
Akhirnya Lukman menyusul mamah Henny yang pergi meninggalkan mereka semua. Dan mamah Henny menyendiri di kamar yang di mana kamar mamah Henny, Kalau setiap mamah Henny menginap di sana.
Lukman pun Pergi menyusul di mana mamah Henny berada. Lukman membuka kamar nya dan melihat Mamah nya sedang berdiri di luar balkon kamarnya.
"Mah maafkan Lukman ya mah. Lukman gak bermaksud untuk membuat mamah sedih". kata Lukman yang kini sudah berada di yang kini sudah berada di samping Mama Henny.
"Tidak apa-apa nak, kamu tidak membuat mamah sedih. Dan Mama tahu pasti kamu juga sangat khawatir sama mama. Maafkan mamah ya selama ini Mama sering membuat kamu khawatir. Sebenarnya dulu mamah menolak lamaran, karena Mamah ingin tetap selalu bersama kamu. Karena mamah sebagai seorang ibu yang hanya mempunyai anak satu-satunya. Mamah tidak memikirkan untuk mempunyai pasangan. Mamah dulu hanya ingin fokus sama kamu Man."
" Mah kalau mamah ingin menikah lagi, Lukman izinkan mah. Lukman senang mamah tidak sendirian lagi, dan ada yang melindungi mamah. Mamah itu sangat berarti bagi Lukman, mamah segalanya untuk Lukman mah." Sambil menatap wajah mamah Henny yang terlihat wajah yang tak lagi muda, namun masih terlihat cantik.
"Iya trimakasih ya nak, nanti mamah pikirkan. Trimakasih sudah menjadi anak yang baik, sudah menjadi pahlawan untuk mamah selama ini. Kamu dan paman kamu itu, segalanya untuk mamah. Setelah papah kamu tida kamu lah yang mamah punya, mangkanya mamah tidak memikirkan berumah tangga kembali."
" Mah Kalau aku boleh tau siapa pria yang pernah melamar mamah.?"
Mama Henny hanya tersenyum mendengarnya.
"Lukman sejak kapan kamu jadi kepo si.? Sudah sana temani istri kamu."
"Mah, memang siapa pria itu apa aku kenal.?"
"Kamu kenal, yasudah sana kamu keluar". Saat itu juga terdengar suara ketukan pintu
Tok tok tok.... Ceklak. Terlihat Reni yang membuka pintu kamar nya.
"Mamah, mas. Di luar ada om Ridwan baru datang".
"Aaahh .. Iya sayang sebentar lagi mamah keluar. Ow iya ajak juga nih suami kamu yang kepo ini". Ledek mamah Henny.
" Mah suami Reni yang kepo ini anak Mamah juga loh." Celetuk Lukman, lalu Lukman tersenyum ke arah mamah Henny dengan senyum meledek." Mah jangan bilang pria itu om Ridwan ya.?" Lukman menaikan alisnya ke atas.
Mamah Henny terkejut dengan Lukman yang bisa menebaknya.
"Kepo, sudah sana. Anak kurang ajar mamah nya sendiri di ledek". Mamah Henny mendorong Lukman yang yang tidak kencang.
"Kalau memang iya aku setuju mah, sangat setuju.". Selesai bicara Lukman langsung menggandeng tangan Reni dan keluar kamar mamah Henny.
Kini Lukman sudah berada di ruang tamu berkumpul dengan keluarga.
__ADS_1
"Hai om Ridwan."
"Hai keponakan om." Ridwan langsung memeluk tubuh keponakan nya itu.
"Minal Aidin walfa idzin ya om."
"Sama sama Lukman mohon maaf lahir batin juga ya.?"
Bukan hanya om Ridwan saja, om Doni pun datang dengan istrinya dan juga anak nya Damar.
"Om minal Aidin walfa idzin". Lukman mencium tangan om Doni, dan juga tanteh nya." Minal Aidin walfa idzin tanteh".
"Mohon maaf lahir batin Lukman. Mamah kamu kemana.?"
"Mamah di dalam tanteh, nanti juga keluar ko tanteh". Lalu Lukman menghampiri adik sepupunya.
"Widiih.... Yang habis jadi pengantin baru muka nya seger banget."
"Jangan ngeledek bocil, belum cium tangan gue udah ngeledek."
Heheh.... Sebelum minta maaf, puasin dulu ngeledek Lo mas.wkwkwkw...." jawab Damar ." Yasudah nih gue seriu mas Lukman. Damar minta maaf kalau selama ini pernah punya salah sama lu mas." Sambil tersenyum dan meminta mencium tangan Lukman. Karena menghormati Lukman sebagai kakak sepupu yang tertua.
Lalu tangan Damar menadah ke arah Lukman." Mana persenan nya mas.?"
"Eeh... Buseh dia minta persenan udah. Bangkotan.?"
"Iya lah, tadi mas Gilang aja kasih persen ke Damar. Paman Hendra dan paman Ridwan juga kasih persenan, masa mas Lukman gak. Pelit ya... KA Ren, memang mas Lukman pelit ga sama kakak..?"Sedangkan Reni hanya tersenyum mendengar dan melihat dua orang yang saling beradu mulut.
" Eeh.... Jangan bawa bawa istri gue ya. Iya iya nih persenan buat bocah yang gak inget umur".Dengan memutar kedua bola matanya karena jengah, Lukman memberikan selembar uang berwarna biru.
"Yah masa selembar, warna biru lagi. THR mana mas, jangan pelit pelit dong mas.?" Goda damar, sambil menaikkan kedua alisnya.
"Ada orang minta persenan maksa begini. Hadeeeuuuhhh.... Bagus punya adik sepupu yang rese cuma Lo doang. Hilda aja gue kasi h berapa aja ikhlas ko, ini elo lagi". Sambil ngedumel Lukman pun mengeluarkan dua lembar uang berwarna biru dan merah.
"Ikhlas gak nih mas. Kalau gak gue gak mau nih.?"
"Ikhlas, ikhlas." Kata Lukman dengan memaksa kan tersenyum.
__ADS_1
"Alhamdulillah, 200 ribu. Damar terima ya mas." Lukman hanya mengangguk. "Trimakasih ya mas, semoga rezekinya di lancarkan. Dan KA reni hamilnya di sehat sehat bayi dan ibunya. Amiin...."
"Amiin....." Kata Reni dan Lukman.
Sebenarnya semua keluarga pun melihat mereka sedang berdebat masalah persenan. Cuma buat sudah biasa melihat Damar dan Lukman adu mulut.
Mama Henny yang sedang mengobrol dengan Mamahnya Damar mereka hanya menggelengkan kepalanya saja.
"Ow iya Ridwan, kata Doni Putri kamu sudah bertemu ya.?"
"Iya mas, Alhamdulillah sudah bertemu. Sekian lama aku mencari putri ku, dan sekarang aku bisa kumpul dengan anak ku lagi. Dan Alhamdulillah anak ku sudah menikah, dan punya menantu yang bisa melindungi dia."
"Alhamdulillah kalau begitu kami ikut senang mendengar nya. Sekarang kamu sudah bertemu dengan putri kamu Ridwan.?"
"Iya mbak Yuni. Tadi si dia bilang mau ikut nyusul kesini.? Mangkanya aku lagi nungguin kabarnya dia sekarang dimana.?"
"Memang kalian bertemu di mana....?" Belum selesai pak Hendra bertanya, panggilan di telpon pun berbunyi.
'Ow maaf mas, anak saya sudah telpon. Saya permisi dulu." Semuanya pun mengangguk, dan Ridwan pun berdiri mengangkat panggilan dan berjalan menuju luar.
"Iya Ica,ayah sudah sampai sayang. Kamu di mana.?" Ridwan pun langsung keluar.
Gita yang mendengar nama Ica entah kenapa jantung nya terasa bergetar.
Gita merasakan perasaan nya sangat tidak enak sekali.
Kim semua keluarga pun saling berbincang di ruang tamu. Lalu om Ridwan pun datang, dari arah luar. Ya om Ridwan keluar karena menjemput anak dan menantunya yang akan menyusul nya.
Pak Hendra, bunda Yuni, mamah Henny, dan keluarga om Doni. Semuanya tersenyum melihat kedatangan anak om Ridwan. Tapi tidak dengan Gita, Gilang, Reni, Lukman, dan Hilda, sekali pun. Semua hanya diam mematung melihat menantu dari om Hendra adalah Andi. Dan tentunya Andi dan istrinya pun juga terkejut, karena yang ia datangi adalah rumah Suami dari mantan pacar Andi.
Andi dan Ica bisa menutupi rasa terkejut nya, dari semua orang. Om Ridwan memperkenalkan Andi dan Ica ke seluruh keluarga. Andi dan Ica pun mencium tangan dengan semua orang.
Saat om Ridwan memperkenalkan Gilang dan Gita, Lukman Reni dan Hilda.
"Nah, kalau yang ini. Lukman,dan Reni. Dia anak dan menantu dari tanteh Henny dan paman Herman. Almarhum paman Herman Kakak nya ayah."
"Kami sudah kenal mereka yah, Hilda Reni Lukman dan Gita teman saya yah". Jelas Andi, dan di angguki oleh Ica istrinya.
__ADS_1
"Ow ya, bagus kalau begitu. Dunia sangat sempit ya." Kata om Ridwan dengan terkekeh.
Dan para tertua pun semuanya ikut Terkekeh, tapi tidak dengan Gilang Gita Lukman dan Reni. Terutama dengan Gilang yang menggenggam tangan Gita dengan sangat erat. Serta Gita dengan pandangan nya yang menunduk, saat bertatap muka dengan Lukman.