
"Sampai kapan Mas akan terus tertawa? bibirmu akan kering nanti kalau terus di buka lebar-lebar begitu," Hanum terkekeh melihat suaminya yang terus tertawa.
Setelah keduanya keluar dari rumah makan tersebut, Sultan terus saja tertawa dan itu bertahan lama, sepanjang perjalanan hingga mereka sampai di rumah.
"Itu karena aku sangat bahagia," gumam Sultan sambil terus mengul*m senyum di bibirnya.
"Sesederhana itukah bahagiamu?" Hanum melepas handuk kecil yang membungkus rambutnya. Duduk di depan meja rias kemudian mulai menyalakan hair dryer.
"Kau tidak lihat ekspresi wajah Dion sewaktu kau muntah tepat mengenai kemejanya tadi," Sultan mengambil alih alat pengering rambut dari tangan istrinya. "Biar aku bantu."
"Itu ... aku sendiri tidak tahu kenapa aku sampai memuntahinya. Ketika melihat wajahnya, rasanya perutku semakin tak karuan. Sungguh, aku sama sekali tidak bermaksud memuntahinya," terang Hanum.
"Itu bisa jadi pertanda kalau anak-anak kita akan tumbuh menjadi anak yang baik, mereka seolah tak rela jika Ibunya sampai di ganggu itu sebabnya mereka membuatmu memuntahi Dion. Itu bagus, kalau menurutku malah akan lebih bagus lagi seandainya tadi kamu mengeluarkan semua isi perutmu sekalian di wajah Dion, jangan hanya di kemeja pria sinting itu saja."
Sultan mematikan alat pengering rambut tersebut begitu dirasa rambut istrinya telah kering dengan sempurna. Meletakkan benda tersebut di tempat semestinya lalu meraih sisir untuk merapikan rambut panjang Hanum yang mencapai punggung.
"Selesai," ucapnya begitu melihat hasil tatanan rambut istrinya.
"Thank you," kata Hanum, kemudian dia mengambil botol Aloe Vera gel di atas meja, membukanya dan mulai mengeluarkan isinya. Sensasi dingin muncul begitu dia mengoleskan tipis gel bening itu di wajahnya.
Sementara sang suami yang sedang duduk di bibir ranjang masih terus memperhatikan istrinya.
__ADS_1
"Kenapa wajahmu sama sekali tak berubah? dari dulu tetap cantik, bahkan semakin cantik dengan bertambahnya usia," ucap Sultan ketika istrinya mendekat ke arahnya, merengkuh tubuh yang mulai berisi itu ke dalam pelukannya.
"Kalau begini terus yang ada aku bisa gila." Sultan meletakkan dagunya di ceruk leher Hanum, menghirup dalam-dalam aroma tubuh istrinya. "Kau menyuruhku berpuasa sementara kau sendiri terus menggodaku, itu tidak adil sayang."
"Siapa yang menggodamu? Mas sendiri yang terus memelukku, seolah tidak ingin lepas dariku jadi jangan salahkan aku."
"Selain berubah menjadi sangat garang, kau juga berubah menjadi gadis yang pintar sekarang ya? selalu bisa menjawab setiap perkataanku."
"Aku sudah pintar dari dulu, Mas saja yang tidak menyadarinya."
"Iya kah?" Sultan terlihat berpikir sejenak, "Selain itu juga aku perhatikan kau jadi suka berteriak semenjak hamil, apa itu juga karena faktor hormon kehamilan dalam dirimu? aku masih ingat dengan jelas betapa garangnya kamu sewaktu bertarung dengan Mau ... maksudku perempuan itu." Sultan menjeda kalimatnya sebentar, mengingat dirinya tak boleh dengan gamblang menyebut nama Mauryn, di depan Hanum.
Menyebut nama perempuan jahat itu di depan Hanum sama seperti melakukan tindak pidana yang tak bisa dimaafkan dan tentu saja Hanum tidak akan tinggal diam. Dan sekarang dirinya harus waspada karena kalau sampai nama itu lolos dari mulutnya, bisa saja istrinya akan memberikan hukuman yang terkadang di luar nalar kepada dirinya.
.
"Apa kau bod*h? percuma kau sekolah tinggi-tinggi sampai dapat gelar sarjana kalau kau tidak bisa mempergunakan otakmu dengan baik. Setidaknya berpikirlah sebelum melakukan suatu tindakan yang sekiranya akan merugikan dirimu sendiri," Dion memaki wanita di hadapannya.
Setelah drama menjijikkan yang terjadi di rumah makan Padang, dia mendapat panggilan masuk dari wanita yang telah melahirkan anaknya. Sambil menangis Mauryn terus memohon agar Dion mau membantunya agar dia bisa keluar dari kantor polisi. Dia tidak mau mendekam di balik jeruji besi, menggunakan Yara, anaknya sebagai senjata untuk melancarkan aksinya membujuk Dion. Membuat Dion mau tak mau harus mengunjungi kantor polisi, dan setelah melakukan perundingan dengan beberapa aparat polisi yang sedang mengintrogasi Mauryn, akhirnya dia bisa menangguhkan penahanan wanita itu. Tentunya dengan memberikan jaminan, dan sekarang jadilah mereka di sini, di rumah Mauryn.
"Jangan bicara seolah kamu yang paling pintar, kau sendiri sama bodohnya," Mauryn berteriak, membalas setiap ucapan yang keluar dari mulut Dion.
__ADS_1
"Apa katamu? memang kau pikir siapa yang telah membebaskanmu dari kantor polisi? jangan lupa kalau bukan karena aku, kamu akan menghabiskan waktu sedikitnya tiga tahun untuk mendekam dalam ruangan dingin dan sempit itu."
"Jadi kau mau aku berterimakasih padamu karena telah menolongku, begitu? jangan harap," ucap Mauryn dengan sombongnya.
Dion menghela nafas kasar, di tatapnya lekat wajah wanita yang pernah membuatnya merasakan indahnya jatuh cinta, dulu.
"Kau masih belum berubah juga, masih sama seperti dulu, egois. Apakah kau tidak pernah sedikitpun memikirkan perasaan orang lain? aku pernah sangat mencintaimu, aku menempatkan mu menjadi ratu penguasa di hidupku. Aku bahkan rela melakukan apapun demi untuk membuatmu bahagia sekalipun itu bisa menyakiti diriku, tapi apa balasannya? kau terus menerus menyakitiku." Dion terkulai lemas, dia mendudukkan tubuhnya di sofa panjang yang ada di ruang tamu Mauryn. Bibirnya seolah terkunci, dia tak sanggup untuk berbicara lagi. Jelas sekali guratan kekecewaan di wajahnya, ditambah dengan sorot mata keputusasa-an yang terpancar jelas di matanya yang meredup.
"Jangan berpikiran kalau aku akan luluh setelah mendengar semua ucapan yang baru saja keluar dari mulutmu itu."
"Sekali-kali, pergilah keluar. Ke panti asuhan, panti jompo, yayasan sosial, ke rumah singgah, tempat orang-orang sakit atau kalau perlu kau harus menyusuri jalanan sekalian. Lihatlah bagaimana kondisi mereka, mungkin dengan melihat penderitaan yang dialami mereka bisa membuat mata hatimu sedikit terbuka. Jangan selalu melihat orang lain yang berada di jauh di atasmu karena setiap orang memiliki standar kebahagiaan nya masing-masing. Tidakkah kau menyadari kalau selama ini kamu begitu serakah, kamu iri melihat kebahagiaan orang lain sementara kau tidak bisa merasakan kebahagiaan dalam hidupmu sendiri. Merasa terancam begitu melihat wanita lain bahagia dan parahnya lagi, kamu sampai melakukan hal buruk hanya demi menguasai kebahagiaan orang. Sejujurnya hidupmu sudah bahagia, memiliki cinta dan kasih sayang berlimpah dari seorang suami, di tambah lagi dengan kehadiran seorang putri yang semakin melengkapi kebahagiaanmu. Sayangnya itu semua tidak bisa membuatmu puas, kau tidak bisa merasakan nikmatnya dicintai oleh seorang pria dan memiliki keluarga yang utuh. Karena apa? kamu terlalu fokus pada kebahagiaan Hanum sampai lupa kalau hidupmu sendiri sebenarnya sudah bahagia. Kau tidak bisa menerima kenyataan kalau cinta pertamamu itu mencintai wanita lain dan telah mengikat janji untuk sehidup semati dengan nya. Kau larut dalam egomu sendiri tanpa memikirkan perasaan orang lain yang juga bisa tersakiti karena sikapmu."
Dion memijit pangkal hidungnya, merasakan beban moral yang di tanggungnya semakin berat. Bayangan masa depan putrinya yang tumbuh tanpa kasih sayang utuh kedua orang tuanya menjadi momok menakutkan baginya.
Seandainya saja waktu bisa di putar kembali, seandainya saja dia tidak menyerah waktu itu, mungkin ini semua tidak akan terjadi. Tapi mau bagaimana lagi, tidak semua kesalahan ada padanya. Dia juga manusia biasa yang memiliki batas kesabaran layaknya manusia pada umumnya, yang akan muak dan jenuh jika seseorang terus mengabaikannya setelah semua perjuangan yang tidak mudah yang dialaminya selama ini.
Di pandanginya wajah malaikat kecil yang tengah terlelap dalam stroller berwarna maroon yang tak jauh dari tempat duduknya. Kemudian perlahan dia menggerakkan tubuhnya kesana, melipat sebelah kakinya. Di belainya lembut kepala bayi mungil yang terbalut topi rajut itu.
Maafkan ayahmu yang tak berdaya ini Nak, kau masih terlalu kecil untuk bisa memahami semua ini. Maafkan ayah yang tak bisa memberikan kasih sayang utuh layaknya orang tua pada anaknya. Maafkan ayah yang tak bisa menaklukkan kerasnya hati Ibumu, ayah sudah melakukan segala cara demi menjaga keutuhan keluarga kita tapi ayah bisa apa jika Ibumu bersikeras dengan keinginannya mengejar pria yang dia cintai sepanjang hidupnya. Semoga kau tumbuh menjadi wanita yang baik, wanita yang bisa menjaga kehormatan dirimu dan bisa menghargai setiap apa yang Tuhan anugerahkan padamu, termasuk pria yang nantinya akan mencintaimu. Kau memang terlahir dari rahim Ibumu tapi ayah harap, kau meniru sifat buruk Ibumu. Ayah sangat mencintaimu. Dion mengecup kening bayinya dengan mata terpejam dan dua bulir bening pun menetes di sana. Menandakan kepedihan yang mendalam yang begitu membuatnya terluka.
.
__ADS_1
**Agak sedih nulisnya, ikut larut sama kesedihan yang di alami Dion, sambil diiringi lagu Bondan Prakoso Not with me, gak tau juga padahal kayak gak nyambung sama apa yang aku tulis tapi lagi seneng denger aja. Semoga kalian gak bosan baca tulisanku ya guys 🥰 mohon di maafkan kalau ada kekurangan ðŸ¤
Sun sayang buat kalian yang sudah menyempatkan untuk baca tulisan recehku dan setia dukung aku selama ini ðŸ¤ðŸ˜˜ðŸ˜˜ðŸ˜˜**