
Pak Jak terus memperhatikan Gita, pak Jaka merasa tak tega melihat putri nya itu. Untung saja putri nya mempunyai suami yang begitu perhatian dan sayang sama Gita. Pak Jaka bersyukur mempunyai menantu yang peduli dengan anaknya.
"Nak kalau seandainya sakit yang kamu rasakan bisa di gantikan, ayah siap nak. Ayah tak tega melihat kamu kesakitan seperti ini.?"
"Ayah kalau ayah sakit aku yang tidak siap. Aku ingin ayah sehat, agar aku bisa selalu melihat ayah bahagia. Aku begini memang sudah kodrat aku sebagai seorang wanita dan seorang ibu merasakan sakit. Tapi hasil nya aku bahagia melihat anakku secara langsung."
"Ayah sayang kamu nak, ayah tak tega melihat kamu seperti ini. Cepat sehat ya anak ayah yang boto. Muuuachh ..." Pak Jaka mencium kening putri nya.
"Trimakasih ya ayah."
"Ya sudah ayah keluar nyusul ibu ya nak. Kamu makan yang banyak, dan minum obat agar kamu cepat sehat.?"
"Iya ayah, tenang aja. Kan ada suami aku yang selalu perhatian seperti seorang perawat yang Sabar". Sambil menoel dagu Gilang.
Gilang tersenyum melihat Gita menoel dagunya, begitu pun juga pak Jaka melihat Gita yang sudah bisa tersenyum kembali.
"Kamu itu, ya sudah ayah keluar". Gilang dan Gita pun mengangguk. Pak Jaka pun keluar dari kamar Gita.
Gilang pun menyuapi Gita dengan sabar dan telaten Gilang melakukan itu. Gilang menyuapi Gita, namun mata Gita terus menatap wajah suaminya.
"Kenapa Hem..?"
"Aku beruntung, tuhan memberikan ku hidup kembali. Dan bisa melihat seluruh keluarga dan suami ku yang begitu perhatian ini. Jika waktu itu aku ma....." Gita tidak jadi bicara,kare Gilang langsung menutup mulutnya Gita dengan jari nya lalu menggeleng kan kepalanya.
"Jangan bicara itu aku mohon. Aku tidak ingin kamu pergi Git, aku tidak ingin. Aku hanya ingin kamu di sini temani aku. Jika memang di antara kita yang harus pergi lebih dulu, biar lah a..." Gita meletakan jari nya ke mulut Gilang, agar suaminya tidak melanjutkan perkataannya.
"Aku juga tidak mau mas, aku ingin selalu bersama kamu." Gilang pun tersenyum, lalu membelai pipinya Gita dengan tatapan hangatnya.
Cup..
Gilang menci......um bi...bir Gita. Gita dan Gilang saling tersenyum.
"Lanjutkan makanya ya, terus minum obat nya." Gita pun mengangguk.
Setelah minum obat, Gita pun langsung tertidur. Dan di temani Gandi, di samping Gita. Selesai Gita mengajak bercanda Gita dan bayinya tertidur. Begitu pun Abi dan Jessy mereka pun juga ikut menemani mamah Gita.
Gilang memperhatikan anak dan istrinya yang kini sedang tertidur.
"Senangnya melihat mereka berkumpul lagi. Tak kan ku biarkan yang telah membuat Gita celaka, berkeliaran kemana mana." Gumam Gilang dalam hatinya.
Lalu Gilang bergabung dengan keluarganya. Di sana mertuanya dan keluarga nya sedang mengobrol. Saat itu juga handphone Gilang berbunyi ada panggilan masuk, saat Gilang lihat ternyata ayah Hendra yang menelpon.
"Ayah nelpon ada apa.?" Gumam Gilang dalam hatinya.
"Maaf semuanya sebentar Gilang angkat telpon dulu". Semuanya pun mengangguk kan kepalanya.
Gilang pun keluar di depan pintu agar tidak di dengar mertuanya.
"Ya yah ada apa.?"
__ADS_1
"Keruangan kerja ayah sini.! Ayah ada perlu sama kamu Lang.?"
"Iya yah, aku ke sana".
"Hemm...."
Panggilan pun terputus. Gilang pun langsung masuk menemui pak Hendra di ruang kerjanya.
Tok tok tok.... Gilang mengetuk pintu lalu masuk ke dalam ruangannya. Gilang pun duduk berhadapan dengan pak Hendra. Ada wajah keseriusan di wajah beliau Gilang tau apa yang akan di bicarakan ayahnya itu.
"Gilang apa kamu sudah melakukan penyelidikan tentang yang menabrak Gita.?"
"Iya yah sudah, Gilang sudah melakukan penyelidikan tentang yang menabrak Gita."
"Terus apa kamu sudah menemukan bukti siapa yang menabrak Gita.?"
"Iya aku tau yah, ayah juga diam diam mencari tau siapa yang menabrak Gita.?"
Ayah Hendra pun mengangguk kan kepalanya. "Ayah sudah tau siapa yang menyuruh seseorang untuk menabrak Gita. Sebaiknya kamu segera selesai kan masalah gadis itu, ayah tidak mau kalau setelah menantu ayah, takutnya dia membuat celaka keluarga kita."
"Iya yah niatnya memang setelah istri ku pulang dari rumah sakit, aku akan mengurus kasus ini."
"Segera, dan nanti malam kita harus tangkap dia. Karena ayah mendapatkan kabar dia akan ke luar daerah. Mungkin gadis itu sudah curiga akan keselamatan nyawanya ".
"Baik yah".
Gilang kini berada di depan pintu, ditangan Gilang pun ada sekotak coklat, dan bingkisan makanan. Gilang mengetuk pintu,dan pintu pun terbuka pemilik rumah itu tersenyum saat melihat Gilang datang.
"Hai Bella..."
"Gilang, ko kamu di sini. " Dengan tatapan menyelidik, lalu Gilang memberikan bingkisan ke Bella." Trimakasih Lang.."
"Sama sama, apa boleh aku masuk."
"Tentu masuk lah. Kamu kesini sendiri Lang.?"
"Ya, aku sendiri. Kebetulan aku lewat sini, habis menemani Gita di rumah sakit yang tak kunjung sadar." Gilang sengaja menunjukkan wajah sedih nya.
"Istri kamu sakit Lang, sakit apa.?"
"Dia jadi korban tabrak lari Bella." Bella terkejut mendengarnya." Entah lah Bell, aku tak tau kenapa masalah ini menimpa istri ku lagi. Aku lelah Bell dengan semua ini,bayi kami pun sekarang terlantar karena ibu nya keadaan keritis. Sampai kapan harus seperti ini, aku pusing". Gilang menutup wajahnya dengan frustasi.
"Kamu tidak mencari siapa yang menabraknya.?" Wajah Bella dengan tatapan menyelidik.
"Aku tidak mempunyai bukti bell, dia menabraknya di perkampungan tidak ada bukti untuk menangkap nya. Aku sendiri pusing dengan kondisi istri ku Bell". Gilang memijat keningnya.
Bella mendekati Gilang, lalu menyentuh pundak Gilang." Yang sabar ya Gilang, kamu bisa cerita kan masalah kamu ke aku. Jika kamu tidak keberatan. Jika kamu butuh bantuan untuk bayi kalian aku siap membantu kamu Lang."
Gilang pun mengangguk." Trimakasih Bell." Lalu Gilang melihat sebuah koper di depan pintu kamar Bella." Itu koper di situ ,memang kamu mau kemana Bell.?"
__ADS_1
"Ow itu aku mau ada urusan di luar kota."
Gilang menunjukkan wajah sedihnya.
"Aku baru ingin mengajak kamu kerumah Bell. Bunda dan ayah akan ke luar kota, karena cabang nya ayah sedang bermasalah. Dan bunda sengaja menyuruhku tadi untuk meminta bantuan kamu Bell, hanya kamu yang bisa menolong ku. Karena Hilda adik ku tidak menyukai istri ku, dia pun meminta mu untuk membantunya."
Serius Lang, bunda menyuruh ku ke rumah kamu. Bunda tidak membenci ku Lang".
"Tidak Bell, mau tidak kalau sekarang. Mumpung mertuaku lagi menemani Gita dirumah sakit.Aku meminta tolong hanya sama kamu Bell. Tapi sepertinya kamu akan pergi.?"
"Iya Lang, bagaimana ya. Soalnya aku akan pergi, maaf ya."
"Yasudah kalau memang kamu tidak bisa aku langsung balik. Maaf menggangu kamu.?" Gilang pun bangun dari duduknya.
"Tidak apa Gilang aku senang, kamu bisa baik lah dengan aku. Hati hati ya di jalan". Gilang pun mengangguk.
Saat pintu terbuka alangkah terkejutnya Bella, saat melihat di depan pintu ada tiga orang polisi berdiri tegak.
"Selamat malam nona Bella, anda harus kami tahan. Karena anda telah melakukan kecelakaan atas nona Anggita, istri dari pak Gilang Wijaya." Bella langsung menatap Gilang.
Flashback
Saat malam hari, Gilang Lukman dan pak Hendra keluar. Gilang mengendarai kendaraan menuju kediaman orang yang sudah menyuruh untuk menabrak Gita.
Wajah Gilang terlihat sangat marah, dan berusaha menahan rasa geram nya.
Saat sampai di depan apartemen gadis yang sudah menyebabkan Gita tertabrak.
Gilang pun turun dengan senyuman hangatnya. Dengan membawa sekotak coklat dan bingkisan. Pak Hendra tak tau apa rencana Gilang untuk masalah ini, Lukman yang tau akan maksud kakak sepupunya itu santai saja melihatnya.
Gilang pun berjalan menghampiri apartemen milik Bella. Dan memulai akting nya untuk mendekati Bella, untuk menangkap Bella.
Flashback of
Gilang tersenyum menyeringai ke arah Bella.
" Kamu jahat Lang." teriak Bella.
"Kamu yang jahat Bella, kamu menyuruh seseorang untuk menabrak istri ku. Apa salah Gita sama kamu ha... Anak dan istri ku sampai terluka, semua gara gara kamu. Karena sudah Kamu menyuruh seseorang untuk menabrak mereka.?"
"Aku tidak menyuruh orang Gilang,orang itu sudah memfitnah aku Lang. " Bella berontak saat tangannya di borgol.
"Lihat saja nanti Bella, Di sana ada Erick sudah menanti kamu. Kamu pasti mengenal Erick kan, pria yang kamu suruh untuk menabrak Gita dan Jessy.?"
Mendengar nama Erick, mata Bella langsung terbelalak sempurna.
'Si....al dia ketangkap, dasar tidak becus. Nyawa ku pasti akan terancam seumur hidup. Tidak bisa ini terjadi." Gumam Bella dalam hatinya.
bersambung...
__ADS_1