Cinta Yang Terpendam

Cinta Yang Terpendam
Masih tentang Dion


__ADS_3

Dion terus mengulum bibirnya, di taruhnya telapak tangannya tersebut tepat di depan mulutnya karena takut seseorang akan mendengar suara tawanya. Sungguh perut Dion terasa sampai kaku karena terus menahan tawanya, bagaimana tidak? dia yang masih harus melemaskan otot-ototnya setelah berlari cukup jauh merasa lucu melihat Wina yang sesekali kepalanya jatuh terantuk di bahunya.


Dion sempat tergelak saat kepala Wina yang entah sudah berapa kali jatuh bersandar di bahunya namun gadis itu cepat-cepat mengangkat kepalanya begitu menyadari hal tersebut. Apakah Wina sampai sebegitunya menahan kantuk? atau karena gadis itu terlalu lelah akibat dirinya yang mengajaknya berlari cukup jauh tadi, begitu pikir Dion.


Lagi-lagi Wina mengangkat kepalanya menjauh dari bahu Dion begitu menyadari hal tersebut kembali terjadi. Gadis itu sedikit mencubit kelopak matanya sekedar untuk mengusir kantuk yang begitu menyiksanya. Berulang kali menggelengkan kepalanya namun rasa itu tak jua kunjung pergi.


"Bersandarlah!" kali ini Dion menekan lembut kepala Wina ketika gadis itu hendak mengangkat kepalanya menjauhi pundak Dion.


"Tidak perlu," jawab Wina yang berniat merubah posisinya.


"Jangan membantah!" kembali menekan kepala Wina dan membiarkan gadis itu menikmati betapa nyamannya bersandar di sana di saat-saat melelahkan seperti ini. "Aku akan membangunkanmu nanti begitu kau telah sampai di tempat tujuanmu."


Wina kemudian pasrah, rasa kantuk yang menguasai dirinya memang sangatlah hebat, dia sudah mencoba untuk menghalaunya namun rasa itu masih saja bercokol dalam dirinya sebelum dia benar-benar menuntaskannya. Bukankah rumusnya masih tetap sama? jika mengantuk maka tidurlah dan jika lapar, makanlah karena hanya itu saja penawarnya.


"Memang berapa lama jam tidurmu? kelihatannya kau mengantuk sekali?" tanya Dion begitu melihat Wina selesai meneguk minuman dari botol yang di taruhnya dalam tas.


Ternyata hanya dengan memejamkan matanya sekitar sepuluh menit saja sudah membuat gadis itu kembali segar begitu terbangun.


"Dua puluh satu jam." Wina menutup botolnya dan kembali menaruhnya ke tempat asal.


"Dalam?" Dion mengernyitkan keningnya ketika menanyakan tentang rentang waktu tidur gadis di sampingnya itu.


"Sepekan," jawab Wina singkat.


"What? kamu tidur hanya dua puluh satu jam selama seminggu?" teriak Dion kaget dan di jawab dengan anggukan kepala Wina. "Hanya tiga jam dalam sehari kamu tidur? memang tidak kurang?" Dion memutar tubuhnya hingga membuatnya saling berhadapan dengan Wina.


"Tidak." Wina menggeleng pelan. "Aku sudah terbiasa."


"Memang apa yang membuatmu diharuskan begadang tiap malam?" selidik Dion.


"Sampai di rumah pukul tujuh malam, aku hanya punya waktu satu jam untuk istirahat dan setelahnya aku harus sudah masuk ke toko kue untuk shift malam."


"Kamu kerja?" Dion menyipitkan matanya.


"Hm." lagi, Wina mengangguk. "Jam delapan sampai jam dua belas malam aku menghabiskan waktu untuk menjaga sebuah toko kue. Setelah tutup, aku masih harus membereskan rak-rak kue dan membersihkan toko juga beberapa peralatan yang digunakan di sana dan itu berlangsung selama kurang lebih dua jam."


"Itu artinya kamu ...,"


"Iya, barulah setelah itu aku pulang untuk istirahat. Sebenarnya jam tidurku di setiap malamnya selalu kurang dari tiga jam," terang gadis itu.


"Tempat tinggalmu?"


"Ada di dekat toko itu jadi aku hanya perlu berjalan sekitar sepuluh menit untuk menjangkaunya."

__ADS_1


"Ck ... ck ... ck ... kau ini perempuan apa lelaki? kuat sekali begadang?" Dion berdecak kagum.


"Aku jika tidak mau melakukan itu seandainya aku masih punya pilihan."


"Memang ap ...,"


Ucapan Dion terputus karena mendengar kernet mobil meneriakkan salah satu halte yang ternyata menjadi tempat berakhirnya Wina untuk bersamanya dalam bis itu.


"Aku harus turun sekarang," ucap Wina bangkit, membetulkan letak roknya kemudian menggendong tasnya.


Dion tergugu, di lihatnya gadis itu turun hingga ketika Wina hendak melompat keluar dari pintu bis tersebut tiba-tiba dirinya teringat sesuatu.


"Wina!" panggilnya membuat si pemilik nama menoleh. "Semangat! sampai jumpa besok." Dion melambaikan tangannya sebagai tanda perpisahan dengan gadis yang baru di kenalnya hari ini.


Wina mengangguk disusul senyuman manis yang terukir di bibir tipisnya.


Dan hari pertama bertemunya dua remaja itu berakhir dengan sangat manis. Pertemuan singkat namun cukup membuat Dion terkesan. Dion yang notabene anak mami yang manja dan cenderung mendapatkan segala sesuatunya tanpa usaha, seketika merubah cara pandangnya.


Selama ini yang dia pikirkan tentang tugas seorang anak hanyalah sekolah dan pergi keluyuran untuk menghabiskan uang orang tuanya saja, dia tidak peduli dengan hal lain selain itu. Baginya, semua kehidupan anak seusianya tentulah sama seperti dirinya, tapi nyatanya ketika dia mengetahui sisi lain dari kehidupan seorang anak yang bisa di bilang tidak seberuntung dirinya, membuatnya tersadar. Tidak semua orang di lahirkan dari keluarga yang berada, bahkan dia merasa miris saat mengetahui masih ada orang yang tidak bisa makan sehari tiga kali di zaman seperti ini, hal yang sama sekali tidak pernah ada di pikirannya sebelumnya.


Hari ini sebetulnya adalah hari pertama Dion naik angkutan umum, tingkahnya yang terkesan membangkang dan bengal khas jiwa muda seorang remaja pria membuat ayahnya memberikan hukuman dengan mencabut semua fasilitas yang selama ini diberikan secara cuma-cuma pada anak semata wayangnya itu. Entah berapa kali kenakalan yang dibuat anak itu hingga membuat orang tuanya marah hingga puncaknya mereka terpaksa melakukan hal tersebut karena merasa Dion benar-benar telah mengikis habis kesabaran mereka. Ayahnya yang sudah pasrah dalam menghadapi tingkah Dion sampai tidak tahu lagi harus berbuat apa sehingga muncullah ide tersebut dari ibunya yang tak lain adalah nenek Dion sendiri.


Setelah selesai membersihkan diri untuk kemudian makan malam, kini Dion yang telah selesai berkutat dengan buku-buku pelajaran tebal pun memutuskan untuk keluar dari kamarnya.


"Bund," panggilnya lembut kepada wanita yang telah melahirkannya ke dunia.


"Ada apa?" jawab sang ibu acuh tanpa mengalihkan pandangannya sedikit pun selain pada layar televisi di depan sana.


Dion semakin mendekat, dan hal yang dia lakukan selanjutnya membuat seisi penghuni ruangan tersebut terus menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Dion minta maaf ya Bund, selama ini Dion selalu menyusahkan bunda, ayah dan juga nenek."


Pandangan mereka beralih pada Dion yang saat ini sedang bersimpuh pada kaki ibunya.


Lita dan Rudi saling berpandangan, dilanjutkan dengan menatap anak semata wayang mereka yang kini telah beranjak dewasa.


"Kalau kamu pikir dengan kamu minta maaf sama bunda demi untuk membatalkan hukuman yang harus kamu jalani, kamu salah. Bunda tidak akan tertipu lagi dengan rayuanmu kali ini." Lita membuang muka sembarang arah, mencoba mengalihkan perhatiannya agak tak termakan bujukan putranya seperti yang sudah-sudah.


"Bunda salah, Dion tulus minta maaf sama bunda, bukan karena mau minta kunci mobil ataupun ATM."


Lita melirik suaminya dan hal itu tertangkap mata oleh Dion, anak itu tahu betul kalau orang tuanya pasti sedang ragu sekarang. Membujuk, merayu dengan kalimat-kalimat manis sudah sering dia gunakan untuk melancarkan aksinya mendapatkan kembali fasilitas mewah yang ayahnya berikan padanya dan melihat dia kembali bersikap demikian tentulah membuat Lita ragu, jangan sampai dia jatuh ke lubang yang sama seperti sebelumnya karena luluh dan selalu menuruti kemauan anaknya.


"Dion serius bunda." kali ini Dion melembutkan perkataannya dengan sedikit menekan panggilan kepada wanita yang amat disayanginya.

__ADS_1


Terdiam, Lita terus menatap kedalaman mata bening anaknya, mencoba mencari tahu muslihat apa lagi yang sedang dilakukan oleh Dion padanya, kali ini. Aneh, tak terlihat ada tanda-tanda kebohongan yang dia dapatkan di sana, sungguh jauh berbeda seperti sebelumnya. Lita hanya bisa melihat ketulusan yang terpancar dari dua buah bola mata hitam yang saat ini menatapnya dengan sendu.


"Dion nggak butuh mobil, motor ataupun ATM dari ayah, yang Dion butuhkan hanyalah bunda. Dion telah sadar Bund, selama ini ternyata jalan hidup Dion salah. Dion janji akan belajar lebih giat lagi agar supaya keluarga ini bangga memiliki Dion."


Kembali, Lita menatap wajah suaminya seolah meminta pendapat. Matanya terasa panas begitu melihat suaminya kini mengangguk dan tersenyum sumringah. Hal yang sangat jarang dia temui selama ini karena ketika menghadapi kenakalan Dion, wajah yang biasanya ramah dihiasi dengan senyum menawan itu sudah berganti menjadi wajah garang yang tak ada ramah-ramahnya sama sekali dan terkesan menakutkan.


"Apa maksudmu, Nak?" suara Lita sedikit bergetar.


"Dion mau jadi anak yang baik, bunda tolong bantu Dion berubah ya." menggenggam jemari Ibunya. "Ingatkan Dion jika dion salah."


"Kamu sadar dengan apa yang kamu katakan?" Lita menatap tajam wajah putranya.


"Tentu saja, memang bunda pikir Dion sedang mabuk? Dion janji akan menjauh dari hal itu sekarang dan Dion akan fokus belajar agar mendapatkan nilai yang bagus untuk bisa masuk universitas bergengsi, melanjutkan kuliah dan mencapai apa yang menjadi cita-citaku."


"Astaga, sejak kapan kamu berubah Nak? kenapa tidak dari dulu saja kamu jadi anak penurut?" Lita menangis sambil merengkuh tubuh putra kesayangannya.


"Jadi kalau Dion baru berubah sekarang, salah ya Bund?"


"Hust! jangan sembarangan bicara kamu."


"Buktinya tadi bunda bilang ...,"


"Sudahlah tidak usah di bahas! bunda hanya masih belum bisa percaya saja kalau ternyata kamu bisa berubah secepat ini, rasanya seperti mimpi." melepaskan pelukannya. "Memang apa yang terjadi? apa yang membuatmu kelihatannya bahagia sekali sampai-sampai membuat mata hatimu terbuka begitu? bunda perhatian juga sejak kamu pulang dari les tadi kelihatannya kamu begitu semangat."


"Berubah menjadi lebih baik itu wajib Bund, lagi pula tidak ada yang mau menikah dengan pria pengangguran kan? untuk mendapatkan seseorang yang kita cintai, kita harus sukses dulu agar bisa membahagiakan hidupnya," Dion berkelakar.


"Jadi ... anak bunda ini sudah mulai menyukai lawan jenis?"


"Tidak bisa dibilang begitu Bund." Dion bangkit dari lantai kemudian duduk di tengah-tengah kedua orang tuanya.


"Lantas kenapa kamu tadi membahas soal begituan?" selidik Lita.


"Itu kan hanya pandangan Dion Bund, orang kan harus selalu memiliki cara pandang ke depan kan? memang kalau Dion bicara seperti itu, menunjukkan kalau Dion sedang jatuh cinta? tidak kan?"


"Jadi?"


"Bantu Dion untuk menjadi anak yang berbakti sekaligus menjadi pria yang baik untuk calon istriku kelak. Dion kan juga nantinya akan tumbuh dewasa seperti ayah dan Dion ingin bisa hidup sukses dengan memiliki istri yang cantik seperti bunda dan keluarga kecil yang bahagia."


"Sejak kapan putramu ini berpikiran dewasa, Yah?" Lita melirik suaminya.


Mereka berpelukan, Lita pun merengkuh tubuh ibu mertuanya dan televisi yang menyala di sana menjadi saksi atas kejadian bersejarah dalam hidup seorang Dion.


.

__ADS_1


__ADS_2