
Tak lupa Gilang juga membersihkan pecahan gelasnya yang ada di lantai. Setelah selesai Gilang kembali ke kamar dan menuju tempat tidurnya.
Namun Gilang bukan nya naik ketempat tidur malah berlutut menatap wajah istrinya yang sedang memejamkan matanya. Gita tidak tau kalau suaminya saat ini sedang menatap wajah nya yang sedang tertidur. Benar tebak kan Gilang, pasti istrinya menyimpan sesuatu. Karena saat Gita memejamkan mata air matanya masih saja mengalir.
Gilang menghapus air matanya Gita, dan mata Gita pun terbuka. Dan dihadapan nya kini ada suami nya yang sedang memperhatikannya.
"Mas kamu kenapa di sini. Bukan nya tidur, sudah malam.?"
Gilang tersenyum melihat istrinya.
" Justru mas yang tanya kamu kenapa.?"
"Aku, memang aku kenapa. Aku gak kenapa-kenapa .?"
"Kalau kamu tidak kenapa-kenapa, terus kenapa tadi kamu mengeluarkan air mata pas kamu pejamkan mata kamu tadi.?"
Gita pun akhirnya mengubah posisinya menjadi duduk, dan di bantu Gilang.
"Kamu kenapa Hem... Apa mas melukai hati kamu..?" Gita menggelengkan kepalanya." Terus kenapa, mas yakin kamu menyembunyikan sesuatu dari mas. Kamu tidak bisa bohong sayang dari mas.?" Sambil menyelipkan rambutnya Gita, ke belakang telinganya.
"Maaf sebelumnya sama kamu mas. Tadi aku tidak sengaja mendengar ucapan kamu." Wajah Gita menunduk." Mas apa kamu masih belum bisa melupakan mendiang Mamahnya Jessy. Apa kamu menyesal sudah menikah dengan aku mas.? Sampai kamu berucap ingin hidup menjadi keluarga yang bahagia dengan. Beliau. Sedangkan mba monic sudah tiada mas.?" Gilang terkejut mendengar Gita berkata seperti itu.
Air mata yang Gita bendung runtuh juga, dan mengalir ke pipinya.
"Bukan seperti itu Git, aku gak bermaksud untuk membuat kamu sedih sayang." Gita pun mengalihkan pandangan ke arah lain, Gita enggan menatap wajah suaminya.
Gilang tau pasti Gita merasa kecewa dengan dirinya. Memang disinilah Gilang lah yang salah, belum bisa melupakan mendiang istrinya yang sudah tiada.
Gilang pun berlutut di hadapan Gita.
"Mas kamu kenapa begini sih, ayo bangun. Jangan kaya gini mas.?" Gita menahan suaminya untuk tidak berlutut.
Gilang pun menggelengkan kepalanya.
" Aku minta maaf. Aku paham Mungkin kamu kecewa sama aku. Tidak ada kata menyesal karena aku sudah menikah dengan kamu. Justru aku beruntung menikah dengan gadis baik seperti kamu. Aku benar-benar sayang sama kamu Git, sampai sampai aku takut kehilangan kamu Git. Apalagi sampai kamu kenapa-kenapa karena aku, aku gak bisa memaafkan diriku sendiri Git." Gilang memeluk pinggang Gita.
Terlihat pundak Gilang bergetar, Gita nampak heran kenapa suaminya menangis.
__ADS_1
"Mas, kamu kenapa, ini bukan karena kamu. Kenapa kamu bilang seperti itu.?"
"Tadi aku keluar sama ayah dan Lukman. Aku sebenarnya menangkap seseorang yang sudah menyebabkan kamu dan Jessy kecelakaan. Dan membuat kamu koma selama dua Minggu, serta membuat kamu dan Jessy terluka." Gita menutup mulutnya, karena terkejut.
"Lalu, apa orang itu sudah di tangkap.?" Gilang mengangguk kan kepalanya.
" Siapa mas orang nya yang sudah menyebabkan kecelakaan itu.?"
"Bella, kamu pasti tau kan wanita yang bernama Bella itu. Dia menyuruh seseorang untuk menabrak kamu dan Jessy. Untungnya kamu dan Jessy sekarang selamat, walaupun kamu sempat koma selama dua Minggu, tapi kamu sekarang berada di hadapan aku. Dan aku bisa melihat senyuman manis kamu ini." Sambil mengecup keningnya Gita." Dan aku juga baru tau, ternyata Bella lah yang menyebabkan kecelakaan yang menimpa Mamahnya Jessy hingga meninggal dunia."
Gita menutup mulutnya,dan membelalakkan matanya. Dengan rasa tak percaya apa yang dia dengar dari suaminya.
"Apa, jadi yang menyebabkan Mamahnya Jessy meninggal karena kecelakaan itu Bella .?" Gilang pun mengangguk.
"Ya bodohnya aku baru tau, dulu aku pernah menyuruh seseorang untuk mengusut pembunuhan itu namun gagal. Karena orang suruhan aku itu meninggal akibat kecelakaan. Dan dari situ aku lelah dengan apa yang sudah terjadi, dan aku henti kan untuk pencarian pembunuhan Monica. Di tambah lagi aku belum bisa menerima kepergian Monica yang begitu Cepat meninggalkan aku. Mangkanya aku kemarin itu sangat takut jika terjadi sesuatu sama kamu. Apalagi sampai kamu meninggalkan aku Git, aku sangat takut kejadian itu terulang kembali." Gilang menjelaskan dengan mata memerah.
Gita tak tega melihat suaminya yang seperti itu. Mengingat kembali kejadian enam tahun silam, saat kematian mamahnya Jessy.
"Mas, bangun yuk. Jangan seperti ini.?"
Gita membangun kan Gilang untuk duduk di sampingnya.
" Ya aku tau perasaan kamu saat ini. Aku juga minta maaf mas, aku sedikit egois karena belum tau maslah kamu. Mungkin memang ini sudah kehendak Allah, kita tidak bisa menolaknya. Semoga wanita itu mendapatkan hukuman yang setimpal dengan apa yang pernah dia lakukan. Kita doa kan mba Monica tenang ya di sana, kamu jangan sedih lagi". Gilang pun mengangguk kan kepalanya. Gita pun tersenyum lalu.
Cup
Gilang terkejut karena istrinya memberikan hadiah ciu....man di bibirnya. Dan Gilang tersenyum melihat istrinya.
" Kan sekarang ada aku di sini yang menemani kamu, ada Gandi baby kita. Masa kamu masih mellow sih". Gita menghibur, dan memberikan senyuman manisnya ke arah suaminya.
Gilang akan terenyuh jika melihat istrinya yang bisa menghibur dirinya. Apalagi dengan memberikan senyuman nya, membuat mood booster Gilang kembali.
"Iya sekarang ada kamu, istri ku yang selalu pengertian. Beruntung nya aku mempunyai istri yang sabar menghadapi dan mengendalikan emosi dan sikap posesif ku. Aku sayang kamu Anggita binti Jaka". Gilang sambil mengerling kan sebelah mata nya.
"Idih genit nya suami ku ini."
"Kan genit nya sama kamu doang.?"
__ADS_1
Gita memberikan senyum meledek ke arah Gilang. "Udah gak mellow lagi nih ceritanya.?"
"Ngapain aku mellow ada kamu yang bisa menghibur ku." Gita dan Gilang saling tersenyum." Sayang ko cuma satu doang hadiahnya, mana lagi.?"
Gita nampak heran dengan pertanyaan suaminya tentang hadiah.
" Hadiah. Memang hadiah apa mas.? Memang kapan aku kasih hadiah ke Kamu.?" Gita masih belum paham maksud Gilang.
Gilang pun tersenyum, lalu mengetuk ngetuk bibirnya dengan jari. Gita pun baru paham hadiah yang di maksud suaminya itu.
"Iiihh.... Kamu mas. Giliran yang kesitu langsung aja nyambung.?" Gita Sambil Mengerucut kan bibirnya.
"Yasudah kasih hadiahnya, mas kan lagi libur nih. Mas lagi di kasih tanggal merah banyak, sampai nifas kamu selesai. Boleh lah hadiahnya sebelum memulai aksinya." Sambil menaik turunkan alisnya." Bibir ku kering Git belum di kasih vitamin sama kamu.?"
"Itu lip balm ada mas, pakai saja biar gak kering bibir kamu." Gita meledek Gilang.
"Bukan itu Git. Kelamaan aah..."
Cup
Gilang langsung menerobos menci.... um bibir Gita. Gita pun terkekeh melihat aksi suaminya itu.
"Mas, main serobot aja sih. Pelan pelan atuh yang romantis dikit gitu loh. Ini Mah main nempel".
"Kamu jadi mau yang lembut dan romantis. Yuk sini mas mas buat se romantis mungkin.."
"Tapi inget ya, tanggal merah. Jadi masih libur untuk masuk."
"Iya paham sayang". Sambil tersenyum penuh arti.
Gilang pun mengangkat dagu Gita sedikit ke atas, hingga bibir Gita terbuka. Gilang menatap bibir ranum Gita, dan Gilang pun menempel.. kab bibir.... nya di bibi....r Gita. Bibi...r mereka pun saling bertautan, mengecap manisnya yang sm mereka nantikan.
Gilang mencum....Bu, dan memimpin permainan mereka. Gilang mengi... git bibi...r Gita, begitu pun juga Gita membalas apa yang di lakukan oleh suaminya.
Hingga mereka berhenti dan melepaskan ciu....man nya, saat mendengar rengekan Gandi bayi mereka yang haus untuk minum susu. Mereka pun akhirnya melepaskan pautan bi... bir mereka. Gita pun langsung mengambil Gandi lalu Gita memberikan Asi untuk Gandi.
Gilang tersenyum, melihat keluwesan istri yang baru pertama kali menjadi seorang ibu. Tapi sudah luwes dalam mengurus baby.
__ADS_1
bersambung....