memakan martabak manis buatan nya dengan lahap. Satu martabak, sudah habis. Dua martabak pun sudah di makan, sampai di piring hanya tersisa tiga potong martabak.
Gilang melihat istrinya makan martabaknya, sampai menelan ludahnya sendiri.
Segitu enak nya kah martabak buatan ku, dia memakan nya sampai lahap sekali. Aku senang melihat dia makan dengan lahap.
Dengan tersenyum Gilang terus memperhatikan Gita makan, sampai Gita pun tersadar dari nya di perhatikan oleh suaminya.
Gita pun terkekeh." Aku sampai lupa nawarin mas Gilang hihihi.... Mas Gilang mau.
"Iya sudah buat kamu saja, sepertinya kamu masih kurang .?
__ADS_1
" Bener nih kamu nggak mau mas aku habisin ya.?"
"Ya sudah kamu habisin aja sayang, ini kan buat kamu. Aku sudah kenyang ko lihat kamu makan dengan lahap begitu". Kata Gilang dengan terkekeh.
"Tapi aku ingin makan sama kamu. kamu mau ya satu aja deh, aku suapi ya mas. Pokoknya harus mau jangan sampai nggak mau loh". Sambil tangannya Gita memegang martabak ke arah Gilang suaminya.
Haaap.... akhirnya Gilang mau memakan martabak dari tangan istrinya.." Enak juga ya martabaknya, pantas kamu suka banget makan nya.
Gita pun memakan martabaknya dengan sangat lahap, tinggal dua potong lagi langsung di lahap nya lagi tanpa tersisa.
Sampai jari jarinya sendiri nya pun sampai di jilat oleh nya. Gilang sampai menggelengkan kepalanya dengan tingkah istrinya.
Gita pun meminum, minumannya yang suaminya sudah sediakan.
"Sudah kenyang Git.?"
Gita pun mengangguk, lalu Gita menutup mulutnya, karena menguap.
" Sudah malam Git, martabak pun juga sudah habis. Sekarang tidur yuk, gak baik buat ibu hamil". Gita pun mengangguk kan kepalanya." Tunggu sebentar ya,aku bersih kan ini."
Gilang pun membersihkan sisa piring martabaknya, setelah semua bersih Gilang membawa istrinya kembali ke dalam kamarnya.
Keesokan paginya, Gilang tidak melihat istrinya tertidur di sampingnya. Namun Gilang mendengar suara seseorang di dalam kamar mandi nya.
****
Hooooekk..... Hoooekk.... Terdengar suara Gita sedang mengeluarkan sesuatu di dalam tandas.
Tok...Tok..Tok..Gilang pun mengetuk pintu kamar mandinya.
"Gita sayang kamu di dalam, kamu kenapa sayang. Aku buka pintunya ya, aku masuk ya." Gilang khawatir dengan keadaan istrinya.
Lalu Gilang membuka pintu kamar mandinya, dan melihat Gita yang sedang muntah. Sambil berpegangan di keran kamar mandi.
Gilang pun langsung menghampiri istrinya. Hoek.. Hoek... Gita masih merasakan amat mual. Gilang membantu memijat tekuk leher Gita.
Setelah rasa mual nya hilang, Gilang langsung membawa istrinya kembali ke kamarnya. Gita bersandar di atas kasur, Gilang segera mengambil air hangat untuk istrinya. Gita pun meminum air hangat yang sudah suaminya bawa.
" Bagaimana sayang, masih merasa mual..?"
"Mendingan mas,tidak seperti tadi. Memang seperti ini ya mas, lagi mamahnya Jessy hamilin Jessy..?" Gilang pun mengangguk.
Gilang melihat wajah istrinya sudah memerah akibat rasa mual yang Gita rasakan. Gilang jadi merasa tak tega dengan kondisi istrinya.
Bersambung...
__ADS_1