Cinta Yang Terpendam

Cinta Yang Terpendam
Kabar duka


__ADS_3

"Izinkan aku menggendongnya," pinta Sultan pada Alma hingga membuat wanita yang sejak tadi tengah sibuk menghibur anaknya itu pun menoleh.


"Ah, bagaimana kamu bisa ada disini?" tanyanya begitu mengenali pria yang datang mendekat.


"Itu." sembari meraih bayi mungil berusia enam bulan ke dalam dekapannya, Sultan menunjuk kerumunan temannya, dengan dagunya.


"Cup ... cup ... cup, Sayang jangan menangis lagi, Nak." Sultan mulai berusaha untuk menghentikan tangis bayi perempuan tersebut.


Mungkin Sultan memang belum menjadi seorang ayah, tapi melihat caranya membujuk sang bayi membuat siapapun terpana olehnya.


Hanum beserta yang lainnya pun mendekat, dia memang tidak begitu akrab dengan Alma, mungkin karena keduanya jarang bertatap muka. 


Mereka saling berjabat tangan sambil berbasa-basi.


"Kau datang dengan siapa?" tanya Adam, sejak tadi dia perhatikan Alma hanya berdua dengan bayinya saja.


"Sebenarnya aku dan keluarga besarku baru saja makan malam, karena tadi Alea pup jadi aku meminta mereka pulang terlebih dahulu," jawab Alma.


"Lantas apa yang membuatnya menangis sampai seperti ini?" Sultan bertanya tanpa mengalihkan pandangannya dari wajah gembul yang masih berlinangan air mata.


"Entahlah, sejak pagi dia memang sudah rewel, aku sudah cek suhu badannya tapi semuanya normal. Aku saja sampai bingung kenapa dia bersikap aneh hari ini. Biasanya dia cenderung tenang dan lebih suka tidur tapi hari ini dia terus saja menangis," tutur Alma, raut wajah lelahnya tak mampu ia sembunyikan.


"Begitu ...," gumam Hanum. 


Gadis itu mendekati suaminya, dia membelai lembut kepala Alea. Tangis bayi mungil itu perlahan mulai terhenti meskipun masih sesenggukan. 


Sepertinya Alea merasa tenang berada dalam dekapan Sultan, terbukti dengan matanya yang mulai terpejam seiring dengan tepukan lembut tangan Sultan di punggungnya.


"Maafkan aku, Wina ada jadwal praktek besok pagi jadi aku harus segera mengembalikan dia pulang ke rumahnya," pamit Dion.


"Tentu saja, setelah ini kau harus memastikan dia pulang ke apartemennya dengan selamat. Jangan sampai kau mengajaknya mampir ke hotel terlebih dulu, nanti kalau di suruh cepat-cepat naik ke pelaminan sama Ibunya, baru tahu rasa kamu," kelakar Adam, dia meringis karena tak lama setelah mengucapkan kalimat tersebut,Ajeng mencubit perutnya.


"Bercandamu jangan kelewatan, Mas." Ajeng memperingatkan suaminya.


Semua orang tertawa melihat tingkah pasangan suami istri itu.


"Aku juga harus pamit, Disha tidak boleh terlalu lelah." Raka mengapit tubuh istrinya.


"Ya sudah, hati-hati di jalan, kalian jangan mengebut ya? kasihan para wanitanya nanti," pesan Adam.


Sekali lagi mereka saling berjabat tangan satu sama lain. 


Sultan berjalan menuju tempat parkir dengan menggendong Alea, setelah susah payah menenangkan bayi itu hingga kini akhirnya Alea benar-benar terlelap dalam dekapannya. Dia berjalan dengan Adam di depan sementara para wanitanya mengekor di belakang.


Sepanjang perjalanan mereka terus membungkam rapat mulut masing-masing, tidak ada yang berani membahas masalah mengenai Reno pada Alma. Entah Alma yang merasa tidak terlalu dekat dengan sahabat dari suaminya itu, pun sama dengan Sultan dan juga Adam. 


Sungguh, rasanya sangat canggung, jarak yang cukup dekat dari pelataran restoran menuju tempat parkir serasa begitu jauh karena mereka terus membisu sedari tadi.


"Dimana mobilmu?" tanya Adam memecah kebekuan.


"Sebelah sana!" Alma menunjuk mobil berwarna merah yang berjarak sekitar lima meter dari tempat mereka.


"Ah, kebetulan sekali. Mobil hitam itu milikku," Sultan menyahut, menunjukkan mobil yang berada tepat di samping mobil Alma.


"Terimakasih atas bantuanmu," cicit Alma begitu wanita itu sampai di depan mobilnya.


"Bagiamana kau bisa menyetir sementara Alea tertidur?" Hanum angkat bicara.


"Tidak perlu khawatir begitu," Alma menyahut dengan memasang senyum yang menampilkan deretan giginya yang rapi. "Aku terbiasa pergi kemanapun berdua dengan Alea, aku membawa stroller khusus yang bisa di set di dalam mobil sehingga membuat tidurnya tak akan terganggu."


Alma membuka pintu mobilnya, dan benar saja, Hanum bisa melihat stroller yang dimaksud oleh Alma ketika wanita itu sedang mengatur posisinya sedemikian rupa.


"Sekali lagi terimakasih atas bantuanmu, aku hampir putus asa untuk menenangkannya tadi tapi begitu dia berada dalam gendonganmu, dia langsung tertidur." Alma merentangkan tangannya, mengambil bayinya yang masih begitu terlelap.


Baru saja Alea dia sentuh, bayi itu terbangun dan kembali menangis. Awalnya Alma bersikeras tetap menidurkan bayi itu tapi bukannya diam, tangis Alea malah makin menjadi.


"Ya, kumat lagi rewelnya," keluh Alma.


"Biar aku gendong lagi," tawar Sultan.


Ajaib memang, Sultan hanya perlu menepuk punggung Alea sambil berceloteh sedikit dan bayi itu kembali tenang.


"Huh, ada apa dengannya? aku ibunya tapi kenapa dia malah seolah tidak mau bersamaku," protes Alma, matanya berkaca-kaca.


"Mungkin dia memang merindukan sosok ayahnya," dengan berat hati Adam menyahut. "Sudah lama dia tidak digendong oleh ayahnya jadi mungkin begitu Sultan menggendongnya, dia merasa Sultan adalah ayahnya itu sebabnya dia merasa tenang dan nyaman hingga membuatnya bisa tertidur."


Alma tak sanggup lagi membendung air matanya, bulir bening itu kini lolos begitu saja, membasahi wajahnya dan berakhir dengan jatuh di lantai. Ucapan yang dilontarkan oleh Adam bagai belati tak kasat mata yang menyayat hatinya. 


Pedih ... sungguh sangat pedih. 


Segala hal yang berhubungan dengan Reno akan selalu membuatnya mengingat tentang pengkhianatan pria itu terhadapnya.

__ADS_1


Seolah dapat merasakan kesedihan yang tengah melanda Alma, kompak Hanum dan Ajeng mendekati wanita itu kemudian memeluknya bersamaan.


"Aku tahu ini sangat berat, tapi kau adalah wanita yang tangguh. Aku yakin kamu bisa melewati semua ini," hibur Hanum sambil mengusap punggung Alma.


"Air matamu itu terlalu berharga untuk menangisi lelaki bajing*n sepertinya," tukas Ajeng.


"Apa salahku hingga dia memperlakukan aku seperti ini? dia menyakitiku sedemikian rupa." Alma masih terisak, bahunya sampai berguncang.


"Kesalahannya bukan terletak dalam dirimu melainkan pada diri pria kurang ajar itu. Dia yang buta karena tidak bisa melihat permata yang berharga sepertimu dan malah terlibat skandal dengan wanita murahan macam Mauryn. Ish, aku tidak sudi menyebut namanya lagi." Ajeng mengelap bibirnya dengan punggung tangannya. "Menyebut namanya saja sudah membuatku jijik, aku mesti mandi besar karena telah melakukan perbuatan terlarang dengan tidak sengaja menyebut namanya."


Sultan dan Adam saling berpandangan, jodoh memang cerminan diri masing-masing dan Sultan bisa melihat Adam yang tengah murka jika mendapati kesalahan temannya, dalam diri Ajeng. Pria itu menggelengkan kepalanya keheranan, Ajeng yang berapi-api mengutuk Reno, sama persis dengan suaminya ketika sedang marah.


Adam sendiri sampai mengelus dadanya berulang kali, tak menyangka istrinya akan berbuat demikian. Dia pikir selama ini yang berhasil menyulut sisi garang dalam diri Ajeng hanya Mauryn seorang, nyatanya Reno pun sama, bisa membuatnya murka. Adam bahkan sempat tertawa melihat Ajeng yang terus saja mengutuk Reno dengan segala macam umpatan yang membuatnya merinding.


"Begini saja, biarkan Alea malam ini tidur bersamaku," celetuk Sultan. "Kau tidak keberatan kan, Sayang?" beralih menatap istrinya.


"Tentu saja tidak, justru aku akan merasa sangat senang dengan hadirnya dia di rumah kita," ucap Hanum dengan sorot mata penuh binar kebahagiaan.


"Bagaimana, kau setuju jika putrimu tidur dirumahku? setidaknya untuk malam ini. Kau juga bisa ikut menginap, ada banyak kamar tamu yang bisa kamu tempati," lagi, Sultan bertanya.


Alma terlihat berpikir keras.


"Aku ... aku sepertinya tidak bisa ikut menginap di rumahmu, tapi aku mengizinkan Alea ikut bersama kalian," ucapnya sambil menyeka air matanya.


"Baiklah kalau begitu." Sultan bernafas lega.


"Aku akan menjaga Alea dengan baik, percayalah." Hanum menggenggam tangan Alma.


Wanita itu mengangguk.


.


Keesokan paginya.


"Apakah sebahagia ini rasanya menggendong seorang cicit?" kelakar Burhan yang tengah memangku Alea.


"Kakek akan lebih bahagia jika nanti ada dua cicit yang berebut untuk duduk dipangkuanmu nantinya," timpal Sultan.


"Jika sudah begini, rasanya aku ingin hidup seribu tahun lagi. Menyenangkan sekali bisa bermain dengan mereka setiap hari dan melihat tumbuh kembang penerusku."


"Kakek akan bisa merasakan itu semua, kakek akan panjang umur jika menuruti setiap anjuran dari dokter." Sultan menekankan kata-katanya.


"Ya, mulai sekarang aku akan menuruti semua ucapan dokter, meminum obat dengan teratur agar aku memiliki kesempatan untuk bisa bermain sepak bola dengan anak-anakmu nanti," jawab Burhan. "Omong-omong dimana istrimu?"


"Lalu kenapa kau terus disini?" Hardik Burhan.


"Memangnya kenapa?" sewot Sultan, koran yang sejak tadi dibacanya, dia hempaskan dengan kasar ke atas meja.


"Kau harus memastikan apa dia meminum vitaminnya atau tidak, cepat susul sana!"


"Benar juga, kenapa aku sampai lupa ya?"


"Dasar berandal kec ...,"


"Hust!" Sultan meletakkan jari telunjuknya tepat di depan bibirnya. "Dilarang berkata kasar atau mengumpat di depan anak kecil, apalagi dia itu masih bayi, Kakek ini, ck ... ck ... ck." Sultan berdecak.


"Sudah sana cepat pergi!"


Setengah berlari Sultan menuju dapur, berada dalam satu ruangan yang sama dengan kakeknya hanya akan memberikan hawa panas baginya.


"Sayang, kamu belum selesai ma ...," mata Sultan terbelalak seketika begitu melihat makanan yang sedang di santap oleh istrinya.


Rasanya pria itu kesal bukan main, dia sudah menyuruh Mbok Darmi dan juga bibi Mar, memastikan mereka memasak makanan bergizi tinggi untuk Hanum sementara Hanum malah melahap mie instan.


"Kemarikan mangkuknya, biar aku buang ini!" merebut mangkuk di hadapan Hanum kemudian membuang isinya ke dalam keranjang sampah.


"Mas ...," pekik Hanum. Gadis itu terkejut karena Sultan membuang makanannya begitu saja.


"Ada banyak makanan di meja, susah payah mbok Darmi dan Bi Mar memasak untukmu dan kau malah makan mie instan? kau bisa meminta makanan yang lainnya jika kau mau, tapi bukan mie."


"Ya ampun Mas, apa perlu kamu bersikap berlebihan seperti ini? ini hanya mie, lagipula aku kan juga jarang memakannya," tukas Hanum.


"Diam kataku! jangan membantah, sering atau tidaknya kau memakan mie, makanan itu tetaplah tidak baik untuk kesehatanmu. Apa gunanya mbok Darmi di sini jika kamu ...,"


"Sudah cukup!" seru Hanum. 


Dia harus menghentikan Sultan karena tidak ingin pertengkaran kecil yang terjadi diantara mereka akan menjadi konsumsi publik. Dia terus mengawasi tiga wanita yang berdiri terpaku di pintu belakang dengan ekor matanya.


Terlihat mbok Darmi, Bi Mar dan Mbak Indah hanya diam berdiri dengan tubuh bergetar sementara mbak Lastri tengah menemani Burhan di depan. Ini kali pertama mereka melihat Sultan marah.


Tak mau tersulut emosi jika terus berada di sana, Hanum bergegas meninggalkan suaminya.

__ADS_1


"Aku belum selesai bicara!" cegah Sultan.


"Bicaralah sepuasmu, barangkali saja sendok dan piring yang ada di sini akan mendengarkan ocehanmu," gerutu Hanum.


"Yaaah ...," teriak Sultan.


Dia berlari mengejar istrinya sebelum gadis itu mulai menjauh.


"Kau tidak mau mendengarkan kata-kata ku?" Sultan masih mencecar Hanum sekalipun gadis itu sudah berusaha melarikan diri ke kamar.


"Aku tidak mau mendengarkan ocehanmu yang tidak penting!" sentak Hanum.


"Apa katamu? tidak penting? huh," Sultan menghela nafas kasar. "Aku ini suamimu dan kamu bilang kalau ocehanku tidak penting?"


"Pergi dari kamarku! berisik!" 


Dan sedetik kemudian Sultan benar-benar telah dikuasai oleh amarah. Tepat ketika dia akan menguliahi Hanum lagi, terdengar suara ketukan pintu dari luar. 


Sultan terdiam sejenak, mengatur ritme nafasnya yang memburu. Perlahan dia mulai berjalan untuk membuka pintu, siapa yang telah berani menganggunya di saat seperti ini.


"Ada apa, Mbok?" tanyanya datar. Suaranya sedikit melunak begitu melihat siapa orang yang datang.


"Anu, Den bagus ...," wanita paruh baya itu terlihat ragu.


"Katakan saja!" bujuk Sultan.


Sultan mengerutkan keningnya, sebenarnya apa yang membuat Mbok Darmi terlihat begitu ragu sekaligus ketakutan begitu.


"Den Adam, itu ...," lagi-lagi Mbok Darmi tergagap.


"Ada apa dengan Adam?" tanya Sultan tak sabar.


"Bukan!" 


"Lalu?" Sultan makin tak mengerti dengan apa yang sebenarnya akan wanita itu katakan.


"Tadi Den Adam telepon."


"Kenapa dia tidak menghubungi nomorku, Mbok?"


"Katanya dia sudah menghubungi ponsel Aden tapi tidak diangkat, makanya Den Adam menelpon ke nomor rumah."


"Dia bilang apa Mbok? kelihatannya sangat penting?" 


Lagi-lagi mbok Darmi terdiam.


Melihat gelagat tidak mengenakkan dari Mbok Darmi membuat Sultan berpikir kalau ada sesuatu yang tidak beres.


"Katakan Mbok, ada apa sebenarnya? jangan membuatku penasaran!"


"Itu ..., anu, ya Tuhan kenapa susah sekali rasanya si Mbok mau ngomong." Mbok Darmi menepuk mulutnya sendiri.


"Bicara yang jelas Mbok!" 


"Tadi Den Adam telepon."


"Terus?"


"Dia bilang katanya ada kabar duka."


"Kabar duka," gumam Sultan.


Mbok Darmi mengangguk.


"Sebaiknya Den bagus telepon Den Adam saja, langsung."


Sultan kembali berlari menuju kasurnya, dia ingat betul sebelum turun ke bawah dirinya meletakkan gawainya di sana.


Tangan pria itu lincah mulai menggulir layar ponselnya.


Tujuh panggilan tak terjawab.


Dia segera menghubungi Adam.


"Kenapa lama sekali!" teriak Adam begitu pria itu mengangkat panggilan dari temannya.


"Ada apa ini? sepertinya sesuatu yang penting telah terjadi? tadi Mbok Darmi bilang ...,"


"Cepat kemari!" perintah Adam.


"Kemana?" 

__ADS_1


"Ke ...,"


.


__ADS_2