
Adegan bikin mewek, Jangan lupa siapkan tisu,atau kanebo...!!!!!!
Dari situlah Hilda berubah menjadi baik ke Gita, apa lagi dengan kondisi Gita yang mengandung keponakannya.
Bukan hanya Gita yang menjadi kakak ipar nya, Reni pun juga sama dia sudah menganggap Reni sebagai kakak sepupunya...
Kini Gita berada di dalam kamarnya, sedang di temani oleh suaminya.
Gilang yang masih sibuk mengecek hasil laporan usahanya di Bandung. Karena Gilang masih belum melihat kesana beberapa bulan ini. Pasca kecelakaan itu, Gilang tidak bisa meninggalkan istrinya.
Jadi Gilang hanya melihat hasil laporan, perkembangan toko melalui email saja.
Gilang juga berniat ingin mengajak keluarga besarnya kesana untuk liburan.
Gita sedang asyik dalam lamunannya.
' Gak nyangka lebaran tahun ini aku benar benar mempunyai keluarga yang lengkap. Siapa sangka aku di nikahi oleh bos ku sendiri di pabrik. Bos yang awal baru kenal terlihat garang, namun terlihat hangat saat sudah masuk jadi bagian hidup nya. Malah sekarang gak nyangka di perut ku ini ada bayi dari buah cinta kami. Hihihi... Dan aku jadi Mahmud yang mempunyai tiga anak. Hihihi ...'
Gita tersenyum namun masih dalam lamunannya. Gilang yang lagi fokus di depan layar laptopnya. Menoleh ke arah istrinya, merasa heran istrinya sedang senyum senyum sendiri.
Gilang yang penasaran langsung meninggalkan laptopnya, lalu berjalan mendekati istrinya. Gilang menggerakkan tangan nya di depan wajah Gita. Gita pun tersadar kalau di hadapannya ada suaminya.
"Kenapa mas.?"
Gilang lantas tersenyum, lalu Gilang menarik ujung hidung istrinya.
"Mas yang harusnya bertanya. Kamu kenapa. Heem .. senyum senyum sendiri seperti itu.?" Gita kaget karena suami melihat dirinya senyum senyum sendiri.
"Gak apa-apa mas".
" Bohong, lagi bayangin sama mantan kamu ya.?" Goda Gilang, membuat Gita terkejut dengan ucapan suaminya itu.
__ADS_1
Wajah Gita berubah menjadi kesal.
"Apaan sih mas, mantan, mantan, mantan aja yang kamu tebak itu. Gak ada pembicaraan lain apa selain mantan, kamu nyebelin mas". Gita ngambek, dan menutup wajahnya dengan selimut.
" Aku bercanda sayang. Aku minta maaf, jangan marah ya." Bujuk Gilang agar Gita tak merajuk. Namun nyatanya Gita masih marah.
"Habis nya aku melihat kamu senyum senyum sendiri. Ya aku kan ngeledek aja gak ada niatan bikin kamu marah".
"Aku senyum senyum bayangin kita, bukan mantan tau gak. Ngerusak halu aja sih jadi nya." Bibir Gita sambil cemberut.
"Bayangin kita.? Bayangin apa sayang". Goda Gilang.
"Tau ahh... Aku males sama kamu. Nyebelin benget kamu tuh." Dengan bibirnya maju dan terus ngedumel Gita turun dari tempat tidurnya. Namun di halangi oleh Gilang.
"Eeit... Mau kemana si sayang...?"
"Gak tau...." Jawab nya ketus. Membuat Gilang menahan rasa gemas kepada Gita.
Sebenarnya Gita ingin tersenyum, karena merasa geli dengan ucapan suami nya itu. Namun Gita berusaha untuk menahan nya agar tidak tertawa.
"Kamu mau tau aku mau ke mana.? Aku mau ke tempat para mantan terindah aku..." Perkataannya Gita berhasil membuat Gilang membelalakkan matanya. Dan Gita pun langsung meninggalkan suaminya yang berada di dalam kamarnya.
"Gita sayang, jangan dong. Jangan temuin mantan mantan kamu itu.!" Kata Gilang dengan berteriak.
'Emang enak rasain, lagi nyebelin banget jadi orang. Mancing rasa cemburu, udah cemburu kalang kabut sendiri jadi nya.' Sambil berjalan Gita terus ngedumel sendiri.
Saat Gita melewati kamar Ali, pintu kamarnya tak di tutup rapat. Gita melihat apa ada Ali di dalam, dan ternyata Ali memang di dalam. Dia sedang melihat selembar foto, yang terus ia perhatikan.
"Bapak, ibu. Ali sebenarnya kangen dengan kalian. Ali sangat merindukan kalian. Apa kalian tau, sekarang Ali sudah mempunyai kedua orang tua. Orang baik mengangkat aku sebagai anak mereka. Bapak dan ibu bisa liat kan mereka sangat baik, bukan hanya mamah Gita dan papah Gilang. Semuanya pun baik dengan ku. Kalian tau aku mempunyai adik namanya Jessy, dia anak yang baik juga. Dan aku juga akan mempunyai adik lagi, karena mamah Gita sedang mengandung. Ali senang karena Ali punya banyak keluarga"Sesekali Ali menyeka air matanya, dan sambil sesenggukan. Sambil memandang foto itu." Pak, Bu. Ali hanya bisa mengirim kan doa untuk kalian, semoga setiap dia yang Ali kirimkan untuk kalian. Membuat kalian tenang dan bahagia." Ali mencium foto itu, lalu di dekap nya sangat erat.
Gita pun menghampiri Ali yang sedang memejamkan matanya, sambil memeluk foto orang tua nya yang usang.
__ADS_1
Gita membelai rambut Ali, dan Ali pun terkejut saat ada yang menyentuh nya. Bocah itu segera menghapus air matanya,dan tersenyum ke arah Gita. Terlihat kuat Seakan akan tidak terjadi apa-apa.
"Mamah Ko disini.? Bukannya mamah tadi katanya lelah, dan ingin istirahat.?"
Ali melihat wajah wanita baik yang kini ada di hadapannya matanya memerah dan mengalir air mata." Mamah menangis, mamah Gita kenapa. Apa ada yang mamah Gita rasakan, Ali panggil papah ya.?" Ali terlihat sedikit khawatir ,dan hendak bangun dari duduknya, namun di tahan oleh Gita.
"Jangan sayang, mamah menangis karena mamah senang. Mamah senang mempunyai anak laki-laki seperti kamu. Sudah baik, penyayang dengan kedua orang tuanya, mempunyai akhlak baik. Mamah Gita beruntung, papah membawa kamu jadi bagian keluarga kami. Karena apa? Karena Ali anak yang pemberani, jujur, baik, dan satu lagi, Ali mempunyai akhlak mulia."
"Tapi Ali tidak sepemberani yang mamah Gita bilang, Ali masih suka cengeng mah".
Gita tersenyum." Ali kan kalau cengeng kalau lagi sendirian seperti tadi nangis, iya kan.? Naluri sayang, kamu nangisnya karena merindukan orang tua kamu kan. Kenapa Ali lagi kangen sama kedua orang tua Ali.?" Ali pun mengangguk.
"Ali hanya kangen mah. Ali kangen saat Ali masih kecil, Ali kangen dekapan ibu dan bapak Ali." Ali memejamkan mata dan menutup matanya dengan dua jarinya. Untuk menahan agar tidak menangis.
"Sini peluk mamah Gita sayang, kalau kamu lagi kangen sama bapak dan ibu kamu.?" Gita merentangkan kedua tangannya, lalu tersenyum kearah Ali.
Ali pun mendekat kearah wanita yang sedang mengandung, yang menganggap nya sebagai putra nya. Gita memeluk Ali, dan anak itu menangis sesenggukan, sampai pundak nya bergetar.
Saat Gita memeluk anak laki-laki nya, Gilang pun masuk melihat adegan anak dan ibu yang membuatnya terharu. Sejak Gita meninggalkan di kamarnya, Gilang menyusul Gita di belakang. Dan mendengar semua percakapan antara istri dan anak angkatnya itu.
Saat Gita tau suaminya masuk, Gita meletakan jari nya di bibirnya. Untuk diam tidak bersuara, Gilang pun mengangguk.
"Sekarang Ali bicara, apa yang ingin Ali bicarakan jika mamah ini ibu kandung Ali. Yang sangat Ali rindukan."
Sambil menarik nafasnya, Ali mengeluarkan segala isi hatinya. Di dalam pelukan mamah Gita.
"Bu, Ali kangen sama ibu. Maafin Ali ya Bu, yang selalu menyusahkan ibu. Maafkan Ali juga, kadang Ali suka bikin kesal ibu. Maafkan Ali belum bisa bahagiakan ibu, Ali kangen sama ibu. Kangen masakan ibu, kangen jeweran ibu di telinga Ali. Kangen ibu saat ibu marahin Ali, karena Ali ingin bantuin ibu. Karena ibu maksa Ali untuk sekolah, dan Ali tidak mau, jadi ibu marah. Ali Kangen senyum ibu, kangen tawa ibu, kangen bercanda sama ibu. Apa lagi, saat ibu kaget, karena Ali suka ngagetin ibu. Dan ibu berikan hadiah jeweran itu di telinga Ali. Ali kangen, Ali rindu. Hikss... Hikss... Hikss.. " Ali menangis sampai sesenggukan, membuat Gita pun ikut menangis mendengar nya.
Bukan hanya Gita, Gilang pun merasa tersentuh Hatinya. Saat anak yang sekarang dia angkat sebagai anaknya. Yang dia kenal pemberani,jujur baik. Kini dia menangis karena merindukan orang tua kandung nya, yang sudah tiada.
Bersambung....
__ADS_1