Cinta Anggita

Cinta Anggita
Hilda yang membaik


__ADS_3

Buuugh.... Aah... ' Aduuh sakit.


Saat Riko ingin berbalik badan Riko menabrak tubuh seseorang.


"Maaf.. Maaf gak sengaja, maaf ya sini saya bantu."


"Lain kali hati hati dong, aaah... Sakit nih,malah basah semua nih..."


" Maaf mba saya gak sengaja." Riko merasa bersalah karena baju gadis itu Basar terkena minuman.


Gita melihat dua orang yang dia kenal sedang adu mulut, Gita menghampiri.


"Ka Riko, Gina. Ada apaan ko kalian bertengkar.?" Sambil melihat ke arah keduanya, Riko yang hanya menunduk. Tidak dengan Gina yang menunjukkan ekspresi wajah kesalnya.


"Gita, baju aku basah. Gara gara nih cowok jalan nya meleng, abis baju ku kena minuman." Cerocos Gina.


"Aku gak sengaja nyenggol dia, kamu kenal gadis ini Git.?" Gita pun mengangguk.


Reni, Lukman dan juga Gilang menghampiri Gita.


"Gina, KA Riko kalian kenapa.?"


"Ini dek kakak gak sengaja nyenggol dia, yang lagi bawa minuman. Jadi basah bajunya karena Kaka, Kaka minta maaf dia marah marah." Jelas Riko dengan jujur.


"Maaf ya Gina, dia itu kakak gue.?"


"Ow kakak kamu Ren, aku gak tau dia kakak kamu Ren. Yasudah biarin, mau dia apain lagi udah basah begini.?"


"Yasudah pakai baju aku aja Gin." Timpal Gita.


"Gak apa-apa emangnya Git, gak enak aku sama pak Gilang." Bisik Gina.


"Gak apa-apa Gina, dari pada nanti kamu sakit. Ganti pakai baju Gita aja ya". Kata Gilang yang ikut menimpali ucapan istrinya. karena memang mendengar Gina tabg berbisik.


"Tuh kan gak apa-apa, ya sudah ikut yuk ke dalam. Ganti bajunya biar gak masuk angin". Gina pun mengangguk.


"Trimakasih ya pak, kalau begitu saya permisi." Ucap Gina lalu ikut masuk dengan Gita dan Reni.


Riko dan Gilang hanya diam tak saling bicara. Lukman paham keadaan dua pria ini.


Sedangkan di dalam, tiga orang wanita sedang berada di dalam kamarnya Gita.


"Pakai baju ini ya, suka gak .?" Tanya Gita yang memberikan hanger ke tangan Gina.


" Suka sukain aja Git, namanya boleh pinjem. Hihihi ..." Kata guna dengan terkekeh..


"Kalau gue jadi elo, gue pilih Gin. Kapan lagi di suruh pilih sama Bu bos kita." Khikhikhi..." Timpal Reni dengan cekikikan.


"Elo emang teman gak ada akhlak, dari dulu sampe sekarang gak berubah". Jawab Gita membuat semua terkekeh.

__ADS_1


Gina pun masuk kedalam kamar mandi untuk ganti bajunya. Bajunya pun sangat pass di tubuh Gina, lalu Gina pun keluar kamar mandi.


" Git gimana .?" Gita dan Reni memberikan jari jempolnya ke arah Gina." Ya sudah gue pakai ini ya. Gue pinjem nanti gue balikin Git."


" Gak usah buat elu aja Gin".


"Tuh kan, gue bilang apa. Pilih aja, pasti di kasih aja". Goda Reni.


Gina pun tersenyum." Trimakasih ya Git,,e ralat. Trimakasih Bu bos yang baik hati. Hihihi..." Gina sambil terkekeh.


Tiga wanita itu kembali kumpulan ke halaman bersama teman teman nya.


Kini acara bukber pun sudah selesai. karyawan pabrik sudah di antar supir.


Kini keluarga Gita dan Reni pamitan dengan keluarga Wijaya.


Bu Siti dan pak Jaka pamit dengan anak dan menantunya.


"Nak ibu dan ayah pamit ya, biasa besok ayah dan ibu sibuk."


"Maaf ya Bu, biasanya Gita selalu bantuin ibu untuk pesanan. Tapi sekarang Gita ga bisa bantuin."


"Gak apa-apa nak, yang penting kamu dan keluarga kamu sehat. Itu sudah membuat Ibu senang. Dan ingat jaga cucu ibu ya, jaga kesehatan". Bu Siti mengusap perut Gita.


Gita pun mengangguk, sambil mengusap air matanya." Loh ko nangis anak ayah.?" Gak apa-apa kan nak, kamu ga bantuin. Jadi enak kamu datang tinggal makan aja". Goda pak Jaka ayahnya Gita.


" Gita memang selama akhir akhir ini sensitif banget Bu, yah. Mangkanya saya juga harus hati-hati banget bicara sama Gita". Kata Gilang yang merangkul pundak Gita.


"Iya yah".kata Gilang


" ya sudah ayah dan ibu pamit ya bareng keluarganya Reni. Kalian juga harus istirahat ya, terutama kamu Git. Dengar kan suami kamu bicara ya."


" Iya yah". Gita dan Gilang pun mencium tangan pak Jaka dan Bu Siti.


Lalu keluarga Reni.


" Ko kamu bawa mobilnya hati hati.?" Ucap Lukman.


"Iya bang, tenang aja."


"Kamu tuh manggil saya Abang, kan kamu Abang ipar saya. Harusnya saya manggil kamu Abang.?" Goda Lukman.


"Iya memang saya kakak ipar bang Lukman, tapi kan soal umur Abang lebih tua dari saya. Masa saya manggil Lukman Lukman saja, saya gak mau terlihat tua lebih Cepat". Celetuk Riko membuat semua terkekeh.


"Bu, saya titip putri saya. Maaf kalau Reni suka manja dengan kalian." Kata Bu Reka


" Tidak apa-apa Bu, Reni sudah saya anggap seperti putri Saya sendiri. Justru Lukman yang saya marahi kalau kelewatan ngeledek Reni." Timpal mamah Henny.


"Nanti main main ya kerumah kami, menikmati hidangan di rumah kami.?" Pak Romi ikut menimpali.

__ADS_1


"Pasti insyaallah kami sekeluarga akan berkunjung ke rumah besan kami". Kata Pak Hendra membuat semuanya nya terlihat akrab dengan kebersamaan mereka.


Setelah semuanya pamitan, seluruh keluarga Gita dan Reni sudah masuk kedalam mobil. Riko pun pamit dengan Reni dan Gita.


" Hai para wanita hamil, kakak pamit ya. Jaga kesehatan kalian, dan kandungan kalian. Dengar apa yang para suami kalian bicara, paham kan.?"


" Iya ka Riko". Jawab Gita.


"Iya iya Bawel banget KA Riko". Jawab Reni, membuat Lukman terkekeh.


" Bang Lukman, mas Gilang saya pamit ya. Assalamualaikum..." Sambil bersalaman untuk pamitan.


" Waalaikumsallam..."


"Riko yang tadi masih jomblo tuh, dah deketin. Mau di bantuin gak.?" Goda Lukman. Dan Riko yang sudah melangkah jadi menoleh ke Lukman.


"Waduh adik ipar mau jadi Mak comblang nih. Boleh lah, kirimin aja nomor handphone nya ya". Timpal Riko, dan di acungi jempol dari Lukman. membuat semuanya terkekeh, Termasuk Gilang juga ikut tersenyum.


H-1 sebelum lebaran.


Kini seluruh keluarga sedang sibuk untuk memasak hidangan untuk idul Fitri. Sudah jadi tradisi dalam setiap rumah memasak untuk menyambut datangnya 1 Syawal.


Terutama di rumah Pak Hendra, Reni dan Gita di boyong oleh para Suami mereka untuk tinggal di rumah pak Hendra. Memang rumah itu lah menjadi rumah utama mereka, untuk berkumpul. Di tambah lagi dengan dua menantu mereka yang sedang hamil muda.


Dan kini kediaman rumah pak Hendra menjadi ramai. Apalagi sikap Hilda yang kini sudah membaik dengan Gita. Membuat suasana menjadi hangat.


Gita yang sering di acuhkan oleh adik iparnya, bukan membuat Gita menjadi ikut benci atau acuh. Tapi Gita secara sabar mendekati Hilda.


Flashback on


Setelah kejadian di rumah Lukman, saat Hilda memarahi Gita. Bunda dan pak Hendra juga mendiami Hilda. Setelah Lukman menikah, bunda dan pak Hendra pergi bersama mamah Henny ke tempat om Ridwan selama beberapa hari. Tepat saat itu Hilda sakit suhu tubuhnya sangat demam. Dan tepat saat itu Gita datang untuk mengambil barang nya yang tertinggal di rumah itu. Lalu melihat mbok Inah membawa makanan dari kamar Hilda.


" Loh mbok, itu makanan kenapa di bawa keluar.?"


"Ini mba Gita, mba Hilda sakit dia gak mau makan. Makanan nya sudah dingin mbok mau ganti sama yabg baru".


"Hilda sakit mbok, ya ampun kasian. Coba nanti aku liat Hilda nya deh.?" Mbok Inah pun mengangguk.


Dan Gita pun masuk ke kamar Hilda, memegang kening Hilda yang sangat panas. Gita pun segera mengambil handuk kecil untuk mengompres Hilda.


Saat Hilda membuka matanya, melihat ada Gita berada di sampingnya sedang tertidur dengan posisi duduk. Dan Hilda pun menyentuh keningnya ada handuk untuk mengompres nya. Saat Hilda melihat Gita bergerak, Hilda pun memejamkan matanya kembali.


"Alhamdulillah Hilda sudah tidak panas lagi." Kata Gita yang menyentuh kening adik iparnya itu.


Dan Gita dengan telaten mengurus Hilda yang sakit sampai sehat kembali.


Flashback


Dari situlah Hilda berubah menjadi baik ke Gita, apa lagi dengan kondisi Gita yang mengandung keponakannya.

__ADS_1


Bukan hanya Gita yang menjadi kakak ipar nya, Reni pun juga sama dia sudah menganggap Reni sebagai kakak sepupunya...


bersambung...


__ADS_2