
Gilang merasa tak tega melihat Gita yang seperti itu. Gilang pun menyentuh pundak Gita, dan Gita menoleh ke arah bos nya.
Gilang pun membawa Gita kedalam pelukannya,dan entah kenapa Gita pun tak menolak saat Gilang menarik dirinya .
Gita pun menangis dalam pelukan Gilang, dan Gita pun merasakan ketenangan saat berada di pelukan Gilang. Entahlah Gita sepertinya membuang rasa malunya saat di peluk oleh bosnya itu. Mungkin bagi Gita, bosnya itu mempunyai sikap hangat karena memiliki seorang anak. Yang memang mempunya sisi hangat pada dirinya.
Entahlah, Gilang tak tau apa yang di lakukan nya benar atau salah. Tapi yang Gilang rasakan mengikuti arah hati nya. Sosok Gita yang Gilang kenal, sosok gadis yang ceria, lucu, sedikit bawel,dan memiliki sifat penyayang.
Tapi saat ini Gilang tak melihat sisi itu semua dari Gita. Yang Gilang lihat, hanya ada sisi Gita yang lemah,dan rapuh. Mungkin karena usianya yang masih sedikit labil, dan menjalani hubungan yang di awali persahabatan.Tapi hanya ini yang bisa Gilang lakukan, menenangkan Gita.
Setelah Gita cukup tenang, Gita pun melepaskan pelukannya dari bos-nya.
"Trimakasih pak, sudah menemani saya,dan tidak membawa saya pulang.
"Sama sama Git, tidak mungkin juga saya membawa kamu pulang dengan keadaan kamu seperti tadi. "Kini mereka berdua di atas rerumputan di atas bukit, suasana yang cukup sunyi padahal jam baru
menunjukkan pukul 7 malam.
"Maaf sebelumnya,memang kenapa kamu sampai seperti ini. Soalnya saya tadi sempat liat kamu dan pacar kamu di cafe, sepertinya kalian ada masalah.?" Gilang yang duduk di samping Gita,dan mensejajarkan duduknya dengan kaki yang di tekuk lutut keatas.
Karena Gita sedang duduk memeluk lututnya, Gita menatap lurus ke depan.
__ADS_1
"Saya,Reni, dan Andi, kami bersahabat. Dulu Andi itu cuek, dan justru dia pernah bilang kalau dia itu benci sama saya yang terlalu lemah. Dan dia yang selalu menolong saya di saat saya di bully, dan sampai kita lulus kita bertiga masih berteman. Dan tanpa saya sadari dia menyimpan rasa sama saya, dan saya pun nyaman akan rasa itu. Tapi dia juga yang menghancurkan rasa nyaman saya ini. Dengan sebuah cincin yang melingkar di jari manis nya, dan dengan pengakuan dari dirinya. Atas status nya yang sudah memiliki istri, hampir sebulan kita tidak pernah bertemu. Sekali nya bertemu hanya mendengarkan kejujuran dari dia yang membuat semuanya hancur". Gita tersenyum miris akan kisahnya.
Mungkin jika Andi sahabat nya, Gita akan Merasa bahagia, Saat mendengar Andi sudah menikah. Tapi ini lain, Andi kekasih nya. Dan Andi juga telah mengubah perasaan persahabatannya menjadi perasaan cinta. Dan kini sudah hancur saat sebuah kejujuran dari Andi yang membuat hati Gita terluka.
Gilang sebagai pendengar yang baik, Gilang hanya mendengarkan semua yang Gita cerita kan. Dan mungkin hanya dengan ini, Gita bisa mengeluarkan isi hatinya.
Entah kenapa Gita merasakan kelegaan pada hatinya saat mengeluarkan semua yang tertahan di hatinya. Sampai terdengar nafas, yang Gita hembuskan. Ya Gita merasa cukup lega dengan menceritakan kepada Gilang.
Gilang masih menatap lurus ke depan,tanpa dia sadari Gita melihat ke arah bos nya. Seorang laki-laki, yang tak lain atasan nya di tempat kerja. Mendengar semua keluh kesah karyawan nya. Gilang pun merasa kalau dirinya di perhatikan oleh Gita, Gilang pun menoleh ke arah Gita.
Gita tersenyum ke arah Gilang, dan Gilang merasa heran dengan Gita. Padahal tadi Gita menangis karena hubungannya dengan Andi kandas. Tapi kini Gita tersenyum kembali kearahnya.
"Trimakasih sudah menemani Gita, sampai Gita tenang. Udah mau dengerin cerita Gita, sampai rasanya lega aja yang Gita rasain. Seharusnya aku sadar ya, kalau cinta di atas persahabatan itu jarang ada. Dan tidak baik pacaran terlalu lama, sama aja menjaga jodoh orang lain. Malu banget aku nangis, seperti tadi." Kata Gita yang menutup wajahnya dengan telapak tangannya.
"Kalau besok kondisi kamu belum baik, lebih baik kamu tidak usah masuk kerja dulu. Tenangin diri kamu saja, sampai kamu benar benar tenang aja." Saran Gilang, dan Gita pun mengangguk dengan saran yang di berikan bos nya.
Gita pun mengangguk,dan tersenyum." Iya pak terima kasih ya, mungkin besok aku izin gak masuk pak". Lalu Gita melihat jam tangannya sudah menunjukkan pukul sembilan malam." Pak pulang yuk, sudah malam juga."
Gilang pun mengangguk." Yasudah kita pulang, saya rasa kamu sudah lebih baik dari yang tadi." Gilang nampak tersenyum melihat Gita yang sudah mulai tersenyum. Walaupun Gilang yakin Gita masih belum benar benar baik kondisinya. Gilang dan Gita pun masuk ke dalam mobil, dan Gilang melaju kendaraan nya untuk mengantar Gita pulang.
Tiga puluh menit di perjalanan, kini mobil Gilang sudah sampai di depan rumah Gita. Kondisi rumah Gita juga sudah sepi, mungkin kedua orangtuanya Gita sudah tidur.Gita pun membuka seatbelt, lalu tersenyum ke arah Gilang." Trimakasih ya pak,atas semuanya."
__ADS_1
Gilang pun tersenyum." Iya sama-sama Git, semoga kamu sudah lebih baik, jangan seperti tadi."
Gita pun mengangguk. "Iya pak, kalau begitu Gita turun, sekali lagi terimakasih." Gita pun membuka pintu mobil, lalu keluar." Trimakasih ya pak".
"Iya Git, saya balik ya". Gilang pun memberikan senyuman ke arah Gita, dan Gita pun mengangguk. Lalu Gita menutup pintunya.
Gilang pun mengendarai mobilnya, meninggalkan Gita yang masih berdiri. Setelah mobil Gilang sudah tak terlihat, Gita pun baru masuk kerumahnya. Lalu mengunci pintu, setelah itu Gita masuk ke dalam kamar dan mengunci kamarnya.
Gita merebahkan tubuhnya di kasur miliknya, dengan mata memandang cahaya lampu. Gita mengingat kembali saat saat dirinya bersama Andi, dari masa masa SMA.
Gita merasakan sesak di hatinya, dia mengingat kembali, di mana Andi selalu memberikan perhatiannya kepadanya. Di mana Andi mengungkapkan perasaan kepadanya, dan menjalani hubungan nya dengan Andi. Andi memberikan rasa nyaman bagi Gita, setelah Gita nyaman akan perasaan nya kini Andi malah menjadi milik orang lain.
Karena terus bersedih dan membuat tubuhnya menjadi Lelah. Akhirnya Gita pun terlelap,dalam tidurnya.
****
Sedangkan di sebuah kamar, seorang pria dewasa sedang berdiri di atas balkon kamarnya. Dia sedang memperhatikan cahaya bintang dan bulan,yang bersinar berdampingan. Angin yang berhembus, menyentuh dirinya. Mengingat kan apa yang terjadi hari ini.
Ya pria dewasa itu adalah Gilang. Entah kenapa saat mendengar bahwa hubungannya Gita dan Andi kandas, ada suatu kelegaan di hatinya. Mungkin terdengar nya jahat, tapi Gilang tidak merusak atau mendoakan agar hubungan mereka putus. Gilang hanya mengikuti alur kehidupan yang ia jalani, Gilang hanya berserah diri hanya pada Tuhan masalah jodoh nya.
Mungkin kalau dirinya sendiri, pasti dia sendiri yang menentukan jalan hidupnya. Dengan gadis mana yang akan dia pilih. Tapi ini tidak, dia tidak mau egois kalau masalah mencari pendamping hidup. Karena Gilang memiliki putri kecil, yang harus ia perhatikan. Dan berusaha agar gadis kecilnya itu tak merasakan kehilangan akan kasih sayangnya.
__ADS_1