
"Mas Gilang,kamu ngapain.?" Lalu Gita melihat sekeliling kamar nya, bentuk kamar yang sudah berbeda." Kamu pindahkan aku dari kamar Jessy mas.?"
Gilang pun mengangguk dan mengangguk. Lalu Gilang pun mencium bibi* Gita. Mmmmpphh..... Itu lah suara yang keluar dari mulut Gita.
" Aku dari tadi menunggu kamu di sini, tapi kamu malah tertidur di kamarnya Jessy. Dan terpaksa aku membawa dan menculik kamu dari kamar anak ku sendiri, karena kamu tidak bangun saat aku bangunkan". Kata Gilang yang berada di atas tubuh Gita, dengan bertopang pada kedua tangannya.
" Kan tadi kamu yang memperbolehkan aku nemenin Jessy di kamarnya mas. Ya wajar atuh kalau aku ikut tertidur bersama Jessy".
"Tetap saja kalau aku tidak menculik kamu dari kamar Jessy, sampai pagi kamu baru bangun kan. Sekarang kamu aku hukum, aku tidak mau ada penolakan dari kamu". Gilang dengan senyum nakalnya.
Mmmppphh.... Mmmppphh.... Gilang menci*m bibi* Gita. Bibi* mereka saling bertautan, dengan Gilang yang memimpin permainan itu, dan Gita pun terbawa permainan itu. Tidak ada yang saling mengalah untuk menjelajahi area kenikmatan di antara mereka.
Hingga permainan berlanjut ke tahap berikutnya. Gilang melepaskan kemasan pada tubuh Gita, tanpa sehelai benang pun yang berada pada tubuh Gita. Entah lah Gilang melempar kemasannya itu kemana, begitupun juga Gilang yang melepaskan kemasan yang berada di tubuhnya.
Tak lupa Gilang meninggalkan jejak nya di stiap penjelajahannya, dari lekuk leher Gita yang jenjang, sampai ke stiap lembah. Dan Gilang mecoba mendaki dua bukit, dengan menyusuri lembah kenikmatan. Gita dan Gilang sangat haus dalam permainan mereka. Terutama Gilang yang bertahun tahun menahan hasratnya, kini hasratnya bisa di salurkan dengan Gita yang kini sudah sah menjadi istri nya.
Tubuh Gita bergetar saat ada sesuatu mendesak, di bagian yang cukup sulit di masuki. Namun Gilang bisa menenangkan Gita dengan sebuah kecupan lembut yang Gilang berikan.. Nafas Gita terengah-engah saat Gilang memulai permainannya.
Seprai yang awalnya terpasang rapih, kini terlihat tak beraturan. Serta guling dan bantal pun berpencar kemana-mana. Mereka pun bermain, mengikuti arah permainan, sampai mainan pun berakhir.
Tak lupa Gilang pun mengecup kening Gita, lalu memeluk tubuh Gita. Setelah mereka bersih bersih, mereka merasakan lelah, dan mereka pun tertidur dengan saling berpelukan. Dengan Gilang yang enggan jauh dari Gita, sampai saat tertidur pun Gilang tak ingin melepaskan pelukannya dari tubuh Gita.
Tiga hari sudah Gita meninggalkan rumah ayah dan ibunya. Pagi itu Gita merasakan rindu dengan orang tuanya, Gita yakin pasti kedua orang tua nya sangat merindukan dirinya. Terutama pak Jaka, sebagai ayah beliau begitu dekat dengan Gita. Sehari tidak menjahili Gita rasanya ada yang kurang bagi pak Jaka.
Benar saja di kediamannya pak Jaka, beliau sedang duduk termenung di bale santainya.
Bu Siti, dan Fitri yang sedang mengajak main Chika, melihat pak Jaka yang hanya merebahkan tubuhnya di bale santai dengan memegang kipas bambu anyam. Beliau sangat merindukan Gita saat ini, biasa nya pak Jaka suka meminta Gita untuk mencabuti rambut putih yang pak Jaka miliki. Ya biasanya Gita di pinta untuk mencari uban di rambutnya pak Jaka, walaupun tidak banyak tapi suka aja meminta Gita melakukan itu. Kadang selain mencabuti uban,Gita suka memijat kepala ayahnya. Tapi kini pak Jaka merasa kesepian tidak ada Gita, kadang Gita suka di ajak bermain catur bersama beliau. Walaupun Gita tak pernah memenangkan permainan itu, tapi sekedar menemani ayah bermain catur Gita tak pernah keberatan.
__ADS_1
Fitri pun mendekati pak Jaka yang sudah di anggap seperti ayahnya sendiri.
" Yah, ayah kangen sama Gita .?"
Pak Jaka mengangguk kan kepalanya dan tersenyum. Lalu pak Jaka membuang nafas nya yang dirasakan sangat berat.
" Ayah masih belum rela melepaskan tim hore hore ayah itu, menjadi milik pria lain. Padahal ayah lebih ganteng dari Gilang, tapi dia lebih memilih pria itu." Kata pak Jaka yang mencoba menghibur dirinya sendiri.
Fitri dan Bu Siti pun terkekeh mendengar ucapan pak Jaka.
"Yah, kalau Gita tidak memilih Gilang. Apa ayah rela kalau Gita selalu sendirian, melihat ayah dan ibunya itu selalu uwuh di depan Gita. Membuat Gita menunjukan wajah mupeng nya yah, mau gitu kalau Gita ngeces dan Qobul ajiwa jomblonya meronta ronta yah". Fitri berbicara pada pak Jaka yang tak mengerti dengan kata katanya. Yang membuat Bu Siti tertawa melihat ekspresi wajah suaminya.
" Meronta-ronta, uwuh, mupeng. Bahasa mu Fit, ayah gak ngerti. Ayah sering dengar tuh anak anak sekolah suka bilang seperti itu kalau lewat. Sampe sampe ibu ibu yang beli sayuran ayah, ketularan ngomongnya kaya gitu.
Memang apaan si Fit artinya , ayah tidak tau. Yang ayah tau harga sayuran dan sama harga cabe lagi mahal. Kalau tiga kata itu ayah gak tau sama sekali.?" Pertanyaan pak Jaka, membuat Fitri dan Bu Siti tertawa mendengarnya.
Sedangkan di atas balkon kamar, Gita memegangi alat gawai nya. Gita sedang melihat fotonya bersama ayahnya, dan ibu nya. Semakin lama, air mata yang ia tahan pun mengalir, di sudut matanya.
"Kamu kenapa sayang.?"
Gita tersenyum dan menggelengkan kepalanya." Aku nggak kenapa-kenapa mas".
"Kalau kamu nggak kenapa kenapa,itu kenapa mata kamu merah. Coba kamu cerita ke mas, apa ada yang kamu ceritakan ke mas.?" Kata Gilang dengan menatap wajah istrinya.
"Aku kangen sama ayah dan ibu dirumah mas. Bagaimana mereka sekarang, aku kangen sama beliau." Kata Gita dengan mata nya yang kembali mengembun, dan dengan suaranya yang parau.
Membuat Gilang tak tega melihatnya.
__ADS_1
" Kamu ingin kesana, main kerumah ayah ibu.?" Tanya Gilang dan di angguki oleh Gita." Kenapa kamu tidak bilang, maaf kemarin kita batal kesana. Karena ada beberapa kerjaan yang aku urus, karena laporan kerjaan dari Bandung."
" Tidak apa-apa mas, aku faham ko. Tapi apa boleh aku main kerumah ayah dan ibu, selain mereka aku juga kangen sama Chika.?" Tanya Gita dengan wajah memohon kepada suaminya.
Gilang menatap wajah Gita yang kini sudah menjadi istri nya. Lalu Gilang mengangguk kan kepalanya, dan tersenyum." Iya nanti siang kita kesana ya, apa mau kita nginap di sana.?"
" Serius mas, kita kesana dan boleh menginap di sana.?" Tanya Gita memastikan kembali.
"Iya sayang, asal itu membuat kamu senang". Gilang sambil membelai rambut istrinya.
"Trimakasih mas, aku senang banget rasanya. Trimakasih yasudah aku siap siap dan beri tau Jessy dulu ya..." Ucap Gita yang merasa senang. Lalu Gita hendak melangkah, namun tangan Gita di cekal oleh suaminya.
"Mau kemana sih Hem....?"
" Mau bilang Jessy, kenapa mas memang nya.?"
"Ada yang kurang ga, ucapan terimakasih kamu itu.?" Gita napak berpikir, lalu Gita menggelengkan kepalanya." Ada Anggita kamu melupakan sesuatu, masa hanya bilang trimakasih saja. Kurang lengkap itu Anggita binti bapak Jaka". Kata Gilang yang gemas dengan istrinya itu. Jadi bawa bawa nama mertuanya.
Gita terkekeh mendengar ucapan suami nya itu, menyebutkan nama ayahnya.
" Memang kamu mau apa,kalau ucapan terimakasih saja kurang.Apa kamu mau kopi,atau kue, nanti aku buatkan ya".
Akhirnya Gilang tidak sabaran, dan bergerak cepat. Gilang mencium bibi* Gita. Mata Gita terbelalak sempurna dapat serangan dadakan dari suaminya itu. Cukup lama Gilang menci*m bibi* Gita. Sampai Gita menahan nafasnya, barulah Gilang berhenti menjelajahi bibi* Gita.
Saat Gilang melepaskan ciumannya, barulah Gita bernafas lega.
"Dasar kamu baru di cium begitu saja sudah menahan nafas. Kalau kamu kehabisan nafas bagaimana Git. Kan tidak lucu Git, ada berita tentang korban kehabisan nafas karena berci*man terlalu lama oleh suaminya." Kata Gilang yang meledek Gita. Membuat Gita memajukan bibirnya karena kesal dengan ledekan suaminya.
__ADS_1
bersambung....
...Hai hai hai...... Trimakasih banyak sudah membaca cerita ku yang receh ini.. Dan aku juga tak pernah bosen buat ingetin kalian, jangan lupa tinggalkan jejak kalian. Komentarnya yang positif,dan kalau memang kalian berkenan vote dan hadiahnya apa lagi lebih boleh hihihihi... Dan Author banyak banyak Trimakasih untuk kalian, sehat sehat kalian semua.👍🙏🙏...