Cinta Yang Terpendam

Cinta Yang Terpendam
Menghindar


__ADS_3

"Mas, kamu ke mana saja? Kenapa nggak bisa di hubungi?"


"Maaf Cinta, ponselku ketinggalan di mobil. Sekarang kamu di mana? Maaf saya lupa kalau saya meninggalkan kamu di mall tadi."


"Nggak apa-apa, Mas. Oh ya, memang siapa yang sakit?"


"Raisa."


Duar!


Bak tersambar petir di siang bolong, tubuh Cinta menegang seketika. Dia pikir suaminya sudah mulai berubah, ternyata dugaannya salah. Kristal bening itu berjatuhan tanpa bisa Cinta kendalikan. Melihat bagaimana reaksi suaminya tadi, membuat hatinya serasa diiris sembilu. 


Tanpa sadar, Cinta menjatuhkan ponselnya.


"Cinta, sekarang kamu di mana? Cinta."


Entah pada panggilan ke berapa Cinta menyahut, yang jelas cukup lama dia berdiam diri. "Saya sudah di rumah," ucap Cinta. Ia berusaha menahan tangisnya agar tak terdengar oleh William.


"Ya sudah, saya akan pulang sekarang."


Klik.


Cinta langsung memutus panggilan tersebut. Lelehan air asin dari pelupuk matanya tumpah ruah.


'Sepanik itu dirimu saat mendengar dia sakit. Kau bahkan meninggalkan aku, melupakanku, dan aku seperti orang bodoh yang menantikan kedatanganmu. Begitukah sikap seorang kakak pada adiknya?' Cinta semakin terisak.


Puas meluapkan tangisnya, Cinta beranjak menuju kamar mandi, menyeka wajah agar tak terlihat seperti orang yang habis menangis. Melirik jam dinding, pukul enam sore. Tak lama kemudian ia mendengar derap langkah kaki yang kian dekat. Cinta yakin itu pasti suaminya.


"Cinta. Maafkan saya ya, saya lupa kalau saya ninggalin kamu di mall tadi."


"Nggak apa-apa. Mandilah!" Ujar Cinta tanpa menoleh wajah suaminya sedikit pun.


"Tadi kamu langsung pulang, atau nungguin saya di sana?" Meraih handuk yang disodorkan Cinta.


"Saya langsung pulang," jawab Cinta, datar. Ia pun pergi mengambil baju ganti untuk suaminya, meninggalkan William yang masih berdiri di tempatnya.


Pukul tujuh kurang lima belas menit. Mereka menghabiskan makan malam bersama, dan saat ini ketiganya tengah duduk santai di ruang tengah.


William tahu Cinta marah padanya, terbukti gadis itu mendiamkannya, dan hanya menjawab pertanyaan seperlunya saja.


"Raisa sakit apa, Nak Willi?" Tania membuka suara.


"Kakinya terkilir Bu, katanya jatuh dari tangga. Biasa, sejak kecil dia dan adik saya memang hobi sekali bercanda, sampai kadang bercandanya keterlaluan."


"Hm begitu." Tania melirik cangkir teh William yang telah kosong. "Cinta, ambil teko tehnya di dapur, cangkir suamimu telah kosong!" Titah wanita itu.


"Ya Bu." Cinta yang sejak tadi diam pun menuruti perintah Ibunya tanpa banyak kata.


"Maafkan saya Bu," cetus William.


"Maaf untuk apa?" Tania mengerutkan dahinya, bingung dengan ucapan menantunya itu.


"Tadi saya panik, terus saya ninggalin Cinta begitu saja."


"Hm, soal itu. Nggak apa-apa Nak."


"Cinta pulang naik apa Bu?"


"Dia pulang naik taksi jam empat sore tadi," ungkap Tania.


"Apa? Jam empat sore Bu?"


"Iya, dia bilang dia nungguin Nak Willi, mau nonton katanya."


William terdiam mendengar penuturan ibu mertuanya. Jika Tania berkata begitu, itu berarti Cinta telah berbohong padanya. William mengira Cinta akan langsung pulang begitu dia tidak kunjung datang ke sana, tapi ternyata dugaannya terpatahkan. Faktanya Cinta menunggu di mall sampai empat jam lamanya.


Obrolan ringan itu berakhir saat Tania memutuskan untuk segera istirahat di kamarnya. Wanita ringkih itu memang harus ekstra menjaga kesehatannya agar penyakitnya tak kambuh. Cinta, putri semata wayangnya juga tidak akan mungkin mengizinkan ibunya tidur sampai larut malam.


Usai mengaplikasikan skincare malamnya, Cinta bergegas naik ke kasur. Seperti sebelumnya, bibir gadis itu terus terkatup rapat. Menganggap William tak ada di sana dengan terus mengabaikan lelaki itu.


"Kenapa berbohong?" Akhirnya pertanyaan yang sejak tadi William tahan, meluncur juga dari bibirnya.


"Tidak masalah berbohong demi kebaikan," Cinta menjawab tanpa berniat menatap lelaki itu.

__ADS_1


"Kau menunggu sampai empat jam lamanya," sesal William.


"Tidak masalah. Asalkan Mas bisa menemui adikmu," sindir Cinta.


Hening.


"Maaf. Maafkan saya ... Saya lupa meninggalkan ponsel di mobil," William berusaha menjelaskan usai kebisuan yang melanda mereka beberapa saat.


"Asal tidak lupa kalau sudah punya istri."


Pukulan telak. William terdiam. Lelaki itu jelas tak bisa berkutik, terlebih saat Cinta sudah sedemikian marah padanya. Penyesalan kian menghantui William. Dia tak bisa membayangkan jika dia yang ada di posisi Cinta saat itu. Menunggu tanpa kepastian selama empat jam. Sudah tentu ia akan marah.


"Cinta ..."


Sunyi.


Cinta belum tidur, William tahu itu. Cinta sangat marah padanya sampai gadis itu tak sudi berbicara dengannya.


.


.


Matahari bersiap menaiki singgasananya. Tetesan embun berjatuhan, sisa-sisa hujan semalam masih begitu terasa.


Seolah tak terjadi apa-apa. Cinta masih tetap mengurus semua keperluan suaminya. Setelan kerja telah siap di atas sofa lengkap beserta dasi dan jam tangan, juga sepatu pantofel andalan William.


"Cinta, mana suamimu? Kenapa dia tidak di ajak untuk sarapan sekalian?" Tania menegur putrinya saat melihat gadis itu datang ke meja makan sendirian.


"Masih di kamar, Bu. Nanti juga ke sini kok."


"Kamu ini, belajarlah jadi istri yang baik Cinta," dumel Tania, lagi.


'Apa gunanya itu semua kalau suamiku sendiri tak pernah menganggapku ada.' ingin sekali rasanya Cinta mengatakan itu, tapi sayangnya dia tak mempunyai keberanian.


"Ada apa ribut-ribut Bu?" William mendekati meja makan dengan penampilannya yang telah rapi.


"Maafkan Cinta ya, Nak. Dia memang masih perlu belajar untuk menjadi istri yang baik, Nak Willi sebagai suaminya wajib mengingatkan jika dia salah."


"Ibu berlebihan. Kami sedang sama-sama belajar menjadi suami istri yang baik, Bu."


Ketiganya pun makan dalam diam. Cinta masih mengurusi suaminya, tapi dengan mulut yang masih terkunci.


William melajukan kendaraan roda empatnya dengan kecepatan sedang. Dalam perjalanan, lagi-lagi Cinta membisu. Dia tak bergeming, pun saat William sesekali mencuri pandang ke arahnya. Sesampainya di kantor pun sama. Cinta bergegas menuju meja kerjanya, semua sikap yang ditunjukkannya cukup menguatkan pemikiran William. Cinta sedang berusaha menghindarinya.


"Cinta, masuk ke dalam!" Titah lelaki itu.


Tanpa kata, Cinta pun mengekori William dengan membawa setumpuk kertas di tangannya.


"Jadwal Bapak hari ini ..."


"Saya sedang tidak ingin mendengar itu!" Potong William. Cinta memang memiliki kebiasaan akan langsung mengeja jadwal William sesaat setelah lelaki itu menduduki kursi kebesarannya.


"Baik Pak." Cinta mengangguk. Dia lalu menyodorkan tumpukan map yang ada di tangannya. "Silakan Bapak tanda tangani karena saya akan langsung menyerahkannya kembali pada Pak Wisnu." 


"Kamu marah!" William langsung bertanya.


"Marah? Untuk apa saya marah," jawab Cinta dengan tenangnya.


"Kamu mengabaikan saya, mendiamkan saya dan bersikap seolah-olah tidak terjadi apa-apa di antara kita," cetus William.


"Maksud Bapak?"


"Saya tahu kamu marah karena saya meninggalkan kamu di mall, kemarin. Saya akui saya salah, saya minta maaf, tapi tolong jangan abaikan saya."


"Saya tidak mengabaikan Bapak. Saya sedang menjalankan tugas saya dengan baik," Cinta menyangkal.


"Bukan soal pekerjaan," tandas William.


"Bukankah kantor tempat orang bekerja."


"Please Cinta ..."


Cinta membuang napas kasar. Dadanya bergemuruh menahan emosi yang sejak semalam berusaha dia tahan.

__ADS_1


"Baik. Apa yang ingin Bapak katakan?"


"Saya minta maaf."


"Atas dasar apa Anda meminta maaf."


William menatap lekat gadis itu. Keduanya saling bersitatap. "Saya sudah meninggalkan kamu begitu saja, dan parahnya saya membuatmu menunggu lama di sana."


"Lalu apa dengan meminta maaf dapat memperbaiki semuanya?" Cinta menatap nyalang. Matanya telah berembun, tapi sebisa mungkin dia tahan agar tak ada cairan yang jatuh dari sana.


"Kita bisa mengulang itu lain waktu. Saya akan mengajak kamu nonton lagi, sebagai permintaan maaf saya."


"Dan sayangnya saya sudah tidak tertarik," jawab Cinta, acuh.


"Lalu harus dengan cara apa agar kamu mau memaafkan saya."


"Saya tidak bilang begitu, saya sudah bilang kalau saya sudah memaafkan Bapak."


"Please Cinta, jangan seperti ini," mohon William.


"Lalu saya harus bagaimana?"


"Katakan, apa maumu?"


"Seandainya saya meminta Anda untuk tidak menemui Raisa lagi, apa bisa Bapak melakukannya?"


Pertanyaan bodoh yang sebenarnya Cinta sudah tahu jawabannya, tapi entahlah. Cinta hanya ingin memastikannya saja, dan kali ini dugaannya terbukti benar. William pasti tak akan bisa menjawabnya.


"Cinta ... Saya ...,"


"Silakan tanda tangani dokumen ini, sepuluh menit lagi saya akan masuk untuk mengambilnya."


Cinta pergi dengan perasaan kacau balau. Tidak seharusnya dia menanyakan hal yang pada akhirnya hanya membuatnya semakin terluka.


Jam makan siang pun tiba. William ke luar dari ruang kerjanya, hendak mengajak Cinta makan siang. Namun, lelaki itu tak melihat istrinya ada di mejanya, dan ketika William akan menyusul Cinta yang dia perkirakan sedang ada di kantin saat ini, William berpapasan dengan OB yang mengantarkan makan siangnya.


"Pak, makan siang Bapak." OB itu mengangkat nampannya. Terpaksa William kembali ke dalam ruangannya.


"Apa kau yang memilihkan menu ini?" Tanya William pada orang itu.


"Bukan, Pak. Bu Cinta yang memesan semuanya," lelaki berambut cepak itu menjawab.


William mengangguk. "Kau boleh pergi."


"Baik Pak. Permisi."


William sungguh dibuat pusing. Selama ini dia tidak pernah menjalin hubungan spesial dengan lawan jenis. Hanya Raisa satu-satunya gadis yang mampu merebut hati dan perhatiannya. William juga tak memiliki keahlian dalam membujuk wanita yang sedang marah.


Sepanjang hari William terus gelisah. Ia sama sekali tak bisa fokus dengan pekerjaannya karena terus memikirkan cara untuk membuat Cinta memaafkannya. 


Ternyata kemarahan wanita itu begitu mengusik William. Cinta tak akan berbicara padanya jika bukan untuk sesuatu yang penting.


Langit telah menjelaga. William mengakhiri pekerjaannya, memberesi benda-benda penting lalu memasukkannya ke dalam tas kerjanya. Dia telah mantap untuk mencoba kembali berbicara dengan Cinta. Lelaki itu pun meninggalkan ruangannya. William dibuat bingung saat mendapati Cinta tak lagi ada di meja kerjanya, gadis itu telah lebih dulu pulang, terbukti dari mejanya yang telah rapi.


"Dia benar-benar menghindariku," monolognya. William meraih ponsel dalam saku jasnya dan mulai menghubungi Cinta.


"Kamu di mana?" Tanyanya begitu Cinta mengangkat panggilannya.


"Saya mampir ke toko buah," Cinta menjawab dari seberang sana.


"Kenapa tidak menungguku?"


"Saya takut mengganggu, pekerjaan saya sudah selesai lebih awal, dan saya tahu Bapak akan menjenguk Raisa lagi," cetus Cinta.


"Di toko buah mana?"


"Dekat kantor."


"Kau tunggulah di situ, saya akan segera menyusul."


"Tidak perlu! Saya sudah selesai, dan saya juga sudah berada dalam bus sekarang."


"Astaga, Cinta ..."

__ADS_1


William menggeram saat tahu Cinta memutuskan panggilan secara sepihak. 


Bersambung ....


__ADS_2