
"Woi! kita belum selesai bicara, jangan pergi begitu saja!" Adam meneriaki Dion yang mulai angkat kaki dari sana.
"Bukankah katamu aku harus bekerja keras untuk bisa menjadikan Wina sebagai permaisuriku?" sahut Dion sambil berjalan tanpa menoleh sedikitpun.
"Cih! permaisuri? sejak kapan dia menjadi lebay begitu?" cibir Sultan.
"Apa kau benar-benar tidak tahu kalau dia itu berubah menjadi seperti itu setelah terkontaminasi bakteri bucin darimu."
Sultan terkekeh mendengar penuturan temannya.
"Dan apa kau lupa aku tertular virus bucin dari siapa? tentu saja darimu," sengit Sultan.
Adam melongo, bukankah dia yang sedang berusaha menyerang Sultan tadi lantas kenapa malah sekarang dirinya yang diserang?
"Baiklah, sesama bucin dilarang saling menyerang."
Tawa keduanya pun pecah, pikiran mereka mulai mengembara, mengingat sosok tambatan hati masing-masing.
Tiba-tiba tawa Adam memudar, raut wajahnya berubah menjadi lebih serius.
"Ada apa?" tanya Sultan begitu menyadari perubahan dalam diri temannya.
"Aku dengar Alma sudah resmi melayangkan gugatan cerai ke pengadilan," ucapnya dengan nada serius.
"Mau bagaimana lagi, hatinya pasti hancur ketika mengetahui kenyataan pahit yang disembunyikan oleh Reno. Selama lebih dari setahun pria itu menipunya, kita saja sebagai temannya merasa sangat dikhianati bagaimana dengan dia sebagai istrinya?" Sultan menimpali, tatapannya menerawang jauh.
Ingatan pria itu kembali tertuju pada masa dimana mereka masih sama-sama duduk di bangku kuliah. Masa itu mungkin adalah masa puncak keemasan sepanjang mereka menjalin persahabatan. Masa dimana mereka saling berbagi perasaan, kedekatan yang terjalin membuat mereka bersikap jujur dan saling terbuka satu sama lain. Tidak pernah ada satu hal pun yang disembunyikan diantara mereka.
Sultan menggeleng pelan, menyadari kenyataan kalau ternyata lamanya menjalin sebuah hubungan tidak menjadi jaminan kalau kita mengetahui secara keseluruhan orang tersebut. Nyatanya dia dan Adam masih saja tertipu, sebenarnya mereka yang kelewat polos atau Reno yang terlalu pandai menyembunyikan kebusukannya?
Sultan mengusap kasar wajahnya, mencoba untuk melupakan apa yang telah Reno perbuat padanya. Pengkhianatan yang dilakukan oleh pria itu terhadap dirinya sudah melampaui batas ketika Reno memutuskan untuk membantu Mauryn dan menyakiti Hanum, wanita yang sangat dicintainya.
"Aku dengar tidak ada satu pun pihak dari keluarganya yang mau membantunya. Jangankan mengulurkan bantuan, untuk menemuinya di penjara pun, tidak ada yang sudi. Dia telah dicoret dari daftar nama keluarga besarnya. Tidak ada harapan lagi baginya, Reno benar-benar telah dibuang," ucapan Adam membuyarkan lamunan Sultan.
Sultan menyugar rambutnya ke belakang begitu kesadarannya telah kembali.
"Bagaimana nasib anaknya nanti jika harus tumbuh tanpa kasih sayang seorang ayah,"
Pedih, itu yang dapat Sultan rasakan ketika berbicara demikian.
"Anak itu tidak akan kekurangan kasih sayang karena keluarga besar Alma dan juga keluarga mertuanya sepakat untuk membesarkan anak itu bersama-sama."
"Rasanya akan berbeda seandainya dia mendapatkan kasih sayang langsung dari ayahnya," sahut Sultan.
"Apa yang bisa di harapkan dari seorang ayah yang buruk sepertinya?" Adam tersenyum kecut.
Hening.
"Lalu bagaimana dengan Yara?" mendadak Sultan teringat putri kecil Dion dan Mauryn.
"Dion sudah mengosongkan rumah Mauryn, menyuruh asisten rumah tangga dan pengasuh Yara untuk pindah ke rumahnya."
"Kenapa salah satu dari kita selalu saja mengalami masalah? kapan kita bisa hidup tenang?" ucap Sultan terdengar putus asa.
"Jangan bicara seolah kau telah kehilangan kepercayaanmu. Ada pemberi kehidupan yang memang berkuasa penuh dan memegang kendali hidup kita. Apapun yang terjadi, percayalah kalau semuanya akan baik-baik saja."
"Rasanya sangat miris jika melihat kehidupanku yang jauh berbeda dengan kehidupan orang lain, kehidupan mereka jauh lebih tenang," lanjut Sultan.
"Maka dari itu jangan pernah sekali-sekali kamu membanding-bandingkan hidupmu dengan kehidupan orang lain. Setiap orang terlahir berbeda dan memiliki permasalahan kehidupan yang berbeda-beda pula." Adam menepuk pundak temannya.
.
"Seharusnya kau tidak perlu repot-repot mengantarku karena aku bisa pergi sendiri," kata Wina begitu mobil yang dikemudikan oleh Dion mulai merambat di jalanan.
"Sudah ku katakan berulang kali, aku tidak akan pernah merasa direpotkan olehmu, mulai saat ini kau harus memberitahukan semua kegiatanmu padaku!" Dion menyahut.
"Semuanya?" tanya Wina.
__ADS_1
"Ya, dan hal seperti ini banyak dilakukan oleh orang yang sedang berkencan ataupun menjalin sebuah hubungan seperti kita ini."
"Berkencan?" Wina kembali mengerutkan keningnya, pipinya sedikit memanas mendengar kata 'berkencan'.
"Salahmu sendiri, aku ajak langsung menikah malah tidak mau," cebik Dion.
"Apa itu tidak terlalu terburu-buru?"
"Tentu saja tidak, kau kan sudah lama menungguku," goda Dion.
"Tetap saja, aku tidak mau terburu-buru naik ke pelaminan. Aku mau kita melalui setiap prosesnya seperti air mengalir, aku kan juga ingin merasakan bagaimana rasanya berpacaran," ucap Wina malu-malu.
"Ish ... ish ... ish ... padahal pacaran setelah menikah itu menurutku lebih menyenangkan," seloroh Dion.
Dan begitulah keduanya menghabiskan waktu untuk mengobrol sepanjang perjalanan menuju gedung tempat diadakannya seminar.
.
Beberapa kali Hanum mengerjapkan matanya untuk menyesuaikan cahaya yang masuk ke dalam indra penglihatannya.
Tertegun, dipandanginya langit-langit kamar tersebut kemudian beralih mengedarkan pandangannya, dan seketika Hanum langsung dapat mengenali kalau dirinya saat ini sedang berada di rumah sakit.
Hanum memijit kepalanya yang masih terasa berdenyut, dia ingat terakhir kali sebelum pandangannya menggelap dia jatuh tak sadarkan diri di balkon.
"Sayang, kamu sudah sadar?" Sultan yang baru saja masuk, segera menghampiri istrinya.
"Kamu darimana Mas?"
"Sejak tadi aku di luar, ada hal yang perlu aku bicarakan dengan Adam, aku takut akan mengganggumu jadi aku putuskan untuk bicara di luar saja. Kenapa?"
"Lapar," rengek gadis itu sambil memegangi perutnya.
Sultan tertawa kecil. "Aku pikir ada apa." mencubit hidung istrinya.
"Memang apa yang kamu pikirkan?"
"Aku pikir kamu akan merasa kesakitan atau ketaku ...," Sultan menyesal telah salah bicara, tidak seharusnya dia mengingatkan tentang kejadian tadi pagi yang sempat membuat Hanum ketakutan.
"Sebenarnya ...," ucap Sultan tersendat.
"Aku baik-baik saja, percayalah ... aku hanya terkejut tadi makanya aku sampai pingsan."
Sultan masih terlihat berpikir sementara Hanum masih merengek meminta untuk segera pulang ke rumah.
.
"Mbok ...," panggil Hanum begitu dia sampai di rumah.
"Dalem Cah ayu, ada apa?" wanita paruh baya itu berlari terbirit-birit.
"Pesanan saya sudah jadi Mbok?"
Gadis itu berjalan cepat menuju meja makan.
"Sudah Non," Mbok Darmi menyahut sambil terus mengekor di belakangnya.
Hanum dibuat tak tahan dengan aroma wangi masakan yang menggelitik hidungnya. Bergegas dia menarik bangku dan duduk di sana.
Sultan masih berdiri di samping meja, pria itu menggelengkan kepalanya, tak habis pikir dengan sikap istrinya.
Beberapa jam yang lalu Hanum terlihat begitu tertekan sampai jatuh pingsan dan detik ini, raut wajah ketakutan itu tak terlihat lagi di wajah ayunya.
"Apa yang kau lihat Mas?" tanya Hanum yang melihat suaminya masih berdiri. "Duduk dan makanlah, tapi ambil sendiri saja ya? jangan menggangguku!" pesan Hanum.
Sultan menggaruk kepalanya yang tidak gatal itu.
"Apa sebegitu enaknya masakan Mbok Darmi?" Sultan mulai duduk di kursi kemudian mengambil nasi.
__ADS_1
Hanum mengangguk, kelihatan sekali dia begitu menikmati masakan ala rumahan yang di masak oleh Mbok Darmi.
Sultan melirik isi meja makan kemudian beralih menatap istrinya, dia menyendok asam-asam daging yang menjadi primadona untuk makan siang kali ini.
Entah lidahnya atau selera makannya yang bermasalah, Sultan merasakan daging sapi dengan bumbu kuah asam itu biasa-biasa saja baginya tapi melihat cara Hanum menyantapnya, seolah makanan itu lezat sekali.
Kembali dia dibuat bingung, dan ya ... lagi-lagi Sultan menjadikan hormon kehamilan istrinya yang menjadi kambing hitam atas segala perubahan sikap Hanum yang tak menentu.
.
Malam harinya.
Sultan kala itu masih berkutat dengan komputer lipatnya di ruang kerja, sudah satu jam yang lalu sejak dia memasuki ruangan itu namun pekerjaannya belum juga kunjung selesai.
"Mas ...," Hanum berdiri di depan pintu sambil melongokkan kepalanya.
"Lho, kok belum tidur?"
"Belum mengantuk." Hanum membuka lebar daun pintu, berjalan mendekati suaminya.
"Tapi pekerjaanku masih banyak, akan lebih baik jika kamu menunggu di kamar saja," titah Sultan.
"Tidak mau," tolak gadis itu.
"Lalu?"
"Mas selesaikan saja pekerjaanmu, aku akan menunggu di sini sambil membaca majalah."
"Ya sudah, tapi kalau misalnya kamu sudah mengantuk, kembali ke kamar secepatnya ya!"
"Hm." Hanum mengangguk.
Gadis itu membiarkan suaminya tetap bergelut dengan pekerjaannya sementara dirinya mulai sibuk membolak-balik majalah yang tergeletak di meja.
Sepuluh menit.
Dua puluh menit.
Tiga puluh menit.
Dan menit berikutnya Hanum mulai tak tahan, dia yang merasa jenuh akhirnya meninggalkan kursinya. Menyusuri satu per satu rak buku yang ada di belakang meja kerja Sultan. Diantara sekian banyak buku yang terselip di antara tumpukan dokumen, tidak ada satu pun buku yang mampu mencuri perhatiannya.
Beralih menuju meja kerja Sultan, menarik kursi lalu duduk berhadapan dengan suaminya. Meraih pigura yang tergeletak di sana, mengusapnya lalu meletakkannya kembali. Memainkan beberapa benda yang tersusun rapi di sana, semua yang dia lakukan tak bisa mengalihkan perhatian suaminya.
Kesal.
Hanum akhirnya bangun dan melakukan apa yang sama sekali tak pernah Sultan bayangkan sebelumnya.
Tubuh Sultan membeku, lidahnya kelu hingga tak dapat berucap, merasakan Hanum yang merangsak naik ke atas tubuhnya menimbulkan gelenyar rasa yang membuncah dalam diri pria itu.
"Sayang, jangan begini," Sultan berusaha melepaskan tangan Hanum yang saat ini melingkar pada lehernya.
"Memang kenapa?" tanya Hanum dengan nada manja.
"Aku tidak bisa bekerja jika kau terus begini, Sayang."
"Aku kan tidak mengganggumu, aku tidak mengikat tanganmu jadi kamu masih bisa bekerja dengan leluasa." memainkan tangannya di dada suaminya, membuat gambar abstrak.
Astaga, tahan Sultan ... sabar. Ini ujian. Sultan membatin.
"Yang ...," Sultan masih berusaha menepis tangan Hanum yang mulai liar menjamah dada bidangnya.
Tubuh pria itu semakin mengejang terlebih ketika Hanum menggesek-gesekkan wajahnya di leher Sultan. Rasanya dia semakin tidak bisa menahan diri.
"Jangan nakal, Sayang," bisik Sultan, suaranya mulai memberat karena menahan sesuatu.
Jika sudah begitu, maka bisa dipastikan siapa yang akan menjadi pemenangnya.
__ADS_1
Hanum bersorak dalam hati, dia selalu punya segudang cara untuk menaklukkan hati Sultan dan membuat pria itu bertekuk lutut di hadapannya.
.