Cinta Yang Terpendam

Cinta Yang Terpendam
Misi akan segera dimulai


__ADS_3

" Lebih baik den Sultan pulang dulu, biar si mbok yang jagain non Hanum." ucap mbok Darmi.


Begitu mendengar tentang kecelakaan yang menimpa Hanum, wanita tua itu bersama suaminya segera menyusul ke rumah sakit. Dia sudah membujuk Sultan untuk pulang sekedar istirahat sejenak namun pria itu tetap pada pendiriannya.


" Tidak apa-apa mbok, saya mau di sini saja."


" Tapi kan den Sultan butuh istirahat, sudah tiga hari ini Aden tidak tidur. Si mbok takut nanti den Sultan sakit."


" Sultan bisa istirahat di sini mbok, kalau Sultan pulang, nanti malah kepikiran sama Hanum."


" Lagian, kenapa Aden tidak memberitahukan hal ini pada nyonya? kalau sampai tuan sepuh tahu dari orang lain, den Sultan bisa kena marah nanti. Kita tidak bisa menyembunyikan tentang kecelakaan non Hanum terus den, mau sampai kapan?"


" Sultan pikir, tidak memberitahukan tentang kejadian ini pada mami di Semarang, jauh lebih baik mbok. Kakek kan juga baru sembuh, Sultan tidak mau menambah pikiran. Kasihan mami mbok, kalau harus jauh-jauh kemari, sementara mami juga harus mengurus kakek."


" Ya sudah kalau begitu, si mbok cuma takut saja, bagaimana kalau nanti tuan sepuh marah jika mendengar berita ini dari orang lain."


" Mbok jangan khawatir." Sultan mengusap pundak wanita itu. " Sultan masuk dulu mbok, mau lihat Hanum."


" Iya den."


Sultan pun memasuki ruang ICU, ruang yang telah di tempati Hanum sejak selesai operasi, dia trenyuh saat melihat istrinya terbaring lemah dengan berbagai selang yang menempel di tubuhnya.


Perlahan dia duduk di sana, di pandanginya wajah pucat Hanum. Di usapnya lembut kening istrinya, tangisnya hampir pecah jika mengingat rentetan peristiwa kecelakaan itu. Kejadiannya begitu cepat sampai Sultan tak bisa melakukan apapun demi menyelamatkannya waktu itu.


Cukup lama Sultan berada di ruangan itu, hingga akhirnya dia terlelap dengan terus memegang tangan istrinya.


Sultan yang hampir memasuki alam mimpi tiba-tiba tersadar saat merasakan jemari istrinya bergerak perlahan. Dia begitu terkejut, dia pun menegakkan kepalanya, di lihatnya jari tangan Hanum yang mulai berkedut.


" Hanum, sayang." dia menangis haru saat melihat mata istrinya mulai terbuka.


" Ssshhh ..." untuk sesaat Hanum berusaha menyesuaikan diri dengan cahaya yang menyilaukan matanya.


Hanum mengerjapkan matanya, dia mendesis menahan sakit sambil memegangi kepalanya yang terbalut kain perban.


Sultan yang begitu senang melihat istrinya telah sadar, dia lalu memencet tombol yang ada di samping bed pasien. Dan tak lama kemudian muncul seorang dokter dengan dua orang suster di belakangnya.


" Dok, istri saya sudah sadar, tolong periksa kondisinya dok." Sultan memohon.


" Baik pak, bapak sebaiknya tunggu di luar."


Sultan pun keluar dari ruangan itu, dilihatnya mbok Darmi yang panik sudah menangis tersedu-sedu. Wanita tua itu duduk di bangku ruang tunggu dengan kepala menunduk ke bawah.


" Mbok." lirih Sultan, dia lalu duduk di samping mbok Darmi.


" Ya ampun den." mbok Darmi langsung memeluk Sultan. " Apa yang terjadi sama non Hanum den?"


Mbok Darmi ketakutan saat melihat dokter dan suster berlarian masuk ke dalam ruang ICU. Dia takut kalau terjadi hal buruk pada Hanum.


" Tidak terjadi apa-apa mbok."


" Si mbok takut den." wanita itu masih menangis.


" Jangan takut mbok, Hanum sudah sadar, Sultan memanggil dokter untuk memeriksa kondisinya."


" Yang benar den? jadi non Hanum sudah sadar?" tanyanya, sorot mata sendu itu berubah menjadi binar kebahagiaan.


" Ya mbok."


"Syukurlah kalau begitu."


Mbok Darmi mengurut dadanya, lega. Tak henti hentinya mulutnya bergerak, terus merapal mantra pujian pada Tuhan, berterimakasih atas mukjizat yang di berikan hingga Hanum kembali sadar hari ini.


Akhirnya, doanya selama ini telah sampai dan di dengar oleh Tuhan, tak terkira bahagianya saat ini.


Dokter pun keluar.


Mereka berdiri dan langsung menyambut dokter pria itu dengan berbagai pertanyaan.


" Bagaimana keadaan istri saya dok? dia baik-baik saja kan?"


" Nona Hanum telah sadar, kondisinya bahkan luar biasa baik untuk pasien dengan riwayat cedera otak akut pada umumnya. Saya sendiri sampai kaget melihat kondisinya, semua berkat doa tulus dari Anda. Tidak ada yang perlu di takutkan karena pasien sudah melewati masa komanya. Saya akan tetap memantau perkembangan kondisi kesehatannya. Pasien akan segera kami pindahan ke ruang perawatan." terang dokter itu.


" Terimakasih banyak dok."


" Sama sama pak, saya tinggal dulu."


.


Tiga jam kemudian di ruang rawat.


Sultan terus menemani istrinya, dia duduk di samping bed rumah sakit. Sudah selama itu pula mereka diam, hanya saling menatap, berbicara lewat bahasa mata. Dan hanya Tuhan, juga mereka berdua saja yang tahu apa isi hati mereka masing-masing.


Sementara mbok Darmi terus tersenyum simpul melihat tingkah mereka dari jauh, wanita tua itu pun membagi perasaan bahagianya dengan sang suami yang saat ini telah duduk bersamanya, di sofa.


Hanum memegangi lehernya, rasanya tenggorokannya kering, dia menginginkan air untuk melepaskan dahaganya. Sultan yang melihat gerak-gerik istrinya pun bergegas mengambil sebotol air mineral beserta sebuah sedotan.


" Kamu haus?" tanyanya sambil menyodorkan botol itu. " Minum dulu."


Mendengar itu membuat Hanum merasa trenyuh, kenapa perasaannya begitu halus, hanya mendengar Sultan yang bicara dengan amat lembut saja sudah membuatnya merasa bahagia. Dia hampir menangis, tapi di tahannya, memilih untuk membuka mulutnya dan rasa segar menjalar ke seluruh tubuhnya begitu air itu masuk dan membasahi kerongkongannya.

__ADS_1


" Kamu lapar? mau makan?" Sultan mengelus puncak kepala istrinya.


Namun hanya gelengan kepala Hanum sebagai jawabannya.


" Ya sudah kalau begitu, tidak apa-apa, nanti begitu kamu sudah lapar, bilang saja ya?"


Lagi, Hanum mengangguk, dia masih enggan berbicara dengan suaminya.


Ketika Sultan hendak duduk, tiba-tiba dia merasakan ponsel di saku kemejanya bergetar. Kemudian dia meraihnya, melihat layar ponsel sebelum pergi dari sana.


" Aku keluar dulu sebentar." pamitnya. " Mau terima telepon dulu." membuat Hanum membuang muka.


Dia harus menerima panggilan masuk itu di luar, tidak mau menganggu istirahat istrinya. Sementara Hanum merasa sedih, berpikiran kalau Sultan menjauh karena tidak mau pembicaraannya di dengar oleh Hanum.


" Hallo Dam, ada apa?"


" Kita bisa bertemu sebentar?" ucap Adam sambil mengemudikan mobilnya. " Ada hal penting yang harus aku sampaikan."


" Baiklah, bagaimana kalau kita bertemu di kantin rumah sakit. Aku tidak bisa lama-lama meninggalkan Hanum."


" Huh, dulu lagi di saat sehatnya, kamu tinggal tinggal sampai lupa pulang, giliran sudah sakit saja, alasan tidak mau meninggalkannya." Adam mencibir. "Ya baiklah, ini aku sedang dalam perjalanan menuju rumah sakit, lima menit lagi aku sampai."


" Kita ketemu disana."


Klik, Sultan mematikan ponselnya.


Dia kembali masuk ke dalam, mendekati Hanum yang terlihat memejamkan matanya namun Sultan tahu betul kalau gadis itu tidak tidur.


" Aku pergi dulu ya, Adam ingin bertemu, aku akan ke kantin rumah sakit. Kalau ada apa-apa, minta mbok Darmi telepon aku ya." pamitnya sambil mencium kening hanum, tapi Hanum tak bergeming.


Tak apa, Sultan paham kalau gadis itu masih marah, masalah yang terjadi diantara keduanya belum mencapai titik temu. Mereka bahkan belum sempat membahas masalah itu dan menyelesaikannya, gara-gara kecelakaan yang menimpa Hanum.


" Mbok, pak." ucapnya pada sepasang suami istri yang sedang duduk di sofa kamar rawat inap VVIP itu. " Sultan pergi dulu ya, ada hal penting yang mau Sultan bicarakan dengan Adam. Titip Hanum ya, telepon Sultan kalau ada apa-apa."


" Ya den."


Mbok Darmi mendekati Hanum begitu melihat Sultan keluar, sementara pak Parmin tiduran di sofa.


" Bagaimana keadaan non Hanum? sudah lebih baik?" tanyanya.


" Iya mbok." suara Hanum terdengar sangat lirih.


" Syukurlah kalau begitu non, si mbok takut sekali begitu mendengar kabar non Hanum kecelakaan." perempuan itu menggenggam jemari Hanum yang terpasang jarum infus.


" Berapa lama Hanum tidak sadarkan diri mbok?"


" Non Hanum bukan hanya tidak sadar karena pengaruh obat bius yang diberikan sewaktu akan menjalani operasi. Non Hanum bahkan sempat koma."


" Hanum sampai koma mbok?"


" Iya non, kata dokter non Hanum mengalami cedera otak cukup parah."


Hanum terdiam sesaat.


" Pantas saja kepala Hanum terasa begitu sakit mbok." Hanum memegangi kepalanya, tepat di bagian yang di operasi. " Lalu, berapa lama Hanum koma mbok?"


" Tiga hari non."


" Apa?"


" Sudahlah jangan di bahas, yang terpenting sekarang non Hanum sudah sadar, jangan banyak berpikir, turuti kata kata dokter biar non Hanum cepat sembuh."


" Tunggu mbok." cegah Hanum, begitu melihat mbok Darmi bangun dari duduknya.


" Siapa yang jagain Hanum selama ini?"


" Siapa lagi kalau bukan den Sultan? memang non mau, si mbok doang yang jagain non Hanum? dia sampai tidak mau pulang non, dia terus jagain non Hanum. Sampai sampai, untuk makan, mandi dan istirahat pun di lakukannya di rumah sakit. Dia tidak meninggalkan non Hanum lebih dari sepuluh menit."


Hanum terdiam mendengar cerita mbok Darmi, sementara mbok Darmi terkekeh melihat ekspresi wajah Hanum. Wanita tua itu kembali ke sofa sambil menggelengkan kepalanya.


Mbok Darmi tahu betul kalau antara Hanum dan Sultan saling memendam perasaan yang sama, yaitu rasa cinta. Dan itu membuatnya merasa miris, hatinya ikut sedih melihat ujian cinta keduanya yang begitu berat. Selalu ada saja cobaan yang menimpa hubungan keduanya. Ya meskipun wajar adanya pertengkaran dalam sebuah rumah tangga, tapi dia berharap, apapun yang terjadi, tidak akan memisahkan keduanya. Dia berharap, Sultan dan juga Hanum akan hidup bersama dengan anak anak mereka kelak, hidup bahagia sampai maut memisahkan.


.


Adam melambaikan tangannya begitu melihat sosok Sultan muncul.


Sultan menyunggingkan senyumnya dan berjalan mendekati temannya.


" Sudah lama?"


" Baru lima menit, kenapa juga kamu datang terlambat padahal aku sudah menghubungimu sejak tadi."


" Maaf." cicitnya. " Ada apa?"


" Kamu tidak mau pesan makanan atau minuman dulu?"


" Tidak perlu, aku tidak haus, juga tidak lapar."


" Ya sudah kalau begitu." Adam terdiam sesaat, menghela nafas panjang sebelum mulai membicarakan hal serius. " Mana cincin yang pernah di temukan Hanum? kamu masih menyimpannya kan?"

__ADS_1


Sultan mengangguk, dia lalu merogoh saku celananya bagian belakang. Mengambil dompetnya dan mengeluarkan benda kecil itu dari sana. Kalau bukan karena demi rasa ingin tahunya menangkap sang pelaku, tidak sudi dia menyimpan cincin itu dalam dompetnya. Dia bahkan sangat berhati-hati menjaga barang yang bisa dijadikan sebagai bukti kejahatan penyusup itu.


Adam pun melakukan hal yang sama, dia merogoh kantong celananya, mengambil sesuatu. Meraih cincin yang di sodorkan Sultan kemudian menyatukan dengan cincin yang di bawanya. Memperhatikan setiap detail cincin tersebut, dan hasilnya.


Akurat.


Bisa di pastikan seratus persen, kedua cincin itu sama persis.


Untuk sesaat Sultan terdiam, akalnya masih terus bekerja untuk mencerna apa yang baru saja dilakukan oleh temannya.


" Dari mana kamu temukan cincin yang sama persis ini?" Sultan merenggut cincin yang sedang dipegang oleh Adam.


Dirinya pun ikut mengamati cincin tersebut, dilihat dari segi manapun, memang dapat di simpulkan kalau kedua cincin itu adalah sepasang cincin pernikahan.


" Mauryn." jawabnya singkat.


Deg.


Sultan merasakan seolah-olah jantungnya berhenti berdetak.


" Bagaimana bisa kamu mendapatkan cincin Mauryn?" tanya Sultan penasaran.


" Aku dan Reno baru saja pulang dari sana menjenguk bayinya."


" Jadi dia sudah melahirkan?"


" Ya, dan ketika kejadian malam itu, malam dimana kamu sedang dinner, oh shit !" Adam memaki. " Malam itu dia menelponmu kan? meminta bantuanmu untuk mengantarnya ke rumah sakit."


Sultan mengangguk, tidak mau kembali memikirkan kejadian yang membuatnya kesal itu. Dia lalu berpikir keras tentang dua buah cincin yang saat ini di pegangnya.


Bagaimana mungkin terjadi secara kebetulan begini, rasanya mustahil. Apa hubungan penyusup itu dengan Mauryn, kenapa bisa cincin yang di temukan oleh Hanum bisa sama persis dengan cincin kawin milik Mauryn.


" Kita punya tersangka baru yang patut kita curigai."


" Maksudmu?" Sultan menatap tajam mata Adam.


" Kamu bodoh atau bagaimana? yang mengalami cedera otak itu Hanum, bukan kamu. Ada apa denganmu? apa otakmu juga bermasalah? kenapa mendadak menjadi dungu begitu?" Adam mencebik.


" Hah ..." Sultan menyugar rambutnya kasar. "Entahlah, rasanya kepalaku tidak sanggup memahami semuanya."


" Percuma ngomong sama kamu." Adam menghabiskan isi gelasnya. " Intinya, dugaanku merujuk pada salah satu orang. Dan setelah dipikir pikir, melihat buktinya, dia memang pantas kita curigai."


" Dengan kata lain, suami Mauryn pelakunya?" Sultan berusaha menebak.


"Tepat sekali." Adam menjentikkan jarinya.


" Tapi apa mungkin? bagaimana bisa dia tahu kode password pintu apartemenku?"


" Simpel, dia tahu dari Mauryn. Memang dia tahu darimana lagi kalau bukan dari mantan istrinya? aku yang kasih tahu? Reno? atau jangan-jangan kamu sendiri yang kasih tahu?" goda Adam.


" Jangan bercanda di saat seperti ini." Sultan mencebik.


" Aku sengaja melakukannya, agar kamu tidak stress." Adam tersenyum smirk.


" Yang ada malah kebalikannya, kamu membuatku makin stress."


" Aku sendiri yang akan mencari tahu jawabannya, kamu fokus saja pada istrimu. Aku tidak tega melihat kondisimu yang seperti ini, baru beberapa hari menjaga Hanum saja kamu sudah kurus begini, kalau aku terus menambah beban pikiranmu, aku takut kamu akan jadi mayat hidup nanti. Hahaha ..." Adam terpingkal.


" Dasar." Sultan menggerutu. " Oh ya, aku lupa memberitahumu, Hanum sudah sadar."


" Benarkah?" Adam yang terkejut pun menghentikan tawanya. Raut wajahnya berubah menjadi serius.


" Dia baru sadar tadi sore."


" Syukurlah kalau begitu, aku akan beritahu Ajeng nanti."


Bicara soal Ajeng.


Astaga.


Adam baru teringat akan waktu dua jam yang diberikan istrinya padanya, dia tidak sempat menghubungi Ajeng kalau sebenarnya dia sudah pulang dari rumah Mauryn dan hendak menemui Sultan.


Adam menepak dahinya, bisa runyam urusannya nanti. Dia sudah berusaha untuk tidak membuat masalah dengan wanita hamil karena tahu akibatnya akan sangat merepotkan baginya.


" Aku harus pulang." ucap Adam terburu-buru.


" Kita belum selesai bicara." cegah Sultan.


" Lain kali saja. Ada yang lebih penting sekarang, aku harus pulang sebelum ibu negara mengamuk."


" Baiklah kalau begitu."


" Biar aku sendiri yang mulai melakukan investigasi, kamu fokus sama Hanum saja."


" Terimakasih." hanya itu yang sanggup keluar dari mulut Sultan, mengingat begitu banyak kebaikan Adam yang tak terhitung jumlahnya. Banyak sekali hal baik yang dilakukan pria itu untuk membantu Sultan selama ini.


" Jangan berlebihan begitu, sudah sana cepat kembali, Hanum menunggumu."


"Ya baiklah, hati-hati dijalan."

__ADS_1


" OK, dan ya ... proses penyelidikan untuk mengungkap pelaku kejahatan itu akan secepatnya dilaksanakan." Adam meraih kunci mobilnya. " Misi akan segera di mulai, kita lihat, siapa pelaku yang sebenarnya nanti." ucapnya sambil berlalu meninggalkan Sultan yang masih mematung di kursinya.


.


__ADS_2