
Lalu pak Jaka pun diam sejenak, dengan menatap wajah Gilang dan juga Gita. Gita yang dapat tatapan dari ayahnya, yang sulit Gita mengerti. Gita hanya menundukkan kepalanya, sambil berharap semoga ini yang terbaik untuknya.
Dug dug.... Dug, dug..... Dug, dug... Dug, dug.... Itu lah yang Gilang dan Gita rasakan. Dan tentunya Gilang lebih merasa kan tidak nyaman, apa lagi pak Jaka menatap Gilang Dengan tatapan penuh selidik.
Lalu pak Jaka melihat ke arah Gita sang putri nya." Gita, apa benar kamu sudah menjalin hubungan dengan Gilang." Gita hanya mengangguk. " Git, apa kamu juga yakin menjalani hubungan yang serius dengan pria ini. Ayah hanya tidak ingin nantinya kamu menyesal. Kerena menjalani hubungan untuk yang lebih serius itu, bukan suatu permainan nak".
Gita melihat ke pria yang berada di dekatnya, lalu melihat ke arah sang ibu. Di mana Bu Siti sudah memberikan senyuman yang membuat Gita yakin akan pilihannya itu.
"Iya insyaallah Gita yakin yah". Jawab Gita dengan tenang, walaupun hati nya dag dig dug ser.
Gilang yang menundukkan, mendengar ucapannya Gita membuat ada sedikit senyuman di bibirnya. Lalu kembali lagi tanpa ekspresi.
Lalu pak Jaka mengambil kopi di cangkir, lalu menyeruput kopinya. Srruuuupp... Aaaahh.... Ada sedikit senyuman menghiasi bibir pak Jaka, mendengar jawaban dari anaknya.
"Baik saya izinkan kamu, untuk menjalin hubungan dengan anak saya. Dan satu lagi jangan permainkan atau menyakiti anak gadis saya. Jika kamu ingin menjalin hubungan untuk lebih serius, bawalah kedua orang tua mu kesini". Ucap pak Jaka, membuat Gilang langsung melihat ke arah pak Jaka.
Gilang dan Gita tersenyum saat mendengar jawaban dari pak Jaka, dan Gilang melihat kearah Gita yang juga tersenyum kearahnya.
Gilang merasa tak percaya kalau pak Jaka mengizinkan, untuk menjalin hubungan dengan putrinya. Dan menerima lamarannya untuk menjalin hubungan yang serius.
"Trimakasih pak, saya pasti akan membawa kedua orang tua saya kesini, untuk melamar Anggita menjadi istri saya. Trimakasih sekali lagi atas jawaban yang telah bapak berikan ke saya, insya Allah saya tidak akan menyakiti,dan mempermainkan Gita anak bapak." Ucap Gilang dengan sungguh-sungguh.
"Iya nak Gilang, bapak tanya seperti itu, bapak hanya tidak ingin Gita terluka lagi. Semoga kamu bisa memegang ucapan kamu Gilang". Ucap pak Gilang.
"Insya Allah pak". Jawab Gilang dengan sedikit tenang.
"Ayo di minum dulu nak Gilang, pasti haus ya di interogasi sama ayah.?" Bu Siti menyuruh Gilang untuk minum. Gilang hanya tersenyum mendengar ucapan Bu Siti, lalu mengambil kopinya lalu menyeruput kopi yang di buat ibu nya Gita.
Setelah menikmati kopi dan mengobrol,Gilang meminta izin untuk mengajak Gita keluar.
" Pak, bu. Saya mau minta izin, ingin mengajak Gita keluar sebentar". Gilang meminta izin kepada pak Jaka dan Bu Siti. Dan mereka pun mengizinkan, Gilang tentunya merasa senang dengan izin Yanga di berikan pak Jaka.
__ADS_1
Kini Gita dan Gilang sudah berada di dalam mobil, Gilang benar benar merasa bahagia. Kerena Gilang mendapatkan restu dari orang tua Gita, dan dia harus berusaha bergerak lebih cepat, agar Gita benar benar jadi miliknya.
Selama di perjalanan Gilang selalu menggenggam tangan Gita, Gita tersipu malu di perlakukan seperti itu. Dulu sama Andi Gita tidak merasakan berdebar seperti ini.
"Mas.?"
"Hem.."
" Sebenarnya kita mau kemana sih.?
"Ngajak kamu ke suatu tempat.
"Iya Gita tau, memang mau kemana.?
" Nanti juga kamu tau sayang." Jawab Gilang dengan tersenyum ke arah Gita.
Gilang mengajak Gita ke sebuah cafe.
Setelah mereka duduk, Gita celingak-celinguk." Mas sebenarnya kamu mau ketemuan sama siapa sih.?"
"Sama kamu". Jawab Santai mata nya membaca menu makanan yang akan di pilih.
" Bukan kata mas, mau ketemuan sama seseorang.?"
" Iya sama seseorang, yaitu kamu Git. Kenapa sih Hem, ga mau aku ajak keluar. Dengar ya kita tiap hari memang bertemu, tapi itu suasana kerja. Sekarang kita bertemu cuma berdua, ya wajar kan sayang.?" Jawab Gilang membuat Gita diam seketika. Karena apa yang di ucapkan itu benar adanya.
Kini mereka sedang menikmati makan malam bersama berduaan. Saat selesai makan, tiba tiba Gilang menyentuh tangan Gita. Lalu Gilang mengeluarkan kotak dari sakunya, dan menunjukkan ke arah Gita. Sebuah kotak berwarna merah, dan saat di buka ada sebuah cincin cantik di dalam kotak merah itu.
Gita terkejut dan apa yang Gilang tunjukan ke Gita. Gita merasa terharu, ternya memang benar ternyata lelaki di hadapannya itu berniat serius.
Gita menitikkan air mata." Gita kamu Kenapa, kamu ko sedih.?"
__ADS_1
"Nggak Kenapa kenapa mas, aku hanya sedikit terharu aja mas.?"
Gilang tersenyum." Git, aku tidak bisa menjalin hubungan terlalu lama Git. Aku ingin berniat serius sama kamu, Aku ingin menikahi kamu. Apa kamu bersedia menjadi istriku sekaligus menjadi ibu untuk Jessy dan anak anak kita..?" Ucap Gilang dengan serius.
Gita benar benar di buat terharu oleh Gilang. Dan Gita benar benar menangis, ya menangis kebahagiaan.
Gita melihat wajah Gilang yang sungguh sungguh, mengutarakan isi hatinya. Gita pun mengangguk." Iya aku mau mas, terima lamaran kamu. Dan aku bersedia untuk menjadi istri kamu, sekaligus menjadi ibu untuk Jessy dan anak-anak kamu mas." Gita menjawab dengan menitikkan air mata kerena benar benar merasa terharu.
Gilang sangat bahagia, mendengar jawaban langsung dari mulut Gita. Gilang pun tersenyum, lalu mengambil cincin yang ada di dalam kotak merah itu. Lalu cincin itu di pasangkan di jari manis di sebelah kiri, setelah cincin terpasang Gilang mencium tangan Gita.
Sungguh suasana yang Gita rasakan sangat romantis, meskipun tidak ada lagi atau musik romantis. Menemani malam itu, tapi Gita benar benar merasa tersanjung, di perlakukan seperti itu oleh Gilang.
" Trimakasih mas".
" Aku yang harus berterima kasih sayang". Ucap Gilang, lalu Gilang mengecup kening Gita.
Benar benar Gita merasakan seperti di film-film ,dicintai oleh pangeran yang sangat mencintai nya. Selama ini Gita hanya melihat di film di TV atau di kiyuktub. Tapi ini Gita merasakan secara langsung, ternyata benar benar membuat melayang.
Ingin rasanya Gita loncat loncatan, atau berguling karena merasa bahagia. Tapi apalah daya itu hanya tingkah Gita saat nonton drama percintaan saja.
Kini acara mereka berdua pun selesai, kini Gita dan Gilang kembali untuk pulang. Selama di perjalanan tangan Gilang tak pernah melepaskan tangan Gita sedikit pun.
Kini Gilang mengendarai mobilnya untuk mengantar Gita pulang. Dan kini mobil Gilang sudah sampai di halaman rumah Gita. Terlihat suasana rumah Gita sudah sepi, seperti nya kedua orang tua nya Gita sudah tertidur.
"Mas trimakasih ya untuk semuanya". Ucap Gita yang sudah memegang tasnya.
"Iya sama-sama Git, sekarang kamu masuk dan istirahat ya.?" Gita pun mengangguk.
Namun saat Gita ingin membuka pintu mobilnya, Gilang menahan tangan Gita. Lalu saat Gita menoleh kearah Gilang, Gilang pun langsung men*ium bibir Gita.
Bersambung....
__ADS_1