
Lima jam perjalanan dari Bandung ke Jakarta, lebih cepat dari pada kemarin saat berangkat. Kini mereka semua sudah sampai di rumah orang tua Gilang.
Tentunya bunda Yuni dan pak Hendra merasa senang, karena anak cucu dan menantu sudah datang dengan selamat.
Bu Yuni pun langsung menghampiri cucunya,lalu memeluk cucunya yang sangat ia rindukan.
Seminggu sudah hari hari yang yang Gita jalani sejak kepulangan nya dari Bandung. Dan Gilang juga memberi tau kepada orang tuanya, kalau Gilang ingin menempati rumahnya yang sudah lama di tinggal. Karena Gilang sekarang sudah mempunyai keluarga sendiri dan sekarang juga sudah ada adiknya yang menemani kedua orangtuanya.
"Ayah,bunda. Apa boleh Aku ingin mengajak anak dan istri ku untuk tinggal dirumah ku yang sudah lama aku tidak tempati. Aku pikir di sini ada Hilda yang menemani bunda dan ayah, jadi aku ingin mengajak keluarga ku menempati rumah yang di sana. Bolehkan yah,Bun. Aku juga akan sering sering kesini untuk main jenguk kalian, dan mengajak anak istri ku.?"
Kedua orang tua Gilang saling menatap, lalu melihat Gilang kembali.
"Memang seharusnya seperti itu Lang, karena kamu sudah mempunyai keluarga sendiri sekarang. Yasudah kamu boleh membawa keluarga kamu menempati rumah mu yang si sana. Tapi ingat, sering sering lah ajak keluarga mu main kesini. Sebenarnya tanpa kalian rumah ini jadi sepi. Tapi itu sudah kewajiban kamu,untuk membentuk keluarga kamu sendiri dengan nyaman dan bahagia. Kami sebagai orang tua kamu, hanya bisa mendoakan kalian, agar kalian menjadi keluarga yang bahagia." Bunda pun menganggukkan kepalanya, dan tersenyum ke arah Gilang.
"Amiin, iya trimakasih ayah bunda. Kalau begitu lusa Gilang akan pindah dan menempati rumah Gilang". Pak Hendra dan Bu Yuni pun mengangguk kan kepalanya.
Saat Gilang, Gita dan Jessy berada di dalam kamar. Gilang memberi tahu kalau mereka akan pindah dan menempati rumah yang lama. Walaupun rumah mereka di bersihkan dan di tempati oleh penjaga dan pengurus rumah.
"Ow iya Gita besok kita kemas barang barang kita, lusa kita akan tempati rumah yang pernah aku beli dulu. Jessy sayang mau kan kalau kita tempati rumah kita yang dulu.?"
"Jessy ikut saja pah, lagian kan sekarang sudah ada mamah Gita. Jadi aku tidak kesepian lagi seperti dulu, yang hanya kita berdua. Walaupun di sana ada ibu Ida tapi aku merasa kesepian pah.".
"Mas, apa kedua orang tua kamu setuju kalau kita pindah. Aku tidak enak, nanti ayah dan bunda pasti kesepian gak ada Jessy yang bikin rame .?"
"Sayang dengar ya, aku gak akan ngajak kalian, Kalau orang tua ku tidak mengizinkan kita untuk pindah. Dan mereka pun setuju kalau kita menempati rumah kita yang di sana. Bahkan kalau ayah dan ibu mu kangen dengan kamu, bisa kamu ajak main kerumah." Mendengar kata orang tuanya,Gita tersenyum.
" Benar mas, ayah dan ibu boleh main, dan bahkan bisa menginap". Gilang pun mengangguk kan kepalanya.
"Iya sayang orang tua kamu, ya orang tua aku juga. Bagaimana kamu mau kan sayang.?"
"Iya sayang aku mau, kalau Jessy setuju".
__ADS_1
Dan akhirnya Mereka kini sedang bersiap-siap mengemas barang, untuk pindah kerumah Gilang yang dulu pernah Gilang tempati.
Gilang tidak banyak bawa barang, Gilang hanya membawa sebagian pakaian Meraka saja. Itu tidak di bawa semuanya, karena suatu saat jika mereka ingin menginap, tidak perlu bawa baju banyak.
Hingga tiba saatnya Gilang beserta anak dan istrinya pamitan untuk pindah. Ayah, Bunda dan Hilda pun mengantar sampai depan rumah.
Bunda yang berjalan di samping Gita, mereka saling bicara.
" Bunda dan ayah jaga kesehatan ya."
" Iya sayang, nanti kalian sering sering main ya kesini. Pasti bunda kangen deh dengan kalian, kangen sama tawa kalian. Oow iya boleh kan kalau kita main kesana..?"
" Tentu boleh dong bunda,dan insya Allah nanti aku main sama Jessy dan mas Gilang kesini. Bunda Maafin aku ya selama aku di sini, mungkin aku suka bikin bunda kesal.?"
"Tidak sayang, kamu tidak pernah membuat bunda kesal. Justru adanya kamu bunda tidak kesepian lagi, ada teman ngobrol, ada teman masak. Justru bunda yang minta maaf, mungkin bunda suka bawel,dan suka bikin kamu kesal."
'' Tidak sama sekali bunda, aku malah nyaman sama ayah dan bunda. Ya sudah kalau begitu Gita pamit ya bunda, jaga kesehatan." Pesan Gita ke ibu mertua nya, Lalu Gita mencium tangan mertuanya. Dan Bu yuni pun memeluk menantu nya, yang sudah dia anggap anaknya sendiri.
" Temani mamah kamu ya nak, Jangan nakal nurut kata mamah dan papah, Jessy kan anak pintar." Jessy pun mengangguk.
"Iya Oma".
"Ayah bunda kami berangkat ya, kalian jaga kesehatan". Lalu Gilang melihat ke arah adiknya." Kamu juga Hilda, kamu jaga ayah dan bunda, ini sudah tanggung jawab kamu. Kakak gak mau kamu seperti dulu keluyuran gak jelas, lihat mereka yang selalu menuruti permintaan kamu. Sekarang kamu yang menuruti permintaan mereka, bantu ayah. Kamu belajar membantu pekerjaan ayah, Jangan hanya bisa main dan main saja kamu sudah dewasa." Hilda mengangguk saat Gilang memberikan pesan kepada nya.
"Iya ka aku akan belajar membantu usaha ayah. Aku juga akan menjaga mereka ko, itu kan dulu ka, sekarang tidak." Gilang pun mengangguk dan menyentuh kepala adiknya itu. Memang Hida takut jika kakak nya yang sudah bicara.
Mangkanya Hilda jadi susah untuk menyakiti Gita, jika Hilda sampai menyakiti Gita bisa gawat. Karena itu akan berurusan dengan kakaknya yang garang,
" Yasudah aku berangkat ya semua assalamualaikum".
"Waalaikumsallam". Gilang serta anak istri nya pun masuk kedalam mobilnya.
__ADS_1
Dan Gilang melaju kendaraan nya meninggalkan kediaman rumah pak Hendra. Kurang lebih satu jam perjalanan dari rumah pak Hendra ke rumah Gilang yang akan di tempati.
Kini mereka sudah sampai di rumah yang Gilang maksud. Rumah yang Gilang beli untuk suatu saat ia tempati dengan keluarga kecilnya. Saat masih ada mendiang istrinya, namun belum sempat Gilang tempati Monica sudah pulang terlebih dahulu. Dan Gilang datang hanya untuk mengecek keadaan rumahnya saja, paling menginap jika dia suntuk dengan keadaan dan mencari ketenangan di rumah itu .
Walaupun rumah itu lima tahun Gilang sudah miliki dan jarang Gilang tempati. Kini Gilang senang karena rumah akan ia tempati kembali, dengan keluarga kecil mereka.
Saat Gilang memarkirkan mobilnya, seluruh asisten rumahnya menyambut kedatangan Gilang dan keluarga nya
"Selamat datang pak Gilang, ibu,dan neng Jessy". Gilang tersenyum ada tiga orang yang menyambut kedatangan mereka.
"Iya terima kasih ibu, bapak. Bagaimana kabar bapak Rohmat, dan ibu Ida.? Loh ini siapa Bu saya baru lihat, sambil menunjuk ada gadis kecil di samping mereka.
"Maaf pak ini anak ke dua kami, yang kemarin tinggal sama nenek dan kakeknya. Sekarang ikut saya karena nenek dan kakek nya sudah tiada ". Kata pak Rohmat yang tugasnya menjaga rumah nya.
Dan anak gadis kecil itu tersenyum dan menundukkan kepala nya.
"Ow begitu,ya sudah tidak apa-apa pak Rohmat. Dari pada tidak ada yang menjaga dia, saya senang jadi anak saya Jessy ada temannya di sini. Iya kan sayang." Gilang melihat Jessy yang Mengangguk kan kepalanya.
"Iya pah, jadi Jessy ada teman bermain. Nama kamu siapa.?" Tanya Jessy sambil melambaikan tangan nya untuk berkenalan.
Gadis kecil itu tersenyum lalu membalas tangan Jessy." Aku Jenita Rahmawati, panggil aja aku Jenni." Mendengar nama Jenni Gita pun tersentak kaget.
Gadis berusia 7 tahun itu bernama Jenni, seperti adiknya yang sudah tiada. Ada rasa sedih dan senang saat Gita mendengar nya.
"Hai nama kamu Jenni. Kamu cantik lucu lagi, berteman ya sama Jessy usia kalian beda 1tahun loh." Tanya Gita dengan memegang tangan anak itu, Dan Jenni pun mengangguk.
"Kalau Jenni anak ke dua kalian, kemana anak pertama kalian.?" Tanya Gita
"Anak kami ada di pesantren Bu, Usianya hanya beda dua tahun saja dari Jenni." Jawab Bu Ida dengan memegang anaknya.
" Ow begitu, yasudah Jenni nanti kamu berteman ya sama Jessy anak om dan Tante." Jenni pun mengangguk." Baik kalau begitu kami masuk ya, pak, Bu saya masuk dulu ya". Pamit Gilang dengan mengusap rambut Jenni, lalu pak Rohmat dan istrinya pun mengangguk kan kepalanya.
__ADS_1
Bersambung.....