
"Teman kakak ini seperti kakak, yang peduli dan sayang sama kami sekeluarga. Walaupun kak Gilang sudah menikah dan mempunyai keluarga, tapi rada sayang dan peduli nya tak pernah hilang. Tegasnya posesif nya seperti kak Gilang, yang beda hanya karakter ya saja. Kak Gilang pendiam, dokter Tyo itu humoris." Kata Hilda yang memuji Tyo di dalam hatinya.
Hilda pernah melihat Tyo saat main kemarin di rumahnya. Terlihat jelas kalau Tyo itu orangnya sangat humoris seperti Lukman. Dan saat dengan keluarganya sangat hangat dan ada sedikit ketegasan pada dirinya..
Kini Tyo sudah mengantar Mamahnya untuk masuk ke rumah nya. Di sana sudah ada Via adik dari Tyo, yang sudah menunggu mamah pulang.
"Dek kamu ajak mamah masuk ke kamarnya, soalnya mamah habis minum obat." Via mengangguk. " Yasudah mamah aku nganter Hilda dulu ya, mamah jangan lupa istirahat ya.!"
"Iya yasudah kamu antar Hilda sana kasian pasti anak itu juga lelah.?" Tyo pun mengangguk kan kepalanya.
Tyo pun kini sudah berada di dalam mobil bersama Hilda, Hilda pun kini pindah duduk di kursi depan samping Tyo.
Tak ada suara di dalam mobil itu, hanya terdengar suara deru mesin mobil saja. Hilda yang bingung ingin bicara apa, hanya diam saja. Sedangkan Tyo yang fokus menyetir mobilnya, sesekali melirik Hilda dengan senyuman di bibirnya.
"Ko diam aja, kenapa .?"
"Aku hanya bingung ingin bicara apa". Jawab Hilda dengan senyum kecil nya
"Kamu tuh lucu, masa mau bicara aja pakai bingung." Tyo terkekeh, sedangkan Hilda hanya tersenyum.
Sebenarnya Hilda bukan nya bingung ingin bicara apa. Tetapi Hilda lagi menetralkan jantung nya yang berdetak lebih cepat.
"Terus sekarang ini kamu mau saya antar ke mana.?"
"Ke tempat Ka Gilang saja, soalnya aku juga sudah bilang ingin ke rumah ka Gilang. Karena di rumah juga gak ada siapa-siapa, ayah dan bunda sedang pergi sama orang tua mas Lukman." Tyo hanya mengangguk kan kepala, dengan masih fokus menyetir.
Dua puluh menit di perjalanan kini Tyo dan Hilda sudah sampai di kediaman rumah Gilang.
Gilang yang mendengar bunyi suara mobil masuk ke rumahnya, lalu keluar untuk memastikan kalau memang adiknya yang datang. Karena memang sejak tadi Gilang menunggu kedatangan adik nya itu.
Gilang terkejut karena yang berada di halaman rumah nya, mobilnya nya Tyo. Dan Gilang lebih terkejut lagi, Hilda lah yang keluar dari mobil Tyo dengan di bantu Tyo.
__ADS_1
"Hilda kamu kenap dek.? Terus kenapa datangnya bisa sama Tyo.?"
Tyo yang paham dengan pertanyaan sahabatnya itu kepada adiknya itu, Tyo pun segera membantunya.
"Tenang Lang, nanti gue ya g jelasin ke elo. Untuk sekarang Biarkan adik Lo duduk duku, karena kaki nya terluka." Gilang pun mengangguk dan segera menggendong Hilda ke dalam.
Hilda di turunkan di sofa, lalu Gilang membantu Hilda agar kaki nya diluruskan di atas sofa.
Gita yabg sedang berada di dalam kamarnya, saat sedang menemani baby Gandi tidur. Mendengar suara di seorang di rumahnya.
"Apa itu Hilda ya, ya mungkin Hilda. Mungkin dia sudah datang, aku lihat deh. Kebetulan bocah nya sudah tidur". Gita pun turun dari tempat tidurnya, dengan hati hati agar Gandi tidak terbangun dan menangis.
Kini Gita berjalan menghampiri suaminya, dan benar saja di sana ada Hilda dan juga Tyo teman suami nya.
"Loh Hilda kami sudah datang.?" Hilda hanya tersenyum, Gita melihat wajah Suami nya sedang tidak bersahabat.
"Ada apa ini ya.?" Gita bergumam dalam hati.
"Oke oke gue ceritain ya. Lo jangan begitu dong bro ekspresi nya, gak akan bikin gue takut juga." Kata Tyo sambil terkekeh. Padahal dalam hati Tyo berkata sebaliknya hihihi.....
" Yasudah cepat cerita, kenapa adik gue bisa sama elo. Terus itu adik gue kenapa bisa sakit begitu kaki nya.?" Gita yang mendengar ucapan suami nya, juga terkejut.
"Apa, kenapa sama Hilda. Hilda kamu kenapa.?" Gita terlihat khawatir dengan kondisi Hilda.
"Begini gue akan cerita. Gita Gilang kalian santai jangan panik." Gita dan Gilang mendengar kan cerita dari Tyo.
Tyo menceritakan kronologi kejadian yang menimpa Hilda dan mamah nya. Tanpa ada yang di kurang atau di lebih kan. Dan setiap cerita Tyo Hilda pun mengangguk tanda membenarkan apa yang di cerita kan Tyo benar adanya.
Gilang dan Gita mendengar cerita nya sesekali mereka melihat ke arah Hilda.
Ada rasa kagum dalam benak Gilang, melihat perubahan adiknya itu. Padahal sebelumnya Hilda itu mempunyai sisi manja dan Sombong, namun sekarang sifat nya berubah menjadi baik.
__ADS_1
"Begitu Lang, Git cerita nya. Tapi tenang aja lukanya udah saya obati ko, Hilda hanya butuh istirahat saja." Kata Tyo selesai penjelasan.
"Kalau begitu saya yang harus terima kasih sama sama kamu Yo." Kata Gilang dan di angguki oleh Tyo." Terus bagaimana sekarang keadaan ibu kamu.?"
"Alhamdulillah mamah tidak kenapa-kenapa Lang. Untung saja Hilda menaik mamah, kalau tidak saya tidak tau apa yang akan terjadi sama mamah".
"Jangan bicara seperti itu mas Tyo, yang penting beliau tidak kenapa-kenapa."
"Iya sih, Alhamdulillah mamah tidak kenapa-kenapa."
Dan selanjutnya mereka pun saling berbincang, tidak lama Hilda berpamitan untuk istirahat. Dia antar oleh Gilang ke kamarnya. Sedangkan Gita dia sudah kembali ke kamarnya, karena gandi menangis.
Kini Gilang dan Tyo berlanjut mengobrol di ruang tamu.
"Lang, elo gak akan ngelarang gue buat dekat dengan adik Lo kan.?" Tanya Tyo tanpa basa-basi.
"Maksud Lo.?"
"Iya elo gak ngelarang gue buat dekat dengan adik Lo kan.? Kalau elo gak ngelarang gue ingin lanjut untuk kenal adik Lo. Dari pada gue diem diem , mending gue terus terang sama elo sebagai kakak."
"Sepertinya elo sudah mulai ngambil star nih.?" Gilang menyindir Tyo, sedangkan yang di sindir hanya tersenyum saja.
" Kalau gue sih gak berhak ngelarang hubungan adik gue dengan siapa. Termasuk bokap gue sih, buat kami itu yang terpenting, Hilda bisa di nikahi dengan pria baik dan bisa melindungi dia dan menyayangi dia."
" Gue ingin dekat sama Hilda agar mengalir gitu aja Lang. Jujur aja gue juga kaget, saat tau Hilda yang nolongin nyokap. Ya mungkin itu salah satu pertemuan kita untuk ke dua kalinya. Ya selanjutnya ya gue ingin kenal agar bisa lebih dekat, tapi dengan izin dari elo sebagai kakak." Tyo begitu percaya diri sekali untuk berkata jujur dengan Gilang, yang tak lain kakaknya Hilda sekaligus sahabatnya.
"Gue suka sama jujur Lo ini, tapi gue ingetin jangan macem-macem sama adik gue. Jangan bikin Hilda kecewa, Gue gak akan Mandang elo sebagai sahabat jika elo bikin adik gue sedih.!"
"Insyaallah gak bro, thank ya. Atas restu elo yang udah izinkan gue buat dekat dengan adik lo.?" Gilang hanya mengangguk,. sedangkan Tyo dia merasa bahagia karena dirinya mendapatkan izin dari Gilang sebagai kakaknya Hilda.
" Gue izinin elo buat dekat dengan Hilda, karena memang elo orang baik. Gue kenal elo bukan cuma satu atau dua tahun. Kita udah kenal sangat lama, jadi buat gue cukup buat gue kenal elo. Semoga memang elo pria baik yang bisa melindungi Hilda, dan bisa menerima kemanjaan dari Hilda". Ucap Gilang dalam hatinya.
__ADS_1
Bersambung....