Cinta Anggita

Cinta Anggita
Niat baik Tyo


__ADS_3

Pernikahan yang tak di dasari cinta, hanya karena rasa kasian. Tapi perlahan rasa cinta itu tumbuh pada dirinya dan juga Andi. Sampai mereka berdua kini mempunyai buah cinta mereka.


Tiga bulan kemudian Gita mendapatkan sebuah undangan pernikahan. Yang bertuliskan nama Riko dan Gina.


Gilang yang melihat istrinya menyapa selembar kertas undangan, lantas mendekat dan duduk di sampingnya. Gilang melirik undangan itu, terlihat bacaan Riko dan Gina. Gita belum sadar kalau si pria posesif itu sedang duduk di sampingnya.


"Ekhem.... Sedang menatap undangan mantan nih sepertinya." Gita langsung sadar jika suaminya sedang menyindir dirinya.


"Kenapa si mas.?"


" Itu di liatin aja undangan mantan terindah nya.?" Sambil mencebik kan bibirnya.


"Dasar sama selembar undangan saja masih cemburu." Ledek Gita.


"Hei... Bukan sama undangan, tapi sama nama si pengantin pria nya itu.?"


"Mas aku senang melihatnya, ternyata Riko sudah ingin menikah. Harusnya kamu senang dong, ko malah cemburu.?"


"Ya aku senang, ternyata pria yang mengharapkan kamu kini sudah menikah. Tapi tetap aku yang berhasil mendapatkan kamu sayang." Sambil mengecup pipinya Gita.


Sambil melirik suaminya Gita hanya menggelengkan kepalanya.


"Dasar pria cemburuan, percaya diri sekali si bapak satu ini.?"


"Loh harus dong sayang, percaya diri itu penting loh."


"Iya iya deh. Ow iya mas, waktu aku jalan jalan sama anak-anak. Aku sempat melihat Hilda jalan bareng sama teman kamu, mas Tyo. Memang mereka mempunyai hubungan ya.? Soalnya aku jarang bertemu Hilda, biasanya dia curhat sama aku.?"


"Iya sayang mereka memang menjalin hubungan. Ya sebulan ini palingan juga, itu juga aku tau dari Tyo."


" Sebelum nya memang dia bilang, lagi dekat sama cowok, yang lebih dewasa. Ow jadi yang di maksud Hilda itu mas Tyo.?" Gilang mengangguk kan kepalanya.


"Tau tuh anak itu, kelakuannya sama seperti kamu bertiga. Kamu Reni dan Hilda sama nya tuh."


"Ko aku di bawa bawa mas.?"

__ADS_1


"Iyalah kalian bertiga itu menyukai pria dewasa, iya kan.?" Menggoda Gita.


"Aku, jujur ya mas. Sebenarnya aku tidak menyukai pria dewasa, itu kan karena kamu memaksa aku untuk tidak menolak perasaan kamu itu. Mana ada cowok nembak cewek, hanya ada satu jawaban. Dan tidak ada penolakan. Sama aja itu menerima dengan terpaksa, memang sebenarnya saat itu terpaksa sih mas.?" Gita menggoda balik suaminya.


Gilang langsung menatap istrinya tanpa ekspresi saat mendengar terpaksa dari istrinya. Bibir Gita berkedut, Gita berusaha keras menahan tawanya. Melihat Ekspresi suami saat ini.


Karena Gita sedang duduk di tempat tidur. Gilang dengan senyum menyeringai mendorong tubuh Gita ke tempat tidur.


"Aaa..." Gita terkejut dengan cepat suaminya langsung merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur.


Dengan posisi Gilang kini berada di atas tubuh Gita, dan dengan senyuman menyeringai.


"Apa maksudmu tidak menyukai pria dewasa. Apa yang kamu maksud dengan terpaksa menerima aku, apa benar kamu memang terpaksa sama aku. Hemm..?"


"Kan memang benar, saat itu kamu ngungkapin perasaan kamu ke aku. Secara tidak langsung kamu memaksa aku mas, kan kamu cuma kasih satu pilihan aja. Kata kamu tidak ada penolakan.?" Jawab Gita dengan terbata bata. Gilang sebenarnya ingat memang ingat kejadian waktu itu, Gilang hanya ingin menggoda istrinya.


" Memang iya aku sengaja memaksa kamu. Kalau tidak Seperti itu mana mungkin kamu sekarang jadi milikku."


"Ya te.. terus ka kamu ngapain seperti ini.?" Tanya Gita dengan rasa was-was.


"Hadiah apa yang di berikan dengan posisi seperti ini mas.? Kalau nanti Gandi bangun bagaimana mas.?"


"Hadiah yang membuat kamu dan aku menikmatinya sayang". Sambil membuka bajunya, lalu di lempar nya kemana saja.


"Masalah Gandi kamu tenang saja ya, aku yakin malam ini jagoan ku akan tidur nyenyak. Sampai kita selesai dengan hadiah yang aku berikan ke kamu.". Sambil mengerling kan sebelah mata nya.


Gita sampai menelan ludahnya sendiri, melihat dada bidang suaminya. Padahal sudah sering Gita lihat, namun Gita masih nampak malu.


"Mas..."


"Sudah kalau kamu sudah ngantuk, biar aku yang memberikan hadiahnya untuk kamu. Kamu diam saja..."


Dan di situ Gilang melanjutkan memberikan hadiah dan olah raga. Gita hanya pasrah dengan ulah Suami itu. Bagi Gita suaminya itu selalu banyak cara, jika masalah dengan ranjang.


Tiga bulan kemudian, di mana hari itu adalah hari pernikahan Riko dan Gina. Gita dan Gilang pun turut hadir, di acara pernikahan mereka.

__ADS_1


Kini Gita, Gilang,Reni dan Lukman menggunakan seragam warna senada, dengan para keluarga. Mereka menggunakan warna coklat susu.


Tak lupa seperti Andi, Anisa. Lukman dan Reni Mereka semua membawa baby kecil mereka. Dan tak lupa Tyo pun turut hadir, di Acara pernikahan Riko dan Gina. Karena Hilda sudah terang terangan memperkenalkan hubungan dengan Tyo.


Dan Tyo pun merasa bahagia karena bisa dekat dengan keluarga Gilang yang tak lain calon kakak iparnya.


"Sepertinya habis Riko, akan ada satu orang lagi nih yang menyusul mereka ke pelaminan.?" Kata Lukman menggoda Tyo.


"Do'a kan saja bro, agar niat baik kita di lancarkan." Jawab Tyo yang menggenggam tangan Hilda.


Dan mereka pun mengamin kan ucapannya Tyo. Sedangkan Hilda nampak malu malu dengan perlakuan Tyo yang begitu manis.


"Berarti siap siap kamu mas, mempunyai adik ipar seperti Tyo." Kata Lukman menggoda Gilang.


"Saya tidak masalah Man, dari pada nih orang menjadi perjaka tua nantinya. Untung saja Hilda mau sama dia, coba kalau tidak, pasti dia akan ileran melihat kebersamaan kita dengan istri kita". Timpal Gilang membuat Tyo terkekeh dengan ledekkan Gilang.


"Kakak, tega banget si bilang seperti itu sama mas Tyo". Protes Hilda membuat semuanya tertawa.


"Gak dek, mas hanya bercanda. Jika memang Tyo lah pilihan kamu, mas ikut senang". Ucap Gilang yang mengusap rambut adiknya.


Dan tentunya pak Hendra dan bunda Yuni tak keberatan dengan hubungan mereka berdua. Karena pak Hendra tau kalau Tyo itu pria yang baik dan tanggung jawab.


Dan Tyo pun juga sudah meminta izin dengan keluarga Hilda. Untuk menjalin hubungan dengan Hilda ke jenjang yang lebih serius lagi. Tyo ingin mempersunting Hilda untuk menjadi istrinya.


Selain karena Tyo sudah berumur, Tyo juga tidak ingin berpacaran terlalu lama. Dan juga tuntutan orang tuanya yang menginginkan Tyo untuk segera menikah, dan memiliki momongan. Padahal Bu indah, Mamahnya Tyo sudah mempunyai empat cucu. Namun kenapa masih kurang saja, sampai menginginkan Tyo segera menikah.


Selain itu juga, Tyo juga ingin memiliki keluarga sendiri. Karena setiap kali melihat, saudara dan teman teman nya bersama dengan pasangan.. Jiwa jomblo nya meronta-ronta, ingin seperti mereka yang sudah mempunyai pasangan.


***Bersambung....


Hai teman-teman...... Seperti cerita cinta Anggita ini akan aku tamatkan dalam waktu dekat ini.


Dan terima kasih ya, buat kalian masih ada yang mau baca cerita ku yang receh ini.


Semoga saja aku bisa membuat cerita lain yang menarik untuk kalian***.

__ADS_1


__ADS_2