
"Pintar sekali kamu memilih istri Lang.?" Seperti ayah kamu, pintar memilih mamah mu". Goda Ridwan membuat Gilang tersenyum, dan Gita nampak malu karena jadi bahan perhatian semuanya. Dan semua pun tertawa mendengar banyolan Ridwan.
Sedangkan di rumah calon pengantin wanita, sedang di kurung di dalam kamarnya.
Krieek.... Suara pintu terbuka, dan terlihat wajah Riko di balik pintu kamar Reni.
" Hai calon pengantin Lagonda kurung ya, kasian banget. Biasanya adik kakak ini pecicilan, ini dah kaya putri kerajaan, manis banget." Ledek Riko dengan kekehan nya.
" Tawa terus Ka, biar mulut mu mangap terus, gak bisa rapet lagi. Mau loe Ka kalau kaya begini". Reni memperagakan mulutnya sendiri dengan menganga.
"Kaya mulut buaya itu dek, sekate Kate aje kalau ngomong." Dan Reni terkekeh melihat abangnya kesal.
Tiba tiba terdengar suara seseorang memanggil Reni." Assalamualaikum,, calon pengantin.?" Reni melihat ternyata sepupu nya yang bernama Leha, datang dengan tersenyum.
"Leha Lo datang di mari, asyik gue akhirnya ada temennya di sini. Sini sini masuk, mending elu yang temenin gue dari pada ka Riko." Leha pun duduk di samping Reni.
"Yawdh gue keluar deh, calon pengantin galak banget ya.?" Goda Rike ke Reni, dan Riko pun keluar sebelum adiknya ngambek.
Reni pun merasa tidak kesepian, dia ada temannya yang menemani di kamarnya. Dan Reni pun juga menghubungi Gita menggunakan Video call, karena Leha juga ingin bicara dengan Mahmud satu itu.
Handphone Gita bergetar,saat Gita melihat handphone nya ada panggilan video call dari Reni.
" Mas, aku izin keluar ya. Reni video call aku nih." Tanya Gita,dengan berbisik ke suaminya.
"Iya sayang". Jawab Gilang juga dengan berbisik.
Lalu Gita yang sedang duduk bersama dengan yang lain pun, meminta izin untuk keluar.
Setelah sampai di halaman rumah Lukman, terdapat kursi di halaman depan rumah Lukman. Gita pun menekan icon warna hijau ke arah atas.
"Hallo Mahmud". Teriak Leha di depan layar kaca.
Gita terkejut bukan Reni tapi Leha di depan layar handphone nya. Gita pun tersenyum melihat saudaranya Reni, yang berteman juga dengan Gita, kini menelpon dirinya.
__ADS_1
"Leha, Lo Dateng ke tempat Zubaidah.?"
"Iya nih Git, tuh liat pengantin nya bete gak ada yang nemenin dia. Nemenin kakak nya malah di ledekin." Jawab Leha dengan beruntun jawaban." Cie cie sekarang Lo udah jadi Mahmud ya, dapetin duren sawit ( Duda keren satu anak berduwit) lagi heheheh.? Gue gak di undang deh sama elo, jahat lu Git". Leha berlaga marah.
"Bukan gitu, kata Reni elo itu lagi di pindahin tempat gawean elo ke Batam. Ya Kale elo Dateng dari sono ke sini, Kan kasian Leha ". Sedangkan Leha hanya terkekeh mendengar jawaban Gita.
Mereka pun saling tertawa Saat video call.
H-1
Keesokan harinya, dirumah Lukman memang sangat rame. Selain keluar ada teman teman Lukman yang hadir di sana. Ada dua orang yang sedang sibuk Membuat sisa parcel untuk hantaran. Kini parcel yang di buat sudah banyak di ruang lain, karena orang itu sudah membuat 3 hari berturut-turut.
Saat malam hari keluarga Lukman mengadakan pengajian untuk calon pengantin. Gita, bunda, mamah Henny pun juga turut sibuk membantu Bu Ijah.
Saking sibuknya Gita pun sampai lupa untuk makan, saat acara pengajian. Gita merasa lelah pada tubuhnya, dan saat Gita sedang memindahkan gelas kopi, Gita tidak sengaja menyenggol Hilda adik Gilang.
Aaaaa..... Prang prang, Akhirnya semua gelas yang Gita bawa pun pecah. Dan mengenai kaki Gita.
"Maaf Hilda aku gak sengaja, beneran ga sengaja , maaf ya Hilda." Sambil membersihkan baju Hilda dengan tangannya.
"Gak usah, jangan pegang gue. Nanti baju Gue tambah kotor". Hilda pun mendorong Gita Hinga tangan Gita mengenai pecahan kacanya.
Dan yang lain mendengar suara gaduh di dalam pun menghampiri. Dan terkejutnya Gilang melihat Gita yang berada di lantai , Gilang pun segera menghampiri istrinya itu.
" Ada apa ini,ada apa dengan kalian hah.?" Kata Gilang dengan menatap adiknya itu. Lalu mambantu istrinya yang terjatuh.
" Mas jangan marah sama Hilda,aku yang salah aku tidak sengaja menyenggol Hilda." Gita menyentuh lengan suaminya, agar tidak marah dengan adiknya.
"Walaupun Gita yang salah tapi bicara kamu bicara yabg sopan. Bagaimana pun Gita ini kakak ipar kamu".
Hilda tersenyum sinis ke arah Gita.
" Kakak ipar, aku gak pernah menganggap dia itu kakak ipar. Kalian saja yang selalu memuji dia, kalau aku tau dia jadi kakak ipar, aku gak akan balik ke sini." Kata Hilda dengan teriak.
__ADS_1
Mendengar Hilda bicara seperti itu Gilang sangat marah.
Dan pak Hendra mendengar anaknya bicara seperti itu ke kakak iparnya.
" Hilda". Pak Hendra mengangkat tangan tinggi ke arah Hilda.
"Jangan yah, jangan lakukan itu kepada Hilda. Di sini aku yang salah sama Hilda aku mohon maaf, jangan lakukan itu sama dia yah". Kata Gita sambil menahan tangan ayah mertuanya yang akan menampar Hilda.
Gilang yang menggunakan baju Koko berwarna putih,terlihat sekali noda darah, bekas tangan Gita. Dan pak Hendra pun menahan emosinya karena Gita yang menyuruh nya, dan Gita menunjukkan wajah memohon.
"Lang, baju kamu ada darah.?" Kata bunda yuni, Gilang melihat bajunya. Lalu Gilang menarik tangan Gita dan melihat tangan Gita, alangkah terkejutnya tangan Gita sudah penuh darah akibat terjatuh terkena pecahan gelas.
"Lang kaki Gita terluka, bawa Gita kerumah sakit cepat." Bunda sudah panik karena di lantai ada noda darah karena kaki Gita terluka.
"Iya Bun". Gilang pun langsung menggendong Gita dan membawa Gita kerumah sakit.
"Mas aku gak apa-apa, bisa di obati di rumah aja. Ga usah pakai kerumah sakit segala mas". Gita sambil meringis menahan perih di telapak tangan dan kakinya.
Gilang hanya diam tak menjawab ucapan istri nya itu. Gilang masih fokus kendaraan nya,dengan sesekali melihat Gita yang sedang meringis menahan sakit nya.
Lima belas menit sudah Gilang mengendarai mobilnya, dan kini sudah Gilang sampai di klinik terdekat.
Luka Gita di bersihkan dan di obati, di berikan antibiotik.
"Luka istri bapak tidak apa-apa, sudah kami obati juga, diberi antibiotik. Dan ini resep obat, yang harus bapak tebus. Ada vitamin dan pereda rasa nyerinya. Dan ini ada obat penambah darahnya, karena tekanan darah istri anda sangat rendah." Dokter itu pun memberikan selembar resep dokter kepada Gilang.
"Baik dok, tapi istri saya tidak apa-apa kan dok." Gilang menunjukkan wajah khawatir ke Gita.
"Istri Anda tidak apa-apa. Anda tidak perlu khawatir, cukup minum obatnya,luka istri anda akan membaik." Gilang pun mengangguk.
Lalu Gilang pun menebus di bagian farmasi, setelah menerima obatnya. Gilang membawa istrinya kembali ke rumahnya. Setelah sampai rumah Gilang menggendong Gita ala bridal style, menuju ke kamar mereka.
Bersambung ..
__ADS_1