
"Oke deal ya kita panggil papah Ridwan." Kata Lukman dan di angguki oleh Andi dan Ica. Semuanya pun terkekeh mendengar Lukman bicara. Sedangkan mamah Henny dan Ridwan, mereka saling berpandangan dan saling melempar senyum satu sama lain.
Dan masalah pernikahan mereka berdua, nanti akan mereka tanyakan kembali.
Tentunya senyuman di bibir Ridwan tak pudar, sejak terjawab nya kata kata yang dia nantikan dari mamah Henny.
Rencana pernikahan mereka pun sudah di tetapkan satu bulan kemudian. Semuanya itu sudah dapat rencanakan dan di setujui oleh semua keluarga.
Dan keesokan harinya, siang hari Gita dan Gilang sedang berkutat di dapur. Bunda Yuni yang habis kedatangan tamu, melihat menantu nya sedang berada di dapur, langsung menghampiri menantu dan anaknya itu.
"Kalian sedang membuat apa.?"
"Bunda, ini mas Gilang minta buatkan rujak mangga. Tapi mangga nya mas Gilang minta di serut." Ucap Gita, sedangkan bunda melihat Gilang yang lagi serius mengupas kulit mangga nya.
"Ya ampun Lang Lang. Kamu memang sepertinya sedang mengidam.? Kamu mana pernah makan rujakan seperti itu, melihatnya saja bunda sudah ke aseman.?" Sambil meringis ngebayangin asem nya mangga itu.
Gita yang sudah membuat bumbu rujaknya, masih menggunakan ulegan tradisional. Dan kini Gita sedang menyerut mangga nya. Bunda pun hanya menggelengkan kepalanya melihat pasangan suami istri tersebut. Lalu bunda pun pergi meninggalkan Gita dan Gilang yang masih di dapur.
Setelah mangga itu sudah di serut semuanya, sudah satu baskom kecil. Lalu Gita memberikan bumbu rujak itu, dengan sambalnya yang merah merona. Melihatnya saja Gilang sudah tersenyum bahagia.
Gilang menggandeng tangan Gita, untuk duduk di kursi. Dan mereka pun menyicipi rujakan hasil buatan istrinya itu. Satu sendok rujak itu mendarat di mulut Gilang, dua sendok pun juga sudah mendarat di mulut Gita.
"Bagaimana mas, enak gak rujaknya enak kan.?" Gilang yang masih menyantap rujakan hanya mengangguk dan mengancungkan jari jempolnya.
Wajah Gita sudah berkeringat, begitu pun juga Gilang. Bukan cuma wajah, tubuh nya sudah berkeringat karena efek pedasnya rujak itu. Sampai tak terasa sudah setengah baskom mereka memakan rujak itu berdua.
"Sudah sayang, makan rujaknya sudah ya. Nanti perut kamu sakit kepedasan makan rujak ini".
"Mas tapi aku masih ingin lagi loh. Sini kan rujak nya." Kata Gita yang hendak mengambil rujak nya kembali.
"Gak, sudah cukup makan nya ya. Dengar kan mas, aku gak mau sampai perut kamu sakit ya. Aku minta itu hanya untuk kepala ku yang pusing, sekarang aku udah gak pusing lagi." Gita pun hanya mengerucut kan bibirnya. Gilang menyimpan rujaknya di dalam kulkasnya.
"Aku kan masih mau mas". Bibir Gita masih mode cemberut.
Gilang sangat gemas dengan Gita yang mode cemberutnya. Apalagi dengan bibirnya yang merah akibat kepedesan, dan menjadi tambah tebal. Membuat Gilang semakin gemas.
__ADS_1
Cup..
Gilang mencium bibir Gita." Jangan di buat seperti itu bibirnya dong, gemas tau?"
Gita pun justru malah semakin memajukan bibir nya di hadapan Gilang. Gilang justru terkekeh, semakin lama istrinya itu semakin terlihat gemas.
"Masuk yuk ke kamar.?" Ajak Gilang.
"Ngapain.?"
"Lah itu kamu mancing mancing aku. Bibir kamu di majuin seperti itu. Ayo dong Git".
" Mas masih siang".
"Loh memang kenapa, memang mau ngapain aku ngajak ke kamar.? Otak kamu sudah terkontaminasi ke arah situ ya.?" Goda Gilang.
"Memang kamu seperti itu, bagaimana aku gak mikir selalu kesitu."
"Aku hanya minta pijitin sayang,nanti gantian kamu aku pijitin. Yuk, atau kamu mau aku gendong.?"
"Gak, kaya kuat aja gendong aku.?" Sambil mencebik kan bibirnya.
Tangan Gita berpegangan dan mengalungi tangannya di leher suaminya, Lalu Gilang membawa istrinya menaiki anak tangganya.
"Mas kamu nanti cape loh, tubuh aku sudah gendut tau."
"Gak apa-apa aku suka kamu sekarang, Bikin gemes." Dengan mengedipkan mata sebelah nya. Dan Gita tersipu malu mendengar suaminya gombal seperti itu.
Saat berada di dalam kamar, memang Gita memijat kepala Gilang. Namun saat bergantian Gilang yang memijat Gita, tangan nya nakal dan berkeliaran kemana mana.
Gita pun pasrah dengan ulah Suami nya itu. Namun saat Gilang ingin memulai aksinya, terdengar bunyi orang mengetuk pintu kamar.
Tok tok tok.... Gilang yang menahan tubuhnya di atas tubuh istrinya dengan kedua tangannya. Lantas berhenti karena suara ketukan pintu.
Gilang merasa geram sendiri, sedangkan Gita hanya cekikikan melihat wajah Suami nya yang kesal. Gilang mengusak rambutnya sendiri, lalu turun dari tempat tidurnya untuk membuka pintu kamarnya.
__ADS_1
Gita mengelus dadanya, karena merasa aman. Sedangkan Gilang saat ingin membuka pintu menoleh ke istrinya yang sedang terkekeh.
"Sudah mas buka pintunya". Sambil menahan tawanya.
Gilang pun mengangguk, dan Gilang memegang gagang pintu lalu membuka nya. Di sana ada dua anaknya, yang sudah tersenyum ke arah Gilang.
"Hai anak papah.?" Sambil tersenyum ke arah dua anaknya yang berdiri di depan pintu. Lalu Jessy dan Abi pun masuk ke dalam kamar .
"Papah, kita jalan jalan yuk. Aku bete nih di rumah. Yuk pah, atau kita kerumah kakek Jaka saja. Iya kan ka Abi.?" Abi pun mengangguk kan kepalanya. Saat adik nya bertanya.
"Tanya mamah kalian dulu ya, mamah Kalian lelah tidak.?"
"Mah, mamah capek tidak. Aku ingin main,ingin jalan jalan. Aku juga ingin ke tempat kakek Jaka, dan nenek Siti.?" Rengek Jessy ke Gita, membuat Gita tak tega untuk menolaknya.
"Mas bagaimana.?" Gilang hanya menaikan kedua bahunya." Yasudah kita jalan jalan ya, tapi kamu jangan lari lari ya. Mamah gak bisa ikut lari seperti waktu itu." Jessy pun mengangguk.
" Mah kan ada aku, aku akan jagain Jessy ko." Kata Abi membuat Gita dan Gilang tersenyum.
"Iya ya, kan ada kamu. Anak pintar mamah dan papah, yasudah kita cus jalan jalan ya. Mamah sama papah siap siap ya." Abi pun tersenyum." Ow iya mas, aku lupa kasih tau kamu. Kemarin ayah bilang ,aku mau ikut gak. Ayah mau ke kampung ibu, di Bandung. Boleh gak kalau aku ikut mereka.?"
"Kamu mau ikut memangnya.? Yasudah kalau kamu mau kita sekalian saja. Kalian bawa salinan saja kita cus ke Bandung, kalau memang sempat kita mampir kerumah kita di sana." Mendengar itu Gita dan kedua anaknya terlihat wajah bahagia nya.
" Serius pah, kita ke Bandung sama kakek dan nenek. Asyiik..... Ya sudah kita siap siap yuk KA Abi". Ajak Jessy dengan sangat antusiasnya.
"Yuk. Papah mamah kami siap siap dulu ya." Pamit Abi. Gilang dan Gita pun mengangguk kan kepalanya.
Akhirnya mereka pun keluar dari kamar, Gita tersenyum melihat wajah bahagia dari Jessi dan Abi. Gilang pun menghampiri istrinya, setelah mengunci pintu kamar.
"Yuk.!"
"Apa sih mas.?"
"Lanjutin yang tadi, gak mungkin aku menundanya sampai besok Git. Sudah nanggung banget, tega kamu ." Gilang menujuk kan wajah melas nya.
Gita hanya terkekeh melihat wajah suami nya yang terlihat sangat kusut. Karena aksinya tertunda karena ada anak-anak nya.
__ADS_1
Gita pun tersenyum dan mengangguk kan kepalanya. Dan Gilang pun merasa senang dengan anggukan dari istrinya itu. Tanpa basa-basi Gilang pun mengambil Start. Dan akhirnya mereka pun bergumul di bawah selimut, melanjutkan permainan yang sempat tertunda.
Bersambung....