
"Pah cepetan pah, ini urusannya Reni yang Lahiran. Rambut dan leherku bisa copot urusan nya." Dumel Lukman.
Plaaak... Kepala Lukman di pukul Reni. "Memang kamu pikir aku ingin seperti ini. Kamu rasakan saja sendiri sakit nya seperti apa." Kata Reni dengan kesalnya.
" Ya mana bisa aku melahirkan, mau keluar dari mana. Dari bo....kong atau dari dua telor ku, ada ada aja kamu tuh kalau ngomong". Celetuk Lukman membuat Reni merasa kesal. Dan justru menarik rambut Lukman dengan kencang.
"Aaaah.... Aaaahhh... Kamu nyebelin mas, iiiihh...iih... Sakit tau gak mas, kamu malah bikin aku tambah kesel....." Reni sambil menarik rambut Lukman karena merasa sakiit sekaligus kesal dengan suaminya itu.
"Aaaa lala... Aduh duh duhh.... Aaaahhh..." Triak Lukman." Ampun sayang.
"Lukman coba kamu tenangkan Reni, bukan bikin kesal Reni". Ucap mamah Henny, yang merasa geram dengan kelakuan anaknya itu.
"Iya mah". Jawab Lukman, lalu Lukman mengusap perutnya Reni dan berbisik.
"Sayang, sudah ya nak, jangan bikin mamah kesakitan. Kasian tuh mamah kamu kesakitan, papah yang jadi korban nya. Yang tenang ya sayang, sebentar Lagi kamu lahir, gak sabar ya ingin melihat papah kamu yang keren ini. Mmmuuuaaaaccchhh...." Sambil mencium perut buncit Reni.
Reni hanya melihat tingkah suaminya yang begitu narsis dan percaya diri. Tapi benar saja rasa kontraksi di perut nya sudah berkurang, tidak seperti tadi yang begitu sakit.
Huuuffff.... Huuuufffhh..... Huuufffhhh .. cengkraman tangan Reni di rambutnya Lukman terlepas.
"Sakit nya berkurang mas, tidak seperti tadi."
Lukman tersenyum mendengarnya." Berkurang sakit nya.? Alhamdulillah anak kita ngerti, yasudah sini aku usap usap ya perut kamu.?" Reni pun mengangguk.
Mamah Henny tersenyum melihatnya, namun tangan Reni tak mau melepaskan tangannya dari lengan Lukman.
"Mas, Sakit lagi.?" Rengek Reni, sebenarnya Lukman tak tega dengan kondisi istrinya saat ini.
Namun mau bagaimana lagi, Lukman sendiri juga bingung. Lukman hanya bisa mengelus perut dan pinggang Reni.
Kini mereka sudah sampai di rumah sakit. Lukman menggendong tubuh Reni, yang sedang kesakitan.
Semua orang pun melihat ke arah Lukman yang menggendong tubuh Reni. Lukman masih belum sadar kalau wajahnya masih memakai masker wajah.
Kini Reni sudah berada di ruang persalinan, dan sudah ditangani oleh dokter dan perawat.
Selama proses persalinan,Lukman mendampingi Reni. Dokter,dan perawat pun sesekali melihat ke arah Lukman dengan menggelengkan kepalanya dan tersenyum.
Sedangkan Lukman sedang meringis kesakitan karena Reni mencengkeram erat tangan Lukman.
__ADS_1
"Ayo ibu, tarik nafasnya". Reni mengikuti ucapan dokter wanita itu." Buang".
Huuufffhh....
"Ayo ibu bismillah ibu kuat yuk. Jangan di angkat ya ibu pinggulnya. Yuk ibu tarik nafas nya Lalu buang, saya bantu ".
Uuuuuuuffffppppp... Huuuuhfffff..... Emmmmmmpppp aaaaaaa...
"Lagi ibu sayang, sedikit lagi baby nya keluar."
Haaa. Haaaa.... Haaaaa ....HhhUuuuffffffpppp... Eeeeemmmmmpp... Aaaaa...
Lukman yang mendampingi merasa dengkul nya sangat lemas, melihat perjuangan istrinya.
" Ya Allah lancarkan lah persalinan istri ku. Hamba tak tega melihatnya." Gumam Lukman dalam hatinya.
"Ayo ibu sayang sedikit lagi, ayo saya bantu. Dalam hitungan ketiga ibu tarik nafas lalu yang kuat ,lalu dorong ya". Arahan dokter." Satu .... Dua..... Tiga, ayo ibu..
Hhhuuufffppppp.... Eeeeemmmmmpppp.... Allahuakbaaaaar..." Teriak Reni...
Oooeeekkk... Oooeeekkk.... Oooeeekkk.... Terdengar suara tangisan bayi. Ya bayi Reni kini sudah terlahir.....
Dan Bayi itu di berikan ke Reni dan Lukman. Lalu bayi mungil itu di letakan di dada Reni, Reni dan Lukman begitu terharu melihatnya.
Hiikkss... Hikks.... Reni dan Lukman menangis bahagia mendengar bayi mereka sudah terlahir. Dan kini bayi itu ada dihadapannya.
" Selamat sayang, kamu berhasil melahirkan malaikat kecil kita. Sekarang kita sudah sah menjadi orang tua. Aku sayang dan cinta sama kamu..." Lukman mengecup kening Reni.
" Trimakasih mas, sekarang kita sudah menjadi orang tua."
"Iya sayang, bayi nya cantik seperti kamu sayang.?" Kata Lukman yang memperhatikan wajah bayi itu.
"Iya sayang tapi wajahnya mirip kamu mas". Kata Reni, Lukman terkekeh mendengar protes istrinya.
"Iyalah mirip aku, kan anak aku, aku ayahnya. Masa mirip mas Gilang atau Joko, kan gak mungkin."
"Iya ya mas". Lukman pun mengecup kening Reni. Lalu mencium pipi bayi mungil yang masih merah itu.
Lalu bayi itu di bawa kembali oleh perawat perempuan, untuk di bersihkan.
__ADS_1
Lukman melihat mata Reni yang menangis, dan Lukman menghapus air mata Reni. Sedangkan Reni hanya tersenyum dia bingung ingin menangis atau tertawa melihat suaminya masih memakai masker di wajahnya.
Lalu Lukman mengusap wajahnya karena air matanya. Lukman baru sadar kalau dirinya masih menggunakan masker di wajahnya.
Lukman terkekeh menertawakan dirinya sendiri. " Pantesan saja dari tadi dokter dan perawat tertawa saat melihat Aku. Ternyata karena masker wajah ini rupanya. Dan kamu meledek aku ya, nakal kamu". Sambil mencubit hidung Reni dan tersenyum.
Sedangkan seorang perawat yang melihatnya tersenyum, yang bersikap romantis.
"Mas ada suster nya loh, malu.."
"Gak apa sayang, aku saking takutnya sampai gak sadar sama wajah aku ini loh. Sekarang aku sudah lega, aku mau cuci muka dulu sebentar." Reni menganggukkan kepalanya. Lukman mencium kening Reni.
Lalu menghampiri seorang perawat perempuan." Mba saya titip istri saya dulu sebentar ya.?"
"Iya pak ". Jawab perawat itu, dan Lukman pun langsung keluar kamar. Sedangkan di luar seluruh keluarga sedang menunggu kabarnya.
Pak Romi, Riko, ibu Reka dan seluruh keluarganya langsung menoleh melihat Lukman yang keluar kamar bersalin.
Semuanya nampak terkejut melihat wajah Lukman. Sedangkan mamah Henny dan papah Ridwan hanya tersenyum dan menggelengkan kepalanya melihat wajah Lukman.
"Lukman bagaimana keadaan anak ayah,dan bayinya.?" Tanya pak Romi.
"Alhamdulillah, bayinya sudah lahir dengan selamat dan sehat. Begitupun juga Reni dia selamat dan sehat, hanya kondisinya saja yang masih lemas." Semuanya pun pada mengusap wajah karena merasa lega mendengar kabar baik itu.
"Selamat ya, ayah, ibu. Mamah dan papah sekarang sudah menjadi kakek dan nenek." Para orang tua hanya tersenyum karena bahagia." Dan kamu Rik sekarang kamu sudah menjadi paman.?"
"Iya, sekarang saya menjadi pama. Selamat ya mas Lukman, sekarang sudah menjadi ayah." Mereka pun saling berpelukan.
" Trimakasih Rik, saya bahagia banget sekarang. Sudah mempunyai istri dan putri yang cantik". Kata Lukman dengan rasa terharu, dan Riko menepuk pundak Lukman.
"Kalau begitu saya permisi mau mencuci wajah saya. Takut anak saya tidak mengenal ayahnya, karena masker ini menutupi wajah tampan saya". Kata Lukman dengan narsis nya.
Lukman dan Riko terkekeh, Sedangkan yang lain hanya menggelengkan kepalanya. Lalu Lukman berjalan ke wastafel untuk mencuci wajah nya. Setelah selesai Lukman kembali berkumpul dengan keluarganya.
Dan malam itu seluruh keluarga berkumpul menunggu Reni di rumah sakit. Karena mau kembali juga sudah larut malam.
Bersambung.
..
__ADS_1