
Sambil mengepalkan ke dua tangan nya, Gita menahan marahnya.
" Tapi maaf, yang kamu ucapkan salah. kakak kamu yang meminta aku untuk menjadi istrinya,dan ibu untuk Jessy. Jadi kamu salah menilai aku Hilda Arandita. Dan masalah David itu hanya masalalu, aku sudah tidak perduli. Dan satu lagi, kamu suka atau tidak sama aku, aku tidak peduli karena aku ini tetap kakak ipar kamu. Jadi aku harap kamu mengerti ya adik ipar". Kata Gita membuat Hilda menunjukkan wajah kesalnya ke Gita, sedangkan Gita hanya tersenyum melihat Hilda yang kesal.
Lalu Gita pun meninggalkan Hilda seorang diri.
'awas kamu Anggita". Sambil melihat kepergian Gita dengan tatapan sinis.
Gita berjalan, bukan menuju ruang keluarga dimana mereka sedang berbincang. Tapi Gita malah ke kamarnya, lalu Gita masuk ke dalam tandas. Di sana Gita bisa menangis, tanpa suaminya tau.
" Kenapa harus Hilda yang menjadi adik dari mas Gilang, kenapa Hilda orang yang pernah membully ku di waktu sekolah. Apa yang harus aku ceritakan ke mas Gilang, jika aku tidak nyaman dengan adik ipar ku sendiri. Apa yang harus aku lakukan, aku tidak ingin suamiku nanti marah dengan adiknya. Dan aku tidak mau di bilang duri di dalam keluarga ini". Gita menarik nafasnya lalu membuangnya.
" Aku harus bisa tahan dengan kelakuan Hilda nanti, aku harus tenang. Pasti Hilda akan terus mengusikku seperti di sekolah dulu, Aku tidak boleh kepancing, aku harus tenang."
Kini Gita sudah mulai tenang, dan segera mencuci mukanya agar tidak terlihat kalau dirinya habis menangis. Saat Gita keluar dari dalam tandas, Gita melihat suaminya sudah di kamarnya.
"Mas, kamu baru masuk. Jessy sudah tidur belum.?" Tanya Gita dengan tersenyum, agar tak ketahuan kalau Gita habis menangis.
"Jessy sudah tidur, sayang ayo sini ". Gilang menepuk bantal di sampingnya,dan menyuruh Gita untuk mendekati dirinya.
Gita pun menghampiri suaminya, dan duduk di sampingnya. Gilang pun tersenyum dengan sikap Gita yang menurut setiap ucapannya.
Kini Gita berada di dekat Gilang,dan tangannya sudah melingkar di perut Gita. Ya Gilang memeluk Gita dari belakang, dan bibi* Gilang tidak bisa diam. Terus berpetualang di bagian yang Gilang sukai .
" Trimakasih sudah menerima ku, dan hadir di tengah-tengah aku dan Jessy. Sudah membuat hidup kita berwarna, dan bahagia." Gilang menggenggam tangan Gita, lalu mengecupnya.
__ADS_1
Gita tersenyum, mendengar kata kata dari suaminya." Apa kamu bahagia mas menikah dengan aku.?"
Gilang merasa heran mendengar istrinya bicara seperti itu.
"Kenapa kamu bicara seperti itu Git, apa kamu melihat aku selama ini seperti tidak bahagia menikah dengan kamu." Gita diam dan menunduk, lalu Gilang mengangkat dagu Gita." Lihat aku Git, dengar kan aku. Aku menikahi kamu,aku sangat bahagia. Apalagi Jessy yang menginginkan kamu untuk menjadi mamahnya, dan kamu juga berhasil membuat aku jatuh cinta sama kamu. Dan aku merasa pria paling beruntung telah mendapatkan kamu. Jadi jangan pernah bilang kalau aku tidak bahagia ya sama kamu, karena kamu itu istimewa untuk ku dan Jessy."
Gita yang mendengarnya merasa terharu, lalu Gita pun mengangguk. Lalu Gilang membawa Gita ke dalam pelukannya.
Keesokan paginya, Gilang, Jessy,dan Gita, bersiap untuk berangkat ke Bandung. Kini mereka pamitan dengan pak Hendra,bu Yuni.
"Kalian hati hati di jalan ya, inget Jessy jangan nakal ya. Nurut dengan mamah dan papah ya, jaga kesehatan di sana. Kalian di sana cukup lama, pasti Oma kangen sama cucu Oma yang cantik ini". Kata Bu Yuni yang enggan ingin di tinggal oleh Cucunya.
"Oma dan Opa ikut aja yuk sama kita." Ajak Jessy membuat Oma dan opa nya tersenyum mendengarnya.
"Tidak sayang,kalian saja liburan. Kasian onty Hilda datang masa di tinggal, nanti kita liburan lagi ya, sekalian ajak nenek dan kakek kamu di sana.?" Usul Oma Yuni, membuat Jessy kegirangan.
Gilang Gita dan Jessy pun mencium tangan kedua orang tuanya, lalu mereka pun masuk kedalam mobil. Suara deru mesin mobil Gilang pun sudah menyala, dan Gilang pun mengendarai mobil nya..
Selama di perjalanan, Gilang tak henti-hentinya tersenyum melihat Jessy yang selalu bercerita. Anak dan istrinya pun bernyanyi apa yang Jessy tau, dan Gilang pun ikut bernyanyi. Gita melihat Gilang yang pernah menjadi bos nya, dan sekarang sudah menjadi suaminya. Sikap nya berubah drastis, dari seperti beruang kutub, menjadi sosok yang hangat yang bikin hati Gita meleleh.
Kurang lebih enam jam perjalanan dari Jakarta ke Bandung, Kini mereka sudah sampai di Bandung. Dan mereka pun langsung mengunjungi makam Monica, mamah kandung Jessy, mendiang istrinya Gilang.
Tak lupa Gilang membawa bunga mawar, untuk ditabur kan di makam. Serta membawa buket bunga mawar merah.
Kini Gilang, Jessy, dan Gita, sudah berdiri, di makam dengan bertulisan nama monica. Ada rasa sedih yang Gilang rasakan, saat berada di hadapannya makam mendiang istrinya.
__ADS_1
Gita tau itu, kalau suami pasti merasakan kesedihan yang teramat dalam. Gita mencoba untuk tenang dan mengusap pundak suaminya agar tenang. Gilang menatap wajah Gita yang kini sudah menjadi istrinya, dan Gilang pun mengangguk.
Gilang berlutut di makam Monica,dengan di samping Gilang ada Jessy. Dan Gita yang duduk berlutut di depannya Gilang menatap wajah sedih suaminya.
"Monica,aku datang dengan Jessy anak kita. Dan aku juga membawa Gita yang kini sudah menjadi istri ku dan mamah yang baik untuk Jessy. Seperti apa yang kamu ucapkan di mimpi ku itu. Ku harap kamu tenang di sana, jangan khawatir lagi dengan Jessy. Karena Jessy sudah mendapatkan mamah yang baik, seperti kamu".
Gita dapat melihat suaminya yang begitu menyedihkan. Bahkan di depan makam mendiang istrinya pun Gilang masih terlihat kehilangan.
" Mba Monica, aku Gita mamah sambung Jessy, dan juga istri mas Gilang. Mba beruntung mendapatkan pria sebaik mas Gilang. Dan mba di sana yang tenang ya, semoga aku bisa menjadi istri sekaligus ibu yang baik untuk Jessy dan mas Gilang. Kami selalu mendoakan mba agar mba di sana tenang." Gita berbicara dalam hati, sambil memegang batu nisan yang bertulisan nama Monica.
"Mamah, walaupun Jessy tak pernah melihat wajah mamah seperti apa. Tapi aku yakin mamah cantik, seperti Jessy. Jessy selalu berdoa semoga mamah tenang di sana. Mah, Jessy janji akan jadi anak yang baik. Oow iya mah, Jessy sekarang sudah mempunyai mamah, namanya mamah Gita. Dia mamah yang baik, aku senang mempunyai mamah Gita. Tapi aku tetap sayang mamah ko, selamanya aku sayang sama mamah." Kata kata Jessy membuat Gilang dan Gita tersenyum ke arah Jessy.
Dan mereka bertiga pun akhirnya membacakan doa untuk Monica. Setelah membaca kan doa, Meraka pun pergi dari tempat pemakaman. Dan menuju ke rumah yang Gilang miliki di Bandung.
Kurang lebih 15 menit perjalanan dari pemakaman ke rumah Gilang yang di Bandung. Sampai kini mereka sudah sampai di sebuah rumah yang sangat sederhana, dengan halaman rumah yang luas. Mereka pun keluar dari dalam mobil, dan Gita tersenyum melihat pemandangan rumah yang masih asri.
Udara dingin dan sejuk yang Gita rasakan dengan pemandangan yang indah membuat Gita merasakan nyaman.
Gilang membawa anak dan istrinya untuk masuk kedalam rumah, karena Gilang yakin anak istrinya juga pasti lelah karena perjalanan yang jauh.
bersambung.....
Assalamualaikum teman teman yang sudah membaca cerita ku ini. Ow Iya di musim pancaroba ini,, Kalian tetap jaga kesehatan ya.. Karena Habis panas tau tau hujan. seperti Othor ni, yang lagi kurang sehat. Tapi ku usahakan tetap update walaupun telat, dan hanya satu bab saja. Maklum author amatiran hihihi ....
...Ooh iya agar author semangat, jangan lupa ya untuk tinggalkan jejak kalian 👍. Komentar yang positif agar author semakin maknyuus buat cerita nya. Apalagi kalau kalian berkenan kasih hadiah atau vote author akan lebih semangat lagi nih. hihihi....😄 ...
__ADS_1
...Terimakasih untuk kalian, untuk kalian sehat sehat ya buat kalian semua. 🤗🤗🤗🙏🙏...