
Gilang menyentuh kening Jessy, terlihat wajah khawatir Gilang ." Ya Allah panas sekali badannya. Jessy sayang bangun nak ini papah sayang. Ayo bangun ya sayang jangan buat papah takut nak.
Tetapi Jessy masih saja mengigau Memanggil mamahnya." Mamah... Mamah.. Jessy sakit mah. Jessy mau di peluk mamah." Hati Gilang bagaikan di cubit sakit rasanya kalau Jessy sakit selalu memanggil nama Mamah nya.
" Jessy ini papah sayang. Kita kerumah sakit ya sayang. Jessy mau apa sayang papah ikuti sayang." Gilang berucap seperti itu dengan mata yang sudah basah karena tak tega melihat Jessy yang terus memanggil nama mamahnya.
Jessy pun membuka matanya, dan melihat papahnya. Jessy pun membuka matanya dan tersenyum ke arah papahnya." Papah Jessy sayang papah".
"Papah lebih sayang sama kamu nak. Melebihi diri papah sendiri. Kita kerumah sakit ya." Gilang pun mengambil selimut dan menggendong sang anak.
"Gilang bunda ikut ya, bunda temani Jessy ya?" Bunda Yuni berkata dengan menangis.
" Bunda di rumah saja dulu ya. Istirahat takut ayah nanti nyariin bunda. Besok pagi bunda boleh ke rumah sakit. Biar sekarang Gilang saja yang jaga Jessy." Sang bunda pun mengangguk.
Gilang pun berjalan menuju mobilnya. Dan meletakkan Jessy di kursi depan. Lalu Gilang pun duduk di kursi pengemudi. Dan Gilang mengendarai mobilnya dengan cepat menuju rumah sakit. Namun juga sedikit tenang. Karena sudah malam bahkan menjelang pagi. Jadi jalan terlihat sepi dan Gilang juga membawa kendaraan dengan cepat. Tidak membutuhkan waktu lama mobil yang Gilang bawa sudah sampai di rumah sakit.
Gilang turun dari mobil, lalu berlari membuka pintu dan menggendong Jessy.
Gilang berteriak memanggil perawat, dengan dan seluruh perawat membawa brankar dorong ke arah Gilang dan Jessy pun di letakan di atas brankar.
Jessy di bawa keruang IGD. Dan seorang perawat menahan Gilang " maaf pak segera urus pendaftaran nya pak". Dan Gilang pun mengangguk. Setelah Gilang urus pendaftaran untuk Jessy. Gilang menunggu di depan ruangan IGD.
Dan dokter yang menangani Jessy pun keluar dari ruang. Gilang pun langsung menghampiri sang dokter." Bagaimana dok keadaan anak saya?.
Dokter itu pun tersenyum. "Anak bapak demam nya cukup tinggi dan kekurangan cairan juga. Tubuh anak bapak juga sangat lemah. Dan itu sudah di lewati masa kritisnya. Kami juga sudah memberikan infusan untuk anak anda. Dan seperti nya anak bapak sedang merindukan seseorang dari tadi putri bapak memanggil mamahnya. Apa mamahnya ikut pak?"
Gilang tersenyum getir. Lalu Gilang menggeleng kan kepalanya." Tidak mamahnya sudah lama tidak ada sejak dia masih usia satu tahun.
__ADS_1
Dokter jadi merasa tak enak hati saat mendengar itu."Maafkan saya pak saya tidak tau Kalau.
Gilang memotong pembicaraan sang dokter" tidak apa-apa dok. Jadi bagaimana anak saya sekarang. Apa sudah aman sudah tidak mengigau lagi.
"Putri anda sudah tidak apa-apa sekarang. Anda boleh menemani putri anada. " Kata dokter laki laki yang menangani Jessy. Kalau begitu saya permisi pak. Anda juga harus beristirahat selamat malam." Dokter pun pergi meninggalkan Gilang.
Gilang masuk keruangan di mana Jessy sedang tertidur. Dan di tangannya terdapat jarum terpasang alat infusan.
"Nak kamu benar benar buat papah takut nak. Papah jadi merasa bersalah karena papah sudah membentak kamu. Maaf kan papah ya nak." Gilang pun mencium tangan putri kecilnya itu.
Semakin lama mata Gilang semakin Berat, tak dapat menahan kantuknya Gilang pun tertidur di kursi di samping Jessy. Gilang tertidur dengan tangan nya menyentuh tangan Jessy .
Hingga terdengar suara adzan subuh berkumandang. Gilang pun terbangun dari tidurnya. Gilang melihat gadis kecilnya masih tertidur dengan pulas.
Gilang pun bangkit dari duduknya dan berjalan menuju tandas. Lalu Gilang berjalan meninggalkan kamar Jessy. Dan berjalan menuju mushollah yang terletak di rumah sakit tersebut. Gilang pun menjalankan shalat subuh di mushollah.
Setelah Gilang membeli minuman dan makanan,Gilang kembali keruangan Jessy. Di sana ada dua perawat yang sedang menenangkan Jessy yang sedang menangis. Memanggil papahnya, Gilang pun berjalan menghampiri Jessy. Dan meletakkan bingkisannya di atas meja." Sudah sus, saya papahnya trimakasih ya sus. "Sayang ini papah nak, kenapa sayang. Maaf ya tadi papah membeli minuman sebentar". Gilang pun memeluk dan mencium kening Jessy. Membuat Jessy sedikit tenang.
Gilang pun melihat perawat yang sedang berdiri memperhatikan Jessy yang sedikit tenang." Trimakasih ya suster, sudah menjaga anak saya. Tadi saya membeli minuman sebentar. Maaf kalau sudah merepotkan kalian. Sekali lagi terimakasih.
"Iya pak sama sama kami tadi hanya melihat anak bapak menangis dan hampir mencopot selang infus nya. Kami hanya takut akan melukai anak bapak nantinya. Kalau begitu kami permisi ya pak". Gilang pun mengangguk dan perawat itu pun pergi meninggalkan kamar Jessy.
Gilang melihat Jessy yang sedikit tenang Gilang pun bertanya" Jessy kenapa menangis ingin mencopot infusan segala. Nanti kalau tangan Jessy terluka bagaimana Sayang.
"Tangan Jessy sakit pah, Jessy ingin pulang saja. Jessy tidak mau di sini, Jessy ingin pulang pah." Pinta Jessy yang menangis lagi .
Gilang yang melihat Jessy kembali menangis merasa tak tega." Nanti di lepas ya sayang kalau Jessy sudah sehat. Mangkanya Jessy cepat sehat ya nak. Jessy mau apa sayang mau makan apa sayang?"
__ADS_1
Jessy hanya menggeleng kan kepalanya. "Jessy tidak mau apa apa. Jessy ingin ketemu Ka Gita, Jessy ingin makan di suapi oleh Ka Gita pah. Boleh tidak kalau ka Gita di suruh kesini temani Jessy pah?"
Gilang jadi bingung dengan permintaan sang anak. Dia ingin bertemu Gita. Dan Gilang baru teringat jika kemarin sore dia meminta bantuan Gita jika suatu saat dirinya butuh bantuan nya dan Gita mau membantunya. " Pasti Gita bisa kesini apalagi ini Jessy yang minat". Gilang berucap dalam hati.
" Nanti papah telpon om Lukman ya. Kalau ka Gita sampai tempat kerja, minta anterin Ka Gita kesini." Kata Gilang dan Jessy pun tersenyum dan mengangguk.
Gilang pun mengambil alat gawai nya dan menghubungi Lukman. Lukman pun yang sedang bersiap siap untuk berangkat kerja melihat siapa yang telpon. Saat di lihat yang telpon bosnya Lukman segera mengangkat panggilan telpon nya.
📞" Iya mas ada apa tumben pagi pagi telpon aku.
📞"Man kamu sudah berangkat belum?"
📞"Belum ini lagi siap siap ada apa mas?"
📞" Ini mas hari ini tidak ke pabrik. Kamu kontrol ya. Karena Jessy masuk rumah sakit semalam. Jadi mas harus temani Jessy.
📞" Ya Allah sakit apa mas Jessy . Terus sekarang bagaimana keadaannya. Yasudah mas Gilang tidak usah ke pabrik biar aku saja.
📞"Iya trimakasih dan satu lagi Man, saya minta tolong kalau kamu sudah sampai pabrik. Kamu panggil Gita dan kamu hubungi saya. Saya ingin minta tolong Gita kesini karena Jessy memanggil Gita . Dan meminta Gita untuk menemani Jessy. Soalnya dia tidak mau makan kalau tidak ada Gita.
📞" Ow begitu iya mas nanti Kalau aku sudah sampai. Nanti aku langsung cari Gita deh.
📞"Yasudah kalau begitu trimakasih ya. Nanti hubungi saya lagi ya Man. Kamu hati hati di jalan. Kalau begitu mas tutup telpon nya. Assalamualaikum.
📞" Waalaikumsallam"
Panggilan pun terputus .
__ADS_1