
Setelah menunggu lebih dari sepuluh menit, Sultan pun kembali ke tempat dimana istrinya sedang duduk beristirahat. Dengan senyumnya yang sangat menawan, dia menyodorkan kantong plastik berisi makanan yang di inginkan oleh Hanum.
" Jangan makan disini ya, kita masuk ke dalam mobil saja. Aku takut makananmu terkena debu nanti." ucapnya sambil menatap nanar ke sekeliling mereka, benar saja, banyak orang lalu lalang di sana.
Jika Hanum makan di tempat terbuka seperti itu, Sultan khawatir kebersihannya tidak terjaga, bisa saja debu dan kotoran menempel pada makanan.
Dengan sigapnya, dia bangun dan kemudian menuntun istrinya menuju tempat dimana mobilnya terparkir. Sejak mendengar berita kehamilan istrinya, entah kenapa sikapnya benar-benar berubah. Cenderung posesif dan terkadang melakukan hal konyol yang tak masuk akal. Seperti tak membolehkan Hanum memegang pisau, seperti pagi tadi misalnya.
" Sambil jalan saja nggak apa-apa Mas." kata Hanum, begitu suaminya selesai memasangkan sabuk pengaman untuknya.
" Ya baiklah. Kalau begitu, kau juga bisa sambil makan." Sultan membuka bungkusan plastik tersebut, memberikan sendok plastik pada istrinya, " Awas tumpah ya, sepertinya ini pedas."
Hanum mengangguk, air liurnya menentes ketika melihat potongan buah dengan kuah merah yang begitu menggugah selera. Ya, bungkusan tersebut berisi asinan Bogor, tak perlu berlama-lama untuk Hanum mulai memasukkan potongan buah beserta kuah asam pedas itu ke dalam mulutnya.
" Apakah itu enak?" tanya Sultan, dia melihat istrinya begitu menikmati makanan tersebut.
" Hm, ini sangat enak. Perpaduan potongan buah segar dengan kuah asam pedas yang pas. Terlebih dimakan dalam keadaan dingin begini, sangat menyegarkan." kemudian menyodorkan sesendok asinan itu ke mulut suaminya, " Cobalah."
Sultan yang penasaran untuk mencicipinya pun segera membuka mulutnya, tanpa pikir panjang dia mulai mengunyah makanan itu. Dan ketika campuran rasa asam pedas dengan buah kedondong masam yang dikunyahnya itu meledak di dalam mulutnya, membuatnya meringis seketika.
Susah payah dia mencoba menelannya untuk masuk ke dalam kerongkongannya, meskipun dia berkali-kali mual dan ingin memuntahkan asinannya. Matanya mulai berair dan pipinya memerah, menahan sensasi luar biasa yang membuatnya tak tahan.
Sultan menepikan mobilnya, meraih botol minum yang telah berkurang setengahnya, meneguknya beberapa kali. Merasakan sensasi panas dan kebas pada lidahnya meskipun dia sudah berusaha menetralkannya dengan minum air, tapi rasanya belum berkurang, lidahnya masih terasa panas.
" Bagaimana bisa kamu makan makanan seperti ini?" ringis Sultan, " Rasanya benar-benar aneh."
" Masa sih? tapi ini enak kok."
" Tapi itu sangat pedas, mana buahnya masam banget, lagi."
Baru selesai Sultan mengucapkan kalimatnya, Hanum langsung membekap mulutnya.
" Hoek ... hoek ..."
Hanum kembali mual, Sultan membantu membuka seatbelt di dada istrinya, kemudian turun untuk menemani Hanum yang sedang berusaha mengeluarkan cairan dari mulutnya. Meraih rambut istrinya yang tergerai, sedikit mengangkatnya agar tak terkena cairan muntahan. Menepuk lembut punggung Hanum, sampai gadis itu selesai mengeluarkan begitu banyak cairan.
Sultan memapah istrinya untuk masuk dan mendudukkannya di atas bangku penumpang. Memberikan botol minum pada istrinya yang terlihat pucat, Sultan pun mengambil tisu untuk mengelap bibir Hanum dan menyeka keringatnya.
" Apa masih sakit?" tanyanya, cemas.
" Tidak, hanya pusing." jawab Hanum, gadis itu menyandarkan kepalanya kemudian memejamkan matanya.
Rasanya, perutnya seakan di aduk, kepalanya pun pusing, padahal tadi biasa saja. Dia bahkan bisa menikmati asinannya, terbukti dengan sisa makanan tersebut yang tinggal sedikit. Ya, walaupun akhirnya harus kembali dia keluarkan.
" Ya sudah, tidurlah. Nanti aku bangunkan kalau sudah sampai."
Tak menjawab, Hanum masih memejamkan matanya, melihat hal itu membuat Sultan merasa kasihan padanya.
Sultan melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang, untunglah suasana disini masih terpantau lancar. Tidak seperti ibukota yang terbiasa berteman dengan kemacetan hampir di setiap sudut jalannya.
Dia menggotong tubuh istrinya begitu sampai dirumah, membawanya ke kamar tamu karena kamar pribadinya ada di lantai atas, akan sangat merepotkan kalau dirinya mesti menaiki anak tangga.
Sultan menyelimuti tubuh Hanum, mengusap wajah gadis itu, kemudian mengecup keningnya.
Menutup pintu perlahan, dan sekarang menuju dapur untuk mengambil air minum.
" Hanum baik-baik saja kan?" tanya Ratih, saat melihat putranya melewati ruang tengah.
__ADS_1
" Sultan kasihan sama dia Mi." mendaratkan bokongnya di atas sofa empuk, di sebelah ibunya.
" Memangnya kenapa? apa terjadi sesuatu padanya, tadi?"
" Dia muntah-muntah lagi Mi, padahal tadi itu dia sedang menikmati asinan buahnya. Dia terlihat begitu menikmatinya Mi, dan ... belum juga habis makanannya, tiba-tiba dia mual lagi."
" Ya memang begitulah kalau seorang wanita sedang hamil muda."
" Apa semua wanita hamil seperti itu Mi?"
" Tidak semuanya begitu, nak. Ada wanita yang tidak merasakan apa-apa ketika hamil muda. Tapi kebanyakan memang seperti yang saat ini sedang dirasakan oleh istrimu. Mual, muntah, pusing, ada yang sampai bed rest lho karena saking lemahnya, tidak ada makanan yang bisa masuk ke dalam perutnya, karena sensitif dengan beberapa jenis makanan."
" Sultan benar-benar tidak tega Mi, sungguh. Awal hamil saja sudah tersiksa begitu, belum lagi selama beberapa bulan ke depan. Membawa beban bayi dalam kandungannya kemanapun dia pergi, ditambah lagi proses melahirkan yang mesti mempertaruhkan nyawanya." Sultan tertunduk lesu, membayangkan beberapa hal yang membuatnya khawatir.
" Masih ada lagi." sahut Ratih.
" Iya Mi, setelah melahirkan bayinya, Hanum mesti menyusui dan merawat anak kami. Tidak mudah menjadi seorang wanita, terlebih lagi menjadi seorang ibu. Perjuangan dan pengorbanan seorang ibu sungguh luar biasa." tiba-tiba Sultan memeluk ibunya, " Maafkan Sultan ya Mi, selama ini, aku banyak salah sama Mami, belum pernah bahagiakan Mami sama Papi, dan juga kakek. Yang ada malah aku selalu buat Mami sedih. Maafkan Sultan yang belum sempat berbakti pada Mami."
" Jangan bicara macam-macam." ucap Ratih, matanya berkaca-kaca, dipeluknya harta semata wayang yang masih tersisa. Seandainya saja putra bungsunya masih hidup, ah ... Ratih terisak.
" Maafkan Sultan Mi."
" Tidak ada yang perlu di maafkan, nak. Bagi Mami, kamu tetaplah yang terbaik, putra kesayangan Mami. Putra terbaik rumah ini."
.
Malam harinya.
" Mas." lirih Hanum, seperti biasa, dimana pun berada, suaminya akan sibuk dengan laptopnya di jam-jam tertentu, apalagi di jam segini.
Seolah sudah ada alarm otomatis dalam diri pria itu yang membuatnya selalu saja sibuk mengecek beberapa pekerjaannya melalui komputer lipatnya. Dan sesuai dugaannya, Raka mengiriminya banyak email mengenai beberapa pekerjaan yang masih dalam tahap proses pengembangan.
" Kapan kita pulang?"
" Kenapa? kamu tidak betah disini?"
" Bukan begitu, aku malah senang tinggal di sini, rasanya damai."
" Jadi kalau di Jakarta, kamu tidak merasa damai?" Sultan menelisik.
" Tidak juga, dimana pun aku tinggal, selama kita bersama, aku tidak ada masalah. Hanya saja, rasanya malas kalau mau pulang ke Jakarta."
" Kita bisa pulang kapan pun kamu mau. Kalau kamu sudah merasa bosan disini."
" Bagaimana kalau kita menetap disini?"
Perkataan Hanum sukses merebut perhatian suaminya, pria itu menoleh ke arah istrinya, lalu melepas kacamatanya.
" Sayang ..."
" Ya aku tahu, pekerjaanmu tidak bisa di tinggal." belum sempat Sultan menyelesaikan ucapannya, Hanum sudah menyambar.
" Akan sangat merepotkan kalau aku tinggal disini sayang, siapa yang akan mengawasi perusahaan nanti."
" Iya nggak apa-apa, tapi kita pulangnya kalau aku sudah bosan disini ya?" bujuk Hanum.
" Iya, sesuai keinginanmu." Sultan berpikir sejenak, " Hm, bagaimana kalau kamu tinggal di sini saja. Kamu bilang, kamu lebih nyaman tinggal disini, aku bisa pulang seminggu sekali nanti."
__ADS_1
" Tidak mau."
" Kenapa?"
" Nanti yang ada perempuan itu makin berbuat gila sama kamu. Selama ada aku saja, dia berani seenaknya keluar masuk kantor dan rumahmu. Bagaimana kalau aku tidak ada."
" Jadi, kamu nggak percaya sama aku?" Sultan memindahkan laptop yang ada di pangkuannya.
" Bukan masalah percaya atau tidaknya mas, aku hanya tidak mau mengambil resiko."
" Kan ada Mbok Darmi yang mengawasi, lagian aku pasti nggak kasih izin dia buat datang ke rumah, atau pun ke kantor, nanti."
" Tetap tidak boleh." kata Hanum.
" Huh ..." Sultan menghela nafas panjang.
Tubuh Sultan sempat limbung ke belakang saat tiba-tiba Hanum sudah menubruknya, untung saja kepalanya tidak membentur headboard ranjang. Dibalasnya pelukan dari sang istri, kemudian senyumnya terkembang begitu mendengar penuturan istrinya.
" Aku tidak mau berjauhan denganmu, jadi tidak masalah kalau kita pulang ke Jakarta. Aku tidak bisa kalau lama-lama tidak bertemu denganmu, aku sudah terbiasa tidur dan melakukan aktifitas sehari-hari denganmu." cicit Hanum, makin membenamkan wajahnya di dada suaminya.
Mendapatkan perlakuan seperti itu dari istrinya, membuat gairah Sultan terbakar. Reflek, diraihnya dagu Hanum, tanpa basa-basi dia mendaratkan ciuman di sana. Mengecupnya dengan pelan dan penuh kelembutan. Menyesap bibir merah istrinya, menggigit kecil, membuat Hanum membuka mulutnya. Membiarkan lidah suaminya menjelajahi setiap sudut rongga mulutnya.
Hanum mendesah, lenguhannya terdengar seksi, sangat sensual dan makin membuat gelora kelelakian Sultan naik. Gadis itu mengalungkan tangannya di leher suaminya, dia membalas setiap belitan lidah suaminya yang sangat lincah menari di dalam sana. Nafas keduanya memburu, menghentikan sejenak ciuman tersebut, meraup nafas dalam-dalam.
" Aku sangat menginginkanmu malam ini." bisik Sultan tepat di telinga istrinya, membuat rona merah di wajah Hanum tergambar jelas.
Gadis itu memejamkan matanya saat merasakan bibir liar suaminya sudah menjajahi leher jenjangnya. Merintih setiap kali suaminya menggigit kecil di sana, membuat pahatan maha karya cintanya memenuhi setiap inci bagian kulitnya yang putih.
" Eumh ..." erangnya saat tangan sang suami mulai bergerilya di atas dadanya yang membusung.
Dan mulutnya mulai tidak bisa dia kendalikan, desahan nakal nan erotis tak henti keluar dari bibir tipisnya yang menawan. Mendapatkan sentuhan dari suaminya yang membuat tubuhnya menggelinjang, merasakan nikmat yang telah lama tidak dia rasakan.
Sultan sudah berada di puncaknya saat dia melempar baju tidur yang di kenakan istrinya, dia sendiri sudah selesai menanggalkan seluruh pakaian yang melekat di badannya.
" Aku masuk ya." izinnya, mulai mengarahkan senjata pamungkas miliknya pada bagian bawah Hanum.
Dan ketika dia baru saja masuk, tiba-tiba Hanum kembali bereaksi. Gadis itu bangun dan kembali menutupi mulutnya, segera berlari menuju kamar mandi. Meninggalkan Sultan yang begitu terkejut, bagaimana bisa gadis nakal itu berbuat demikian, di saat hasrat kelelakian dalam dirinya sedang di atas puncak.
Mau tidak mau Sultan menyusul istrinya, masih dalam keadaan tak berbusana, dibukanya pintu kamar mandi yang tidak terkunci. Lalu mendekati istrinya, membantunya memijit tengkuk Hanum, sekedar menghilangkan rasa mual itu. Dilihatnya tubuh polos Hanum, lagi-lagi gairahnya meningkat, terlebih saat melihat tubuh Hanum yang makin berisi. Dadanya yang membusung padat, bokongnya yang lebih bervolume. Semuanya ... semuanya tampak lebih berisi dan makin indah, bisa gila Sultan kalau terus begini.
Keduanya kembali masuk ke kamar, Sultan merebahkan tubuh Hanum perlahan.
" Terus bagaimana ini?" tanya Sultan.
" Apanya?"
" Nasibku? ini." menunjuk bagian bawahnya yang masih menegang.
" Maafkan aku mas." mendengar kalimat dari istrinya, membuat Sultan sedikit merasa kecewa, " Sepertinya kita tidak bisa melanjutkannya malam ini."
" Hm ..." desahnya sambil memunguti pakaian yang tercecer di lantai, " Dasar gadis nakal, kamu sudah membuatku berpuasa selama lebih dari tiga Minggu. Sekarang giliran aku mau meminta jatahku malah kamu begitu." sudah naik ke atas kasur dan berbaring di samping istrinya, " Puasa lagi ... puasa lagi." gumamnya memelas.
" Maaf, aku juga sebenarnya menginginkannya, tapi sepertinya kacang kecilmu tidak mau dijenguk."
" Ya sudah, tapi besok boleh ya?" bujuk Sultan.
" Tidak janji." Hanum menyahut, sekenanya.
__ADS_1
Sultan pun menekan egonya, demi sang calon buah hati, dia harus menahan diri kali ini. Sangat tidak nyaman ketika sudah melakukan foreplay dan baru saja masuk, tapi permainannya langsung dihentikan begitu saja.
.