Cinta Yang Terpendam

Cinta Yang Terpendam
Terbakar


__ADS_3

Berjalan gontai menyusuri jalan menuju rumahnya, angan Cinta sibuk berkelana, merenungi nasib pernikahannya yang tak kunjung mendapat kebahagiaan. Sampai kapan dia harus bertahan pada penantian panjang tak bertepi, sedang ia tahu jika hati sang suami bukan untuknya. Lalu mengapa William menikahinya jika bukan karena cinta. Cinta benar-benar hampir gila dibuatnya.


Hembusan napas berat berulang kali Cinta lakukan saat dia melihat mobil suaminya sudah mendarat manis di garasi. Membuka pintu perlahan, dan benar saja, William sedang duduk di sofa menantikan kedatangannya.


Keduanya saling bersitatap tanpa mengeluarkan sepatah kata. William merasa lidahnya kelu, padahal sejak dalam perjalanan pulang tadi dia telah bertekad untuk meminta maaf pada gadis itu.


William masih membisu saat Cinta memasuki kamarnya dan seperti biasa, menyiapkan segala keperluannya. "Mandilah, saya akan menyiapkan makan malam," tutur Cinta.


'Terbuat dari apa hatinya? Dia bersikap seolah-olah tidak terjadi apa-apa sebelumnya, padahal sikapku sudah sangat melukai perasaannya tadi.'


Dua puluh menit kemudian.


Keduanya sudah duduk di meja makan. Cinta mengisi piring William, memberinya segelas air putih. Memastikan ia mencukupi kebutuhan suaminya terlebih dulu ketimbang dirinya.


"Mas ..."


"Ada apa?" William menatap lurus wajah istrinya.


"Saya mau minta izin, saya ingin menginap di rumah Ibu."


"Ya. Kita bisa menginap di sana sepulang kerja besok," balas William.


"Enggak. Saya juga mau minta izin nggak masuk kerja besok, saya rasa saya butuh istirahat," lanjut Cinta.


'Kamu mau menghindariku, dan bukannya mau istirahat. Karena aku telah menyakitimu hingga kau merasa tak nyaman saat denganku,' William mencoba menerka-nerka.


"Baiklah."


"Saya akan pergi setelah Mas berangkat ke kantor, besok."


"Ya. Saya akan menyusul begitu pekerjaan saya selesai," William menyahut.


"Terserah Mas saja."


'Benar kan kau sedang menghindariku.'


Hening kembali melanda. 


Cinta bergegas membereskan meja dan peralatan makan kotor. Buru-buru dia mencuci piring agar bisa cepat masuk ke kamar. Rasanya belum siap jika William mengajaknya bicara, jadi sementara waktu dia memilih menghindar. Masing-masing dari mereka memasuki kamar terpisah. Keduanya sama-sama merenung, memikirkan kelanjutan hidup mereka.


Keesokan harinya.


Cinta memakaikan dasi di kerah kemeja William, masih dengan mulut terkunci rapat.


"Saya antar kamu ke rumah Ibu."


"Nggak usah Mas, takut ngrepotin. Saya berangkat sendiri saja kebetulan saya juga sudah pesan taksi online kok."


'Mau sampai kapan kamu terus menghindariku Cinta. Ini nggak bisa dibiarkan, aku harus berbuat sesuatu.'


"Saya tetap akan mengantarmu. Kamu istriku dan saya suamimu, kenapa kau harus memakai taksi online sementara suamimu bisa mengantarmu."


Cinta terpaku di tempatnya. Apa William sedang berusaha membujuknya? Ah, buru-buru Cinta menepis perasaan itu. Dia tahu cinta William hanya untuk Raisa, dan lekaki itu tidak mungkin secepat itu berpaling dari cinta pertama yang bahkan telah lama dipendamnya.


"Selamat pagi Bu," sapa William begitu tiba di rumah Tania.


"Selamat pagi Nak. Kenapa kalian tidak mengabari Ibu kalau kalian mau ke sini?" Rona wajahnya memendarkan kebahagiaan.


"Maaf Bu."


"Ya sudah ayo masuk!" Ajak Tania.


"Nanti saja Bu, sekarang Willi harus ke kantor," tolak pria itu, halus.


"Lho, kamu nggak berangkat ke kantor juga Cinta?" Tania menatap putrinya.


Cinta menggeleng. "Enggak Bu, aku sedikit nggak enak badan."


"Apa kamu hamil!" Tania membekap mulutnya. William dan Cinta saling berpandangan.


"Tidak Bu. Hanya sakit biasa," tampik Cinta.


"Bagaimana bisa kamu seyakin itu? Pokoknya Ibu akan memeriksakan kamu ke bidan terdekat," putus Tania, bersemangat.


"Nggak perlu Bu, kebetulan baru dua hari yang lalu tamu bulanan Cinta pergi," aku Cinta.


"Yaah ... Ibu pikir kamu hamil." Air muka Tania berubah menjadi sendu.


"Masih ada kesempatan Bu, lagi pula kan aku baru menikah tiga bulan, belum terlalu lama," hibur Cinta.

__ADS_1


"Ya sudah."


"Willi berangkat ya Bu." Lelaki itu mencium punggung ibu mertuanya, lalu berpindah mengecup kening istrinya, hal yang sudah lama tidak dia lakukan.


"Hati-hati di jalan Nak."


"Ya Bu."


Mobil William lenyap di ujung jalan, Tania mengajak putrinya masuk ke dalam.


"Aku kangen banget sama Ibu." Cinta memeluk erat ibunya.


"Ibu juga. Tadinya Sabtu depan Ibu berencana menginap di rumah kalian, tapi kebetulan sekali kamu menginap di sini. Ibu jadi senang."


"Ya Bu. Oh ya, Ibu mau masak apa hari ini? Atau mau buat kue? Cinta bosen kalau harus terus berdiam diri."


"Katamu kau sedang tidak enak badan."


"Tapi mending dibawa gerak Bu, dari pada tiduran terus malah ntar tambah sakit."


"Ya sudah ayo, kita bikin kue aja!" Ajak Tania.


Selang beberapa jam kemudian.


Aroma wangi kue yang baru saja ke luar dari oven begitu menggelitik hidung Cinta. Chiffon cokelat itu begitu menggugah selera. Cepat-cepat Cinta membukanya dari loyang bongkar pasang.


"Buat teman minum teh nanti," seloroh Tania.


"Iya Bu." Gegas Cinta mengamankan kue tersebut. Lalu kembali menghampiri Tania yang sedang sibuk meracik sesuatu.


"Ibu bikin apa?"


"Jamu."


"Jamu? Jamu buat apa?" 


"Buat kesehatan kamu. Kamu bilang kamu enak badan." Tania tersenyum penuh arti.


"Sekarang udah sembuh Bu. Aku nggak mau minum begituan, aku kan nggak suka jamu, Ibu ..." Cinta merajuk.


"Ini nggak pahit Nak."


"Tetap saja rasanya nggak enak."


"Nggak mau Bu," tolak Cinta.


"Ayo! Nggak mau nurut sama Ibu?" Wanita paruh baya itu pura-pura marah.


Melihat reaksi ibunya membuat Cinta takut, dengan sangat terpaksa dia menerima gelas yang disodorkan Tania.


"Habiskan sekarang juga, Ibu mau lihat!" Titah wanita paruh baya itu.


Cinta tak kuasa menolak. Sambil memencet hidungnya, dia berusaha meminum cairan berwarna kekuningan itu.


"Habiskan Cinta," kata Tania yang melihat putrinya hampir saja berhenti meminum setengah cairan itu.


"Hoek." Hampir saja Cinta memuntahkan kembali isi perutnya.


Tania tertawa renyah melihat ekspresi Cinta. 


.


.


Pukul lima sore.


Awan hitam berarak, petir menggelegar bersahutan disusul dengan tetesan air yang runtuh dari langit. Cinta baru saja hendak menutup pintu saat sebuah mobil berhenti di pelataran rumahnya. 


Seseorang muncul dengan memakai payung dan satu tangan membawa bingkisan.


Mendengar deru mesin mobil berhenti membuat Tania pun merasa penasaran. "Suamimu pulang Cinta?"


"Bukan Bu."


"Terus mobil siapa?"


"Ibu ingat nggak, teman sekolah Cinta waktu SMA yang suka minta diajari matematika sama aku?"


Tania berpikir sejenak. "Azka?" Tebaknya.

__ADS_1


"Iya, Ibu masih ingat."


"Permisi."


Tok ... Tok ... Tok.


Suara Azka menginterupsi pembicaraan dua wanita itu.


"Ya." Cinta membuka pintu.


"Hai Can ..." Azka kembali menelan kata cantik saat melihat wanita yang ada disamping Cinta.


"Nak Azka, apa kabar? Sudah lama sekali kita nggak ketemu."


"Kabar saya baik Bu, Ibu sendiri gimana? Ya Bu, maaf baru sempat berkunjung."


"Nggak apa-apa, Ibu tahu Nak Azka sibuk. Ayo silakan duduk. Cinta, buatkan minum untuk Azka."


"Ya Bu."


Kini ketiga orang itu duduk saling berhadapan di teras. Mereka asyik mengobrol hingga tak sadar malam telah merambat naik. Titik-titik air makin deras saat William tiba di rumah mertuanya. Mata lelaki itu menyipit saat melihat sebuah mobil terparkir di sana. Dari balik jendela kaca lelaki itu memperhatikan tiga orang yang tengah berbincang di teras. Melihat tawa Cinta yang begitu lepas ketika berbicara dengan lelaki lain membuat William meradang. 


Rahang William mengetat, tangannya terkepal kuat. Percikan api dalam dadanya berubah menjadi kobaran yang menyala-nyala. Tak mau membuang waktu lebih lama lagi, ia segera ke luar dari mobil tanpa memakai payung.


"Lho, Nak Willi baru pulang?"


Seketika pandangan Cinta dan Azka tertuju pada William.


"Mas, kenapa nggak pakai payung? Kamu jadi basah begini." Cinta mendekati suaminya.


William masih membungkam mulutnya, tatapan tajam ia layangkan pada Azka.


"Cinta, sebaiknya kamu masuk, urus suami kamu dulu!" Titah Tania.


"Ya Bu."


"Kalau begitu saya permisi Bu, Cinta. Sudah terlalu lama saya di sini, lain waktu saya pasti mampir lagi."


"Ya Nak, hati-hati di jalan." Azka Langsung masuk mobil usai menyalami Tania.


"Ayo Mas." Reflek Cinta menggandeng tangan suaminya menuju kamar.


William menutup pintu dan langsung memutar anak kuncinya. Cinta merinding melihat cara William menatapnya.


"M ... Mas ..."


"Kenapa dia bisa datang ke sini?" Tanya William, dingin.


"Ya aku nggak tahu Mas. Dia tiba-tiba saja datang, masa iya mau saya usir."


"Tapi kan kamu nggak harus berduaan sama dia!" Sentak William.


"Ya ampun Mas, Mas kan lihat tadi ada Ibu juga di sana. Berduaan bagaimana?" 


"Saya nggak mau tahu, lain kali, kamu nggak usah dekat-dekat dia."


Cinta makin kebingungan. Apa yang sedang terjadi pada suaminya? William tak mungkin cemburu, Bukan?


"Iya tapi kenapa Mas? Kami kan hanya berteman."


"Sekali saya bilang tidak ya tidak. Titik!" William menekankan kalimat terakhirnya.


"Iya tapi kena ... Eumh!" Cinta tak dapat melanjutkan ucapannya karena dengan cepat William menyambar bibirnya.


Lelaki itu meraih tengkuk Cinta untuk memperdalam ciumannya. Cinta yang begitu kaget pun tak bisa berbuat banyak.


"Berapa kali saya bilang Cinta, buka mulutmu dan balas saya!" William menggeram kesal. Lalu secepat kilat dia kembali meraup bibir itu. Rasa cokelat, sesuai dengan permintaannya kemarin. 


William meluumat habis bibir Cinta, mengigit kecil, lalu menelusupkan lidahnya. Setitik kebahagiaan hinggap di hatinya manakala dapat dia rasakan permainan Cinta di dalam sana.


Masih dengan bibir yang menyatu, William melepas jas yang membalut tubuhnya. Tangannya bergerak cepat melucuti kancing kemejanya hingga kain tersebut pun lolos dari tubuhnya.


Berpindah menuju sabuk hingga celana kain warna hitam itu teronggok di lantai, menyisakan boxer hitam yang memenjarakan senjatanya. William menggiring tubuh Cinta dan merebahkannya perlahan di kasur.


"Mas!" Cinta menahan tangan William yang hendak merenggut tali dress rumahannya.


"Jangan halangi saya mendapatkan apa yang menjadi hak saya," lirih William dengan suara memberat, tatapannya sarat permohonan. 


"Dengan senang hati akan saya berikan, asal Mas janji kalau Mas juga memberikan hak saya sebagai seorang istri," pinta Cinta.

__ADS_1


Bersambung ....


*Hayo, kira-kira mereka gagal lagi gak? Aku udah double up ya, mohon dukungan dari kalian juga biar aku semangat nulis. Yang panas-panas aku pending dulu 😊 jangan lupa, vote, like dan komen yang banyak. Kalau kalian suka dengan cerita ini, bisa dong bantu rekomendasikan juga sama teman atau saudara kalian. Salam sayang buat kalian 😘😘😘 makasih udah setia mengikuti kisah ini. ❤️❤️❤️ 


__ADS_2