Cinta Anggita

Cinta Anggita
Permainan malam hari


__ADS_3

Bocil di larang baca


Tidak butuh waktu lama Gilang sudah keluar dari dalam tandasnya. Dan kini sudah menggunakan sarung dan baju Koko untuk shalat, dan pasangan pengantin itu pun melakukan shalat.


Setelah melakukan shalat, seperti biasa Gilang selalu berdiri di bawah gelapnya langit malam. Memandang cahaya bulan dan bintang yang selalu mengisi keindahannya satu sama lain. Gilang nampak tersenyum memandang langit malam yang begitu indah malam ini.


" Monic maafkan aku, yang belum mengunjungi makam mu. Nanti aku akan ajak Jessy dan Gita istri ku. Semoga kamu tenang sayang di sana, karena aku sudah mengikuti apa yang kamu dan Jessy pinta." Ucap Gilang dalam hati, memejamkan matanya menikmati angin yang menyentuh tubuhnya.


Gita yang habis mengambil minuman, dan melihat Jessy yang sudah tertidur. Melihat suaminya yang menyendiri di balkon kamarnya nampak heran.


" Mas Gilang kenapa sendirian di luar sih.?" Lalu meletakan minuman di atas meja, lalu menghampiri suaminya yang sendirian di luar.


"Mas". Panggil Gita, dan Gilang pun menoleh, dan tersenyum.


" Iya Git,kenapa.?"


" Ko di luar sendirian, angin nya cukup kencang loh. Masuk istirahat yuk". Gilang tersenyum dengan perhatian yang Gita berikan walau hanya kata sederhana.


Kini Gita berada di samping dirinya, Gilang tersenyum, Lalu membelai rambut Gita.


Haaaah, Gilang membuang nafasnya yang terasa berat.


" Git, kamu tau, hampir tiap malam aku berdiri di sini. Menikmati semilir angin yang begitu sejuk dan tenang. Aku merasakan kesendirian ku di sini, ya hanya malam lah yang menjadi saksi ketika aku di sini. Hanya kesendirian yang seperti ini yang aku rasakan Git, bertahun-tahun . Hanya Jessy lah yang memberikan senyum di hari hari ku, dan sekarang kamu yang memberikan warna di hidupku". Kata Gilang yang menceritakan isi hatinya.


Gita menatap nya yang mengerti akan isi hatinya itu." Laki laki yang ku kenal sosok cuek, beruang kutub, nyebelin. Ternyata menyimpan rasa kesepiannya seorang diri. Di depan seluruh keluarga menjadi sosok yang hangat.

__ADS_1


" Iya Mas semoga hidup keluarga kita nanti akan penuh warna ya. Sekarang kamu sudah tidak sendiri lagi, kamu bisa berbagi cerita sama aku. Sekarang kita istirahat ya, sudah larut malam." Kata Gita membuat Gilang tersenyum dan mengangguk kan kepala.


Lalu mereka pun masuk ke dalam kamar, dan menutup pintu kamar balkon nya. Lalu mereka pun sudah berada di atas tempat tidur.


Rasa takut Gita kembali hadir, jika sudah masuk ke dalam kamar. Apalagi saat berduaan dengan Gilang yang kini sudah menjadi suaminya.


Gita meletakan guling di tengah tengah Mereka. Gilang yang habis meletakkan handphonenya di atas meja, saat membalikkan badannya terdapat sebuah guling yang membatasi tempat mereka.


Gilang bukannya kesal malah tersenyum melihat tingkah istri nya yang masih malu malu. Gilang melihat Gita yang membelakangi dirinya, bahkan sudah menutup dirinya dengan selimut.


Gilang pun merebahkan tubuhnya di atas tempat tidurnya. Gilang menatap tubuh Gita dengan tersenyum, walaupun Gilang di belakangi oleh Gita.


Sedangkan Gita yang biasa tidur hanya sendiri, kini dia tidur berdua. Ada rasa takut di benak Gita, Mangkanya Gita


membatasi guling di tengah-tengah Mereka.


Gita nampak terkejut dengan suara bisikan.


" Aku tau kamu belum tidur, jangan pura pura seperti itu".


Gita membuka matanya." Hehehe.... Mas Gilang, aku memang niat ingin tidur. Ko di bilang pura pura tidur, memang nya mas Gilang belum ngantuk.?" Kata Gita dengan terkekeh..


Lalu Gilang menarik tubuh Gita agar menatap wajahnya, dan Gita nampak malu saat menatap wajah suaminya dengan jarak begitu dekat. Gilang melihat wajah Gita setiap inci, terutama di bagian bibir Gita yang ranum.


"Gita,tadi kamu bilang kan, semoga keluarga kita,akan penuh warna.?" Gita pun mengangguk, dan Gilang pun tersenyum." Apa kamu mau memberikan warna itu sekarang, apa boleh aku meminta hak ku sama kamu saat ini.?"

__ADS_1


Gilang menatap wajah Gita dengan tatapan sendu dan Gita pun mengangguk kan kepalanya, menuruti apa yang di ucapkan Gilang. Dan Gilang pun tersenyum saat Gita mengangguk kan kepalanya, untuk jawabannya.


Gilang menatap wajah Gita setiap inci, bagaikan lukisan yang sempurna bentuk wajah Gita. Gilang memberikan kecupannya di kening Gita, Gita memejamkan matanya. Lalu pindah ke dua matanya, lalu turun ke hidung dan terakhir di bibi* ranum Gita. Gilang memberikan nya cukup banyak lama di bagian itu.


Saat Gilang memulai permainan awal dasar Gita tak membalas kecu*an itu. Namun bukan Gilang namanya kalau tidak mulai aksii.


Gilang masih menatap wajah Gita yang masih memejamkan matanya, dan Gilang tersenyum. Lalu Gilang pun menggigit bibi* Gita, sampai Gita membuka bibi* nya karena merasa terkejut. Lalu Gilang memulai aksinya dengan menautkan kedua bibi* nya, Gilang terus beraksi bagaikan melihat santapan yang lezat, Gilang menyatukan bibi* nya.


Semakin lama permainan itu membuat Gita pun terpancing, dan Gita pun membalas permainan itu. Gilang pun tersenyum melihat Gita yang membalas permainannya.


Akhirnya mereka berdua pun melanjutkan permainan selanjutnya. Gilang mematikan lampu kamarnya, untuk melanjutkan permainan tahap ke dua. Dimana Gilang memberikan warna pada lukisan yang ia buat di bagian leher jenjangnya Gita, Gilang merasa senang telah membuat lukisan yang berwarna pada Gita. Gita pun sampai mengeluarkan suara merdunya membuat Gilang semakin tak terkendali.


Suhu kamar Gilang terasa panas, padahal di kamar itu menggunakan pendingin udara. Namun Gilang dan Gita masih merasakan hawa panas. Gilang pun membuka kemasan yang ada pada tubuh Gita, Gilang pun juga membuka kemasan yang dia gunakan. Sampai kini sudah tidak ada kemasan lagi di antara mereka berdua.


Gilang menatap indahnya lukisan yang Gita miliki, sebuah lukisan lembah dan pegunungan yang sangat indah. Gilang memulai permainan nya itu, memulai menaiki gunung melewati lembah. Gilang pun berpetualang di setiap bukit yang Gita miliki, dan melewati lembah yang membuat Gilang semakin semangat melewati setiap bukit yang Gilang jelajahi.


Gita pun merasakan bergetar pada dirinya, hingga Gita menarik seprainya untuk menahannya.


Setelah Gilang melewati bukit dan lembah kini Gilang menuruni perhutanan. Hutan yang biasanya menyeramkan tapi ini sangat indah yang bagi Gilang.


Gilang pun masih melanjutkan permainan. Saat di bagian hutan yang lebat, tubuh Gita bergetar sangat hebat saat ada sesuatu yang menusuk bagian bawahnya. Saat Gita mengeluarkan teriakan suaranya, Gilang menutup nya dengan sebuah Ciu*an lembut pada Gita. Gilang masih menjalani permainan, dan Gilang mendengar suara merdu yang Gita keluarkan. Dengan memanggil namanya membuat Gilang semakin semangat memainkan permainan. Sampai mereka pun memainkan permainan itu dengan bersamaan, sampai permainan yang mereka jalani sampai akhir finis.


bersambung.....


**Maaf ya author membuat cerita sedikit ngeri nih tentang malam pengantin mas Gilang. hihihi.... Jadi author pelesetin aja. Bagi yang paham aja, bagi yang nggak paham maaf author bingung jelasinnya. wkwkwkwk...

__ADS_1


...Jangan lupa ya untuk tinggalkan jejaknya 👍, agar author semangat buat ceritanya....


...trimakasih 🙏🙏🙏🙏**...


__ADS_2