Cinta Anggita

Cinta Anggita
Persenan


__ADS_3

Bukan hanya Gita, Gilang pun merasa tersentuh Hatinya. Saat anak yang sekarang dia angkat sebagai anaknya. Yang dia kenal pemberani,jujur baik. Kini dia menangis karena merindukan orang tua kandung nya, yang sudah tiada.


Gilang pun menghampiri, dan duduk di samping istrinya. Lalu mengusap lembut rambut Ali. Ali melihat ternyata ada seorang pria, yang Ali anggap sebagai malaikat.


"Papah.." Gilang tersenyum. Ali segera menghapus air matanya.


"Ali kangen sama orang tua kamu.?" Ali mengangguk." Kirim dia selalu untuk mereka ya, nanti kita ziarah ke makam beliau. Ali tau kan tempat nya.?"


"Tau pah, serius pah kita kesana.?" Gilang pun mengangguk kan kepalanya sambil tersenyum. Untuk meyakinkan Ali.


Ali pun duduk berlutut di hadapan Gita dan Ali, lalu mencium tangan dua orang yang sudah menjadi orang tua nya.


" Trimakasih untuk kalian berdua. Orang yang baru Ali kenal, tapi mempunyai hati malaikat. Menganggap Ali sebagai putra kalian, Ali beruntung mempunyai orang tua baik seperti mamah papah. Aku gak tau harus bagaimana lagi berterima kasih pada Kalian. Hanya dengan berbakti kepada kalian lah yang akan Ali lakukan. Ali janji akan sayang dengan kalian semuanya, Ali janji gak akan nakal. Trimakasih sudah menjadikan Ali sebagai anak kalian. Boleh Ali minta sesuatu dari papah mamah.?" Gita dan Gilang saling berpandangan.


" Apa sayang, Ali minta apa.?"


" Ali ingin minta pelukan dari mamah Gita dan papah Gilang". Gilang dan Gita saling memandang, dan mereka memeluk tubuh Ali.


"Jadi pria yang kuat ya nak. Yang bisa melindungi keluarga mu kelak. Walaupun kami bukan orang tua kandung kamu, tapi kami menganggap kamu sebagai anak kandung kami. Papah bangga dengan keberanian kamu, sikap dewasa kamu, kejujuran kamu. Jadi lah anak yang pemberani, yang melindungi keluarga, dan satu lagi taat kepada Allah. Jangan pernah melupakan nya, tetap menjalankan kewajiban nya, jangan pernah kamu tinggalkan. Apapun keadaan kamu, mau di atas atau di bawah sekali pun kehidupan kamu nanti. Mintalah kepadanya, curahkan segala isi hati kamu nak. Doa kan lah kedua orang tua mu jangan pernah putus untuk beliau. Kamu anak Sholeh, papah bangga sama kamu." Nasihat Gilang untuk Ali putra angkat nya. Ali pun mengangguk kan kepalanya.


Kini waktu sudah menunjukkan malam hari. Di mana malam itu adalah malam yang di tunggu umat muslim, yaitu malam takbiran.


Malam takbiran merupakan malam yang identik dengan keceriaan dan kesemarakan menjelang datangnya kemenangan bagi umat muslim di hari raya Idul Fitri.

__ADS_1


Allaahu akbar Allaahu akbar Allaahu akbar, laa illaa haillallahuwaallaahuakbar. Allaahu akbar walillaahil hamd.


Terdengar suara takbir menggema di seluruh musholah dan masjid .


Selama takbiran, kita akan mengumandangkan takbir, tahmid, dan tahlil hingga pagi hari menjelang shalat Idul Fitri.


Pak Hendra, Lukman, Gilang mengajak Ali untuk ikut ke mushollah. Mereka akan meramaikan mushollah untuk berkumpul dengan jama'ah mushollah untuk mengumandangkan takbir, tahmid, dan tahlil.


Keesokan paginya seluruh umat muslim melakukan shalat idul Fitri,di masjid dan di halaman masjid.


Selesai shalat pak Hendra serta anak, menantu, dan cucu, semuanya kumpul ramai di rumahnya.


Semuanya saling bersalam mencium tangan meminta maaf dari yang tertua, yaitu pak Hendra, Bu Yuni dan mamah Henny. Selanjutnya dengan para pasangan mereka, dan sampai yang terkecil Ali dan Jessy termasuk Hilda.


Dan pasti nya mereka sangat senang, karena mendapatkan amplop banyak dari keluarganya.


Terutama Ali yang melihat satu amplop nya ada beberapa lembar uang berwarna biru. Yang di berikan papahnya, dan beberapa lembar uang berwarna merah dari opa Hendra. Mata Ali berbinar-binar merasa bahagia mendapatkan persen cukup banyak hanya dari satu rumah. Dulu mana pernah mendapat cuan segitu banyak saat di kampungnya.


Dan kini keluarga pak Hendra pun keliling, kampung untuk bersalaman. Memang sudah tradisi bersalaman dengan para tetangga mereka. Saling meminta maaf dan memaafkan. Bukan hanya keliling rumah mereka pun kedatangan tamu-tamu dari para tetangga yang berlebaran di rumah mereka.


Dan tentu nya persenan yang Jessy dan Ali dapatkan lebih banyak. Hingga mereka harus menyimpannya di dalam tas kecil mereka masing-masing.


Memang begitulah tradisi kita, membagikan persenan saja. Sudah Membuat senyum bahagia di wajah mereka.

__ADS_1


Setelah bersalaman, seluruh keluarga Wijaya pun menikmati ketupat, yang sudah bunda dan mamah Henny masak. Dan macam macam makanan lainnya.


Dan Saat Siang harinya. Keluarga Wijaya berkunjung untuk lebaran, kerumah para besan mereka. Pertama mereka mengunjungi rumah Pak Jaka. Di sana pak Jaka dan istri, Fitri Dimas,dan anak mereka pun juga menyambut kedatangan besannya. Tentunya Gita sangat bahagia bisa datang kerumah orang tuanya dengan membawa keluarga besarnya.


Di sana keluarga Gilang di hidangkan banyak jamuan khas Betawi. Bu Siti membuat tape ULI, geplak, wajik, dan tentunya dodol Betawi serta kue jipang pun tersedia. Ada juga kue satu yang berbahan dasar kacang hijau, Sagon dan akar kelapa. Sebagian makanan di buat sendiri oleh Bu Siti dan pak Jaka, dan sebagian ada yang dari hantaran.


Dan Gilang lah yang begitu semangat mencicipi masakan buatan mertuanya. Entah kenapa Gilang memakan tape ULI, begitu menikmati. Padahal setau bunda Yuni dan pak Hendra Gilang tidak suka dengan makanan itu. Melihat anaknya memakan makanan itu dengan sangat menikmati bunda merasa heran.


Gita yang melihat suaminya makan tape ULI, dengan sangat nikmat hanya tersenyum. Sedangkan Lukman memakan kue jipang, atau banyak yang bilang teng teng. Lain lagi pak Hendra memakan kue kembang goyang. Semua sangat menikmati kue buatan Bu Siti.


Lukman dan Gilang benar benar menikmati makanan yang berada di rumah orang tua Gita. Dan Hilda pun tak mau kalah, ia juga mencicipi makan lebaran yang di sediakan oleh orang tua kakak iparnya.


Dan pak Hendra pun tak mau kalah, beliau justru menyantap ketupat sayur buatan Bu Siti. Bagaimana tidak pak Jaka tergiur dengan sayur ketupat yang di pakaikan irisan petai di sayur itu. Ada juga rendang jengkol, dan ada jengkol balado. Benar benar di nikmati sekali oleh pak Hendra, dan bunda serta mamah Henny pun juga sama. Mungkin makanan seperti rendang daging,dan ayam bagiannya sudah biasa. Tapi kalau makanan khas Betawi jarang sekali mereka makan dengan sangat nikmat. Seperti buatan Bu Siti.


Setelah di rasa cukup, mereka pun mengunjungi kerumah keluarga Reni. Kedua orang tua Gita pun juga ikut menemani.


Rumah Reni banyak orang, mungkin saudara nya yang datang berkunjung. Semuanya pun menyambut kedatangan keluarga besar dari keluarga pak Hendra,serta pak Jaka. Keluarga besar Reni lebih banyak, maklum namanya keturunan Betawi banyak sanak saudara yang menyaba rumah keluarga nya.


Apalagi babeh Romi anak pertama,dari 7 saudara. Dan ditambah lagi, di sana ada engkong nya Reni,kong Rojak.


Rumah Reni membeludak karena keluarga besar kumpul di sana. Bukan hanya rumah Reni di lapangan tepatnya halaman rumah Reni pun rame, sampai di pasang tenda dari bahan terpal agar tidak panas.


Di mana halaman itu sering di pakai untuk latihan tiap malamnya. Ya rumah Reni memang sering ada yang latihan beksi, yang terkenal bela diri khas dari Betawi.

__ADS_1


Dulu nya kong Rojak yang melatih silat beksi, namun karena faktor usia. Jadi di teruskan oleh keturunan nya termasuk babeh Romi,dan Riko pun juga turut membantu melatih. Termasuk ayah Jaka yang ikut dalam kelompok membantu melatih silat beksi..


__ADS_2