
Cinta terus berjalan menyusuri jalanan setapak menuju rumahnya. Tak jauh dari rumahnya terdapat klinik khusus kandungan cukup besar yang kebetulan tetap buka praktek di hari libur.
Ucapan dokter tadi terus terngiang-ngiang. Benar dugaannya, janin itu telah tumbuh dan berkembang di rahimnya. Tiga minggu, usia kehamilannya. Bahkan setiap nasehat dari dokter itu masih terekam jelas dalam ingatan Cinta.
'Bunda sangat menyayangimu meskipun Bunda menyesali kehadiranmu, kenapa kau hadir di saat hubungan orang tuamu sedang terancam badai? Apapun yang terjadi, percayalah bahwa Bunda akan selalu menyayangimu. Tidak akan Bunda biarkan ayahmu mengetahui keberadaanmu, Nak.' Cinta terus mengusap perutnya yang masih datar.
Begitu tiba di depan rumah, Cinta terkejut saat melihat dua mobil yang sangat dikenalinya telah terparkir di sana. Tak mungkin baginya untuk mundur setelah Ratih memergokinya.
"Itu Cinta, dari mana saja kamu Nak?"
Dengan degup jantung tak beraturan, Cinta perlahan mendekati teras, tempat di mana keluarga besar dari pria yang tak lama lagi akan menjadi mantan suaminya itu berkumpul.
"Selamat pagi Oma," sapanya ramah, mencium punggung tangan wanita tua itu. Bergantian dengan Arya, Sultan dan Hanum, tapi sama sekali tak berniat menyalami William.
"Kamu dari mana Sayang?" Tanya Hanum.
"Cinta habis dari ... Hm, itu Ma, jalan-jalan. Ya, aku habis jalan-jalan." Merogoh anak kunci dalam tasnya.
"Ayo silakan masuk!" Cinta membuka pintu lebar-lebar.
William masih bertahan dengan posisinya. Lelaki itu membatu. Matanya tak lepas barang semenitpun dari sosok cantik dengan balutan floral dress warna peach itu.
Tak lama kemudian, lelaki itu pun masuk mengikuti orang tuanya. Duduk di kursi kayu usang tapi masih cukup kuat itu.
Cinta kembali dengan membawa nampan berisi cangkir teh. Setoples kue kering dan beberapa potong bolu pandan yang sempat ia buat kemarin sore.
"Silakan diminum semuanya," ujar Cinta.
"Ya Nak. Sekarang kamu duduk ya, ada yang mau kami bicarakan."
Deg.
Cinta menelan salivanya kelat, dia sudah bisa menebak apa yang akan para orang tua itu bicarakan.
"Mau bicara apa Ma?" Tanya Cinta memberanikan diri. Tak ingin membuang waktu, berharap mereka lekas pergi dari sana.
__ADS_1
"Sebelumnya, Mama atas nama William sekeluarga mau meminta maaf yang sebesar-besarnya sama kamu." Hanum mendekatkan tubuhnya, meraih jemari cinta dalam genggamannya.
"Akibat kebodohan anak Mama, kamu menjadi menderita, tapi percayalah ... Perasaan Mama juga sama hancurnya seperti kamu. Kami semua terluka." Hanum mulai terisak.
"Jangan nangis Ma, nggak ada perlu dimaafkan karena dalam hal ini nggak ada yang salah. Semuanya sudah menjadi bagian dari takdir yang harus aku jalani."
"Terima kasih Sayang, kau memang wanita yang baik."
"Lantas, bagaimana dengan hubungan kalian kedepannya?" Sultan membuka suara.
Pandangan William langsung tertuju pada Cinta. Sejak dia menginjakkan kakinya di rumah ini, tak pernah sekalipun Cinta menatapnya. William tahu gadis itu masih menghindarinya.
Tak ada kata yang mampu terucap dari bibir William. Lelaki itu sibuk menikmati lara yang mulai menyergapnya. Penyesalan, rasa bersalah dan penolakan Cinta menyisakan nyeri di hatinya.
"Sebelumnya Cinta mau minta maaf sama Papa, Mama, Oma dan Opa, dan ... Mas Willi juga. Cinta minta maaf, dengan berat hati terpaksa Cinta harus mengatakan ini, tapi Cinta nggak bisa melanjutkan hubungan ini. Kalian lebih tahu, tidak ada yang bisa diharapkan dari sebuah hubungan yang tidak jelas seperti ini," beber Cinta.
Perih.
Mungkin hanya itu kata yang tepat untuk menggambarkan hati William saat ini. Hatinya seolah teriris belati tak kasat mata saat mendengar penuturan Cinta. Bagaimana gadis itu dengan lapang dada dan bijaksana menyikapi semua ini, meskipun William tahu, batin gadis itu sangat terluka parah.
"Cinta, maafkan Mama." Tangis Hanum pecah. Dua wanita itu saling berpelukan.
"Tidak bisakah kalian berbaikan? Pernikahan kalian masih seumur jagung, wajar jika ada banyak masalah yang menghampiri rumah tangga kalian," ujar Ratih.
"Apa yang bisa saya harapkan dari hubungan seperti ini Oma, kami hanya akan saling menyakiti. Mungkin berpisah memang satu-satunya jalan terbaik, Mas Willi pasti akan menemukan kebahagiaannya, dan saya sadar diri, kebahagiaannya bukan ada pada saya." Buru-buru Cinta menyeka lelehan air asin yang mulai membelai wajahnya.
Sungguh, sekuat apapun dia berusaha untuk tegar, tapi pada dasarnya Cinta juga hanyalah manusia biasa yang sangat rapuh. Di balik sikap dewasanya, ada banyak perasaan yang sedang berusaha dia jaga.
William masih diam membisu. Hanya air mata saja yang mewakilkan betapa hancurnya ia saat ini. Sesal itu kian menyesakkan dada, dan dia pantas mendapatkan ini semua.
Arya mengkode pada istri sekaligus putranya, memberikan ruang untuk dua insan muda itu saling berbicara.
"Sekali lagi, Papa atas nama William dan keluarga besar meminta maaf padamu Cinta," lirih Sultan, sendu. Lelaki matang itu pun dapat merasakan apa yang tengah Cinta rasakan saat ini.
"Papa nggak perlu minta maaf, sudah seringkali saya katakan, tidak ada yang salah dalam hal ini. Hanya saja mungkin nasib belum berpihak pada saya."
__ADS_1
"Kami permisi dulu ya, barangkali saja ada yang ingin kalian berdua bicarakan."
Semua orang bangkit, terkecuali Cinta dan William. Para orang tua itu undur diri usai bersalaman dan berpelukan dengan Cinta.
Lima menit berlalu. Tak ada satupun dari dua orang itu yang membuka mulutnya sekedar berbicara. Sampai akhirnya Cinta memutuskan untuk membereskan meja.
"Maafkan Saya Pak. Selama hampir tujuh bulan saya menjadi istri Anda, tidak menutup kemungkinan kalau saya juga pernah berbuat salah pada Bapak. Sekali lagi saya minta maaf. Sampai berjumpa di pengadilan, lusa," ucap Cinta tanpa menatap William sedikitpun.
William mengutuk dirinya yang begitu pengecut. Ada begitu banyak dosa yang dia lakukan pada gadis itu, tapi ia tak punya cukup keberanian untuk mengakuinya, apa lagi meminta maaf.
'Kenapa rasanya begitu menyakitkan Tuhan, bukankah aku tidak mencintainya? Tapi kenapa hatiku teriris, aku terluka, aku hancur,' ratap William dalam hati.
Genangan kristal di telaga matanya berjatuhan. Tak peduli sekuat apapun dia berusaha menahannya, cairan terkutuk itu terus saja mengalir seolah tak ada habisnya.
"Jadi bagaimana keputusannya?" Tanya Hanum ketika melihat putra sulungnya ke luar dari rumah itu.
William menggeleng dengan berderai air mata. "Cinta tetap bersikeras meminta pisah Ma." Lelaki itu mendekap tubuh ibunya.
"Susah kalau sudah begini, kamu sebagai lelaki juga terlalu lembek! Kamu nggak punya pendirian dan plin plan. Silakan lanjutkan saja hidupmu yang seperti ini, karma menantimu Will. Kau akan mendapatkan siksaan yang tidak akan pernah bisa kau bayangkan sepanjang hidupmu. Tuhan tidak akan tinggal diam melihat hambaNya yang senantiasa taat padanya disakiti," umpat Sultan.
"Pa," desis Hanum, tak suka dengan ucapan suaminya.
"Lalu apa yang harus aku katakan? Tuhan itu Maha adil, tak peduli sebanyak apapun kita mendoakan kebaikan bagi anak kita, nyatanya William yang bersalah dan dia pasti akan mendapatkan ganjarannya. Ayo Pi, Mi, kita pulang."
Sultan menyalakan mesin mobilnya. Hanum yang berada di jok depan tak kuasa menahan tangis saat mobil yang dikendarai suaminya mulai melaju, meninggalkan putranya sendirian.
William menjerit. Beberapa kali dia menendang ban mobilnya. Berbagai makian keluar dari mulutnya, dia tujukan untuk dirinya sendiri. Lelaki itu begitu frustasi. Ini kali pertama dalam hidupnya William merasakan hidupnya benar-benar hancur.
Sementara itu di dalam.
Usai meluapkan tangisnya, Cinta segera membasuh wajahnya dan berisitirahat. Tidak benar-benar tidur karena pikirannya sibuk mengembara.
'Lusa sidang perceraian akan digelar, aku akan menolak mediasi dan meminta hakim untuk mengetuk palu secepatnya. Semoga saja Mas Willi tidak mempersulitku, aku tidak punya cukup uang untuk menyewa pengacara. Bantu aku Tuhan ... Aku benar-benar ingin terbebas dari lelaki itu. Biarkan aku dan anakku hidup bebas dan bahagia. Setelah sidang putusan keluar, aku harus segera menjual rumah ini pindah secepatnya. Mereka pasti akan terus datang jika aku masih tetap di sini. Maafkan Cinta Bu.'
Mendekap bantal guling, tangis Cinta kembali tumpah.
__ADS_1
Bersambung ....
Happy reading Kesayanganku 😍😍😍, mohon maaf ya gak bisa balas komen kalian satu satu, dikarenakan kesibukan RL, dan kebetulan juga aku punya ada beberapa novel Ongoing di Platform lain. maaf kalo aku sering telat up dan jalan ceritanya nggak sesuai dengan harapan kalian, tapi aku akan berusaha menyajikan kisah dengan akhir yang manis. Salam sayang buat kalian semua, makasih buat kalian yang setia mengikuti kelanjutan kisah ini. Membaca komentar positif dari kalian adalah hal paling membahagiakan sekaligus mood booster buatku untuk tetap melanjutkan tulisan ini. Sekali lagi, makasih. 🙏🙏🤗🤗🤗❤️❤️❤️