Cinta Anggita

Cinta Anggita
Teman masa kecil Gita


__ADS_3

"Ya sudah aku ngambek aja, sana ah aku sebel sama kamu. Aku lagi gak mau Deket kamu mas.." Dengan bibirnya yang cemberut.


"Ya jangan dong sayang, masa gak mau Deket sama aku. Nanti Dede nya kangen sama aku gimana coba.?"Gilang tersenyum melihat Gita yang enggan melihat wajahnya.


"Ya sudah aku minta maaf sudah bikin kamu kesal. Aku kasih no ke Laras itu bukan no aku, tapi nomor handphone nya si Roni. Scurity yang di pabrik, kamu kenal kan.?" Gita menatap Gilang dengan tatapan penuh selidik." Kenapa gak percaya sama mas.?"


"Beneran mas itu nomor Robi bukan nomor kamu.?" Gilang pun mengangguk.


"Sini sayang..." Kata Gilang yang menyuruh Gita untuk mendekat dengannya.


Gita pun bergeser mendekat di samping suaminya. Gilang pun memiringkan tubuhnya untuk menatap wajah istrinya, dengan tangan menjadi penunjang kepalanya.


Gilang mengusap wajah Gita d sangat lembut dengan ibu jarinya. Lalu mengecup bibir istrinya.


Cup... Cup...


"Aku gak akan biarkan orang asing masuk di tengah-tengah keluarga kita. Tidak mudah Git mencari pasangan yang bisa menerima keadaan kita. Apalagi aku yang sulit untuk membuka hatiku untuk orang lain Begitu pun Jessy yang susah banget akrab dengan orang lain. Tidak mudah ,semudah membalikkan telapak tangan. Di saat Jessy yang sudah memilih kamu, untuk nya. Dan aku berusaha menutup hatiku untuk orang lain dan membuka hatiku untuk kamu. Dan ternyata pilihan anak ku tidak salah, Jessy memilih gadis baik seperti kamu. Gadis yang baik, cantik rupa dan cantik hatinya. Untuk apa aku mencari gadis lain, sedangkan bagi ku semuanya itu ada di kamu." Mendengar kata kata manis dari suaminya Gita tersenyum malu dan mengumpat wajahnya di dada bidang suami nya.


Gilang terkekeh melihat sikap malu malu istrinya." Kenapa sayang ko pipi kamu merah seperti tomat. Kenapa malu, itu bukan gombal, itu jujur dari hati aku. Aku sayang sama kamu Anggita". Lalu mengecup kening Gita.


"Aku juga sayang sama kamu mas".


"Aku tau itu dari cara cemburu kamu tadi." Gilang meledek Gita.


"Aaahh.... " Rengek Gita dengan manjanya, dan gilang hanya terkekeh.


Kini sudah tidak ada salah paham lagi di antara Gita dan Gilang.


Keesokan paginya keluarga Gita sudah bersiap siap untuk ke Bandung. Bukan hanya kedua orang tua Gita, bahkan Dimas Fitri dan Chika pun juga ikut. Dan ditambah Gilang dengan anak istrinya.


Mereka menggunakan dua mobil, memang sengaja. Dimas pun juga membawa mobilnya.


Lima jam perjalanan dari Jakarta ke Bandung yang harus Gilang tempuh menggunakan mobil. Kini semua rombongan keluarga sudah sampai di kampung Bu Siti. Di mana sudah bertahun-tahun Bu Siti tidak menengoknya.


Di sana ada kakak nya Bu Siti, yang bernama uwa Eni. Dimana beliau lah yang dulu pernah mengizinkan Gita menginap saat Gita masih kecil.


Dan di saat Gita dulu pernah di tuduh mencuri pun, uwa Eni lah yang menolongnya.


Kini uwa Eni pun memeluk Gita. Beliau menangis karena merasa bahagia bisa bertemu dengan keponakannya.


"Aduh Anggit bagaimana kabarnya sekarang, tambah cantik kamu ya. Uwa sampai tak mengenal kamu.?"

__ADS_1


"Alhamdulillah baik wa Eni, kabar uwa bagaimana sehat kan. Gita senang bisa di pertemukan kembali sama uwa."


" Uwa juga sama atuh Anggit. Loh loh ini siapa geulis pisan.?" Sambil menoel hidung Jessy." Ini juga Ganteng pisan Siapa Nya namina Jang.?.


"Nami abdi Abi Nini.


"Wah, tiasa basa Sunda, Jang." Abi tersenyum dan mengangguk kan kepalanya.


Lalu uwa Eni melihat ke arah Gilang yang sedang menggenggam tangan Gita.


"Pasti ini suaminya Anggit ya, pinter kamu Anggit cari Suami." Semua pun tertawa mendengar uwa Eni bicara.


Akhirnya uwa Eni pun menyuruh Semua untuk masuk.


" Asup, tong ka luar, pasti capΓ© kan? Hayu urang sadayana istirahat di jero. Hayu, tong isin. "


"Iya uwa."


Kini semuanya pun masuk ke dalam rumah uwa Eni untuk istirahat.


Setelah istirahat sore hari nya semua keluarga dan sanak saudara dari Bu Siti semua berkumpul. Karena kedatangan tamu dari Jakarta, dan kebetulan Bu Siti ini jarang datang ke Bandung jadi semuanya pun berkumpul di sana.


" Gita ya.? Anaknya uwa Siti kan.?" Gita pun mengangguk." Pasti lupa ya sama aku, aku Elis. Waktu kecil kita suka main bersama, naik ke atas pohon mangga.. Ingat gak.?"


Gita pun tersenyum saat mengingat kenangan itu." Astaghfirullah,,, iya aku inget. Waktu itu kamu sama siapa ya aku lupa, yang nolongin aku saat aku jatuh dari pohon.?"


"Alhamdulillah kalau masih ingat, itu Asep Git". Mereka pun saling berpelukan. "Kamu lagi hamil.?"


"Iya Elis, aku hamil jalan lima bulan". Sambil mengusap perutnya.


"Mana keluarga keluarga kamu.?"


Gita menujuk Jessy dan Abi yang sedang di ajak bermain oleh Gilang." Itu suami dan anak anak ku Lis".


"Ow kamu jadi Mahmud ya, hihihi...." Sambil terkekeh." Suami kamu ganteng pisan, kenal kenalkan atuh ke aku kalau ada Setok seperti itu lagi". Sambil menepuk pundak Gita.


"Gak berubah ya, masih aja genit". Mereka pun saling tertawa. Dan saling berbincang.


"Asep... Kadieu, aya Gita di dieu." Teriak Elis memanggil seorang pria yang sedang lewat di depan pagar.


"Aya naon Elis, sarΓ©rΓ©a ngagorowok. Geus beunghar di leuweung ngan make ngagorowok." Kata seorang pria yang berdiri di depan Gita, Gita hanya tersenyum.

__ADS_1


"Asep kenal ka awewe ieu?"


"Saha Γ©ta, kuring henteu terang. Sigana mah ti Jakarta yeuh?.


"Ieu Gita rerencangan urang, **** keneh waktos urang naek kana tangkal manggu, aya budak awewe nu murag, anjeun ngagandong sareng anjeun ngubaran sukuna."


"Aku Gita anak gadis yang kamu tolongin itu Asep". Timpal Gita, dan si Asep pun tersenyum.


"Masya Allah, kamu Gita. Teman kita yang waktu itu jatuh dari pohon mangga, terus aku obati kaki kamu itu". Gita pun mengangguk." Bagaimana kabarnya, sudah lama gak bertemu. Terakhir kita komunikasi lewat telepon seluler saja kan, itu juga lewat ibu kamu dan Ambu ku.?"


Di situ Gita merasa salah tingkah,saat Asep berkata di akhir kalimat nya. Karena di saat itu, orang tua Asep ingin menjodohkan Asep dengan Gita. Namun seiring bertambahnya usia Gita menolak untuk di jodohkan.


Begitu pun juga Asep yang tersenyum kecut mengingat hal itu kembali.


Di saat itulah Gilang melihat gerak gerik Gita, dan pria di hadapannya itu penuh selidik.


"Loh, ko kalian jadi diam diam seperti itu."Gita dan Asep pun saling tersenyum, nampak canggung di antara mereka. Karena Asep mengingat kan hal tentang perjodohan di antara kedua orangtuanya.


"Sayang, eeh ada teman kamu ya. Ko di luar saja ajak masuk yuk kita ngobrol.?" Kata Gilang yang sengaja menyentuh pinggang Gita dengan mesranya.


Gita tersenyum." Iya mas ini teman-teman masa kecil aku, kan aku pernah sempat tinggal di sini. Dan aku juga bermain sama mereka. Ow iya Elis, Asep ini suami aku. Namanya mas Gilang,dan itu yang lagi main anak aku". Gilang pun saling bersalaman dan berkenalan dengan Asep dan juga Elis.


Elis tersenyum, Asep pun juga sama tersenyum. Namun ada senyuman yang membuat Gilang penasaran dengan senyuman Asep.


Mas Gilang dikit-dikit penasaran, udah kaya lagu dangdut aja.


" Ow trimakasih, tapi maaf bukan maksud saya menolak. Saya sudah punya janji sebelumnya, jadi saya tidak bisa ikut mampir dan berkumpul dengan kalian semuanya. Kalau begitu saya harus permisi, karena tidak enak pasti orang nya sudah menunggu dari tadi. Sebelum nya mohon maaf ya semua nya."


"Wah sayang sekali, ya sudah kalau begitu."


"Iya maaf ya kalau begit saya permisi, Assalamualaikum.." pamit Asep.


"Waalaikumsallam..."


Dan setelah itu Elis pun ikut berkumpul dengan seluruh keluarga Gita. Dan mereka pun saling berbincang.


Bersambung....


...***Mohon maaf ya, kalau ada kata kata yang salah dalam Bahasa.πŸ™πŸ™πŸ™πŸ™...


...Agar author nya semangat, jangan lupa tinggalkan jejak kalian πŸ‘, dan komentarnya yang positif. Tak pernah bosen author ucapkan banyak banyak terimakasih.πŸ™πŸ™πŸ˜‰πŸ˜‰***...

__ADS_1


__ADS_2