
Hilda yang sedang duduk dengan wajah menunduk karena memegangi kakinya yang sakit.
"Nak". Panggil ibu indah, membuat Hilda mendongakkan kepalanya.
Hilda terkejut karena sepertinya dirinya mengenal dokter itu. Dan dokter pria itupun juga sangat terkejut karena dirinya juga mengenal dengan gadis tersebut. Jadi mereka sama sama saling mengenal.
"Kamu...." Ucap Hilda dan dokter itu.
"Loh, kalian sudah saling kenal jadi nya.?" Kata Bu Hilda.
"Tidak saling kenal mah, hanya dia ini adiknya Gilang. Aduk sepupunya Lukman, Tyo kenal hanya begitu saja". Jelas Tyo, di angguki oleh Hilda tanda membenarkan ucapannya Tyo.
"Jadi mas Tyo anak dari ibu indah.?" Tanya Hilda berusaha menahan sakit nya.
" Iya nak, Tyo ini anak ibu. Tyo ayo cepat obati Hilda dia kaki dan tangannya terluka, karena tadi menyelamatkan mamah tadi.!"
"Ow iya maaf, ayo keruangan saya, biar saya obati lukanya.!" Hilda mengangguk, lalu meringis menahan sakit di kaki.
"Bantuin Tyo, kaki nya terkilir itu".
"Iya mah. Ayo sini saya bantu". Tyo membantu Hilda berjalan. Setelah sampai di dalam ruangan nya Tyo segera mengobati luka di kaki Hilda.
"Saya obati kaki kamu dulu ya sebentar, di tahan ya kemungkinan agak sedikit perih." Hilda mengangguk kan kepalanya.
Tyo mengobati kaki Hilda dengan kapas, yang sudah di beri antiseptik.
"Aaaww... Sakit".
"Iya tahan ya memang sedikit sakit, kalau tidak segera di bersihkan ini akan infeksi dan akan lama sembuhnya". Ucap Tyo yang melihat Hilda yang menggigit bibirnya sendiri karena menahan sakit.
Hilda pun mengangguk, dan Hilda pun terus memperhatikan saat Tyo mengobati lukanya.
" Ya ampun dokter ini manis juga kalau di lihat lama lama seperti ini. Hihihi....'"kata Hilda dalam hatinya.
"Kenapa gue baru kenal sama adiknya si beruang kutub itu. Memang ya adiknya Gilang ini teramat manis kalau di liat terus menerus". Ucap Tyo dalam hati.
Diam diam di dalam hati mereka saling memuji satu sama lain.
__ADS_1
"Sudah selesai, nanti saya kasih obat antibiotik ya. Kalau rasa nyerinya datang.?" Hilda pun mengangguk kan kepalanya.
"Iya trimakasih dokter." Tyo mengangguk kan dan tersenyum.
Lalu Tyo duduk kembali di kursinya, dan berhadapan dengan Mamahnya.
"Mah ko mamah bisa bertemu Hilda.?"
"Iya mamah tadinya mau jalan belanja, saat turun dari taksi. Lalu mamah berjalan tiba-tiba kepala mamah sakit, dan untung saja Hilda dan datang menyelamatkan mamah. Kalau tidak mungkin mamah sudah tertabrak oleh mobil yang ugal ugalan itu Yo." Cerita mamah Hilda menjelaskan kronologi nya.
"Iya Dok, tadi ibunya hampir tertabrak mobil. Kebetulan saya sedang menunggu taksi yang tak kunjung lewat, pas melihat ibu indah hampir terserempet mobil saya langsung menarik nya". Timpal Hilda dan di angguki oleh Bu indah.
"Yasudah terus kamu mau kemana Hilda.?"
"Aku mau ketempat ka Gilang."
"Yasudah saya antar kamu ya.?"
"Tidak usah Dok, trimakasih saya bisa sendiri. Kali saya sudah di obati ini".
"Tidak, saya antar kamu, sebagai rasa tanggung jawab karena kamu menolong mamah saya.?"
Hida pun tersenyum lalu mengangguk kan kepalanya, tanda menerima ajakan bu indah dan Tyo.
Kini mereka bertiga berada di rumah makan. Dan mereka pun baru memesan pesanan makanan yang mereka inginkan.
"Kamu suka kan makanan ini.?" Tanya Tyo.
"Suka ko, Gita suka masak ini. Dan aku sering makan masakannya Gita". Cerita Hilda membuat Tyo tersenyum dan mengangguk.
"Iya Tyo itu lebih suka makan makanan seperti ini. Ibu pun juga suka makan makanan masakan Betawi, apalagi dengan adanya lalapan ibu suka banget deh." Hilda tersenyum mendengarnya.
"Iya padahal aku juga sebenarnya kurang suka makanan ini, tapi saat kakak ipar ku memasak ini untukku aku jadi suka Bu".
"Ow ya berarti kakak ipar kamu pintar masak dong ya.?"
"Bukan pintar lagi Bu, sangat pintar." Jawab Hilda dan mereka berdua pun akhirnya saling bercerita.
__ADS_1
Tyo yang berada di hadapannya dua wanita itu hanya mendengar dan memperhatikan dua orang di hadapannya ini. Padahal mereka berdua baru bertemu dan kenal hari ini, tapi sudah terlihat begitu akrab sekali. Seperti sudah mengenal lama.
Dan Tyo hanya bisa tersenyum melihat dua pemandangan di hadapannya ini. Jarang sekali mamah bisa menerima orang lain, apalagi itu seorang wanita. Tapi kenapa dengan Hilda Mamah mudah akrab.
Kini makanan yang mereka pesan sudah datang, dan merek bertiga pun memakan makanan yang mereka pesan.
"Sudah ceritanya berhenti dulu ya mah, kita makan dulu sekarang." Kata Tyo.
Mamah indah dan Hilda pun mengangguk kan kepalanya. Lalu mereka bertiga menikmati makanan makan yang mereka sudah pesan tersebut.
Selesai makan, Tyo membayar makanan. Dan mereka pun kembali masuk kedalam mobilnya. Tyo menyalakan mesin mobil nya, dan melaju kendaraannya keluar dari rumah makan tersebut.
"Mah, aku antar mamah dulu ya. Setelah itu aku antar Hilda kerumahnya.?"
"Iya Tyo, kamu antar kan mamah dulu. Soalnya kan mamah habis minum obat, sepertinya mamah lelah ingin istirahat dulu."
" Iya mah, di rumah kan ada Via. Tadi Via kirim pesan ke aku nanyain mamah, kenapa tidak di rumah. Sekarang dia khawatir sama mamah, saat aku bilang mamah hampir terserempet mobil."
"Kamu kenapa bilang sih sama dia, mamah gak mau bikin khawatir Via.?"
"Ya karena Via selalu nanyain aku mah. Mangkanya akan tadi keluar karena ingin mencari mamah. Eeh mamah udah di tempat aku, jadi aku lega karena aku tidak harus mencari keliling."
"Memang mamah sudah sepuh banget apa Tyo, sampai seperti itu perlakuan oleh Kalian.?" Bu indah Dengan nada kesalnya.
"Mah bukan seperti itu, kami bukan menganggap mamah sepuh. Kami melakukan itu karena kami sayang mamah, kami tidak mau terjadi sesuatu sama mamah. Kalau terjadi sesuatu sama mamah, kami sebagai anak merasa bersalah karena kami tidak bisa menjaga mamah. Terutama aku mah, sebagai anak laki laki pertama, aku bertanggung jawab sama mamah. Bukan hanya sama mamah, sama Via dan Vio. Mereka juga tanggung jawab ku, walaupun mereka sudah mempunyai masing-masing keluarga. Aku tetap bertanggung jawab sama mamah dan saudara saudara ku." Ucap Tyo dengan tegas, membuat mamah indah diam.
Sedangkan Hilda di belakang hanya mendengar perdebatan antara anak dan orang tua. Sebenarnya Hilda merasa tak enak mendengar nya, jadi Hilda hanya mendengar kan saja.
"Iya mamah akan di rumah, mamah akan mengikuti apa yang kamu bilang. Mamah minta maaf, mamah janji tidak akan mengulang kembali."
"Maaf mah, Kalau aku bilang seperti itu. Kami begini sebenarnya sayang sama mamah. Apalagi Via yang begitu sayang sama mamah, yang apa apa sangat khawatir sama mamah. Hanya karena mamah yang kami punya saat ini, kami tidak mau terjadi sesuatu sama mamah".
Hilda jadi kagum dengan laki laki yang ada di hadapannya nya itu. Bagi Hilda Tyo itu seperti sosok kakak nya yang begitu sayang dan peduli dengan dirinya dan Bunda.
"Teman kakak ini seperti kakak, yang peduli dan sayang sama kami sekeluarga. Walaupun kak Gilang sudah menikah dan mempunyai keluarga, tapi rada sayang dan peduli nya tak pernah hilang. Tegasnya posesif nya seperti kak Gilang, yang beda hanya karakter ya saja. Kak Gilang pendiam, dokter Tyo itu humoris." Kata Hilda yang memuji Tyo di dalam hatinya.
Hilda pernah melihat Tyo saat main kemarin di rumahnya. Terlihat jelas kalau Tyo itu orangnya sangat humoris seperti Lukman. Dan saat dengan keluarganya sangat hangat dan ada sedikit ketegasan pada dirinya..
__ADS_1
Bersambung...